Tulang Rusuk

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.


 

Tulang rusuk

 

 

Kata kiasan ‘tulang rusuk’ pasti diambil dari Kej 2:21-25 - “(21) Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. (22) Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangunNyalah seorang perempuan, lalu dibawaNya kepada manusia itu. (23) Lalu berkatalah manusia itu: ‘Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.’ (24) Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. (25) Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu”.

 

Mungkin istilah ‘tulang rusuk’ itu bisa diartikan ‘jodoh yang dari Tuhan’ atau ‘jodoh yang sesuai kehendak Tuhan’. Tetapi kehendak yang mana?

 

1)   Kalau ‘kehendak’ dalam arti ‘rencana kekal dari Allah’, maka saya yakin bahwa setiap orang pasti menikahi jodohnya, karena rencana Allah tidak mungkin tidak terjadi.

 

Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal”.

 

2)   Kalau ‘kehendak’ dalam arti ‘keinginan Tuhan’ atau ‘yang menyenangkan Tuhan’, maka ini belum tentu terjadi, karena manusia sering melakukan apa yang tidak sesuai dengan keinginan Tuhan, atau apa yang tidak menyenangkan Tuhan.

 

Yang dalam arti pertama bukan urusan kita, karena kita tidak tahu rencana Allah bagi kita (Ul 29:29). Kita harus mencari jodoh yang sesuai dengan kehendak Tuhan, dalam arti yang kedua.

 

Hal-hal yang harus dipikirkan dan ditaati dalam mencari jodoh yang sesuai kehendak Tuhan:

 

a)   Ia harus orang yang seiman dengan kita.

 

2Kor 6:14 - “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?”.

 

Dalam Perjanjian Lama bangsa Israel dilarang menikah dengan orang-orang Kanaan.

 

Ul 7:1-5 - “(1) ‘Apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau ke dalam negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, yakni orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, tujuh bangsa, yang lebih banyak dan lebih kuat dari padamu, (2) dan TUHAN, Allahmu, telah menyerahkan mereka kepadamu, sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka. (3) Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki; (4) sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari padaKu, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera. (5) Tetapi beginilah kamu lakukan terhadap mereka: mezbah-mezbah mereka haruslah kamu robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu hancurkan dan patung-patung mereka kamu bakar habis”.

 

Jelas bahwa sebetulnya larangan ini bukan berhubungan dengan kebangsaan, tetapi dengan iman / kepercayaan.

 

Ada pendeta yang mengijinkan pernikahan dengan orang yang berbeda iman berdasarkan 1Kor 7:12-13 - “(12) Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia. (13) Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu”.

 

Ini salah, karena kasus ini bukan kasus dari orang beriman yang mau menikah dengan orang kafir. Ini adalah kasus 2 orang kafir yang telah menikah, lalu salah satu dari mereka menjadi Kristen. Selama yang kafir tetap mau hidup dalam pernikahan dengan orang Kristen itu, maka orang Kristen itu tidak boleh mencerakannya.

 

Bdk. 1Kor 7:39 - “Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya.

 

Tidak mungkin Paulus mengijinkan pernikahan orang-orang yang berbeda iman dalam 1Kor 7:12-13, lalu menekankan keharusan iman yang sama pada 1Kor 7:39!

 

Penerapan:

 

Perhatikan beberapa kutipan di bawah ini sebagai penerapan.

 

Melody Green: “Artikel ini saya tujukan khusus untuk gadis-gadis Kristen, sebab dari pengalaman-pengalaman konseling, saya melihat wanitalah yang lebih sering melakukan kesalahan ini” - ‘Mencari pasangan hidup: Bolehkah saudara berpasangan dengan orang yang tidak percaya?, hal 1.

 

Melody Green: “Saya kira umumnya pernikahan didahului dengan berpacaran. Banyak orang Kristen yang terkecoh pada waktu taraf ini. Mereka rasa, tak salah untuk bergaul dengan orang-orang tak percaya asalkan ‘tak terlalu serius’. Mungkin mereka pikir, ‘Satu atau dua kali kencan tak akan menyakiti seorang pun. Disamping itu mungkin saya dapat membimbingnya kepada Tuhan. Saya sekedar bersenang-senang saja, bila sudah saatnya nanti saya pasti menikah dengan seorang Kristen’. Lalu, lihat dan perhatikan, tahu-tahu mereka telah ‘terperangkap cinta’, dan mereka berusaha mati-matian untuk membenarkan hubungan (pernikahan) yang akan dilakukan terhadap diri sendiri, terhadap teman-teman mereka, dan terhadap Tuhan. Saya berkata - orang Kristen yang cukup tolol untuk berkencan dengan orang yang tak percaya akan cukup tolol pula untuk menikahinya- ‘Mencari pasangan hidup: Bolehkah saudara berpasangan dengan orang yang tidak percaya?, hal 3-4.

 

Melody Green: “Menikah adalah keputusan terpenting dan terbesar yang Anda buat setelah kebutusan untuk mengikuti Yesus” - ‘Mencari pasangan hidup: Bolehkah saudara berpasangan dengan orang yang tidak percaya?, hal 4.

 

Melody Green: “pernikahan didahului dengan ‘kencan pertama’. Salah satu problem utama ialah banyak orang Kristen yang bersikap menyepelekan hal ini. ... Meskipun kadang-kadang tak berlanjut, tapi ingatlah, tiap kencan memiliki potensi untuk menjadi hubungan seumur hidup. Meluangkan waktu dengan orang yang salah berarti membuka diri untuk terlibat secara emosional menuju suatu titik dimana sulit untuk mundur maupun maju. Sekali saja Anda memberikan hati dan perasaan Anda pada seseorang, Anda akan terkejut bila menyadari betapa sulit untuk melepaskannya - meskipun Anda tahu harus melepaskannya” - ‘Mencari pasangan hidup: Bolehkah saudara berpasangan dengan orang yang tidak percaya?, hal 4-5.

 

Melody Green: “Banyak gadis yang tak menyadari, jika mereka tak cukup kuat menahan godaan untuk menikah dengan orang tak percaya, pasti mereka tak cukup kuat pula untuk memenangkan suaminya bagi Tuhan” - ‘Mencari pasangan hidup: Bolehkah saudara berpasangan dengan orang yang tidak percaya?, hal 15.

 

Melody Green: “Acap kali untuk menikahi seorang gadis Kristen, ada pemuda yang ‘bertobat’, sebab ia sadar harus melakukannya demi gadisnya. ... Saya tak pernah mempercayai ‘pertobatan’ semacam itu dan saya selalu mengatakan pada gadis-gadis yang konseling dengan saya, agar membiarkan pacar mereka membuktikan terlebih dahulu pertobatannya. ... Masalahnya ialah, banyak gadis yang tak sabar untuk menguji buah-buah si pemuda. Segera setelah melihat ‘sang jodoh’ mengucapkan doa penyesalan, sang gadis mulai menyiapkan pakaian pengantinnya” - ‘Mencari pasangan hidup: Bolehkah saudara berpasangan dengan orang yang tidak percaya?, hal 15-16.

 

b)   Ia haruslah orang yang cocok dengan kita, orang dengan siapa kita bisa ‘enjoy being together’ (= menikmati kebersamaan).

 

Jangan karena ia sudah memenuhi syarat pertama di atas, yaitu ia adalah orang Kristen, maka saudara cepat-cepat mau menikahinya. Dengan sesama saudara seimanpun, kalau tak cocok, maka akan terjadi bencana.

 

Harus ada:

 

1.   Kecocokan sifat dan kesenangan / hobby.

 

2.   Kecocokan dalam berbicara.

 

Sedemikian rupa sehingga saudara menikmati kebersamaan dengan dia. Kalau ini tidak ada, bayangkan bagaimana saudara bisa bersama-sama terus selama puluhan tahun dengan orang yang tidak cocok.

 

1.   Kecocokan sifat dan kesenangan / hobby.

 

Tak berarti sifatnya harus sama. Sifat yang sama kadang-kadang bagus, misalnya kalau sama-sama sabar atau sama-sama menyenangi nonton. Tetapi bagaimana kalau sama-sama keras dan ngamukan?

 

Sifat yang kontras kadang-kadang bisa bagus karena yang satu akan mengimbangi yang lain. Misalnya: yang satu sabar, yang lain berangasan. Maka yang sabar bisa menasehati / menahan yang berangasan pada saat ia marah.

 

Tetapi sifat dan kesenangan yang sangat / terlalu kontras kadang-kadang bisa membahayakan dan harus diwaspadai, misalnya:

 

        kalau satu sangat royal, yang lain sangat pelit.

 

        satu senang keluyuran, yang satunya senang di rumah.

 

        satu senang film drama, yang lain senang film action.

 

        satu gila olah raga, yang lain sama sekali tidak senang olah raga.

 

        satu halus / lembut sekali, yang lain sangat kasar.

 

        satu kalau bicara straight to the point / blak-blakan, yang lain selalu mbulet dan bertele-tele.

 

        yang satu hot, yang lain frigid. Harus ada kecocokan sexual!

 

Ini selalu saya bicarakan dalam counseling menjelang pernikahan.

 

2.   Kecocokan dalam berbicara.

 

Saya pernah naksir seorang gadis, karena melihat penampilan lahiriahnya. Pada waktu saya mendekati, dan mulai apel ke rumahnya, hanya dalam 3-4 x pertemuan, saya merasa bahwa saya tidak cocok berbicara dengan dia, dan saya lalu menjauhi dia.

 

Syarat kedua ini menyebabkan seseorang tidak mungkin menikahi orang lain cepat-cepat. Cepat-cepat menikah, atau karena usia yang sudah tinggi, atau karena didesak orang tua, atau karena alasan apapun, menurut saya merupakan sesuatu yang salah dan membahayakan. Butuh waktu sedikitnya 1-2 tahun pacaran, dan itupun tak menjamin kita mengenal dengan baik pasangan kita.

 

Ada orang-orang yang meneruskan pacaran sekalipun tak memenuhi syarat kedua ini. Akibatnya mereka lalu bertemu hanya semingu sekali, dengan alasan, supaya tidak bosan. Ini bodoh, karena kalau menikah nanti saudara akan bertemu dengan pasangan hidup saudara setiap hari. Kalau sekarang saja tidak kangen, dan bahkan bosan, bagaimana nanti dalam pernikahan?

 

c)   Harus ada saling cinta.

 

Ef 5:25 - “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya”.

 

Tit 2:3-4 - “(3) Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik (4) dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya”.

 

Kidung 4:1-15, khususnya ay 9!

 

Kidung 4:9 - “Engkau mendebarkan hatiku, dinda, pengantinku, engkau mendebarkan hati dengan satu kejapan mata, dengan seuntai kalung dari perhiasan lehermu”.

 

Adanya rasa berdebar-debar dsb menunjukkan bahwa ini adalah cinta asmara.

 

Kalau point c dan b tadi ada, maka pasti ada rasa kangen kalau tidak bertemu sang pacar. Bdk. Kidung 3:1-4 - “(1) Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. (2) Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. (3) Aku ditemui peronda-peronda kota. ‘Apakah kamu melihat jantung hatiku?’ (4) Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan dia, sampai kubawa dia ke rumah ibuku, ke kamar orang yang melahirkan aku”.

 

Menurut saya rasa kangen seperti ini adalah salah satu tolok ukur. Kalau rasa kangen itu tak ada, jangan menikah dengan orang tersebut.

 

Sekalipun saudara mendapatkan orang yang memenuhi semua ini, jangan berharap bahwa kehidupan pernikahan saudara nanti akan mulus dan lancar. Selalu bisa muncul problem, bahkan yang besar, pada saat kita mengikuti Tuhan, juga dalam pernikahan.

 

 

-AMIN-