Argumentasi dan Theologia dalam Memberitakan Injil

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.


SYARAT-SYARAT

PENGINJIL PRIBADI YANG BAIK

 

1)  Sudah sungguh-sungguh percaya / menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan yakin akan keselamatannya.

 

a)   Sudah percaya kepada Yesus.

 

·        Mat 4:19 - “Yesus berkata kepada mereka: ‘Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.’”.

 

Perhatikan urut-urutan dari kata-kata Yesus ini: ikut Tuhan dulu, baru menjala manusia.

 

·        Kis 1:8 - “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.’”.

 

Kita harus menjadi ‘saksi’, dan ‘saksi’ adalah orang yang tahu / mengala­mi sendiri.

 

b)   Yakin akan keselamatannya sendiri.

 

Sebetulnya orang yang sudah betul-betul percaya kepada Tuhan Yesus pasti yakin akan keselamatannya sendiri (Ro 8:16  1Yoh 5:13). Keyak­inan ini penting, karena tanpa keyakinan ini kita tidak akan memberitakan Injil, atau, kalaupun kita memberitakan Injil, kita tidak bisa memberitakannya dengan yakin.

 

Bayangkan kalau ada orang kristen yang tidak yakin akan keselamatannya sendiri menginjili orang yang belum percaya dan mendesak supaya orang itu mau percaya kepada Yesus, supaya bisa masuk surga. Lalu orang yang diinjili itu bertanya: ‘Apakah kamu sendiri yakin bahwa kamu akan masuk surga?. Kalau penginjil ini jujur, ia harus menjawab: ‘Lha ya itu, aku sendiri belum tahu’. Jelas sekali bahwa penginjilan ini akan bubar!

 

2)  Yakin akan kebenaran Firman Tuhan / Injil.

 

Pemberitaan Injil merupakan pemberitaan Firman Tuhan, dan karena itu seorang pemberita Injil harus yakin bahwa Firman Tuhan itu benar. Dan dalam memberitakan Injil selalu ada keberatan-keberatan terhadap apa yang kita jelaskan, misalnya: masakan orang berdosa itu dimasukkan neraka selama-lamanya?

 

Kalau Firman Tuhan bertentangan dengan ‘fakta’, atau kalau Firman Tuhan bertentangan dengan ‘Ilmu Pengetahuan’, atau kalau Firman Tuhan bertentangan dengan ‘pemikiran umum’, atau kalau Firman Tuhan bertentangan dengan ‘logika’ (misalnya: mujizat), maka seorang penginjil pribadi harus tetap percaya akan kebenaran Firman Tuhan, dan bahkan tetap menyatakannya dengan yakin.

 

Contoh:

 

a)   Firman Tuhan mengatakan semua manusia berdosa (Ro 3:23).

 

Pada waktu kita memberitakan hal ini, bisa saja orang yang kita injili itu berkata: ‘Lho, saya kenal orang yang tidak kristen, tetapi ia baik sekali, tidak pernah menyakiti orang, dsb’.

 

Di sini Firman Tuhan dipertentangkan dengan ‘fakta’. Dalam menghadapi hal ini, penginjil pribadi itu harus tetap berpegang pada kebenaran Firman Tuhan. Ia harus tetap berkeras bahwa orang baik itu tetap adalah orang berdosa, bahkan orang yang sangat berdosa, di hadapan Tuhan. Mengapa? Karena standard Tuhan berbeda dengan standard manusia. Orang itu dinyatakan sebagai ‘orang baik’ menurut standard manusia. Tetapi menurut standard Tuhan, semua orang adalah orang yang berdosa, bahkan sangat berdosa.

 

b)   Firman Tuhan mengatakan bahwa semua manusia berasal dari Adam.

 

Orang yang diinjili itu bisa saja mendebat dengan mengajukan teori Darwin.

 

Di sini Firman Tuhan dipertentangkan dengan ‘ilmu pengetahuan’. Dalam menghadapi hal ini, penginjil pribadi itu harus tetap berpegang pada kebenaran Firman Tuhan. Ia harus mempertahankan pandangan bahwa semua manusia berasal dari Adam, dan bahwa teori Darwin bukanlah ilmu pengetahuan, tetapi hanya merupakan hipotesa / dugaan yang tidak berdasar.

 

Dalam Koran ‘Surya’ hari Minggu, tanggal 22 November 1998, ada sebuah artikel yang berjudul “Coelacanth ‘ikan fosil’ yang masih hidup”. Dikatakan bahwa di perairan Indonesia (sekitar Manado) ditemukan ikan Coelacanth (baca: silakan), yang disebutkan sebagai ‘moyangnya komodo’, dan yang oleh ahli-ahli ilmu pengetahuan dianggap sudah punah pada sekitar 70 atau 80 juta tahun yang lalu. Ternyata pada waktu tulang-tulang dari ikan yang baru ditangkap itu dibandingkan dengan fosil ikan yang dianggap sudah berumur 80 juta tahun itu, ternyata bahwa: “kita hampir tidak dapat membedakan kerangka tulang mana yang purba (80 juta tahun lalu) dengan yang sekarang. Dan ini menimbulkan pertanyaan mengapa? Mengapa organ ikan ini tetap statis untuk jangka waktu yang demikian lamanya tanpa mengalami evolusi?.

 

Saya berpendapat pertanyaan ini mudah sekali jawabannya, yaitu: karena evolusi tidak pernah ada!

 

c)   Firman Tuhan mengatakan kalau ditampar pipi kanan berikan pipi kiri (Mat 5:39).

 

Jangan menafsirkan Mat 5:39 ini secara hurufiah. Maksudnya bukan betul-betul harus memberikan pipi satunya untuk ditampar lagi, tetapi hanya ‘jangan membalas’. Itupun hanya berlaku untuk serangan yang tidak membahayakan jiwa. Karena itu Yesus menggunakan kata ‘tampar’ bukan ‘bacok’!

 

Tetapi inipun tidak bisa diterima oleh banyak orang dan dianggap sebagai tidak masuk akal. Demikian juga dengan Mat 5:28 (tentang perzinahan dalam hati).

 

Di sini Firman Tuhan dipertentangkan dengan ‘pandangan umum’. Dalam menghadapi hal ini penginjil pribadi yang baik harus tetap berpegang pada Firman Tuhan! Tidak peduli semua orang menganggap hal itu tidak salah, kalau Kitab Suci / Firman Tuhan menganggapnya salah, maka ia juga harus menyatakannya sebagai sesuatu yang salah!

 

Tetapi dalam hal ini juga ada peringatan yang penting:

 

·        Keyakinan itu harus betul-betul ada dalam hati. Kalau keyakinan itu dibuat-buat, maka saudara bukan sedang menginjil, tetapi sedang berlaku munafik / berdusta!

 

·        Kalau saudara percaya dengan teguh pada kebenaran Firman Tuhan, itu tentu baik sekali, tetapi pastikanlah bahwa saudara percaya pada ayat-ayat yang ditafsirkan secara benar, bukan yang diputar-balikkan / disalah-artikan. Misalnya ada orang kristen yang percaya bahwa Yesus betul-betul turun ke neraka, atau bahwa nanti setelah kematian masih ada ‘second chance’ (= kesempatan kedua), karena orang itu akan diinjili oleh Yesus sendiri. Ini semua adalah kepercayaan yang didasarkan atas penafsiran yang salah dari ayat-ayat Kitab Suci seperti 1Pet 3:18-20 dan 1Pet 4:6.

 

3)  Yakin bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya (bukan salah satu!) jalan ke surga (Yoh 14:6  Kis 4:12  1Yoh 5:11-12).

 

Ia bukan hanya perlu yakin segi positifnya, yaitu bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga, tetapi juga pada segi negatifnya, yaitu bahwa di luar Kristus, bagaimanapun baiknya / salehnya orang itu, dan agama apapun yang ia anut, ia tidak bisa selamat, tetapi sebaliknya akan dihukum dalam neraka. Kalaupun orang itu lalu menunjukkan orang yang betul-betul kelihatan saleh, dan bahkan jauh lebih saleh dari pada kita, kita harus tetap berkeras menyatakan bahwa kalau orang itu terus ada di luar Kristus, ia pasti masuk neraka. Alasannya mudah saja yaitu: bagaimanapun baiknya seseorang, di hadapan Tuhan ia adalah orang berdosa, bahkan sangat berdosa (Ro 3:10-12,23). Karena itu tanpa Juruselamat / Penebus dosa ia tetap harus masuk neraka untuk memikul sendiri hukuman dosa-dosanya selama-lamanya.

 

Kalau kita tidak mempercayai hal ini, maka kita tidak akan memberitakan Injil. Sebaliknya, kalau kita betul-betul mempercayai hal ini, kita akan aktif memberitakan Injil. Dalam Kis 4:1-13 kita bisa melihat bahwa Petrus tidak mau berhenti memberitakan Injil karena ia yakin bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan (Kis 4:12).

 

4)  Mengasihi Tuhan dan sesama manusia (Yoh 14:15  1Yoh 4:20).

 

Pemberitaan Injil adalah suatu bentuk pelayanan kepada Tuhan dan itu harus kita lakukan bukan dengan terpaksa, tetapi dengan dasar kasih.

 

Illustrasi: Ada kapal merapat ke pelabuhan, lalu memberikan sepotong papan sebagai jembatan antara kapal dengan daratan. Orang-orang lalu turun ke darat melalui papan itu, tetapi pada waktu berdesak-desakan, seorang bayi lepas dari pelukan ibunya dan jatuh ke air. Ibunya berteriak-teriak minta supaya ada yang menolong bayi itu. Orang-orang semua berkerumun melihat bayi itu masuk ke air. Lalu tiba-tiba seseorang dengan gagah berani terjun ke air dan menyelamatkan bayi itu. Setelah ia naik ke atas, ia dikerumuni orang banyak dan lalu ada seorang wartawan yang bertanya kepadanya: ‘Mengapa kamu mau menolong bayi itu?. Menurut saudara mengapa? Orang itu memandang sekelilingnya dengan marah, dan ia membentak: ‘Siapa yang tadi mendorong saya?. Jadi, orang ini bukan menolong bayi itu dengan kasih, tetapi dengan terpaksa!

 

Tanpa kasih, kita tidak akan sung­guh-sungguh, baik dalam memberitakan Injil maupun dalam mendoakan orang yang kita injili itu.

 

Juga perlu diingat bahwa pemberitaan Injil adalah perang frontal melawan setan, sehingga orang yang memberitakan Injil pasti diserang setan. Serangan ini bisa datang sebagai akibat langsung dari penginjilan, misalnya orang yang kita injili itu mengejek, atau bahwa membenci dan menganiaya kita. Tetapi serangan itu bisa juga tidak merupakan akibat langsung dari penginjilan itu. Misalnya usaha kita tahu-tahu bangkrut, kita menjadi sakit, dsb. Justru karena Pemberitaan Injil selalu menimbulkan serangan setan, maka kasih sangat dibutuhkan. Mengapa? Karena tanpa kasih, kita tidak akan mau berkorban, sehingga kita akan berhenti menginjil.

 

Kita juga harus menyadari bahwa wujud terutama dari kasih kita kepada sesama kita, adalah dengan memberikan keselamatan kepada mereka.

 

The will of Patrick Henry (surat wasiat Patrick Henry): “I have now disposed of all my property to my family; there is one thing more I wish I could give them, and that is the Christian religion. If they had this, and I had not given them one shilling, they would be rich; but if they had not that, and I have given them all the world, they would be poor” (= Sekarang aku telah memberikan semua milikku kepada keluargaku; ada satu hal lagi yang aku berharap bisa memberikannya kepada mereka, dan itu adalah agama Kristen. Jika mereka mempunyai ini, dan aku tidak memberikan mereka satu senpun, mereka adalah orang kaya; tetapi jika mereka tidak mempunyai ini, dan aku memberikan seluruh dunia kepada mereka, mereka adalah orang miskin) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 497.

 

5)  Sadar dan percaya sepenuhnya bahwa pertobatan adalah hasil pekerjaan Tuhan / Roh Kudus (Yoh 6:44,65  Kis 11:18  16:14).

 

Tuhan / Roh Kudus akan bekerja kalau:

 

a)   Kita banyak berdoa.

 

Tetapi kita tidak akan berdoa kalau kita merasa bahwa orang yang kita injili itu bisa bertobat karena kepand­aian kita dalam memberitakan Injil.

 

b)   Kita menggunakan Firman Tuhan pada waktu memberitakan Injil.

 

Ro 1:16 - “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani”.

 

Catatan: kata-kata yang saya garis-bawahi salah terjemahan. Seharusnya adalah ‘aku tidak malu karena Injil’. Tetapi yang saya tekankan adalah bagian yang saya cetak miring yang menunjukkan bahwa Injil merupakan kekuatan Allah yang menyelamatkan orang yang percaya.

 

Ef 6:17 - “dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah”.

 

Firman Allah disebut sebagai ‘pedang Roh’, karena itulah senjata yang Allah berikan kepada kita dalam peperangan rohani ini. Jadi, itulah yang harus kita gunakan dalam memberitakan Injil. Kalau kita berperang dengan cara yang Tuhan kehendaki, maka Ia pasti akan menyertai usaha kita, dan Roh Kudus akan bekerja dalam penginjilan yang kita lakukan.

 

Banyak orang Kristen ex Islam, yang kalau memberitakan Injil kepada orang Islam lalu menggunakan Al Quran. Menurut saya ini salah. Pertama karena orang Islam tidak akan mau menerima berita dari Al Quran yang ditafsirkan oleh orang Kristen. Kedua, karena bagi kita pedang Roh itu adalah Alkitab, bukan Al Quran. Jadi, kepada siapapun saudara memberitakan Injil, beritakan Injil / Firman Tuhan dari Alkitab!

 

Yer 23:29 - “Bukankah firmanKu seperti api, demikianlah firman TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?.

 

Firman Tuhan digambarkan sebagai palu, yang bisa menghancurkan batu yang keras. Kalau kita memberitakan Injil / Firman Tuhan, maka Tuhan akan memakai FirmanNya untuk menghancurkan kekerasan hati dari orang yang kita injili.

 

Banyak orang memberitakan Injil dengan langsung menyerang agama orang itu. Ini salah, karena pada umumnya hanya mengundang kemarahan. Disamping itu, Tuhan memanggil kita untuk memberitakan Injil / Firman Tuhan, bukan untuk menyerang agama lain. Tetapi harus diakui bahwa kadang-kadang, kita masuk dalam pembicaraan tentang hal-hal penting dimana Injil / kekristenan memang bertentangan frontal dengan ajaran agama lain itu. Misalnya tentang keilahian Kristus, atau tentang keselamatan karena iman saja, dan sebagainya. Maka dalam keadaan seperti itu, kita memang harus menjelaskan perbedaan itu, dan bisa terpaksa ‘menyerang’ agama lain.

 

c)   Kita taat pada Firman Tuhan.

 

2Tim 2:20-21 - “(20) Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. (21) Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.

 

Tetapi ada 3 hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan hal ini:

 

1.   Kita tidak harus suci murni dulu baru bisa memberitakan Injil dan dipakai oleh Tuhan. Tidak ada orang yang suci murni kecuali Yesus sendiri. Kalau Tuhan hanya mau memakai orang yang suci murni, Ia tidak bisa memakai siapapun juga kecuali malaikat dan Yesus sendiri. Jadi, kita harus melakukan dua hal ini pada saat yang sama, memberitakan Injil dan menyucikan kehidupan kita.

 

2.   Kadang-kadang Tuhan juga memakai orang yang berdosa secara luar biasa. Misalnya Yunus, yang memberontak terhadap Tuhan, bisa dipakai untuk mempertobatkan seluruh Niniwe! Tetapi hal seperti ini hanya merupakan suatu perkecualian. Rumus umumnya adalah: makin kita menyucikan diri, makin Tuhan memakai kita.

 

3.   Sukses dalam pandangan Tuhan seringkali berbeda dengan sukses dalam pandangan manusia. Pelayanan Yesaya kelihatannya gagal dalam pandangan manusia, dan demikian juga dengan pelayanan Stefanus, tetapi dalam pandangan Tuhan mereka jelas adalah orang-orang yang sukses dalam pelayanan. Karena itu, kalau dalam pelayanan pemberitaan Injil yang saudara lakukan tidak ada / tidak banyak orang yang bertobat, jangan terlalu cepat menilai bahwa Tuhan tidak bekerja / tidak memakai saudara.

 

6)  Mau belajar cara-cara memberitakan Injil yang baik dan cocok untuk dirinya dan selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuannya dalam memberitakan Injil.

 

Ada bermacam-macam cara untuk memberitakan Injil dan tidak setiap cara cocok untuk setiap orang. Saya berpendapat bahwa setiap orang Kristen sebaiknya mengikuti seadanya kader penginjilan yang ada, dan membaca semua buku yang mengajarkan tentang cara memberitakan Injil, lalu menggunakan yang cocok dengan kepribadian dan karunianya sendiri. Atau, ia bisa menggabungkan beberapa cara, lalu menggunakannya.

 

Contoh: banyak orang Kristen berhasil melakukan pemberitaan Injil dengan menggunakan metode EE (Evangelism Explosion), tetapi saya sendiri merasa cara itu tidak cocok untuk saya. Saya tidak beranggapan bahwa cara yang digunakan EE itu jelek. Saya hanya mengatakan bahwa caranya tidak cocok bagi saya. Mengapa? Salah satu alasan adalah: saya adalah orang yang senang berdebat dan mempunyai karunia berdebat, sedangkan cara yang digunakan oleh EE adalah tanpa perdebatan / menghindari perdebatan.

 

Juga, setelah saudara melakukan pemberitaan Injil, saudara sebaiknya merenungkannya kembali penginjilan itu, untuk memikirkan apa-apa yang bisa saudara perbaiki. Pikirkan apa yang tadi dikatakan oleh orang yang saudara injili itu, dan apa jawaban yang saudara berikan, dan bagaimana saudara bisa memberikan jawaban yang lebih baik. Dengan demikian saudara akan maju dalam kemampuan saudara. Sekalipun kita percaya bahwa pertobatan adalah pekerjaan Roh Kudus, itu tidak berarti bahwa saudara tidak perlu berusaha secara maksimal.

 

7)  Rindu Firman Tuhan dan selalu mengisi diri dengan Firman Tuhan (Yoh 15:1-8).

 

Pada saat saudara memberitakan Injil, saudara pasti mendapatkan pertanyaan-pertanyaan. Bagaimana saudara bisa menjawabnya kalau saudara mempunyai pengertian yang sangat sedikit tentang Firman Tuhan?

 

Juga pengisian diri dengan Firman Tuhan ini menyucikan dan mendekatkan kita kepada Tuhan sehingga kita bisa lebih berhasil dalam Pemberitaan Injil.

 

Karena itu seorang penginjil pribadi harus aktif ikut Pemahaman Alkitab (yang baik!), bahkan kalau bisa ikut sekolah theologia untuk awam seperti STRIS, dan juga membaca buku-buku rohani yang baik! Jangan belajar Firman Tuhan hanya terbatas dalam kalangan gereja saudara sendiri. Kalau gereja saudara bukan gereja yang terlalu baik dalam pengajaran Firman Tuhan, carilah Firman Tuhan di tempat lain.

 

8)  Mempunyai teladan hidup yang baik (Fil 1:27).

 

Makin kita memberitakan Injil, makin hidup kita disorot oleh masyarakat. Kalau kita hidup dalam dosa, kita justru akan menjadi batu sandungan. Tetapi, kita juga tidak boleh menunggu sampai hidup kita suci dulu baru mau memberitakan Injil. Pemberitaan Injil dan usaha untuk hidup suci harus dilakukan bersama-sama.

 

Kadang-kadang pada waktu saudara memberitakan Injil, saudara diserang dosa-dosanya oleh orang yang sedang saudara injili itu. Ini khususnya sering terjadi pada waktu kita memberitakan Injil kepada anggota keluarga kita sendiri, atau orang-orang yang dekat sekali dengan kita, yang mengenal diri / kehidupan kita dengan baik. Itu tidak perlu membuat saudara dengan malu berhenti memberitakan Injil kepadanya. Juga saudara tidak perlu membantah tuduhan-tuduhan itu, kalau tuduhan-tuduhan itu memang benar. Saudara bisa tetap memberitakan Injil dengan menjawab sebagai berikut: “Aku memang adalah orang berdosa, tetapi aku mempunyai Juruselamat dosa yang sudah membayar semua hutang dosaku, dan karena itu aku pasti selamat / masuk surga. Tetapi bagaimana dengan kamu? Kamu juga adalah orang berdosa seperti aku, dan kalau kamu tidak mempunyai Juruselamat, maka kamu akan dihukum untuk dosa-dosamu di neraka selama-lamanya. Karena itu, percayalah kepada Tuhan Yesus, sebagai Tuhan dan Juruselamatmu!.

 

9)  Menyesuaikan diri dengan orang yang diinjili.

 

1Kor 9:19-23 - “(19) Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. (20) Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. (21) Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. (22) Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. (23) Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya”.

 

Kita harus menyesuaikan diri supaya lebih bisa diterima oleh orang-orang yang kita injili, tetapi kita tidak boleh menyesuaikan diri dalam hal-hal yang berdosa (1Kor 9:21b - perhatikan bagian yang saya cetak dengan huruf besar).

 

Contoh yang benar:

 

·        pada waktu Hudson Taylor memberitakan Injil kepada orang-orang Cina, ia menguncir rambutnya seperti orang-orang Cina pada waktu itu.

 

·        kalau kita menginjili orang Islam, kita ikut tidak makan babi. Ini tidak berarti bahwa kita terus tidak makan babi. Hanya kalau kita makan bersama orang itu, sebaiknya kita tidak makan babi, supaya tidak menimbulkan kejijikan orang itu terhadap diri saudara.

 

·        kalau saudara menginjili orang yang miskin, jangan datang kepadanya dengan memamerkan perhiasan saudara dsb. Sebaliknya, kalau saudara menginjili orang yang kaya, jangan datang kepadanya dengan memakai pakaian yang sudah sobek / jelek. Saudara memang tidak perlu memakai pakaian yang mewah / mahal, tetapi setidaknya saudara bisa memakai pakaian yang rapi / bagus.

 

Contoh yang salah:

 

¨      menginjili seorang pelacur dengan melacur bersama dia.

 

¨      menginjili seorang pengguna ecstasy / narkoba dengan cara ikut menggunakan ecstasy / narkoba.

 

10) Menggunakan lidah hanya untuk kemuliaan Tuhan (Yak 3:1-12).

 

Yak 3:1-12 - “(1) Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat. (2) Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. (3) Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. (4) Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi. (5) Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. (6) Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. (7) Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, (8) tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. (9) Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, (10) dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. (11) Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? (12) Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar”.

 

Jadi, jangan menggunakan lidah sebentar untuk memberitakan Injil, lalu sebentar lagi untuk dusta, fitnah, gosip, caci maki, kata-kata cabul / kotor, dsb.

 

11) Bisa dimengerti oleh orang yang diinjili.

 

Untuk itu kita harus mempunyai karunia untuk menjelaskan dan juga kita harus menggunakan bahasa yang sederhana. Jangan menggunakan:

 

a)   Bahasa asing (apalagi Yunani / Ibrani) tanpa menterjemahkannya, kecuali saudara tahu orang itu memang mengertinya. Ingat bahwa tujuan saudara adalah memenangkan jiwanya untuk Tuhan, bukan memamerkan kepandaian saudara.

 

b)   Istilah-istilah theologia atau istilah-istilah Kristen yang tidak dimengerti oleh orang dunia / orang beragama lain, tanpa menjelaskannya (misalnya: domba / kambing, hidup kekal, iman, selamat, mati kekal, bertobat / pertobatan dsb).

 

Perlu diingat bahwa istilah-istilah tertentu mempunyai arti berbeda dalam kekristenan dan dalam agama-agama lain. Misalnya: kata ‘bertobat’ dalam agama-agama lain dianggap meninggalkan dosa, dan lalu hidup baik. Dalam kristen, sekalipun juga bisa mencakup arti itu, tetapi dalam konteks penginjilan lebih sering diartikan ‘datang / percaya kepada Kristus’. Contoh: Kis 2:38 - “Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”. Jelas bahwa Petrus tidak menggunakan kata ‘bertobat’ di sini sebagai ‘tindakan meninggalkan dosa’ tetapi sebagai ‘tindakan datang kepada Yesus dan percaya kepadaNya sebagai Juruselamat dosa’.

 

12) Tekun / giat (Ro 12:11  1Kor 15:58).

 

Sama seperti dalam menjala ikan, menjala manusia / memberitakan Injil juga membutuhkan sifat giat dan tekun / tidak mudah putus asa.

 

Ro 12:11 - “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan”.

 

1Kor 15:58 - “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”.

 

Catatan: bagian yang saya coret itu seharusnya tidak ada.

 

Menyerah / putus asa bisa terjadi karena beberapa hal:

 

a)   Kita memang mempunyai sifat mudah menyerah / putus asa.

 

Ini tentu saja harus dilawan dan didoakan, bukannya terus dituruti.

 

b)   Kita merasa gagal dalam memberitakan Injil.

 

Atau tak ada yang bertobat, atau ada yang ‘bertobat’, tetapi lalu murtad lagi. Ingat bahwa saudara diperintahkan untuk memberitakan Injil, bukan untuk mempertobatkan orang itu. Kalau saudara sudah memberitakan Injil, saudara sebetulnya sudah berhasil. Pertobatan orang itu merupakan pekerjaan Tuhan sendiri!

 

c)   Doktrin-doktrin tertentu, yang sekalipun benar, tetapi bisa diterapkan secara salah. Yang paling umum adalah doktrin tentang predestinasi.

 

Saya setuju dengan predestinasi; saya percaya bahwa sebelum permulaan segala jaman, Allah sudah menetapkan orang-orang tertentu untuk diselamatkan, dan orang-orang lain untuk dibiarkan binasa (Ef 1:4,5,11 Ro 9:10-dst), dan rencana / ketetapan Allah ini pasti terjadi (Ayub 42:2  Kis 13:48).

 

Tetapi doktrin yang benar ini bisa membuat kita mudah menyerah dalam memberitakan Injil. Pada waktu kita memberitakan Injil dan orang yang kita injili itu menolak, kita lalu berpikir bahwa orang itu bukanlah orang yang Allah tentukan untuk selamat. Jadi, kita lalu merasa tidak ada gunanya terus memberitakan Injil kepadanya atau mendoakannya. Ini merupakan penerapan yang salah dari doktrin yang benar ini! Mengapa? Karena kita tidak tahu orang itu ditentukan selamat atau binasa, dan kita tidak punya hak untuk menebak-nebak hal itu. Kalaupun kita sudah memberitakan Injil 100 x kepadanya, dan ia belum bertobat, siapa tahu ia akan bertobat pada penginjilan ke 101? Jadi, sekalipun saudara mempercayai doktrin tentang predestinasi, tetaplah bertekun, baik dalam memberitakan Injil, maupun dalam mendoakan orang-orang yang saudara injili.

 

 

-AMIN-