DOKTRIN KRISTUS: Christology

oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div.


 

CHRIST: THE GOD-MAN

 

 

I) Kristus adalah sungguh-sungguh Allah.

 

Bukti-bukti keilahian Kristus:

 

1)  Kitab Suci secara explicit mengatakan demikian (Yes 9:5  Yoh 1:1  Ro 9:5  Fil 2:5b-7  Titus 2:13  Ibr 1:8  2Pet 1:1  1Yoh 5:20).

 

Beberapa dari ayat-ayat ini saya jelaskan di bawah ini:

 

a)  Yoh 1:1 - “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”.

 

Kata ‘Firman’ (bahasa Yunani: LOGOS) di sini jelas menunjuk kepada Yesus. Ini terlihat dari Yoh 1:14a yang mengatakan bahwa ‘Firman itu telah menjadi manusia’ dan dari Yoh 1:14b yang menyebutNya sebagai ‘Anak Tunggal Allah’.

 

Dan Yoh 1:1 ini secara explicit mengatakan bahwa Firman / Yesus itu adalah Allah.

 

Tetapi Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan bahwa kata ‘God / Allah’ yang ditujukan kepada Yesus dalam Yoh 1:1 ini dalam bahasa Yunaninya tidak mempunyai definite article / kata sandang (Inggris: ‘the’ ) dan karena itu harus diterjemahkan sebagai ‘a god’ (= suatu allah), dan diartikan bahwa Yesus adalah ‘allah kecil’ yang lebih rendah dari YEHOVAH / YAHWEH, yang adalah Allah yang sesungguhnya.

 

Sebagai jawaban bisa kita katakan bahwa dalam Kitab Suci ada sedikitnya 7 ayat dimana Yesus disebut the God’.

 

Ayat-ayat itu adalah:

 

1.  Yoh 20:28 - “Tomas menjawab Dia: ‘Ya Tuhanku dan Allahku!’”.

 

2.  Kis 20:28 - “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah AnakNya sendiri”.

 

Ayat ini salah terjemahan karena kata ‘Anak’ (yang saya coret itu), sebetulnya tidak ada. Dengan demikian kata ‘Nya’ jelas menunjuk kepada kata ‘Allah’ (yang saya garis bawahi), dan sekaligus kata itu pasti menunjuk kepada Yesus (karena ada kata ‘darah’). Karena itu jelas bahwa ayat ini menyatakan Yesus sebagai Allah. Bandingkan dengan KJV di bawah ini.

 

KJV: ‘Take heed therefore unto yourselves, and to all the flock, over the which the Holy Ghost hath made you overseers, to feed the church of God, which he hath purchased with his own blood’ (= Karena itu perhatikanlah dirimu sendiri, dan seluruh kawanan, di atas mana Roh Kudus telah menjadikan kamu penilik, untuk memberi makan gereja Allah, yang telah dibeliNya dengan darahNya sendiri).

 

Catatan: NIV dan NASB menterjemahkan seperti KJV. RSV = Kitab Suci Indonesia, tetapi pada catatan kakinya memberikan terjemahan seperti KJV/NIV/NASB.

 

3.  Tit 2:13 - “dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan [Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita] Yesus Kristus” (tanda kurung dari saya).

 

4.  Ibr 1:8 - “Tetapi tentang Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran”.

 

5.  2Pet 1:1 - “Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan [Allah dan Juruselamat kita], Yesus Kristus (tanda kurung dari saya).

 

2Pet 1:1 (NASB): “... by the righteousness of our God and Savior, Jesus Christ” [= oleh kebenaran Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus].

 

Jadi di sini Yesus disebut dengan istilah ‘Allah dan Juruselamat kita’.

 

6.  1Yoh 5:20 - “Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam AnakNya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal”.

 

7.  Wah 1:7-8 - “(7) Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin. (8) ‘Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.’”.

 

Ketujuh ayat ini secara explicit menyebut Yesus sebagai Allah, dan dalam ketujuh ayat ini, kata ‘Allah’ dalam bahasa Yunaninya menggunakan definite article.

 

Untuk kata ‘Allah’ dalam:

 

1.  Yoh 20:28 digunakan kata bahasa Yunani HO THEOS.

 

2.  Kis 20:28 digunakan kata bahasa Yunani TOU THEOU.

 

3.  Tit 2:13 digunakan kata bahasa Yunani TOU THEOU.

 

4.  Ibr 1:8 digunakan kata bahasa Yunani HO THEOS.

 

5.  2Pet 1:1 digunakan kata bahasa Yunani TOU THEOU.

 

6.  1Yoh 5:20 digunakan kata bahasa Yunani HO THEOS.

 

7.  Wah 1:8 digunakan kata bahasa Yunani HO THEOS.

 

Dimana kata TOU dan HO adalah defi­nite article / kata sandang tertentu. Karena itu jelaslah bahwa dalam ketujuh ayat di atas, kita tidak bisa menterjemahkan ‘a god’, dan secara hurufiah seharusnya diterjemahkan the God’.

 

Kalau Yoh 1:1 diterjemahkan ‘a god’ (= suatu allah) dan diartikan bahwa Yesus adalah ‘allah kecil’, maka itu akan bertentangan dengan ketujuh ayat ini.

 

b)  Ro 9:5 - “Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaanNya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!”.

 

c)  Fil 2:5b-7 - “(5b) ... Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

 

Ada beberapa hal yang perlu dibahas dari text ini:

 

1.  Pertama-tama mari kita menyoroti kata-kata ‘walaupun dalam rupa Allah’ (ay 6a).

 

Kata-kata ini oleh KJV diterjemah­kan ‘being in the form of God’ (= berada dalam bentuk Allah).

 

a.  Kata ‘being’ (= berada) itu dalam bahasa Yunani adalah HUPARCHON dan ini ada dalam bentuk present parti­ciple.

 

Ini aneh dan kontras sekali dengan penggunaan bentuk-bentuk aorist (= past / lampau) pada kata-kata setelahnya, seperti:

 

·        menganggap (h[ghsato / HEGESATO).

 

·        mengosongkan (e]kenwsen / EKENOSEN).

 

·        mengambil (labwn / LABON).

 

·        menjadi (genomenoj / GENOMENOS).

 

Bentuk present dari kata HUPARCHON ini menunjuk pada ‘continuance of being’ (= keberadaan yang terus-menerus). Walter Martin mengatakan (hal 94) bahwa kata HUPARCHON itu berarti ‘remaining or not ceasing to be’ (= tetap atau tidak berhenti sebagai).

 

William Barclay mengatakan bahwa kata HUPARCHON itu ‘menggambarkan seseorang sebagaimana adanya secara hakiki dan hal itu tak bisa berubah’ (‘It describes that which a man is in his very essence and which cannot be changed’) - hal 35.

 

Karena itu, kalau dikatakan bahwa Yesus itu ‘being in the form of God’, maka itu berarti bahwa Yesus adalah Allah, dan Ia tetap adalah Allah, dan ini tidak bisa berubah.

 

b.  Kata ‘form’ (= bentuk).

 

Dalam bahasa Yunani ada 2 kata yang bisa diterjemahkan ‘bentuk’ / ‘rupa’, yaitu MORPHE dan SKHEMA.

 

William Hendriksen: “Do these two words - morphe and schema - have the same meaning? At times, throughout Greek literature, as any good lexicon will indicate, both can have the meaning ‘outward appearance’, ‘form’, ‘shape’. In certain contexts they can be just about interchangable. But at other times there is a clear difference in meaning. The context in each separate instance must decide” (= Apakah dua kata ini - morphe dan sKhema - mempunyai arti yang sama? Kadang-kadang, dalam literatur Yunani, seperti yang ditunjukkan oleh sembarang lexicon yang baik, keduanya bisa mempunyai arti ‘penampilan lahiriah’, ‘wujud’, ‘bentuk’. Dalam kontext-kontext tertentu kedua kata itu bisa dibolak-balik. Tetapi pada saat-saat lain ada perbedaan arti yang jelas. Kontext dalam setiap peristiwa harus menentukan) - hal 103 (footnote).

 

Dalam Fil 2:6 ini William Hendriksen menganggap bahwa kata MORPHE itu berbeda dengan SKHEMA. Mengapa? Mari kita melihat terjemahan dari NASB di bawah ini.

 

Fil 2:6-7 (NASB): ‘(6) who, although He existed in the form of God, did not regard equality with God a thing to be grasped, (7) but emptied Himself, taking the form of a bond-servant, and being made in the likeness of men [= (6) yang, sekalipun Ia berada dalam bentuk (MORPHE) Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu untuk dipertahankan, (7) tetapi telah mengosongkan diriNya sendiri, mengambil bentuk (MORPHE) seorang hamba, dan dijadikan dalam bentuk (SKHEMA) manusia].

 

Perhatikan kata-kata yang saya garis bawahi itu. Untuk dua kata yang pertama digunakan kata Yunani MORPHE (Yesus sebagai Allah dan sebagai hamba), sedangkan untuk kata yang ketiga digunakan kata Yunani SKHEMA (Yesus sebagai manusia).

 

William Hendriksen menganggap adanya perubahan dari MORPHE ke SKHEMA menunjukkan bahwa di sini ada perbedaan arti antara kedua kata itu. Memang sebagai manusia Yesus tidak terus sama. Ia bertumbuh makin besar, makin tua dalam usia, sehingga tentu berubah dalam wajah / bentuk badan. Ia bisa menjadi kurus (misalnya pada saat berpuasa), dan kembali menjadi gemuk (setelah puasa), dsb. Karena itu di sini digunakan SKHEMA.

 

Tetapi sebagai Allah, Ia tidak berubah. Karena itu digunakan MORPHE. Juga sebagai hamba, Ia tidak berubah. Ia boleh menjadi dewasa, tua, kurus, gemuk, dsb., tetapi Ia tetap adalah hamba. Dan karena itu di sini juga digunakan MORPHE.

 

William Barclay: “There are two Greek words for ‘form’, MORPHE and SCHEMA. They must both be translated ‘form’, because there is no other English equivalent, but they do not mean the same thing. MORPHE is the essential form which never alters; SCHEMA is the outward form which changes from time to time and from circumstance to circumstance. ... The word Paul uses for Jesus being in the form of God is MORPHE; that is to say, his unchangeable being is divine. However his outward SCHEMA might alter, he remained in essence divine” (= Ada dua kata Yunani untuk ‘bentuk’, MORPHE dan SKHEMA. Kedua kata itu harus diterjemahkan ‘bentuk’, karena tidak ada kata lain dalam bahasa Inggris yang sama artinya, tetapi kedua kata itu tidak sama artinya. MORPHE adalah bentuk yang hakiki yang tidak pernah berubah; SKHEMA adalah bentuk luar yang berubah-ubah dari saat ke saat dan dari keadaan ke keadaan. ... Kata yang digunakan oleh Paulus untuk Yesus yang ada dalam rupa / bentuk Allah adalah MORPHE; yang artinya adalah: keberadaanNya yang tidak berubah adalah ilahi. Bagaimanapun SKHEMA luarNya berubah, dalam hakekatNya Ia tetap ilahi) - hal 35,36.

 

Jadi, baik penguraian tentang kata ‘being’ (= ada / berada) maupun kata ‘form’ (= bentuk), menunjukkan ketidak-berubahan Yesus sebagai Allah. Allah memang mempunyai sifat tidak bisa berubah (Mal 3:6  Maz 102:26-28  Yak 1:17), karena kalau Ia bisa berubah, itu menunjukkan Ia tidak sempurna!

 

2.  Sekarang mari kita melihat text yang sedang kita bahas ini sekali lagi.

 

Fil 2:5b-7 - “(5b) ... Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

 

Kalau kata-kata dalam ay 7 yang mengatakan ‘mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia’ diartikan bahwa Yesus betul-betul menjadi manusia, maka konsek­wensinya, kata-kata dalam ay 6 yang mengatakan bahwa Yesus ada ‘dalam rupa Allah’ haruslah diartikan bahwa Yesus betul-betul adalah Allah.

 

3.  Sekarang kita akan membahas bagian yang sukar dari text ini, yaitu kata-kata ‘tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan’.

 

Fil 2:5b-7 - “(5b) ... Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”.

 

KJV: ‘(5) Let this mind be in you, which was also in Christ Jesus: (6) Who, being in the form of God, thought it not robbery to be equal with God (= Hendaknya pikiran ini ada dalam kamu, yang juga ada dalam Kristus Yesus: Yang, ada dalam bentuk Allah, menganggapnya bukan sebagai perampokan untuk menjadi setara dengan Allah).

 

RSV: ‘(5) Have this mind among yourselves, which is yours in Christ Jesus, (6) who, though he was in the form of God, did not count equality with God a thing to be grasped (= Milikilah pikiran ini di antara kamu sendiri, yang adalah milikmu dalam Kristus Yesus, yang sekalipun Ia ada dalam bentuk Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah suatu hal yang harus direbut / dipegang erat-erat).

 

NIV: ‘(5) Your attitude should be the same as that of Christ Jesus: (6) Who, being in very nature God, did not consider equality with God something to be grasped (= Sikapmu harus sama seperti sikap dari Kristus Yesus: Yang, ada dalam hakekat Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sesuatu untuk direbut / dipegang erat-erat).

 

NASB: ‘(5) Have this attitude in yourselves which was also in Christ Jesus, (6) who, although He existed in the form of God, did not regard equality with God a thing to be grasped (= Milikilah sikap ini dalam dirimu sendiri yang juga ada dalam Kristus Yesus, yang, sekalipun Ia berada dalam bentuk Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sesuatu untuk direbut / dipegang erat-erat).

 

Kata bahasa Inggris ‘grasp’ yang digunakan oleh RSV/NIV/NASB bisa diartikan ‘merebut’ atau ‘memegang erat-erat’. Oleh KJV kata itu diterjemahkan ‘robbery’ (= perampokan). Kata bahasa Yunaninya adalah HARPAGMON. Kalau nanti di bawah digunakan istilah HARPAGMOS, jangan terlalu mempersoalkan perbedaan antara HARPAGMON dengan HARPAGMOS. Perbedaan ini hanya terjadi karena posisi kata itu dalam suatu kalimat (casenya).

 

William Hendriksen mengatakan bahwa kata HARPAGMOS merupakan suatu kata benda, yang bisa diartikan secara aktif, atau secara pasif.

 

Kalau diartikan secara aktif, maka itu menjadi ‘an act’ / ‘suatu tindakan’ (suatu tindakan perampokan / perebutan kekuasaan).

 

Kalau diartikan secara pasif, maka itu menjadi ‘a thing’ / ‘suatu hal’ (suatu rampasan / harta / kekayaan untuk dipegang erat-erat).

 

Arti aktif diambil oleh KJV (yang menterjemahkannya ‘robbery’ / ‘perampokan’), tetapi Hendriksen berpendapat ini tidak sesuai dengan kontext yang mendahului ayat ini, yang menekankan supaya kita menjadi rendah hati dan tidak berpegang pada hak kita tetapi lebih memikirkan kepentingan orang lain. Jadi, Hendriksen memilih arti pasif.

 

William Hendriksen menambahkan bahwa ada orang yang mengatakan bahwa kata HARPAGMOS, karena berakhiran MOS, pasti adalah kata benda yang mempunyai arti aktif. Kata yang mempunyai arti pasif, biasanya berakhiran MA, bukan berakhiran MOS. Tetapi Hendriksen mengatakan bahwa terhadap peraturan tersebut, ada perkecualiannya, dan ia memberikan banyak contoh dari Kitab Suci tentang perkecualian tersebut, yaitu:

 

Kata EPISITISMOS (Luk 9:12) berarti ‘food’ (= makanan).

 

Kata THERISMOS (Luk 10:2) berarti ‘harvest / crop’ (= panen / tuaian).

 

Kata HIMATISMOS (Yoh 19:24) berarti ‘vestment’ (= jubah).

 

Kata HUPOGRAMMOS (1Pet 2:21) berarti ‘example’ (= teladan).

 

Kata PHRAGMOS (Luk 14:23) berarti ‘hedge / fence’ (= pagar).

 

Kata KHREMATISMOS (Ro 11:4) berarti ‘oracle’ (= firman Allah).

 

Kata PSALMOS (1Kor 14:26) berarti ‘psalm’ (= mazmur).

 

Catatan: semua kata berakhiran MOS ini diartikan ‘a thing’ / ‘suatu hal’ (arti pasif), bukan ‘an act’ / ‘suatu tindakan’ (arti aktif).

 

Hendriksen juga mengatakan bahwa kata HARPAGMOS juga digunakan dalam tafsiran dari Eusebius tentang Injil Lukas, dan diartikan dalam arti pasif, yaitu ‘rampasan’.

 

Selanjutnya, kalau kata HARPAGMOS ini diartikan dalam arti pasif, maka Hendriksen mengatakan bahwa itu memungkinkan 2 arti lagi, yaitu:

 

·        Itu adalah sesuatu yang sudah dimiliki, dan dipertahankan.

 

·        Itu adalah sesuatu yang belum dimiliki, dan diusahakan / dicari dengan sungguh-sungguh.

 

Lagi-lagi dalam hal ini, kontextnya yang harus menentukan, arti mana yang diambil.

 

Arti yang kedua jelas bertentangan dengan kata-kata ‘walaupun dalam rupa / bentuk Allah’ dalam Fil 2:6a, yang menunjukkan bahwa Yesus sudah adalah Allah (ini sudah dibahas di atas).

 

Jadi, jelas bahwa kita harus mengambil arti pertama. Dan ini menjadi cocok dengan terjemahan Kitab Suci Indonesia.

 

d)  Tit 2:13 - “dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus.

 

Bagian terakhir dari ayat ini (yang saya garis bawahi) memungkinkan 2 cara pembacaan:

 

·        (Allah yang Mahabesar) dan (Juruselamat kita Yesus Kristus).

 

Kalau dipilih pembacaan yang ini, maka ayat ini membicarakan 2 pribadi, yang pertama adalah ‘Allah yang Mahabesar’, dan yang kedua adalah ‘Juruselamat kita Yesus Kristus’. Dengan demikian ayat ini tidak menunjukkan Yesus sebagai Allah.

 

·        (Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita), Yesus Kristus.

 

Kalau dipilih pembacaan yang ini, maka ayat ini hanya membicarakan satu pribadi, yaitu Yesus Kristus, yang digambarkan sebagai ‘Allah yang Mahabesar’ maupun sebagai ‘Juruselamat kita’.

 

NIV memilih pilihan kedua karena NIV menterjemahkannya sebagai berikut: ‘while we wait for the blessed hope - the glorious appearing of our great God and Savior, Jesus Christ’ (= sementara kita menantikan pengharapan yang mulia - penampilan yang mulia dari Allah kita yang besar dan Juruselamat kita, Yesus Kristus).

 

Saya sendiri memilih pembacaan kedua, karena:

 

Alasan pertama: Kata ‘appearing’ (= penampilan / pemunculan), yang dalam Kitab Suci Indonesia diterjemahkan ‘penyataan’, diterjemahkan dari kata bahasa Yunani EPIPHANEIA, yang selalu menunjuk pada kedatangan Yesus (bdk. 2Tes 2:8  1Tim 6:14  2Tim 1:10  2Tim 4:1,8), dan tidak pernah menunjuk kepada Bapa.

 

Alasan kedua: Pembacaan kedua ini sesuai dengan hukum bahasa Yunani yang diberikan oleh Dana & Mantey, dan juga ahli-ahli bahasa Yunani yang lain.

 

Dana & Mantey mengatakan bahwa bila kata Yunani KAI (= dan) menghubungkan 2 kata benda dengan case / kasus yang sama, dan jika ada kata sandang yang mendahului kata benda yang pertama, dan kata sandang itu tidak diulangi sebelum kata benda yang kedua, maka kata benda yang terakhir selalu berhubungan dengan pribadi / orang yang dinyatakan / digambarkan oleh kata benda yang pertama. Dengan kata lain, kata benda yang kedua merupakan pengambaran lebih jauh tentang pribadi / orang itu (‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 147).

 

Catatan: ‘case’ / ‘kasus’ merupakan suatu istilah dalam gramatika bahasa Yunani.

 

Gresham Machen: “The noun in Greek has gender, number, and case. ... There are five cases; nominative, genitive, dative, accusative, and vocative. ... The subject of a sentence is put in the nominative case. ... The object of a transitive verb is placed in the accusative case. ... The genitive case expresses possession. ... The dative case is the case of the indirect object. ... The vocative case is the case of direct address” [= Kata benda dalam bahasa Yunani mempunyai jenis kelamin (laki-laki, perempuan dan netral), bilangan / jumlah (tunggal dan jamak), dan case / kasus. ... Ada lima cases / kasus; nominatif, genitif, datif, akusatif, dan vokatif. ... Subyek dari suatu kalimat diletakkan dalam kasus nominatif. ... Obyek dari suatu kata kerja transitif ditempatkan dalam kasus akusatif. ... Kasus genitif menyatakan kepemilikan. ... Kasus datif adalah kasus dari obyek tidak langsung. ... Kasus vokatif adalah kasus dari sapaan langsung] - ‘New Testament Greek For Beginners’, hal 23,24,25.

 

                                   +¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾+

                                  ½                                                        ½

                                  ½                           +¾¾¾¾¾+         ½

                                  ½                           ½                 ¯        ¯

Tit 2:13 - Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus.

k.b. 1            ½       k.b. 2            pribadi yg digambarkan

                                                                ¯                                       

                               kata penghubung KAI

 

Di sini ada dua kata benda dengan case yang sama (Genitive Case), yaitu ‘Allah yang Mahabesar’ dan ‘Juruselamat’. Kedua kata benda itu dihubungkan oleh kata penghubung KAI (= dan). Kata benda yang pertama (k.b. 1), yaitu ‘Allah yang Mahabesar’ mempunyai definite article / kata sandang (TOU MEGALOU THEOU / the great God), tetapi kata benda yang kedua (k.b. 2), yaitu ‘Juruselamat’ tidak mempunyainya (SOTEROS). Kata benda pertama, yaitu ‘Allah yang Mahabesar’ merupakan penggambaran dari kata ‘Yesus Kristus’. Maka kata benda kedua, yaitu ‘Juruselamat’ merupakan penggambaran lanjutan terhadap pribadi yang sama, yaitu ‘Yesus Kristus’. Jadi, Tit 2:13 ini menggambarkan Yesus Kristus dengan istilah ‘Allah yang Mahabesar’ maupun ‘Juruselamat’.

 

e)  Ibr 1:8 - “Tetapi tentang Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran”.

 

f)  2Pet 1:1 - “Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

 

Di sini kita kembali bertemu dengan hukum bahasa Yunani yang telah kita bahas pada pembahasan Tit 2:13 di depan.

 

                    +¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾+

                    ½                                                ½

                    ½                 +¾¾¾¾¾¾+        ½

                    ½                 ½                   ¯        ¯

2Pet 1:1b - Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

k.b.1  ½       k.b.2            pribadi yg digambarkan

¯

               kata penghubung KAI

 

Di sini ada dua kata benda dengan case yang sama (Genitive Case), yaitu ‘Allah’ dan ‘Juruselamat’. Kedua kata benda itu dihubungkan oleh kata penghubung KAI (= dan). Kata benda yang pertama (k.b.1), yaitu ‘Allah’ mempunyai kata sandang (TOU THEOU / the God), tetapi kata benda yang kedua (k.b.2), yaitu ‘Juruselamat’, tidak mempunyainya (SOTEROS). Kata benda pertama, yaitu ‘Allah’ merupakan penggambaran dari kata ‘Yesus Kristus’. Maka kata benda kedua, yaitu ‘Juruselamat’ merupakan penggambaran lanjutan terhadap pribadi yang sama, yaitu ‘Yesus Kristus’. Jadi, 2Pet 1:1b ini menggambarkan Yesus Kristus dengan istilah ‘Allah’ maupun ‘Juruselamat’.

 

g)  1Yoh 5:20 - “Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam AnakNya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal”.

 

Sekalipun ada banyak ayat yang menyebut Yesus dengan sebutan ‘Allah’, tetapi ada banyak orang yang tetap menolak keilahian Kristus. Mereka mengatakan bahwa dalam Kitab Suci kata ‘Allah’ sering digunakan untuk ‘yang bukan Allah’.

                                                                                                        

Ada 2 hal yang bisa diberikan sebagai jawaban:

 

1.  Sekalipun dalam Kitab Suci kata ‘allah’ memang bisa digunakan untuk malaikat, setan, dan bahkan manusia, tetapi kata-kata itu tidak pernah digunakan sesering kata itu digunakan terhadap Yesus.

 

2.  Pada saat Kitab Suci menyebut seseorang yang bukan Allah yang sesungguhnya dengan sebutan ‘allah’, Kitab Suci selalu menunjukkan secara jelas bahwa orang-orang itu disebut ‘allah’ bukan dalam arti seperti biasanya / yang sesungguhnya.

 

Contoh:

 

a.  Kel 7:1 - “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah (ELOHIM) bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu”.

 

Perhatikan bahwa sekalipun ayat ini menyebut Musa sebagai ‘Allah’, tetapi ada tambahan kata-kata ‘bagi Firaun’. Dan ini jelas menunjukkan bahwa Musa bukanlah Allah dalam arti yang sesungguhnya.

 

b.  Kel 12:12 - “Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah (ELOHEY = gods of / allah-allah dari) di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN”.

 

Jelas bahwa kata ‘allah’ di sini tidak menunjuk kepada Allah yang sejati, karena dikatakan bahwa Allah yang sejati itu akan menghukum ‘semua allah’ ini. Jadi di sini kata itu menunjuk kepada dewa-dewa sembahan Mesir, yang sering berupa binatang, khususnya sapi. Pada saat Tuhan menghukum Mesir dengan membunuh semua anak sulung, maka anak binatang (dewa / allah mereka) juga ikut dibunuh / dihukum.

 

c.  Kel 20:3 - “Jangan ada padamu allah (ELOHIM) lain di hadapanKu”.

 

Adanya kata-kata ‘lain’ dan ‘di hadapanKu’, membuat ayat ini jelas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan ‘allah’ bukanlah Allah yang sebenarnya.

 

Selain dalam ayat ini, dalam banyak ayat-ayat lain, kata ‘allah’ digunakan untuk menunjuk kepada dewa / berhala dari bangsa-bangsa kafir, dan kontextnya selalu menunjukkan secara jelas bahwa yang dimaksud bukanlah Allah yang sesungguhnya, tetapi hanya dewa / berhala yang dalam Kitab Suci dikatakan tidak mempunyai existensi (1Kor 8:4-6).

 

d.  Hak 5:8 - “Ketika orang memilih allah (ELOHIM) baru, maka terjadilah perang di pintu gerbang. Sesungguhnya, perisai ataupun tombak tidak terlihat di antara empat puluh ribu orang di Israel”.

 

Kata-kata dari ayat ini yang mengatakan bahwa ‘orang memilih allah baru’, sudah menunjukkan bahwa kata ‘allah’ ini tidak digunakan dalam arti yang sebenarnya. Jadi ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang Israel memilih dewa / berhala baru (sambil meninggalkan YAHWEH), dan sebagai akibatnya terjadilah bencana seperti perang dan sebagainya.

 

e.  1Sam 28:13b: “Perempuan itu menjawab Saul: ‘Aku melihat sesuatu yang ilahi (ELOHIM) muncul dari dalam bumi.’”.

 

KJV: ‘gods’ (= allah-allah).

 

RSV/NWT: ‘a god’ (= suatu allah).

 

NIV: ‘a spirit’ (= suatu roh).

 

NASB: ‘a divine being’ (= suatu makhluk yang ilahi).

 

Kata Ibrani yang dipakai adalah ELOHIM.

 

Ada 2 penafsiran tentang bagian ini:

 

·        Kata ELOHIM menunjuk kepada penampilan yang supranatural / gaib.

 

·        Kata ELOHIM digunakan karena ‘arwah’ itu boleh dikatakan merupakan allah dari si dukun yang memanggilnya.

 

Tidak peduli mana arti yang benar, yang jelas ayat itu sendiri secara menyolok menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan ELOHIM di sini bukanlah Allah yang sesungguhnya. Ada yang menganggap bahwa ini betul-betul adalah roh Samuel, tetapi saya yakin bahwa itu salah, dan bahwa ini hanyalah setan yang menyamar sebagai roh Samuel. Jika saudara mau mempelajari hal ini secara mendetail, bacalah buku saya yang berjudul ‘Penginjilan Terhadap Orang Mati’.

 

f.  Maz 82:1-8 - “(1) Mazmur Asaf. Allah berdiri dalam sidang ilahi, di antara para allah (Ibrani: ELOHIM) Ia menghakimi: (2) ‘Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik? Sela (3) Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan! (4) Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!’ (5) Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa, dalam kegelapan mereka berjalan; goyanglah segala dasar bumi. (6) Aku sendiri telah berfirman: ‘Kamu adalah allah (Ibrani: ELOHIM), dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian. - (7) Namun seperti manusia kamu akan mati dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas.’ (8) Bangunlah ya Allah, hakimilah bumi, sebab Engkaulah yang memiliki segala bangsa”.

 

Yang disebut ELOHIM (‘allah-allah’) dalam ay 1 dan ay 6 itu jelas adalah hakim-hakim yang lalim / tidak adil pada saat itu. Sekalipun mereka disebut ‘allah-allah’ (ELOHIM), tetapi mereka jelas bukan Allah dalam arti yang sesungguhnya, dan itu terlihat dari:

 

·        mereka ini bukan satu orang tetapi sekelompok orang, sehingga tidak mungkin mereka adalah Allah semua, karena akan menimbulkan polytheisme.

 

·        mereka dihakimi oleh Allah (ay 1).

 

·        mereka menghakimi dengan tidak adil (ay 2-4), dan hidup dalam kegelapan (ay 5).

 

·        mereka akan mati sebagai manusia (ay 7).

 

g.  Maz 95:3 - “Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah (ELOHIM).

 

Dalam ayat ini yang disebut ‘allah’ (ELOHIM) juga adalah sekelompok orang. Ada yang menganggap mereka ini sebagai dewa-dewa, dan ada juga yang menganggap mereka ini sebagai malaikat-malaikat. Bahwa mereka ini sekelompok, bukan tunggal, dan bahwa TUHAN dikatakan mengatasi mereka semua, jelas menunjukkan bahwa pada saat kata ‘allah’ (ELOHIM) diterapkan kepada mereka, kata itu tidak digunakan dalam arti yang sebenarnya.

 

h.  Maz 96:4-5 - “Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah (ELOHIM). Sebab segala allah (ELOHIM) bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi Tuhanlah yang menjadikan langit”.

 

Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa yang disebut ‘allah’ di sini adalah berhala-berhala / dewa-dewa.

 

i.   Maz 138:1 - “Aku hendak bersyukur kepadaMu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah (ELOHIM) aku akan bermazmur bagiMu”.

 

Calvin menganggap bahwa kata ELOHIM di sini menunjuk atau kepada malaikat-malaikat atau kepada raja-raja; Calvin lebih condong pada arti pertama. Siapapun yang disebut sebagai ELOHIM di sini, jelas sekali bahwa mereka bukanlah Allah dalam arti sesungguhnya, karena dalam ayat ini Allah yang sesungguhnya disebut ‘Mu’, kepada siapa Daud bersyukur dan bermazmur.

 

j.  1Kor 8:5-6 - “(5) Sebab sungguhpun ada apa yang disebut ‘allah’ (THEOI = gods / allah-allah), baik di sorga, maupun di bumi - dan memang benar ada banyak ‘allah’ (THEOI) dan banyak ‘tuhan’ yang demikian - (6) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

 

Apakah yang disebut dengan ‘allah’ dalam ay 5 itu, malaikat atau berhala, tidak jadi soal. Yang jelas kata-kata tambahan dalam ay 6nya menunjukkan bahwa ‘allah’ dalam ay 5 itu bukan betul-betul Allah.

 

k.  Kis 12:22 - “Dan rakyatnya bersorak membalasnya: ‘Ini suara allah (THEOU) dan bukan suara manusia!’”.

 

Jelas bahwa ini tidak menunjuk kepada Allah yang benar, karena kata-kata ini ditujukan kepada Herodes.

 

l.   2Kor 4:4 - “yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah”.

 

Kata Yunani yang diterjemahkan ‘ilah’ di sini adalah HO THEOS (= the God / sang Allah)! Jelas bahwa di sini kata itu tidak menunjuk kepada Allah yang sejati, tetapi menunjuk kepada setan.

 

m. 2Tes 2:4 - “yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah (THEON). Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah (TOU THEOU).

 

Kontext menunjukkan bahwa ini sama sekali tidak menunjuk kepada Allah yang sebenarnya, tetapi mungkin ini menunjuk kepada Antikristus.

 

Tetapi pada waktu kata ‘Allah’ digunakan untuk Yesus, Kitab Suci tidak memberi petunjuk apapun bahwa kata itu digunakan bukan dalam arti yang sesungguhnya, tetapi sebaliknya bahkan memberikan keterangan yang menunjukkan bahwa Ia memang adalah Allah yang sejati.

 

A. H. Strong: “It is sometimes objected that the ascription of the name ‘God’ to Christ proves nothing as to his absolute deity, since angels and even human judges are called gods, as representing God’s authority and executing his will. But we reply that, while it is true that the name is sometimes so applied, it is always with adjuncts and in connections which leaves no doubt of its figurative and secondary meaning. When, however, the name is applied to Christ, it is, on the contrary, with adjuncts and in connections which leaves no doubt that it signifies absolute Godhead” (= Kadang-kadang diajukan keberatan yang mengatakan bahwa pemberian nama ‘Allah’ kepada Kristus tidak membuktikan apa-apa berkenaan dengan keilahianNya yang mutlak, karena malaikat-malaikat dan bahkan hakim-hakim manusia disebut allah-allah, karena mewakili otoritas Allah dan melaksanakan kehendakNya. Tetapi kami menjawab bahwa sekalipun memang benar bahwa nama itu kadang-kadang diterapkan seperti itu, itu selalu disertai dengan tambahan / keterangan dan dalam hubungan yang membuang semua keragu-raguan tentang arti kiasan dan arti sekundernya. Tetapi pada waktu nama itu diterapkan kepada Kristus, sebaliknya itu disertai dengan tambahan / keterangan dan dalam hubungan yang membuang semua keragu-raguan bahwa itu menunjukkan keAllahan yang mutlak) - ‘Systematic Theology’, hal 307.

 

Contoh:

 

·        Yoh 1:1c, yang mengatakan bahwa ‘Firman (Yesus) itu adalah Allah’, didahului oleh kata-kata ‘Pada mulanya adalah Firman’, yang menunjukkan kekekalan dari Firman itu, dan lalu dilanjutkan dengan Yoh 1:3, yang menunjukkan bahwa Firman / Yesus itu adalah Pencipta segala sesuatu!

 

·        Ro 9:5, yang menyatakan Yesus sebagai Allah, juga menambahkan bahwa Ia ada di atas sesuatu, dan harus dipuji selama-lamanya.

 

·        Ibr 1:8, selain menyebut Anak sebagai Allah, juga mengatakan bahwa Ia mempunyai takhta yang kekal, dan masih disusul lagi oleh Ibr 1:10-12 yang menyatakan Anak sebagai Tuhan, dan sebagai Pencipta, yang kekal dan yang tidak pernah berubah.

 

·        Wah 1:8, selain menyebut Yesus sebagai ‘Tuhan Allah’, juga menyebutNya dengan sebutan ‘Yang Mahakuasa’ dan ‘Alfa dan Omega’.

 

2)  Kitab Suci memberikan nama-nama ilahi untuk Yesus (Yes 9:5  Yer 23:5-6  Mat 1:23  2Tim 1:10  Ibr 1:8,10).

 

a)  Yes 9:5 - “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”.

 

Ayat ini jelas merupakan suatu nubuat tentang Kristus, dan dalam ayat ini Ia disebut sebagai ‘Allah yang perkasa’ (Ibrani: EL GIBOR).

 

Tetapi Saksi-Saksi Yehuwa justru menyerang keilahian Kristus menggunakan ayat ini dengan berkata bahwa Kristus hanya disebut sebagai ‘Allah yang perkasa’, sedangkan YAHWEH / YEHOVAH disebut sebagai ‘Allah yang mahakuasa’ (Ibrani: EL SHADDAI) seperti dalam Kel 17:1.

 

Untuk menjawab serangan ini kita bisa melihat Yes 10:21 yang menyebut Allah / YAHWEH / YEHOVAH dengan sebutan ‘Allah yang perkasa’. Dalam bahasa Ibraninya digunakan istilah yang persis sama dengan dalam Yes 9:5 yaitu EL GIBOR.

 

b)  Yer 23:5-6 juga jelas merupakan nubuat tentang Kristus, dan dalam ayat-ayat itu Kristus disebut sebagai ‘TUHAN keadilan’, dimana kata ‘TUHAN’ semua hurufnya ditulis dengan huruf besar. Ini menunjukkan bahwa dalam bahasa Ibraninya digunakan kata ‘YAHWEH’ / ‘YEHOVAH’.

 

Ini adalah ayat-ayat yang sangat penting dalam menghadapi Saksi-Saksi Yehuwa karena dalam ayat-ayat ini Yesus Kristus disebut dengan sebutan YAHWEH / YEHOVAH.

 

Perlu diketahui bahwa dalam Kitab Suci kata Ibrani ‘ADONAY’ (= Tuhan / Lord - hanya huruf pertama yang menggunakan huruf besar) bisa digunakan untuk seseorang yang bukan Allah (Misalnya dalam Yes 21:8). Demikian juga dengan kata Ibrani ‘ELOHIM’ [= Allah / God(s)], atau kata Yunani THEOS (= Allah), bisa digunakan untuk menunjuk kepada dewa, manusia, dan bahkan setan (Misalnya: Kel 4:16  Kel 7:1  Kel 12:12  Kel 20:3,23  Hak 16:23-24  1Raja 18:27  Maz 82:1,6  Kis 28:6  2Kor 4:4).

 

Tetapi sebutan YAHWEH / YEHOVAH (= TUHAN / LORD) tidak pernah digunakan untuk siapapun selain Allah, karena YAHWEH adalah nama Allah (Kel 3:15  Yes 42:8)!

 

Maz 83:19 - “supaya mereka tahu bahwa Engkau sajalah yang bernama TUHAN, Yang Mahatinggi atas seluruh bumi”.

 

NIV menterjemahkan secara berbeda.

 

NIV: Let them know that you, whose name is the LORD - that you alone are the Most High over all the earth (= Biarlah mereka mengetahui bahwa Engkau, yang namaNya adalah TUHAN - bahwa Engkau saja adalah Yang Maha Tinggi atas seluruh bumi).

 

Tetapi KJV/RSV/NASB menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia.

 

KJV: ‘That men may know that thou, whose name alone is JEHOVAH, art the most high over all the earth’ (= Supaya manusia bisa mengetahui bahwa Engkau sendiri yang namaNya adalah Yehovah, adalah yang maha tinggi atas seluruh bumi).

 

RSV: ‘Let them know that thou alone, whose name is the LORD, art the Most High over all the earth’ (= Biarlah mereka mengetahui bahwa Engkau saja, yang namanya adalah TUHAN, adalah Yang Maha Tinggi atas seluruh bumi).

 

NASB: That they may know that Thou alone, whose name is the LORD, Art the Most High over all the earth (= Supaya mereka bisa mengetahui bahwa Engkau saja, yang namanya adalah TUHAN, adalah Yang Maha Tinggi atas seluruh bumi).

 

Karena itu, kalau Yesus disebut dengan istilah YAHWEH / YEHOVAH, itu jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah sendiri.

 

c)  Dalam Mat 1:23 Yesus disebut dengan istilah ‘Immanuel’, yang artinya adalah God with us (= Allah dengan kita).

 

d)  1Kor 8:4-6 menyatakan Yesus sebagai Tuhan.

 

1Kor 8:4-6 - “(4) Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: ‘tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.’ (5) Sebab sungguhpun ada apa yang disebut ‘allah’, baik di sorga, maupun di bumi - dan memang benar ada banyak ‘allah’ dan banyak ‘tuhan’ yang demikian - (6) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

 

Orang-orang yang menolak keilahian Yesus sering menggunakan kata-kata ‘hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa’ (ay 6) untuk mengatakan bahwa Yesus bukan Allah. Tetapi ini merupakan suatu argumentasi yang bodoh, karena kalau dari kata-kata tersebut disimpulkan bahwa hanya Bapa yang adalah Allah, dan Yesus bukan Allah, maka konsekwensinya adalah: dari kata-kata dalam ay 6b - ‘dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus’, kita harus menyimpulkan bahwa hanya Yesus yang adalah Tuhan, dan Bapa bukan Tuhan! Tentu tidak ada orang yang waras yang mau menerima konsekwensi ini!

 

Jadi, penafsiran yang benar tentang text ini adalah sebagai berikut:

 

·        memang hanya ada satu Allah yaitu Bapa, tetapi karena Yesus (dan Roh Kudus) satu dengan Bapa, maka Yesus (dan Roh Kudus) juga adalah Allah.

 

·        memang hanya ada satu Tuhan, yaitu Yesus, tetapi karena Bapa (dan Roh Kudus) satu dengan Yesus, maka Bapa (dan Roh Kudus) juga adalah Tuhan.

 

Sekalipun Kristen mempercayai bahwa Bapa adalah Allah / Tuhan, Yesus adalah Allah / Tuhan, dan Roh Kudus adalah Allah / Tuhan, tetapi Kristen tidak percaya adanya 3 Allah / Tuhan!

 

Bandingkan dengan Pengakuan Iman Athanasius, no 7-19, yang berbunyi sebagai berikut:

“7. What the Father is, the same is the Son, and the Holy Ghost.  8. The Father is uncreated, the Son uncreated, the Holy Ghost uncreated.  9. The Father is immense, the Son immense, the Holy Ghost immense.  10. The Father is eternal, the Son eternal, the Holy Ghost eternal.  11. And yet there are not three eternals, but one eternal.  12. So there are not three (beings) uncreated, nor three immense, but one uncreated, and one immense.  13. In like manner the Father is omnipotent, the Son is omnipotent, the Holy Ghost is omnipotent.  14. And yet there are not three omnipotents, but one omnipotent.  15. Thus the Father is God, The Son is God, the Holy Ghost is God.  16. And yet there are not three Gods, but one God.  17. Thus The Father is Lord, the Son is Lord, the Holy Ghost is Lord.  18. And yet there are not three Lords, but one Lord.  19. Because as we are thus compelled by Christian verity to confess each person severally to be God and Lord; so we are prohibited by the Catholic religion from saying that there are three Gods or Lords (= 7. Apa adanya Bapa itu, demikian juga dengan Anak, dan juga Roh Kudus.  8. Bapa tidak diciptakan, Anak tidak diciptakan, Roh Kudus tidak diciptakan.  9. Bapa itu maha besar, Anak itu maha besar, Roh Kudus itu maha besar.  10. Bapa itu kekal, Anak itu kekal, Roh Kudus itu kekal.  11. Tetapi tidak ada tiga yang kekal, tetapi satu yang kekal.  12. Demikian juga tidak ada tiga (makhluk) yang tidak dicipta, juga tidak tiga yang maha besar, tetapi satu yang tidak dicipta, dan satu yang maha besar.  13. Dengan cara yang sama Bapa adalah maha kuasa, Anak adalah maha kuasa, Roh Kudus adalah maha kuasa.  14. Tetapi tidak ada tiga yang maha kuasa, tetapi satu yang maha kuasa.  15. Demikian juga Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah.  16. Tetapi tidak ada tiga Allah, tetapi satu Allah.  17. Demikian pula Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan.  18. Tetapi tidak ada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan.  19. Karena sebagaimana kami didorong seperti itu oleh kebenaran Kristen untuk mengakui setiap pribadi secara terpisah / individuil sebagai Allah dan Tuhan; demikian pula kami dilarang oleh agama Katolik / universal / am untuk mengatakan bahwa ada tiga Allah atau Tuhan) - A. A. Hodge, ‘Outlines of Theology’, hal 117-118.

 

Ada banyak sekali ayat-ayat lain yang menyatakan Yesus sebagai Tuhan.

 

1.  Ada orang yang berkata bahwa dalam kitab Kisah Rasul, yang menekankan penginjilan, sehingga seharusnya menekankan Yesus sebagai Juruselamat, ternyata hanya ada 2 x sebutan ‘Juruselamat’ untuk Yesus, yaitu dalam Kis 5:31 dan 13:23. Tetapi Yesus disebut ‘Tuhan’ sebanyak 92 x, disebut ‘Tuhan Yesus’ sebanyak 13 x, dan disebut ‘Tuhan Yesus Kristus’ sebanyak 6 x!

 

2.  Kata Yunani KURIOS yang biasanya diterjemahkan ‘Tuhan’, memang bisa diterjemahkan ‘tuan’. Kitab Suci bahasa Inggris (KJV/RSV/NIV/NASB) kadang-kadang menterjemahkan ‘Sir’ (= Tuan), misalnya dalam Yoh 4:11, padahal kata itu ditujukan kepada Yesus. Mengapa diterjemahkan demikian? Karena kontextnya menunjukkan bahwa perempuan Samaria itu baru bertemu dengan Yesus dan sebelumnya tidak pernah mendengar ataupun mengenal Yesus. Jadi tidak mungkin ia tahu-tahu menyebut Yesus dengan sebutan ‘Tuhan’.

 

3.  Tetapi ada banyak ayat yang menyatakan Yesus betul-betul sebagai ‘Tuhan’ dan tidak mungkin diterjemahkan ‘tuan’, seperti: Mat 7:21-22  12:8  25:37,44  Luk 2:11  5:8  6:46  Yoh 11:27  20:28  Kis 2:20,21,25,36  4:33  7:59,60  8:16  9:1,2,5,10,11,13,15,17,31  10:13,36  11:16,20,21,24  15:11,26  16:15,31  18:8,25  19:5,9,13,17  20:21,24,35  21:13  22:4,5,8,10,16  24:14  26:15  28:31  Ro 1:4,7  4:24  5:1,11,21  6:23  7:25  8:39  10:9,13  13:14  14:14  15:6,30  16:18,20,24  1Kor 1:2,3,7,8,9,10  2:8  4:4,5  5:5  6:11,14  9:1  11:23,26,27,29  12:3,5  15:31,57,58  16:23  2Kor 1:2,3,14  4:5,14  8:9  11:31  13:13  Gal 1:3,19  6:14,18  Ef 1:2,3,15,17  3:11  4:1,5  5:20  6:23,24  Fil 2:11,19  3:20  4:23  Kol 2:6  3:17  1Tes 1:1,3  2:15,19  3:11,13  4:1,2,15,16,17  5:2,9,23,28  2Tes 1:1,2,7,8,12  2:1,2,8,14,16  3:6,12,18  1Tim 1:2,12  6:3,14  2Tim 1:2,8,12,19  4:8  Filemon 3,5,25  Ibr 1:10  7:14  13:20  Yak 1:1  2:1  5:7  1Pet 1:3  3:15  2Pet 1:2,8,14,16,20  3:2,10,18  Yudas 21,25  Wah 1:8,10  14:13  22:20,21.

 

4.  Sebutan ‘Tuhan’ bagi Yesus dikontraskan dengan ‘hamba’ / ’budak’.

 

Hal ini terlihat dalam banyak tempat, misalnya dalam Ro 1:1,4 - “(1) Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. ... (4) dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. Bdk. Yak 1:1  2Pet 1:1-2  Yudas 1,4.

 

5.  Ingat juga bahwa yang menyebut Yesus dengan sebutan ‘Tuhan’ adalah orang-orang Yahudi yang adalah bangsa monotheist, sehingga tidak mungkin begitu sering menyebut Yesus dengan sebutan ‘Tuhan’, seandainya Yesus bukan betul-betul Tuhan dalam arti yang setinggi-tingginya.

 

W. E. Vine: “The full significance of this association of Jesus with God under the one appellation, ‘Lord,’ is seen when it is remembered that these men belonged to the only monotheistic race in the world. To associate with the Creator one known to be a creature, however exalted, though possible to Pagan Philosophers, was quite impossible to a Jew” (= Arti sepenuhnya dari persatuan Yesus dengan Allah di bawah satu sebutan ‘Tuhan’ ini, terlihat pada waktu diingat bahwa orang-orang ini termasuk dalam satu-satunya bangsa monotheist dalam dunia ini. Menyatukan / menggabungkan sang Pencipta dengan seseorang yang diketahui sebagai ciptaan, bagaimanapun ditinggikannya dia, sekalipun merupakan sesuatu yang memungkinkan bagi ahli-ahli filsafat kafir, adalah mustahil bagi seorang Yahudi) - ‘An Expository Dictionary of New Testament Words’, hal 689.

 

Catatan: bangsa Yahudi memang adalah satu-satunya bangsa monotheist di dunia pada saat itu.

 

e)  Dalam Perjanjian Lama, sebutan ‘Juruselamat’ dan ‘Penebus’ / ‘Penolong’ ditujukan kepada Allah (Yes 43:3,11  Yes 45:15  Yer 14:8  Hos 13:4), tetapi dalam Perjanjian Baru, sebutan itu ditujukan kepada Yesus (2Tim 1:10  Tit 1:4  Tit 2:13  Tit 3:6  2Pet 1:11  2Pet 2:20  2Pet 3:18).

 

3)  Kitab Suci menunjukkan bahwa Yesus mempunyai sifat-sifat ilahi seperti:

 

a)  Kekal (Mikha 5:1b  Yoh 1:1  Yoh 8:58  Yoh 10:10  Yoh 17:5  Ibr 1:11-12  Wah 1:8,17-18  Wah 22:13).

 

·        Mikha 5:1b, yang jelas merupakan suatu nubuat tentang Kristus, mengatakan ‘yang permulaannya sudah sejak purba­kala, sejak dahulu kala’.

 

·        Yoh 1:1 mengatakan bahwa Firman / Yesus itu sudah ada ‘pada mulanya’.

 

·        Yoh 8:58 mengatakan bahwa Yesus sudah ada sebelum Abraham, padahal Abraham hidup lebih dari 2000 tahun sebelum Kristus lahir.

 

·        Yoh 10:10, dan banyak ayat Kitab Suci yang lain, mengata­kan bahwa Yesus ‘datang’. Ini menunjuk pada saat kelahiran Yesus. Tidak dikatakan ‘dilahirkan’ tetapi ‘datang’, karena ‘datang’ menunjukkan bahwa Ia sudah ada sebelum saat itu.

 

·        Yoh 17:5 mengatakan bahwa Yesus memiliki kemuliaan di hadapan hadirat Allah sebelum dunia ada.

 

·        Ibr 1:11-12.

 

Perhatikan kata-kata ‘semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada. ... tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahunMu tidak berkesudahan’.

 

Bahwa bagian ini menunjuk kepada Yesus adalah sesuatu yang jelas, karena Ibr 1:10-12 merupakan sambungan dari Ibr 1:8-9 (dihubungkan oleh kata ‘dan’ pada awal Ibr 1:10), dan Ibr 1:8 berkata ‘tentang Anak’.

 

·        Wah 1:8 dan Wah 22:13 menyebut Yesus sebagai Alfa dan Omega (huruf pertama dan terakhir dalam abjad Yunani), dan Wah 1:17 dan Wah 22:13 mengatakan bahwa Ia adalah ‘Yang Awal dan Yang Akhir’, dan Wah 22:13 juga mengatakan bahwa Yesus adalah ‘Yang pertama dan Yang terkemudian’, dan semua ini jelas menunjukkan bahwa Ia ada dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Lalu Wah 1:18 mengatakan bahwa Ia hidup sampai selama-lamanya.

 

b)  Suci / tak berdosa (2Kor 5:21  Ibr 4:15).

 

c)  Mahakuasa.

 

Mujijat-mujijat yang Ia lakukan, seperti membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang sakit, memberi makan 5000 orang lebih dengan 5 roti dan 2 ikan, menenangkan badai, mengubah air menjadi anggur, berjalan di atas air, mengusir setan, dsb, menunjukkan kemaha-kuasaanNya.

 

Memang nabi-nabi dan rasul-rasul tertentu juga melakukan banyak mujijat, tetapi ada beberapa perbedaan:

 

·        Tidak ada nabi / rasul yang bisa melakukan mujijat sesuai kehendaknya sendiri, tetapi Kristus bisa (Yoh 5:21).

 

·        Nabi melakukan mujijat bukan dengan kuasanya sendiri tetapi dengan kuasa Allah, sedangkan rasul juga demikian karena mereka melakukan mujijat dengan menggunakan nama Yesus. Tetapi Yesus melakukan mujijat dengan kuasaNya sendiri (bdk. Yoh 10:18), dan Ia tidak pernah menggunakan nama orang lain untuk melakukan mujijat.

 

·        Tidak ada seorangpun pernah melakukan mujijat sebanyak / sehebat yang Yesus lakukan (Yoh 15:24).

 

d)  Mahatahu (Mat 9:4  Mat 12:25  Yoh 2:24-25  Yoh 6:64).

 

e)  Mahaada.

 

·        Ini terlihat dari Yoh 1, yang mula-mula menyatakan bahwa Firman / Yesus itu pada mulanya bersama-sama dengan Allah (Yoh 1:1), tetapi lalu menunjukkan bahwa Firman / Yesus itu lalu menjadi manusia dan diam di antara kita (Yoh 1:14). Tetapi anehnya Yoh 1:18 mengatakan bahwa Firman / Yesus itu masih ada di pangkuan Bapa (Yoh 1:18 NIV: “... but God the only Son, who is at the Father’s side ...”).

 

Catatan: kata ‘pangkuan’ sebetulnya salah terjemahan. NASB: ‘bosom’ (= dada).

 

·        Kemahaadaan Yesus juga jelas terlihat dari janji yang Ia berikan dalam Mat 18:20 dan Mat 28:20b. Dengan adanya janji seperti itu, kalau Ia tidak mahaada, maka Ia pasti adalah seorang pendusta!

 

f)  Tidak berubah (Ibr 13:8).

 

4)  Kitab Suci menunjukkan bahwa Yesus melakukan pekerjaan-peker­jaan ilahi seperti:

 

a)  Penciptaan (Yoh 1:3,10  Kol 1:16  Ibr 1:2,10).

 

b)  Pengampunan dosa (Mat 9:2-7).

 

c)  Penghancuran segala sesuatu (Ibr 1:10-12).

 

d)  Pembaharuan segala sesuatu (Fil 3:21  Wah 21:5).

 

e)  Penghakiman pada akhir jaman (Mat 25:31-32  Yoh 5:22,27).

 

Bahwa Yesus akan menjadi Hakim pada akhir jaman, menunjuk­kan bahwa Ia juga adalah Allah sendiri. Mengapa?

 

·        Jumlah manusia yang pernah hidup dalam dunia ini sejak jaman Adam dan Hawa sampai kedatangan Kristus yang kedua-kalinya adalah begitu banyak.

 

Kalau Kristus bukanlah Allah sendiri, bagaimana mungkin Ia bisa menghakimi begitu banyak manusia itu dengan adil?

 

·        Karena ada begitu banyaknya faktor yang harus dipertim­bangkan dalam menjatuhkan hukuman kepada orang-orang berdosa (ingat bahwa neraka bukanlah semacam ‘masyarakat komunis’ dimana hukuman semua orang sama), seperti:

 

*        banyaknya dosa yang dilakukan seseorang. Orang yang dosanya sedikit tentu tidak bisa disamakan hukumannya dengan orang yang dosanya banyak.

 

*        tingkat dosanya.

 

Misalnya, dosa membunuh dan mencuri tentu tidak sama hukumannya (bdk. Kel 21:12  dan Kel 22:1).

 

*        tingkat pengetahuannya.

 

Makin banyak pengetahuan Firman Tuhan yang dimiliki seseorang, makin berat hukumannya kalau ia berbuat dosa (Luk 12:47-48).

 

*        kesengajaannya.

 

Dosa sengaja dan tidak sengaja tentu juga berbeda hukumannya (Kel 21:12-14).

 

*        pengaruh dosa yang ditimbulkan.

 

Kalau seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi dalam gereja berbuat dosa, maka pengaruh negatif yang ditim­bulkan akan lebih besar dari pada kalau orang kristen biasa berbuat dosa. Dan karena itu hukumannya juga lebih berat. Hal ini bisa terlihat dari kata-kata Yesus yang menunjukkan bahwa para ahli Taurat pasti akan menerima hukuman yang lebih berat (Mark 12:40b  Luk 20:47b).

 

*        apa yang menyebabkan seseorang berbuat dosa.

 

Seseorang yang mencuri tanpa ada pencobaan yang terlalu berarti tentu lebih berat dosanya dari pada orang yang mencuri karena membutuhkan uang untuk mengobati anaknya yang hampir mati. Hal ini bisa terlihat dari ayat-ayat Kitab Suci yang mengecam orang-orang yang melakukan dosa tanpa sebab / alasan, seperti dalam Maz 35:19  Maz 69:5  Maz 119:78,86. Juga dari ayat-ayat Kitab Suci yang mengecam orang yang mencintai / mencari dosa, seperti Maz 4:3.

 

·        Demikian juga pada saat mau memberi pahala kepada orang-orang yang benar, pasti ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, seperti:

 

*        banyaknya perbuatan baik yang dilakukan.

 

*        jenis perbuatan baik yang dilakukan.

 

*        besarnya pengorbanan pada waktu melakukan perbuatan baik. Yesus berkata bahwa janda yang memberi 2 peser memberi lebih banyak dari semua orang kaya yang memberi persembahan besar, karena janda itu memberikan seluruh nafkahnya (Luk 21:1-4).

 

*        motivasinya dalam melakukan perbuatan baik itu, dsb.

 

Untuk bisa melakukan semua hal-hal di atas ini dengan benar / adil, maka Hakim itu haruslah seseorang yang maha tahu, maha bijaksana dan maha adil, dan karena itu Ia harus adalah Allah sendiri!

 

Charles Hodge: “As Christ is to be the judge, as all men are to appear before him, as the secrets of the hearts are to be the grounds of judgment, it is obvious that the sacred writers believed Christ to be a divine person, for nothing less than omniscience could qualify any one for the office here ascribed to our Lord” (= Karena Kristus akan menjadi Hakim, karena semua orang akan menghadap di hadapanNya, karena rahasia dari hati adalah dasar penghakiman, jelaslah bahwa penulis-penulis sakral / kudus percaya bahwa Kristus adalah Pribadi ilahi, karena hanya kemaha-tahuan yang bisa memenuhi syarat bagi siapapun untuk jabatan / tugas yang di sini dianggap sebagai milik Tuhan kita) - ‘I & II Corinthians’, hal 501.

 

Karena itu adalah sesuatu yang aneh kalau ada orang-orang yang percaya bahwa Yesus akan menjadi Hakim pada akhir jaman, tetapi tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Allah sendiri!

 

5)  Kitab Suci memberikan kehormatan ilahi kepada Yesus seperti:

 

a)  Penghormatan (Yoh 5:23).

 

b)  Kepercayaan (Yoh 14:1).

 

c)  Pengharapan (1Kor 15:19).

 

d)  Penyejajaran namaNya dengan pribadi-pribadi lain dari Allah Tritunggal (Mat 28:19  2Kor 13:13).

 

6)  Daud menyebut Yesus, yang adalah keturunannya, sebagai ‘Tuhan’.

 

Mat 22:41-46 - “(41) Ketika orang-orang Farisi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka, kataNya: (42) ‘Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?’ Kata mereka kepadaNya: ‘Anak Daud.’ (43) KataNya kepada mereka: ‘Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia berkata: (44) Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kananKu, sampai musuh-musuhMu Kutaruh di bawah kakiMu. (45) Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?’ (46) Tidak ada seorangpun yang dapat menjawabNya, dan sejak hari itu tidak ada seorangpun juga yang berani menanyakan sesuatu kepadaNya”.

 

Text yang dimaksudkan oleh Yesus adalah Maz 110:1 - “Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: ‘Duduklah di sebelah kananKu, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.’”.

 

Catatan: dalam Maz 110:1, RSV menterjemahkan ‘lord’ (= tuhan / tuan), tetapi KJV/NIV/NASB menterjemahkan ‘Lord’ (= Tuhan). Sedangkan dalam Mat 22:43,44,45, KJV/RSV/NIV/NASB semua menterjemahkan ‘Lord’ (= Tuhan).

 

Jelas bahwa terjemahan yang benar adalah ‘Lord’ (= Tuhan), karena dalam Mat 22:41-46 itu jelas bahwa Yesus sedang berusaha untuk membuktikan keilahianNya kepada orang-orang Yahudi.

 

H. P. Liddon: “David’s Son is David’s Lord. ... David describes his great descendant Messiah as his ‘Lord’ (Psa. 110:1). ... He is David’s descendant; the Pharisees knew that truth. But He is also David’s Lord. How could He both if He was merely human? The belief of Christendom can alone answer the question which our Lord addressed to the Pharisees. The Son of David is David’s Lord because He is God; the Lord of David is David’s Son because He is God incarnate” [= ‘Anak dari Daud’ adalah ‘Tuhan dari Daud’. ... Daud menggambarkan keturunannya yang agung, Mesias, sebagai ‘Tuhan’nya (Maz 110:1). ... Ia adalah keturunan dari Daud; orang-orang Farisi mengetahui kebenaran itu. Tetapi Ia juga adalah ‘Tuhan dari Daud’. Bagaimana Ia bisa adalah keduanya jika Ia hanya manusia semata-mata? Hanya kepercayaan dari orang-orang kristen yang bisa menjawab pertanyaan yang ditujukan oleh Tuhan kita kepada orang-orang Farisi. ‘Anak dari Daud’ adalah ‘Tuhan dari Daud’ karena Ia adalah Allah; ‘Tuhan dari Daud’ adalah ‘Anak dari Daud’ karena Ia adalah Allah yang berinkarnasi / menjadi manusia] - ‘The Divinity of the Lord and Saviour Jesus Christ’, hal 43.

 

7)  KesatuanNya dengan Bapa seperti yang dinyatakan oleh ayat-ayat seperti Yoh 10:30  dan Yoh 14:7-11, jelas menunjukkan keilahian Yesus.

 

Penafsiran Saksi Yehovah, yang mengatakan bahwa ayat-ayat ini hanya memaksudkan kesatuan pikiran atau tujuan, merupakan penafsiran yang tidak sesuai dengan kontex, karena kalau kita lihat Yoh 10:31 terlihat bahwa orang-orang Yahudi itu lalu mau merajam Yesus dengan batu. Mengapa? Jelas karena mereka mengerti bahwa maksud Yesus bukannya menyatakan kesatuan pikiran / tujuan, tetapi kesatuan hakekat. Ini mereka anggap sebagai penghujatan terhadap Allah, dan karenanya mereka mau merajam Yesus. Ini terlihat dengan lebih jelas dari Yoh 10:33 dimana mereka mengatakan: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah.

 

Dalam tafsirannya tentang Yoh 17:10 (dan segala milikKu adalah milikMu dan milikMu adalah milikKu), Calvin memberikan suatu penerapan yang indah tentang kesatuan Bapa dan Anak dalam hidup / iman kita.

 

Calvin: “All these things are spoken for the confirmation of our faith. We must not seek salvation anywhere else than in Christ. But we shall not be satisfied with having Christ, if we do not know that we possess God in him. We must therefore believe that there is such unity between The Father and the Son as makes it impossible that they shall have anything separate from each other” (= Semua hal-hal ini dikatakan untuk meneguhkan iman kita. Kita tidak boleh mencari keselamatan di tempat lain manapun juga selain di dalam Kristus. Tetapi kita tidak akan puas dengan memiliki Kristus, jika kita tidak mengetahui bahwa kita memiliki Allah dalam Dia. Karena itu kita harus percaya bahwa ada suatu kesatuan sedemikian rupa antara Bapa dan Anak sehingga membuatnya mustahil bahwa yang satu mempunyai apapun terpisah dari yang lainnya) - hal 174.

 

8)  Yesus sendiri mengakui bahwa Ia adalah Allah / Anak Allah (Yoh 5:23  Yoh 10:30  Yoh 14:7-10  Yoh 15:23  Mat 26:63-64).

 

Catatan: Pengakuan Yesus sebagai Anak Allah, tidak perlu dan tidak boleh dibedakan dengan pengakuan sebagai Allah. Untuk itu lihat Yoh 5:18 yang berbunyi: “Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan diriNya dengan Allah.

 

Memang kalau seseorang mengaku bahwa dirinya adalah Allah / Anak Allah, itu tidak / belum berarti bahwa ia memang betul-betul adalah Allah. Bisa saja bahwa ia adalah seorang pendus­ta. Tetapi Yesus bukan hanya mengaku bahwa diriNya adalah Allah / Anak Allah, tetapi Ia juga rela mati demi pengakuan tersebut!

 

Ada seorang penulis buku yang menggunakan hal ini untuk membuktikan keilahian Yesus dengan cara sebagai berikut:

 

Yesus = Allah / Anak Allah

½

+¾¾¾¾¾ +¾¾¾¾¾ +

¯                                    ¯

            Tidak benar                          Benar

½                                    ½

+¾¾ +¾¾ +                           ½

¯                 ¯                           ½

       Tahu        Tidak tahu                    ½

¯                 ¯                           ¯

              Pendusta      Orang gila                   Allah

  ¾¾¾¾¾                                 ¾¾¾¾

  Orang tolol                                Anak Allah

 

Keterangan: Yesus mengaku sebagai Allah / Anak Allah, dan Ia mau mati untuk pengakuan itu.

 

Ada 2 kemungkinan tentang pengakuan itu, yaitu: TIDAK BENAR atau BENAR.

 

Kalau pengakuan itu TIDAK BENAR, maka ada 2 kemungkinan lagi yaitu: Yesus TAHU bahwa pengakuanNya tidak benar, atau Yesus TIDAK TAHU bahwa pengakuanNya tidak benar.

 

Kalau Yesus tahu bahwa pengakuannya tidak benar, maka Ia pasti adalah seorang PENDUSTA, bahkan ORANG TOLOL (karena Ia mau mati untuk suatu dusta).

 

Kalau Yesus tidak tahu bahwa pengakuanNya tidak benar, maka Ia pasti adalah ORANG GILA, karena hanya orang gila yang tidak mengerti apa yang Ia sendiri katakan.

 

Kalau pengakuan Yesus tersebut adalah BENAR, maka Yesus adalah ALLAH / ANAK ALLAH.

 

Jadi sekarang, hanya ada beberapa pilihan untuk saudara:

 

(1) Yesus adalah pendusta / orang tolol.

 

(2) Yesus adalah orang gila.

 

(3) Yesus betul-betul adalah Allah / Anak Allah.

 

Yang mana yang menjadi pilihan saudara?

 

C.S. Lewis berkata: “A man who was merely a man and said the sort of things Jesus said wouldn’t be a great moral teacher. He’d either be a lunatic ... or else he’d be the Devil of Hell. You must make your choice. Either this man was, and is, the Son of God, or else a madman or something worse” (= seseorang yang adalah semata-mata seorang manusia dan mengucapkan hal-hal seperti yang Yesus katakan, bukanlah seorang guru moral yang agung. Atau ia adalah seorang gila ... atau ia adalah Iblis dari Neraka. Kamu harus menentukan pilihanmu. Atau orang ini adalah Allah, baik dulu maupun sekarang, atau ia adalah orang gila atau sesuatu yang lebih jelek lagi).

 

Banyak orang yang mempercayai Yesus hanya sebagai nabi, orang yang baik / saleh, dsb, tetapi mereka tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Allah. Tetapi penjelasan di atas ini menunjukkan bahwa tidak ada kemungkinan bahwa Ia adalah nabi atau orang baik. Atau Ia adalah Allah sendiri, atau Ia adalah orang yang sangat brengsek!

 

9)  Setan mengakui bahwa Yesus adalah Allah / Anak Allah dan setan tunduk kepada Yesus (Mat 8:28-32).

 

10) Kitab Suci memerintahkan penyembahan terhadap Yesus.

 

Dalam Ibr 1:6 Allah sendiri berkata bahwa malaikat-malaikat harus menyembah Anak / Yesus.

 

Yesus sendiri mau disembah dan disebut Tuhan / Allah (Mat 14:33  Mat 28:9,17  Yoh 9:38  Yoh 20:28), padahal Yesus sendiri berkata bahwa kita hanya boleh menyembah Allah (Mat 4:10).

 

Perhatikan juga bahwa:

 

·        rasul-rasul menolak sembah (Kis 10:25-26  Kis 14:14-18).

 

·        malaikatpun menolak sembah, dan berusaha mengalihkan sembah itu kepada Allah (Wah 19:10  Wah 22:8-9).

 

·        Herodes dihukum mati oleh Tuhan karena menerima penghormatan ilahi (Kis 12:20-23).

 

Karena itu, kalau Yesus menerima sembah, dan bahkan menerima sebutan Tuhan / Allah bagi diriNya, maka hanya ada 2 pilihan: atau Dia adalah orang yang kurang ajar / nabi palsu, atau Dia adalah Allah sendiri! Yang mana yang saudara pilih?

 

II) Kristus adalah sungguh-sungguh manusia.

 

Bukti-bukti kemanusiaan Kristus:

 

1)  Ia disebut ‘orang / seorang manusia’ (Yoh 8:40  Kis 2:22  Ro 5:15  1Kor 15:21).

 

2)  Ia menyebut diriNya sendiri ‘Anak Manusia’ (Mat 24:44).

 

3)  Kitab Suci mengatakan bahwa Ia telah menjadi manusia / daging (Yoh 1:14  1Tim 3:16  Ibr 2:14  1Yoh 4:2).

 

Semua ayat-ayat ini sebetulnya terjemahan hurufiahnya meng­gunakan kata ‘daging’.  Ini merupakan suatu synecdoche (= gaya bahasa dimana yang sebagian mewakili seluruhnya), dan karena itu kata ‘daging’ ini bukan hanya menunjuk pada daging / tubuh manusia, tetapi pada seluruh manusia. Dengan demikian ayat-ayat tersebut tidak boleh diartikan bahwa Kristus hanya mempunyai tubuh manusia tetapi tidak mempunyai jiwa / roh manusia.

 

4)  Kitab Suci menggambarkan Kristus sebagai seseorang yang:

 

a)  Mempunyai tubuh (darah, daging, dan tulang) dan jiwa / roh.

 

·        Bahwa Kristus betul-betul mempunyai tubuh (darah, daging, tulang) ditunjukkan oleh ayat-ayat seperti Mat 26:26,28  Luk 24:39  Ibr 2:14.

 

·        Bahwa Kristus mempunyai jiwa / roh ditunjukkan oleh:

 

*        ayat-ayat seperti Mat 26:38  Mat 27:50  Luk 23:46  Yoh 11:33  Yoh 12:27  Yoh 13:21  1Yoh 3:16.

 

Dalam Mat 26:38 kata ‘hati’ seharusnya adalah ‘jiwa’ (bahasa Yunani: PSUCHE).

 

Dalam Mat 27:50 dan Luk 23:46, kata ‘nyawa’ seharusnya adalah ‘roh’ (bahasa Yunani: PNEUMA).

 

Dalam Yoh 11:33 kata ‘hati’ seharusnya adalah ‘roh’.

 

Dalam Yoh 12:27 Kitab Suci Indonesia memberikan terje­mahan yang benar, yaitu ‘jiwaKu’.

 

Dalam Yoh 13:21 terjemahan hurufiahnya adalah: ‘was troubled in spirit’ (= terganggu / susah dalam roh).

 

Dalam 1Yoh 3:16 kata ‘nyawa’ seharusnya adalah ‘jiwa’.

 

*        adanya pikiran manusia (Mat 24:36  Luk 2:40,52), pera­saan manusia (Mat 8:10  Mat 9:36  Mat 26:37,38  Mark 3:5  Mark 6:6  Luk 7:9  Yoh 11:33,35  Yoh 12:27), dan kehendak manusia (Mat 26:39). Ini semua jelas menunjuk­kan adanya jiwa / roh manusia.

 

b)  Mengalami pertumbuhan / perkembangan (Luk 2:40,52).

 

c)  Mengalami segala sesuatu yang dialami oleh manusia-manusia yang lain (kecuali dalam hal melakukan dosa), seperti: lahir (Luk 2:7), lapar (Mat 4:2), haus (Yoh 4:7  Yoh 19:28), letih (Yoh 4:6), tidur (Mat 8:24), penderitaan (Ibr 2:10,18  Ibr 5:8), dan mati (Yoh 19:30).

 

5)  Ayat-ayat seperti Ro 8:3  Fil 2:7-8  Ibr 2:14-17 jelas menunjukkan bahwa Yesus sungguh-sungguh adalah manusia.

 

Keberatan terhadap kemanusiaan Yesus dan jawabannya:

 

1)  Ada orang yang mengatakan bahwa kalau Yesus adalah manusia yang suci, maka sebetulnya Ia bukan manusia, karena semua manusia berdosa. Untuk ini perlu diketahui bahwa dosa tidak termasuk dalam hakekat manusia. Sebelum jatuh ke dalam dosa, Adam dan Hawa sudah adalah manusia!

 

2)  Ada juga yang mengatakan bahwa Yesus bukanlah manusia yang sama seperti kita karena dalam pembuahannya tidak digunakan air mani laki-laki. Untuk menjawab serangan ini, kita bisa menunjuk pada Adam dan Hawa, yang dalam pembentukannya juga tidak menggunakan air mani laki-laki. Bahkan boleh dikatakan bahwa dalam pembentukan mereka tidak ada pembuahan apapun. Tetapi mereka tetap adalah manusia sungguh-sungguh, sama seperti kita.

 

Seseorang pernah berkata bahwa Allah bisa dan pernah mencipta manusia dengan 4 cara:

 

a)  Tanpa menggunakan laki-laki ataupun perempuan - yaitu pada waktu Ia menciptakan Adam.

 

b)  Tanpa menggunakan perempuan, tetapi menggunakan laki-laki - yaitu pada waktu Ia menciptakan Hawa.

 

c)  Tanpa menggunakan laki-laki, tetapi menggunakan perempuan - yaitu pada waktu Ia menciptakan manusia Yesus.

 

d)  Dengan menggunakan laki-laki dan perempuan - yaitu pada waktu Ia menciptakan semua manusia selain Adam, Hawa, dan manusia Yesus.

 

Jadi kesimpulannya adalah: bahwa ‘manusia Yesus’ diciptakan oleh Allah hanya dengan menggunakan seorang perempuan, tidak menyebabkan Ia bukanlah manusia yang sejati.

 

Catatan: Sesuatu yang penting sekali untuk diwaspadai / diperhatikan adalah: Ada banyak ayat yang menunjukkan keilahian Kristus, dan ada banyak ayat yang menunjukkan kemanusiaan Kristus. Kita tidak boleh menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan keilahian Kristus untuk membuktikan bahwa Ia bukanlah manusia, dan kita juga tidak boleh menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan kema­nusiaan Kristus untuk membuktikan bahwa Ia bukanlah Allah!

 

Orang-orang Saksi Yehovah sering melakukan kesalahan ini dimana mereka menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Kristus untuk membuktikan bahwa Kris­tus bukanlah Allah.

 

Misalnya:

 

·        Mat 24:36 yang menunjukkan pikiran manusia yang terbatas dalam diri Yesus, dipakai sebagai bukti bahwa Yesus bukanlah Allah.

 

·        Yoh 14:28 yang jelas juga menekankan Yesus sebagai manusia (pikiran manusialah yang saat itu timbul) dipakai untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah, atau bahwa Yesus lebih rendah dari pada Allah.

 

·        Ibr 5:8 yang mengatakan bahwa Yesus ‘telah belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya’, yang jelas juga menunjukkan Yesus sebagai manusia, dipakai untuk menunjukkan bahwa Yesus bukanlah Allah, karena Allah tak perlu belajar.

 

·        Mat 4:1-11 yang menunjukkan bahwa Yesus dicobai, dipakai sebagai dasar untuk mengatakan bahwa Yesus bukanlah Allah, karena Allah tidak bisa dicobai (bdk. Yak 1:13).

 

·        Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Yesus berdoa, juga mereka pakai untuk membuktikan bahwa Ia bukanlah Allah, karena Allah tidak perlu berdoa.

 

Illustrasi: Saya adalah seorang pendeta, tetapi pada saat yang sama saya juga adalah seorang olahragawan. Kadang-kadang saya memakai toga dan memimpin Perjamuan Kudus, sehingga saya terlihat sebagai pendeta. Tetapi kadang-kadang saya memakai celana pendek, kaos, dan sepatu olah raga, sehingga saya terlihat sebagai olahragawan. Tidak ada orang yang pada waktu melihat saya memakai toga, menganggap itu sebagai bukti bahwa saya bukan olahragawan, dan sebaliknya, pada waktu melihat saya memakai pakaian olah raga, menganggap itu sebagai bukti bahwa saya bukan pendeta!

 

Analoginya, karena Yesus adalah Allah dan manusia, maka kita tidak boleh menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan keilahian Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan manusia, atau menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan Allah!

 

Herschel H. Hobbs: “It is just as great a heresy to deny His humanity as to deny His deity” (= Menyangkal kemanusiaanNya adalah sama sesatnya dengan menyangkal keilahianNya) - ‘The Epistles of John’, hal 21.

 

III) Pentingnya keilahian Kristus.

 

1)  Supaya Ia bisa taat sempurna kepada BapaNya.

 

Ini penting karena kalau Ia jatuh ke dalam dosa 1 x saja, maka Ia tidak mungkin menebus dosa kita.

 

2)  Supaya pengorbanan / kematianNya mempunyai nilai penebusan yang tak terbatas.

 

Logikanya, kalau Ia hanya seorang manusia biasa, maka paling-paling kematianNya hanya bisa menebus seorang manu­sia. Bahkan sebetulnya tidak ada manusia bisa menebus manusia yang lain. Hal ini dinyatakan dalam Maz 49:8-9. Tetapi karena dalam Kitab Suci bahasa Indonesia ada kesalahan penterjemahan, maka di sini saya memberikan terjemahan NIV.

 

Ps 49:6-7 (NIV): “No man can redeem the life of another, or give to God a ransom for him; the ransom for a life is costly, no payment is ever enough” (= tidak seorang manusia­pun bisa menebus nyawa orang lain, atau memberikan kepada Allah tebusan untuk dia; tebusan untuk suatu nyawa sangat mahal, tidak ada pembayaran yang bisa mencukupi).

 

Charles Hodge: “This perfection of the satisfaction of Christ, as already remarked, is not due to his having suffered either in kind or in degree what the sinner would have been required to endure; but principally to the infinite dignity of his person. He was not a mere man, but God and man in one person” (= Kesempurnaan dari penebusan Kristus, seperti yang telah dinyatakan, tidak berkaitan dengan penderitaanNya baik dalam macam atau tingkatan yang seharusnya orang berdosa dituntut untuk memikulnya, tetapi secara prinsip berkaitan dengan martabat pribadiNya yang tak terbatas. Dia bukan sesosok manusia belaka tetapi Allah dan manusia dalam satu pribadi) - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 483.

 

3)  Supaya pada waktu Allah menimpakan hukuman umat manusia kepada Yesus, Ia tidak bertindak tidak adil.

 

Kalau Yesus hanya seorang manusia biasa, dan Allah menimpa­kan hukuman umat manusia kepada Yesus, maka Allah jelas telah bertindak tidak adil, karena Ia menghukum seseorang karena dosa orang lain. Tetapi karena Yesus adalah Allah sendiri, maka Allah tetap adil, karena pada waktu Ia menimpakan hukuman umat manusia kepada Yesus, pada hakekatnya Ia menimpakan hukuman itu kepada diriNya sendiri.

 

 

IV) Pentingnya kemanusiaan Yesus.

 

1)  Yang berbuat dosa adalah manusia, dan karena itu hukumannya harus ditanggung oleh seorang manusia. Karena itulah Kristus harus menjadi seorang manusia yang sama seperti kita (Ro 8:3  Ibr 2:14-17) yang mempunyai tubuh dan jiwa / roh (pikiran, perasaan, kehendak).

 

Gregory Nazianzus: “For that which is not taken up is not healed” (= karena apa yang tidak diambil, tidak disembuhkan).

 

Cyril of Alexandria: “That which is not assumed is not saved” (= apa yang tidak diambil, tidak diselamatkan).

 

Tetapi Kristus haruslah menjadi seorang manusia yang suci, karena kalau Ia sendiri berdosa, Ia tidak bisa menebus dosa kita (Ibr 7:26-27).

 

2)  Supaya bisa menjadi pengantara antara Allah dan manusia (1Tim 2:5).

 

3)  Supaya Ia bisa merasakan pencobaan dan penderitaan yang dialami oleh manusia. Dengan demikian Ia bisa bersimpati terhadap manusia yang menderita dan dicobai dan bisa meno­long mereka (Ibr 2:17-18  Ibr 4:15).

 

William G.T. Shedd: “Previous to the assumption of a human nature, the Logos could not experience a human feeling because he had no human heart, but after the assumption he could; previous to the incarnation, he could not have a finite perception because he had no finite intellect, but after this event he could; ... The unincarnate Logos could think and feel only like God; he had only one form of consciousness. The incarnate Logos can think and feel either like God, or like man; he has two modes or forms of consciousness” (= sebelum mengambil hakekat manusia, Logos tidak bisa mengalami pera­saan manusia karena Ia tidak mempunyai hati manusia, tetapi setelah mengambil hakekat manusia Ia bisa; sebelum inkarna­si, Ia tidak bisa mempunyai pengertian yang terbatas karena Ia tidak mempunyai pikiran yang terbatas, tetapi setelah peristiwa itu Ia bisa; ... Logos yang tidak / belum berinkarnasi bisa berpikir dan merasa hanya sebagai Allah; Ia hanya mempunyai satu bentuk kesadaran. Logos yang berinkar­nasi bisa berpikir dan merasa, atau seperti Allah, atau seperti manusia; Ia mempunyai dua bentuk kesadaran) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 267.

 

Matthew Poole memberikan komentar tentang Ibr 2:18 sebagai berikut:

“He had the mercies of God before, and as if that were not enough, the tempted nature of man, to soften his heart to pity his brethren in their suffering and tempta­tions” (= sebelumnya Ia sudah mempunyai belas kasihan Allah, dan seakan-akan itu belum cukup, sekarang Ia mempunyai hakekat manusia yang telah dicobai, untuk melunakkan / melembutkan hatiNya supaya Ia mengasihani saudara-saudaraNya dalam penderitaan dan pencobaan mereka).

 

4)  Supaya Ia bisa menjadi teladan bagi manusia (Mat 11:29  Yoh 13:14-15  Fil 2:5-8  Ibr 12:2-4  1Pet 2:21).

 

Kalau Ia tetap sebagai Allah, maka bagaimanapun sucinya Ia hidup, Ia tidak bisa menjadi teladan bagi manusia, karena manusia tidak bisa melihat Dia. Tetapi dengan Ia sudah menjadi manusia, maka manusia bisa melihat kehidupanNya yang suci dan meneladaninya.

 

 

V) Kristus: 1 person / pribadi dengan 2 natures / hake­kat.

 

A)  Istilah ‘Person’ dan ‘Nature’.

 

1)  Mengapa digunakan istilah-istilah seperti ‘person’ (= priba­di) dan ‘nature’ (= hakekat), padahal istilah-istilah terse­but tidak ada dalam Kitab Suci?

 

Calvin (pada waktu ia berbicara tentang Allah Tritunggal dalam Yoh 1:1-2) menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut:

“And yet the ancient writers of the Church were excusable, when, finding that they could not in any other way maintain sound and pure doctrine in opposition to the perplexed and ambiguous phraseology of the heretics, they were compelled to invent some words, which after all had no other meaning than what is taught in the Scriptures. They said that there are three Hypostases, or Subsistences, or Persons, in the one and simple essence of God” (= dan penulis-penulis kuno dari gereja bisa dibenarkan, karena pada waktu mereka melihat bahwa tidak ada jalan lain untuk mempertahankan doktrin yang sehat dan murni untuk menentang penyusunan kata yang membingungkan dan berarti dua dari orang-orang sesat, maka mereka terpaksa menciptakan beberapa kata-kata, yang sebetulnya tidak mempunyai arti lain dari pada apa yang diajarkan dalam Kitab Suci. Mereka berkata bahwa ada tiga pribadi dalam hakekat Allah yang satu dan sederhana).

 

Herman Bavinck mengatakan sebagai berikut:

“It is of course self-evident that this confession of Nicea and Chalcedon may not lay claim to infallibility. The terms of which the church and its theology make use, such as person, nature, unity of substance, and the like, are not found in Scripture, but are the product of reflection which Christianity gradually had to devote to this mystery of salvation. The church was compelled to do this reflecting by the heresies which loomed up on all sides, both within the church and outside of it. All those expressions and statements which are employed in the confession of the church and in the language of theology are not designed to explain the mystery which in this matter confronts it, but rather to maintain it pure and unviolated over against those who would weaken or deny it” (= Jelaslah bahwa penga­kuan iman Nicea dan Chalcedon tidak bisa dianggap infalli­ble / tak bisa salah. Istilah-istilah yang digunakan oleh gereja dan theologinya, seperti pribadi, hakekat, kesatuan hakekat / zat, dan sebagainya, tidak ditemukan dalam Kitab Suci, tetapi merupakan hasil pemikiran yang secara bertahap / perlahan-lahan harus diberikan oleh kekristenan kepada misteri tentang keselamatan ini. Gereja dipaksa untuk melakukan pemikiran ini oleh bidat-bidat yang muncul dan mengancam dari semua sisi, baik di dalam maupun di luar gereja. Semua istilah dan pernyataan yang digunakan dalam pengakuan iman gereja dan dalam bahasa theologia, tidak dimaksudkan untuk menjelaskan misteri yang dihadapi, tetapi untuk menjaganya supaya tetap murni dan tak terganggu dari mereka yang ingin melemahkan atau menyangkalnya) - ‘Our Reasonable Faith’, hal 321-322.

 

Bavinck melanjutkan lagi:

“There have been many, and there still are many, who look down upon the doctrine of the two natures from a lofty vantage point, and try to supplant it by other words and phrases. What differences does it really make, they begin by saying, whether we agree with this doctrine or not? What matters is that we ourselves possess the person of Christ, He who stands high and exalted above this awkward confes­sion. But before long these same persons begin introducing words and terms themselves in order to describe the person of Christ whom they accept. ... And then history has taught that the terms of the attackers of the Doctrine of the Two Natures are far poorer in worth and force, and that they often, indeed, involve doing injustice to the incarnation as Scripture explains it to us (= pernah ada banyak orang, dan sampai sekarang masih ada banyak orang, yang dari tempat yang tinggi dan menguntungkan, meremehkan / meman­dang rendah doktrin tentang 2 hakekat ini, dan mencoba untuk menggantinya dengan kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang lain. Mereka memulainya dengan berkata: apa bedanya apakah kami menyetujui doktrin ini atau tidak? Yang penting adalah bahwa kami memiliki pribadi Kristus, yang berdiri jauh di atas pengakuan yang aneh ini. Tetapi sebentar lagi, orang-orang ini sendiri mulai memperkenalkan kata-kata dan istilah-istilah untuk  menggambarkan pribadi Kristus yang mereka terima. ... Dan sejarah telah mengajar bahwa isti­lah-istilah dari para penyerang doktrin  tentang 2 hakekat ini, jauh lebih jelek dalam nilainya dan kekuatannya, dan bahwa mereka bahkan sering terlibat dalam perlakuan yang tidak benar terhadap inkarnasi seperti yang dijelaskan oleh Kitab Suci kepada kita) - ‘Our Reasonable Faith’, hal 322.

 

Apa yang dikatakan oleh Bavinck ini terbukti dalam buku sesat dari Pdt. Yohanes Bambang, yang berjudul ‘Tuhan, Ajarlah Aku’. Dalam hal 131, ia berkata sebagai berikut:

“Jadi karena hakikat Alkitab berfungsi sebagai pewar­taan iman maka dalam kesaksiannya tidak pernah berspekulasi juga mengenai masalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Tertullianus. Alkitab tidak pernah membuat hipotesa tentang Allah Bapa, Allah Anak dan Roh Kudus dengan kategori-kategori 'UNA SUBSTANTIA, TRES PERSONAE' (satu zat yang memiliki tiga pribadi). Cara berpikir Tertullianus adalah cara berpikir yang filsafati ketim­bang cara berpikir teologis-alkitabiah. Bila demikian, identitas Roh Kudus bukan dalam pengertian ZAT ILAHI yang memiliki kepri­badian sendiri. Alkitab tidak pernah mengenal atau mempergunakan istilah dan pengertian ZAT ILAHI.

 

Jadi terlihat bahwa ia menolak ajaran Tertullian ini dengan alasan bahwa istilah ‘zat ilahi’ itu tidak ada dalam Kitab Suci. Tetapi anehnya dalam bagian lain dari bukunya ia berkata:

 

·        “Secara matematis memang berjum­lah tiga. Tetapi dari penghayatan iman dan materi Allah: keti­gaNya adalah YANG TUNGGAL” (hal 109).

 

·        “Jadi Allah dan Yesus adalah satu, tapi bukan satu dalam arti matematis, juga bukan dalam arti satu zat. Allah dan Yesus adalah satu dalam ciri hakiki ilahi dan karya (pekerjaan)Nya” (hal 110).

 

·        “... sehingga dalam diri Yesus Kristus nampak seluruh ciri hakiki Allah sendiri” (hal 135).

 

Perhatikan bahwa sekarang ia menggunakan istilah-istilah ‘materi Allah’, ‘ciri hakiki ilahi’, dan ‘ciri hakiki Allah’. Bukankah istilah-istilah itu juga tidak ada dalam Kitab Suci? Jadi terlihat kebenaran kata-kata Bavinck di atas. Orang ini baru saja mencela penggunaan istilah ‘zat ilahi’, tetapi lalu menciptakan istilahnya sendiri, yang juga tidak ada dalam Kitab Suci, dan jelas lebih jelek nilainya dari istilah ‘zat ilahi’ yang ia cela.

 

2)  Arti dari person dan nature.

 

Pada waktu LOGOS / Anak Allah berinkarnasi, Ia tidak mengambil pribadi manusia, tetapi hakekat manusia (yang lalu mendapat kepribadiannya dari LOGOS).

 

Kalau demikian, bisakah kita berkata bahwa Yesus tidak mengambil seluruh manusia, karena yang Ia ambil adalah manusia tanpa kepribadian? Kalau memang LOGOS tidak mengam­bil seluruh manusia, bukankah itu berarti bahwa Ia tidak menebus seluruh manusia? Kalau Ia tidak mengambil kepribadian manusia, bukankah itu berarti bahwa kepribadian kita tidak ditebus?

 

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita perlu mengerti tentang arti / definisi dari istilah ‘person / pribadi’ dan ‘nature / hekekat’.

 

a)  Human nature adalah substance / essence (= hakekat) dari manusia. Tidak ada perbedaan antara human nature yang satu dengan human nature yang lain. Semua manusia mempunyai human nature yang sama.

 

b)  Human nature sudah merupakan seluruh manusia, tidak ada sedikitpun yang kurang.

 

c)  Human person (= pribadi manusia) adalah human nature yang sudah dipribadikan. Karena itu, human person yang satu berbeda dengan human person yang lain.

 

Beberapa kutipan kata-kata William G. T. Shedd:

 

·        “Personality is not an integral and essential part of a nature, but is, as it were, the terminus to which it tends” (= Kepribadian bukanlah merupakan bagian yang perlu untuk melengkapi dan bukan bagian yang pokok / hakiki dari suatu hakekat, tetapi merupakan terminal yang dituju oleh hakekat itu) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 287.

 

·        “When we  speak of a human nature, a real substance having physical, rational, moral and spiritual properties is meant. This human nature is capable of becoming a human person but as yet is not one. It requires to be personalized, in order to be a self-conscious individual man. A human person is a fractional part of a specific human nature or substance which has been separated from the common mass, and formed into a distinct and separate individual, by the process of generation. Prior to this separation and formation, this fractional portion of the common human nature has all the qualities of the common mass of which it is a part, but it is not yet individual­ized. It is potentially, not actually personal. It has all the properties that subsequently appear in the par­ticular individual formed of it” [= Pada waktu kita berbicara tentang suatu hakekat manusia, maka yang dimak­sud adalah suatu zat yang nyata yang memiliki sifat-sifat fisik, ratio, moral dan rohani. Hakekat manusia ini bisa (mempunyai kemampuan) menjadi pribadi manusia tetapi belum / bukan merupakan pribadi manusia. Hakekat manusia itu perlu dipribadikan supaya menjadi seorang manusia tersendiri yang sadar. Seorang pribadi manusia adalah sebagian kecil dari hakekat atau zat manusia tertentu yang telah dipisahkan dari seluruh massa, dan dibentuk menjadi pribadi tersendiri yang berbeda dan terpisah, oleh proses kelahiran. Sebelum pemisahan dan pembentukan ini, bagian kecil dari seluruh hakekat manusia itu, mempunyai semua sifat-sifat dari seluruh massa dari mana ia merupakan bagian, tetapi ia belum dipribadikan. Ia berpotensi untuk menjadi pribadi, tetapi ia tidak / belum sungguh-sungguh merupakan pribadi. Ia mempunyai semua sifat-sifat yang sesudah itu muncul dalam pribadi terten­tu yang dibentuk darinya] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 289-290.

 

·        “A lump of clay has all the properties of matter that belong to the vessel of honor and dishonor. But it has not as yet the individual form of the vessel. An act of the potter must intervene, whereby a piece of clay is separated from the lump and moulded into a particular vase having its own peculiar shape and figure. In like manner, human nature as an entire whole existing in Adam possessed all the elementary properties that are requi­site to personality, though it was not yet personalized” (= segumpal tanah liat mempunyai semua sifat-sifat dari bahan / zat yang dimiliki oleh bejana yang terhormat dan tak terhormat. Tetapi gumpalan tanah liat itu belum mempunyai bentuk dari bejana itu. Suatu tindakan dari penjunan harus ikut campur, dengan mana segumpal tanah liat itu dipisahkan dari seluruh gumpalan dan dibentuk menjadi suatu jambangan tertentu yang mempunyai bentuknya yang khas. Demikian juga, hakekat manusia sebagai suatu keseluruhan yang ada di dalam Adam mempunyai semua sifat-sifat dasar yang diperlukan untuk kepribadian, sekalipun hakekat manusia itu belum dipribadikan) - ‘Shedd’s Dogmat­ic Theology’, vol II, hal 290-291.

 

·        “The difference, then, between nature and person is virtually that between substance and form” (= Jadi, perbedaan sebenarnya antara hakekat dan pribadi adalah perbedaan antara zat dan bentuk) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 291.

 

·        “Still another point of difference between a ‘nature’ and a ‘person’ is the fact that a nature can not be distin­guished from another nature, but a person can be from another person” (= perbedaan lain lagi antara ‘hakekat’ dan ‘pribadi’ adalah fakta bahwa suatu hakekat tidak bisa dibedakan dari hakekat yang lain, sedangkan suatu pribadi bisa dibedakan dari pribadi yang lain) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 294.

 

Kesimpulan dari semua ini:

 

Karena person / pribadi adalah nature / hakekat yang sudah dibentuk / dipribadikan, maka sebetulnya person / pribadi tidak memiliki kelebihan zat dibandingkan dengan nature / hakekat. Ingat bahwa ‘pembentukan’ bukanlah penam­bahan zat!

 

Sama seperti segumpal tanah liat, yang sudah dibentuk menjadi jambangan / gelas, tidak mempunyai kelebihan zat dibanding­kan dengan saat gumpalan tanah liat itu belum dibentuk, demikian juga person / pribadi tidak mempunyai kelebihan zat dibandingkan dengan nature / hakekat.

 

Illustrasi:

 

 +¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾+

½                 tanah liat               ½        ®      Common Mass

 +¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾¾+

 

     ¯                 ¯                 ¯

 

 +¾¾+          +¾¾+         +¾¾+

½        ½        ½        ½        ½        ½        ®      Nature

 +¾¾+          +¾¾+         +¾¾+

 

     ¯                 ¯                 ¯

 

½        ½        ½        ½        ½        ½

½        ½        ½        ½        +¾+¾+

+¾+¾+       ½        ½              ½           ®      Person

     ½            ½        ½              ½ 

+¾+¾+       +¾¾+           +¾+¾+

 

Dari illustrasi gambar ini terlihat dengan jelas bahwa perbedaan antara nature dan person, tidak terletak pada perbedaan zat / hakekat, tetapi pada pembentukan (nature - belum dibentuk; person - sudah dibentuk).

 

Dengan demikian, pada waktu Yesus mengambil human nature / hakekat manusia, Ia sebetulnya sudah mengambil seluruh manusia, tanpa ada yang kurang sedikitpun.

 

B)  Hypostatical / Personal Union (= persatuan pribadi).

 

1)  Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Tetapi Ia hanya merupakan 1 pribadi.

 

Dasar dari pandangan ini:

 

Dalam Kitab Suci sering ditunjukkan akan adanya lebih dari 1 pribadi dalam diri Allah. Misalnya:

 

a)  Penggunaan kata ganti orang bentuk jamak (Kej 1:26).

 

b)  Pembicaraan antara satu pribadi dengan pribadi yang lain (Maz 2:7).

 

c)  Adanya saling kasih-mengasihi antara pribadi-pribadi itu (Mat 3:17  Yoh 17:23-24).

 

d)  Pribadi yang satu mengutus pribadi yang lain (Yoh 14:26 Yoh 15:26  Yoh 17:3).

 

Tetapi hal-hal tersebut tidak pernah terjadi pada waktu Kitab Suci menggambarkan Yesus Kristus. Jadi jelaslah bahwa berbeda dengan Allah Tritunggal yang memiliki lebih dari 1 pribadi, Yesus Kristus hanya memiliki 1 pribadi saja!

 

2)  Sebelum inkarnasi, Yesus adalah Allah Anak yang jelas merupakan ‘seseorang’ yang berpribadi. Jadi pada saat itu Ia adalah 1 pribadi dengan 1 hakekat, yaitu hakekat ilahi. Pada saat Ia berinkarnasi, Ia tidak mengambil ‘pribadi manusia’ karena ini akan menimbulkan adanya 2 pribadi seperti yang diajarkan oleh Nestorianism. Yang diambil olehNya adalah hakekat manusia. Hakekat manusia dan hakekat ilahi bersatu dalam pribadi Anak Allah sehingga setelah inkarnasi, Yesus adalah 1 pribadi dengan 2 hakekat (ilahi dan manusia).

 

Ada yang beranggapan bahwa yang diambil oleh Logos bukanlah ‘hakekat manusia’ tetapi ‘pribadi manu­sia’, karena yang diambil itu terdiri dari tubuh dan jiwa / roh, yang mencakup pikiran, perasaan, dan kehendak, dan ketiga hal ini merupakan ciri-ciri dari seorang pribadi. Tetapi ini tidak benar, karena sekalipun Logos itu mengambil tubuh manusia dan jiwa / roh manusia, yang mempunyai pikiran, perasaan dan kehendak, tetapi semua itu belum dipribadikan, sehingga sifatnya belum / tidak specific (= tertentu).

 

Jadi, pikirannya belum tertentu (pandai atau bodoh), pera­saannya belum tertentu (halus atau kasar), kehendaknya belum tertentu (keras atau tidak). Bahkan tubuhnyapun belum tertentu (tinggi atau pendek, berkulit putih atau kuning atau hitam, bermata biru atau coklat, berambut pirang atau hitam, dsb). Dengan demikian ini bukan pribadi manusia, tetapi hakekat manusia.

 

Tetapi pada saat pertama Logos mengambil hakekat manusia itu, maka hakekat manusia itu mendapat kepribadiannya dari Logos, sehingga menjadi manusia tertentu.

 

3)  Hakekat manusia itu tidak pernah ada terpisah dari pribadi Allah Anak. Hakekat manusia itu mendapat kepribadiannya dari pribadi Allah Anak dan selalu ada di dalam pribadi Allah Anak itu. Bahkan antara kematian dan kebangkitan Yesuspun, hakekat manusia itu tak terpisah dengan LOGOS / Allah Anak, karena sekalipun  hakekat manusia itu terpecah (roh pisah dengan tubuh), tetapi LOGOS / Allah Anak yang maha ada itu tetap bersatu baik dengan tubuh (yang ada di kuburan) maupun dengan roh (yang ada di surga).

 

4)  Dalam Personal Union (= persatuan pribadi) ini terjadi suatu persatuan, bukan suatu percampuran (mixture / confu­sion), antara hakekat manusia dan hakekat ilahi. Jadi, baik hakekat manusia maupun hakekat ilahi tetap mempunyai / mempertahankan sifat-sifat-nya sendiri-sendiri. Mereka berbeda, tetapi bersatu dalam diri Yesus Kristus.

 

5)  Akibat adanya 2 hakekat dalam pribadi Yesus Kristus ini maka:

 

a)  Kristus mempunyai 2 macam kesadaran, yaitu ilahi dan manusia. Kadang-kadang Ia berpikir dan merasa sebagai Allah, dan kadang-kadang sebagai manusia.

 

Contoh:

·        kesadaran ilahi: Mat 8:26  Yoh 8:58  Yoh 11:44.

·        kesadaran manusia: Mat 24:36  Mat 26:37-38  Yoh 11:35  Yoh 19:28.

 

Tetapi harus diingat bahwa dalam setiap contoh-contoh itu, adalah pribadi yang sama yang berpikir / mempunyai kesadaran.

 

b)  Kristus mempunyai 2 kehendak, ilahi dan manusia. Tetapi karena kehendak manusia yang ada dalam diri Yesus adalah suci, maka tidak ada pertentangan / konfrontasi antara kehendak ilahi dan kehendak manusia dalam diri Yesus. Karena itu, sekalipun ada 2 kehendak, selalu hanya meng­hasilkan satu tindakan (bdk. Mat 26:36-46).

 

Illustrasi / analogi:

 

Illustrasi / analogi yang paling cocok untuk menjelaskan Personal Union ini adalah persatuan antara tubuh dan jiwa pada manusia (Catatan: ini hanya berlaku untuk orang yang percaya pada Dichotomy, bukan pada Trichotomy!).

 

·        Pada manusia, tubuh dan jiwa membentuk 1 pribadi.

 

Pada Yesus Kristus, hakekat manusia dan Allah Anak membentuk 1 pribadi.

 

·        Pada manusia, kepribadian terletak pada jiwa, bukan pada tubuh.

 

Pada Yesus Kristus, kepribadian terletak pada Allah Anak, bukan pada hakekat manusia.

 

·        Pada manusia, tubuh berbeda dengan jiwa; mereka tidak bercampur, dan masing-masing mempertahankan sifat-sifat­nya sendiri-sendiri.

 

Pada Yesus Kristus, hakekat manusia berbeda dengan hakekat ilahi; mereka tidak bercampur dan masing-masing mempertahankan sifat-sifatNya sendiri-sendiri.

 

C)  Akibat dari Personal Union.

 

1)  Communicatio Idiomatum [communication of properties (= pemberian sifat-sifat / sama-sama memiliki sifat-sifat)].

 

Catatan: Istilah ‘Communicatio Idiomatum’ ini adalah istilah bahasa Latin, yang begitu populer dalam Kristologi, sehing­ga dalam buku-buku Theologia sering digunakan begitu saja tanpa diberikan terjemahannya.

 

a)  Arti istilah ini:

 

·        kata Idiomatum / properties berarti ‘sifat dasar’.

 

Dalam diri manusia, sifat-sifat seperti pemarah, som­bong, pelit, tidak termasuk sifat dasar, karena tidak semua orang mempunyai sifat seperti itu.

 

Contoh sifat dasar dalam diri manusia adalah: terbatas, dicipta / tidak ada dengan sendirinya, tidak maha tahu, bisa berdosa, bisa mati, dsb. Sifat-sifat ini dimiliki oleh semua manusia.

 

Catatan: Perhatikan bahwa dalam sepanjang pembahasan tentang Communicatio Idiomatum ini, yang dimaksud dengan ‘sifat’ adalah ‘sifat dasar’.

 

·        Dalam bahasa Yunani istilah Communicatio diterje­mahkan dengan istilah KOINONIA.

 

Kata Yunani KOINONIA bisa berarti:

 

1.     fellowship (= persekutuan).

 

2.     a close mutual relationship (= hubungan timbal balik yang dekat).

 

3.     participation (= partisipasi).

 

4.     sharing in (= sama-sama menikmati / memiliki).

 

5.     partnership (= persekutuan).

 

6.     contribution (= sumbangan).

 

7.     gift (= pemberian).

 

Jadi, kalau dikatakan bahwa terjadi Communicatio Idio­matum dari A kepada B, maka itu berarti bahwa sifat-sifat A diberikan kepada B, atau bahwa B sama-sama memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh A (dari ke 7 arti di atas, mungkin yang paling ditekankan adalah arti ke 4 dan ke 7).

 

b)  Dalam hal Communicatio Idiomatum ini, ajaran Reformed bertentangan dengan Lutheran.

 

·        Ajaran Reformed:

 

Sifat-sifat dari hakekat manusia tidak diberikan kepada hakekat ilahi / tidak menjadi sifat-sifat dari hakekat ilahi, dan sebaliknya, sifat-sifat dari hakekat ilahi tidak diberikan kepada hakekat manusia / tidak menjadi sifat-sifat dari hakekat manusia. Tetapi, baik sifat-sifat dari hakekat manusia maupun sifat-sifat dari hakekat ilahi diberikan kepada pribadi Kristus / menja­di sifat-sifat dari pribadi Kristus.

 

Charles Hodge: “Hence, inconsistent, or apparently contradictory affirmations may be made of the same person” (= Karena itu, ketidak-konsistenan, atau pernyataan-pernyataan yang kelihatannya kontradiksi / bertentangan bisa dibuat tentang pribadi yang sama) - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 379.

 

                        +¾¾+

              ®®®½   P   ½¬¬¬

½        +¾¾+        ½

½                          ½

+¾¾+              X            +¾¾+

½ HM  ½®®®®X¬¬¬¬½  HI   ½

+¾¾+              X            +¾¾+

 

Keterangan gambar:

 

P = Pribadi Kristus; HM = Hakekat Manusia; HI = Hakekat Ilahi.

 

Catatan: Jangan membayangkan bahwa diri Kristus betul-betul seperti gambar di atas! Gambar ini hanya untuk membantu saudara untuk melihat dimana terjadi pemberian sifat-sifat dan dimana tidak terjadi pemberian sifat-sifat.

 

Penjelasan:

 

Hakekat manusia mempunyai sifat terbatas, sedangkan hakekat ilahi mempunyai sifat tidak terbatas. Sifat terbatas dari hakekat manusia tidak diberikan kepada hakekat ilahi / tidak menjadi sifat dari hakekat ilahi, dan sifat tidak terbatas dari hakekat ilahi tidak diberikan kepada hakekat manusia / tidak menjadi sifat dari hakekat manusia. Tetapi baik sifat terbatas dari hakekat manusia, maupun sifat tidak terbatas dari hakekat ilahi, sama-sama diberikan kepada pribadi Kristus / menjadi sifat dari pribadi Kristus. Jadi, pribadi Kristus mempunyai sifat terbatas dan tidak terbatas sekaligus.

 

Dengan cara yang sama bisa kita dapatkan bahwa pribadi Yesus bisa dikatakan terbatas pengetahuannya maupun maha tahu, lemah / terbatas kekuatannya maupun maha kua­sa.

 

Karena itu jangan heran kalau melihat bahwa Kitab Suci kadang-kadang menggambarkan Yesus itu terbatas pengeta­huannya (Mat 24:36), tetapi juga sering menggambarkan Yesus itu mahatahu (Mat 9:4  Mat 12:25  Yoh 2:24-25  Yoh 6:64). Juga jangan heran kalau Kitab Suci kadang-kadang menggambarkan Yesus lemah / terbatas kekuatan­nya, sehingga bisa lelah, membutuhkan istirahat / tidur (Yoh 4:6  Mat 8:24), tetapi juga sering menggambarkan Yesus itu mahakuasa, dimana Ia bisa membangkitkan orang mati, menghentikan badai, memberi makan 5000 orang dengan menggunakan 5 roti dan 2 ikan, mengusir setan, dsb.

 

·        Ajaran Lutheran:

 

Mereka mengatakan:

 

*        ada pemberian sifat-sifat dari kedua hakekat kepada pribadi. Dengan kata lain, pribadi memiliki sifat-sifat dari kedua hakekat. Ini sesuai dengan ajaran Reformed.

 

*        juga ada pemberian sifat-sifat antar kedua hakekat tersebut.

 

Dengan kata lain, hakekat yang satu juga memiliki sifat-sifat dari hakekat yang lain. Ini tidak sesuai dengan ajaran Reformed.

 

                        +¾¾+

              ®®®½   P   ½¬¬¬

½        +¾¾+        ½

½                          ½

+¾¾+                            +¾¾+

½ HM  ½®®®® ¬¬¬¬½  HI   ½

+¾¾+                            +¾¾+

 

Perkembangan ajaran tentang Communicatio Idiomatum dalam kalangan Lutheran:

 

(1) Luther dan orang-orang Lutheran yang mula-mula mengajarkan adanya pemberian sifat-sifat, baik dari hake­kat manusia kepada hakekat ilahi, maupun dari hakekat ilahi kepada hakekat manusia.

 

(2) Orang-orang Lutheran selanjutnya hanyalah menekankan pemberian sifat-sifat dari hakekat ilahi kepada hakekat manusia. Ini mereka lakukan untuk menghindar­kan hakekat ilahi menjadi terbatas karena pemberian sifat dari hakekat manusia.

 

(3) Dalam perkembangan selanjutnya, orang-orang Lutheran membedakan antara operative attributes / sifat-sifat operative (seperti maha kuasa, maha ada, maha tahu) dengan quiescent attributes / sifat-sifat diam (seperti tak terbatas, kekal) dari Allah, dan mereka mengatakan bahwa hanya operative atrributes sajalah yang diberikan dari hakekat ilahi kepada hakekat manusia. Ini mereka lakukan untuk menghindarkan hakekat manusia menjadi tak terbatas dan kekal karena pemberian sifat dari hakekat ilahi.

 

Catatan: Doktrin Lutheran yang salah tentang diri Kristus ini, dimana mereka menganggap bahwa hakekat manusia Yesus itu maha ada, menyebabkan mereka bisa percaya bahwa dalam Perjamuan Kudus, Yesus hadir secara jasmani.

 

Keberatan / sanggahan terhadap ajaran Lutheran ini:

 

(a) Ajaran ini menunjukkan adanya pembauran / percampuran antara hakekat ilahi dan hakekat manusia dalam diri Kristus. Hakekat manusia yang mempunyai sifat-sifat ilahi seperti maha ada, maha tahu dsb, tidak lagi bisa disebut sebagai hakekat manusia (perhatikan kutipan dari Charles Hodge di bawah). Jadi jelas bahwa ajaran ini berbau ajaran Eutychianism dan jelas bahwa ajaran ini bertentangan dengan Chalcedonian Creed yang mengatakan ‘without confusion, without change’ (= ‘tanpa percampuran, tanpa perubahan’).

 

Charles Hodge: “... the properties or attributes of a substance constitute its essence, so that if they be removed or if others of a different nature be added to them, the substance itself is changed. ... If divine attributes be conferred on man, he ceases to be man; and if human attributes be transferred to God, he ceases to be God”. (= sifat-sifat dari suatu zat / bahan mem­bentuk hakekatnya, sehingga kalau mereka disingkirkan atau kalau sifat-sifat yang lain ditambahkan kepada mereka, maka zat / bahan itu sendiri berubah. ... Kalau sifat-sifat ilahi diberikan kepada manusia, ia berhenti menjadi manusia; dan kalau sifat-sifat manusia diberikan kepada Allah, ia berhenti menjadi Allah) - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 390.

 

(b) Ajaran ini tidak konsekwen, karena kalau sifat-sifat ilahi diberikan kepada hakekat manusia, maka sifat-sifat manusia juga harus diberikan kepada hakekat ilahi.

 

Yoh 3:13 menggunakan sebutan / gelar manusia (‘Anak Manusia’), tetapi memberikan predikat ilahi (‘turun dari sorga’). Ayat ini dipakai sebagai dasar (secara salah) oleh orang Lutheran untuk mengatakan bahwa sifat-sifat dari hakekat ilahi diberikan kepada hakekat manusia.

 

Tetapi anehnya, kalau mereka melihat ayat seperti 1Kor 2:8, yang menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Tuhan yang mulia / The Lord of glory’ ), tetapi memberikan predikat manusia (‘menyalibkan’), mereka tidak mau memakainya sebagai dasar untuk mengatakan bahwa sifat-sifat dari hakekat manusia diberikan kepada hakekat ilahi.

 

Ketidak-konsekwenan yang lain ialah bahwa mereka hanya memberikan sebagian sifat-sifat ilahi kepada hakekat manusia. Kalau beberapa sifat hakekat ilahi diberikan kepada hakekat manusia, maka konsekwensinya adalah bahwa semua sifat-sifat ilahi harus diberikan kepada hakekat manusia.

 

(c) Ajaran ini tidak sesuai dengan gambaran tentang diri Kristus dalam Kitab Suci, karena dalam Kitab Suci Kristus tidak pernah digambarkan sebagai manusia yang maha tahu / maha ada / maha kuasa. Sebaliknya, Kitab Suci menggambarkan Yesus sebagai manusia yang terba­tas pengetahuannya (Mat 24:36), terbatas keberadaan­nya (tidak bisa ada di lebih dari satu tempat pada saat yang sama), dan lemah (bisa lelah, butuh istira­hat, tidur, dsb. Bdk. Yoh 4:6  Mat 8:24).

 

(d) Ajaran ini tidak bisa menjelaskan Luk 2:40,52 yang mengatakan bahwa Kristus bertumbuh dalam hikmat dan kekuatan.

 

Ingat bahwa orang Lutheran beranggapan bahwa Communi­catio Idiomatum ini terjadi pada saat yang sama dengan inkarnasi. Dengan demikian, seharusnya manusia Yesus itu sudah maha tahu dan maha kuasa sejak lahir, dan kalau demikian, Ia tidak mungkin bertumbuh dalam hikmat maupun kekuatan.

 

2)  Communicatio Operationum / Apotelesmatum [communication of acts (= pemberian tindakan-tindakan)].

 

Semua tindakan / perbuatan Kristus, baik yang bersifat:

 

a)  ilahi, seperti penciptaan, pemeliharaan.

 

b)  manusia, seperti makan, minum.

 

c)  gabungan ilahi dan manusia, seperti penebusan.

 

adalah tindakan / perbuatan dari seluruh pribadi Kristus.

 

Jadi, pada waktu melihat Kristus makan, kita tidak perlu berkata ‘hakekat manusiaNya makan’, tetapi kita bisa berka­ta ‘Kristus makan’. Pada waktu kita mau mengatakan bahwa Kristus mencipta dan mengatur alam semesta, kita tidak perlu berkata ‘hakekat ilahiNya mencipta dan mengatur alam semes­ta’, tetapi kita bisa berkata ‘Kristus mencipta dan menga­tur alam semesta’.

 

Illustrasi:

 

Manusia terdiri dari tubuh + jiwa.

 

Ada tindakan dari jiwa, seperti berpikir, marah, benci.

 

Ada tindakan dari tubuh, seperti mencerna makanan.

 

Ada tindakan dari gabungan tubuh dan jiwa, seperti membaca, menulis, berbicara dsb.

 

Tetapi adalah seluruh pribadi manusia yang marah, mencerna makanan, membaca dsb.

 

Karena itu kalau kita melihat seseorang (si A) sedang makan / berpikir, kita tidak mengatakan ‘tubuhnya makan’ tetapi ‘Dia / si A makan’. Kita tidak mengatakan ‘jiwanya berpi­kir’, tetapi ‘Dia / si A berpikir’.

 

3)  Communicatio Charismatum / Gratiarum [communication of gifts (= pemberian karunia-karunia)].

 

Hakekat manusia dari Kristus, sejak saat pertama kebera­daannya, telah diberi bermacam-macam karunia yang mulia.

 

Misalnya:

 

a)  Dipersatukannya hakekat manusia itu dengan LOGOS, dengan mana hakekat manusia itu ditinggikan melebihi semua ciptaan dan, menurut Louis Berkhof, ‘menjadi object penyembahan’ (‘Systematic Theology’, hal 324).

 

Tetapi G. C. Berkouwer menentang pandangan ini dengan mengatakan:

“Reformed theology resisted every form of the deification of the human nature of Christ” (= theologia Reformed menentang setiap bentuk pendewaan terhadap hakekat manusia Kristus) - ‘Studies in Dogmatics: The Person of Christ’, hal 295.

 

Memang pada waktu seseorang bertemu dengan Kristus pada waktu Ia hidup dalam dunia ini, tentu saja orang itu boleh menyembahNya. Tetapi yang disembah adalah pribadi Kristusnya, atau hakekat ilahinya, bukan hakekat manusianya. Hal-hal ini memang tidak bisa dipisahkan tetapi bisa dibedakan.

 

John Owen: “Hence the human nature of Christ, in his divine person and together with it, is the object of all divine adoration and worship” (= ) - ‘The Works of John Owen’, vol I, hal 241.

 

b)  Karunia-karunia Roh, khususnya dalam hal intelek, kehen­dak dan kuasa, dengan mana hakekat manusia itu ditinggi­kan melebihi makhluk-makhluk ciptaan yang lain. Menurut Louis Berkhof, termasuk di sini ketidak-mungkinannya untuk berbuat dosa (impeccability / non posse peccare).

 

Catatan: Communicatio Charismatum / Gratiarum ini tidak mengubah hakekat manusia itu menjadi Allah!

 

D) Ayat-ayat Kitab Suci yang berhubungan dengan Personal Union.

 

Ada 4 golongan ayat-ayat Kitab Suci:

 

1)  Ayat-ayat yang menggunakan sebutan bagi Kristus dengan sebutan yang berlaku untuk seluruh pribadi Kristus, tetapi tidak cocok / berlaku baik untuk hakekat manusia saja maupun untuk hakekat ilahi saja.

 

Contoh:

 

·        Yoh 1:29 - Anak Domba Allah.

 

·        Yoh 5:21-23 - Hakim.

 

·        Yoh 9:5 - Terang dunia.

 

·        Yoh 10:9,11 - Pintu, Gembala.

 

·        Yoh 15:1 - Pokok anggur yang benar.

 

·        Ro 8:34 - Pembela.

 

·        Ef 4:15 - Kepala Gereja.

 

Sebutan-sebutan ini tidak ditujukan kepada Kristus sebagai Allah Anak / LOGOS, juga tidak kepada Kristus sebagai manusia, tetapi kepada seluruh pribadi Kristus (The God- man).

 

Calvin: “Let this, then, be our key to right understanding: those things which apply to the office of the Mediator are not spoken simply either of the divine nature or of the human” (= Biarlah ini menjadi kunci bagi kita untuk mendapatkan pengertian yang benar: hal-hal yang berhubungan dengan jabatan dari Pengantara, tidak dikatakan hanya tentang hakekat ilahi atau manusia) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, chapter XIV, 3.

 

2)  Ayat-ayat yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat ilahi / LOGOS, tetapi ditujukan kepada seluruh pribadi Kristus.

 

Contoh:

 

·        Yoh 8:58.

 

Sebetulnya kata-kata ‘sudah ada sebelum Abraham jadi’ hanya berlaku untuk hakekat ilahi, bukan untuk hakekat manusia. Tetapi sekalipun demikian, Yesus tidak berkata ‘sebelum Abraham jadi, hakekat ilahiKu sudah ada’, tetapi Ia berkata ‘sebelum Abraham jadi, Aku (menunjuk pada pribadiNya) sudah ada’.

 

·        Yoh 17:5.

 

Sebetulnya kata-kata ‘memiliki kemuliaan di hadirat Allah sebelum dunia dijadikan’ hanya berlaku untuk hakekat ilahi, bukan untuk hakekat manusia. Tetapi Yesus lagi-lagi menggunakan kata ‘Aku’, yang menunjukkan bahwa kata-kata itu Ia tujukan untuk pribadi-Nya.

 

3)  Ayat-ayat yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manu­sia, tetapi ditujukan kepada seluruh pribadi Kristus.

 

Contoh:

 

·        Mat 24:36.

 

Sebetulnya ‘tidak tahu akan hari Tuhan’ hanya berlaku untuk hakekat manusia, bukan untuk hakekat ilahi. Tetapi ayat ini menujukan kata-kata itu untuk Anak, yang menunjuk pada seluruh pribadi Yesus.

 

·        Mat 26:37-38.

 

Sebetulnya yang bisa merasa sedih dan gentar, seperti mau mati, dsb, hanyalah hakekat manusia, bukan hakekat ilahi. Tetapi ayat-ayat ini menujukannya untuk seluruh pribadi Yesus.

 

·        Hal yang sama bisa saudara jumpai dalam Luk 2:40,52  Luk 24:39-43  Yoh 11:35.

 

4)  Ayat-ayat yang menggunakan sebutan / gelar yang hanya cocok untuk hakekat yang satu, tetapi menggunakan predikat yang hanya cocok untuk hakekat yang lain.

 

Ini terbagi dalam 2 golongan:

 

a)  Ayat-ayat yang menyebut Kristus dengan sebutan / gelar ilahi, tetapi menggunakan predikat yang hanya cocok untuk hakekat manusia.

 

Contoh:

 

·        Kis 20:28 (NIV) - “... the church of God, which he bought with his own blood” (= ... jemaat / gereja Allah, yang Ia beli dengan darahNya sendiri).

 

Catatan: dalam ayat ini TB1 - LAI salah terjemahan karena menterjemahkan ‘darah AnakNya’. Ini dibetulkan dalam TB2 - LAI yang menterjemahkan ‘darahNya’ (menghapus kata ‘Anak’ yang memang sebetulnya tidak ada dalam bahasa aslinya).

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Allah’), tetapi predikatnya berbicara tentang ‘darah’, yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

 

·        1Kor 2:8.

 

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Tuhan yang mulia’ / ‘The Lord of glory’), tetapi menggunakan predi­kat ‘menyalibkan’ yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

 

·        1Yoh 1:1.

 

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Firman’ / LOGOS), tetapi menggunakan predikat ‘telah kami lihat dengan mata kami’ dan ‘telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami’, yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

 

·        Wah 11:8 - “Dan mayat mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir, di mana juga Tuhan mereka disalibkan.

 

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Tuhan’), tetapi menggunakan predikat ‘disalibkan’ yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

 

·        Ibr 7:14 - “Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apapun tentang imam-imam”.

 

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Tuhan’), tetapi menggunakan predikat ‘berasal dari suku Yehuda’, yang tentu saja hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

 

b)  Ayat-ayat yang menyebut Kristus dengan sebutan / gelar manusia, tetapi menggunakan predikat yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.

 

Contoh:

 

·        Mat 9:6.

 

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (‘Anak Manusia’), tetapi menggunakan predikat ‘berkuasa mengam­puni dosa’ yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.

 

·        Mat 12:8.

 

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (‘Anak Manusia’), tetapi menggunakan predikat ‘Tuhan atas hari Sabat’ yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.

 

·        Hal yang sama bisa saudara lihat dalam ayat-ayat seper­ti: Mat 13:41  Luk 19:10  Yoh 3:13-15  Yoh 6:62  1Kor 15:47b.

 

Calvin menjelaskan mengapa hal itu dilakukan dalam Kitab Suci dengan berkata sebagai berikut:

“And they (Scriptures) so earnestly express this union of the two natures that is in Christ as sometimes to inter­change them”  [= dan mereka (Kitab-kitab Suci) begitu sungguh-sungguh mewujudkan kesatuan dari dua hakekat yang ada di dalam Kristus sehingga kadang-kadang menukar / membolak-balik mereka] - ‘Institutes of the Christian Religion’, book II, chapter XIV, 1.

 

“Because the selfsame one was both God and man, for the sake of the union of both natures he gave to the one what belonged to the other” (= karena orang yang sama adalah Allah dan manusia, demi kesatuan dari kedua hakekat, ia memberikan kepada yang satu apa yang termasuk pada yang lain) - ‘Institutes of the Christian Religion’, book II, chapter XIV, 2.