Eksposisi Kitab Samuel yang Pertama

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.


I Samuel 23:1-13

 

 

Keil & Delitzsch: “The following events show how, on the one hand, the Lord gave pledges to His servant David that he would eventually become king, but yet on the other hand plunged him into deeper and deeper trouble, that He might refine him and train him to be a king after His own heart” (= Kejadian-kejadian berikut menunjukkan bagaimana, pada satu sisi, Tuhan memberikan janji-janji kepada HambaNya Daud bahwa akhirnya ia akan menjadi raja, tetapi di sisi lain melemparkan dia ke dalam kesukaran yang makin lama makin dalam, supaya Ia bisa memurnikan dia dan melatih dia untuk menjadi seorang raja yang mengikuti hatiNya).

 

I) Daud menyelamatkan Kehila.

 

1)   Orang Filistin memerangi Kehila dan menjarahnya.

 

Ay 1: Diberitahukanlah kepada Daud, begini: ‘Ketahuilah, orang Filistin berperang melawan kota Kehila dan menjarah tempat-tempat pengirikan.’.

 

Matthew Henry: “Probably it was the departure both of God and David from Saul that encouraged the Philistines to make this incursion. When princes begin to persecute God’s people and ministers, let them expect no other than vexation on all sides. The way for any country to be quiet is to let God's church be quiet in it. If Saul fight against David, the Philistines shall fight against his country” (= Mungkin karena Allah dan Daud meninggalkan Saul maka hal itu memberi semangat kepada orang-orang Filistin untuk membuat serangan ini. Pada waktu pangeran-pangeran / raja-raja mulai menganiaya umat dan pelayan-pelayan Allah, hendaklah mereka mengharapkan tidak lain dari pada gangguan pada semua sisi. Jalan untuk negara manapun untuk bisa tenang adalah membiarkan gereja Allah tenang di dalamnya. Jika Saul berperang melawan Daud, orang-orang Filistin akan berperang melawan negaranya).

 

2)   Daud bertanya kepada Tuhan apakah ia boleh memerangi orang-orang Filistin tersebut.

 

Ay 2: Lalu bertanyalah Daud kepada TUHAN: ‘Apakah aku akan pergi mengalahkan orang Filistin itu?’ Jawab TUHAN kepada Daud: ‘Pergilah, kalahkanlah orang Filistin itu dan selamatkanlah Kehila.’.

 

a)   Dengan cara apa Daud menanyakan hal ini kepada Tuhan?

 

Bdk. ay 6: Ketika Abyatar bin Ahimelekh melarikan diri kepada Daud ke Kehila, ia turun dengan membawa efod di tangannya.

 

Ada 2 pandangan tentang cara Daud mendapatkan petunjuk Tuhan di sini:

 

1.   Orang-orang yang berpendapat bahwa Abyatar, sang imam besar baru datang kepada Daud dalam ay 6, jadi di sini Daud menanyakan kehendak Tuhan dengan cara lain. Mungkin dengan menggunakan nabi Gad.

 

Matthew Henry: Here notice is taken (v. 6) that it was while David remained in Keilah, after he had cleared it of the Philistines, that Abiathar came to him with the ephod in his hand, that is, the high priest’s ephod, in which the urim and thummin were. It was a great comfort to David, in his banishment, that when he could not go to the house of God he had some of the choicest treasures of that house brought to him, the high priest and his breast-plate of judgment” (= ).

 

2.   Ada yang mengatakan bahwa penceritaan ay 6 itu tidak khronologis, karena kalau dilihat 1Sam 22:20-23, Abyatar sudah lebih dulu datang kepada Daud. Jadi di sini Daud menanyakan kehendak Tuhan juga dengan menggunakan Abyatar dengan efod dan Urim dan Tumimnya, sama seperti dalam ay 9-dst.

 

Keil & Delitzsch: “In v. 6 a supplementary remark is added in explanation of the expression ‘inquired of the Lord,’ to the effect that, when Abiathar fled to David to Keilah, the ephod had come to him. The words ‘to David to Keilah’ are not to be understood as signifying that Abiathar did not come to David till he was in Keilah, but that when he fled after David (1 Sam 22:20), he met with him as he was already preparing for the march of Keilah, and immediately proceeded with him thither. For whilst it is not stated in 1 Sam 22:20 that Abiathar came to David in the wood of Hareth, but the place of meeting is left indefinite, the fact that David had already inquired of Jehovah (i. e., through the oracle of the high priest) with reference to the march to Keilah, compels us to assume that Abiathar had come to him before he left the mountains for Keilah. So that the brief expression ‘to David to Keilah,’ which is left indefinite because of its brevity, must be interpreted in accordance with this fact” (= ).

 

Pulpit Commentary: “The object of this verse is to explain how it was that David (in vers. 2 and 4) was able to inquire of Jehovah. The words ‘to Keilah’ ... do not mean that it was at Keilah that Abiathar joined David, but that he came in time to go thither with him (= ) - hal 432.

 

b)   Perhatikan hati yang begitu mulia dari Daud. Sekalipun ia dimusuhi oleh Saul dengan tentaranya, dan ia menjadi buronan negara, dan ia kerepotan untuk menyelamatkan nyawanya sendiri, ia tetap mencintai negara, bangsa dan Tuhannya, dan ia tetap berperang demi negara, bangsa dan Tuhannya.

 

Bandingkan dengan:

 

·        kebanyakan orang Kristen yang karena sudah kerepotan dengan urusan pekerjaan / keluarga / study dsb, lalu tidak mau melayani. Bahkan ada yang juga membuang Pemahaman Alkitab, kebaktian, dan sebagainya.

 

·        kebanyakan orang kristen yang kalau gegeran dengan pendeta / majelis / orang kristen yang lain, lalu ngambek dan tidak mau melayani / berperang lagi!

 

Adam Clarke: “The adventure mentioned here was truly noble. Had not David loved his country, and been above all motives of private and personal revenge, he would have rejoiced in this invasion of Judah as producing a strong diversion in his favour, and embroiling his inveterate enemy. In most cases, a man with David’s wrongs would have joined with the enemies of his country, and avenged himself on the author of his adversities; but he thinks of nothing but helping Keilah, and using his power and influence in behalf of his brethren! This is a rare instance of disinterested heroism” (= Petualangan yang disebutkan di sini betul-betul mulia. Seandainya Daud tidak mencintai negaranya, dan berada di atas semua motivasi balas dendam pribadi, ia akan bersukacita dalam penyerangan terhadap Yehuda ini, karena menghasilkan suatu pengalihan perhatian yang besar untuk keuntungannya, dan melibatkan musuhnya yang mendarah daging. Dalam kebanyakan kasus, seseorang dengan keadaan yang buruk seperti Daud akan bergabung dengan musuh dari negaranya, dan membalaskan dendamnya pada pencipta dari kesengsaraanya; tetapi ia tidak memikirkan apapun kecuali menolong Kehila, dan menggunakan kekuatan dan pengaruhnya demi saudara-saudaranya! Ini merupakan contoh yang jarang dari kepahlawanan yang tanpa pamrih).

 

c)   Kesalehan Daud terlihat dari fakta bahwa ia senantiasa minta petunjuk Tuhan, dan mentaatinya.

 

Pulpit Commentary: “There perhaps never was a life, except that of our Saviour, in which habitual submission to a supreme will was more conspicuous. ... His unwillingness to take the step without being sure of the will of God was a revelation to those who sought his services of what was constant in his experience. The question was not, ‘Can I gain wider reputation, or win Israel to my standard.’ ‘It is the will of God,’ was the first and last thought” (= Mungkin tidak pernah ada suatu kehidupan, kecuali dari sang Juruselamat kita, dalam mana kebiasaan tunduk pada suatu kehendak yang tertinggi, terlihat dengan lebih menyolok. ... Ketidak-mauannya untuk mengambil langkah tanpa keyakinan akan kehendak Allah merupakan suatu wahyu bagi mereka yang mencari pelayanan-pelayanannya tentang apa yang konstan dalam pengalamannya. Pertanyaannya bukanlah, ‘Bisakah aku mendapatkan reputasi yang lebih luas, atau memenangkan Israel kepada standardku’. ‘Itu adalah kehendak Allah’, merupakan pemikiran yang pertama dan terakhir) - hal 433.

 

Pulpit Commentary: “The difference between a really good man and one of formal godliness comes out in this, that the one always feels as though another and higher will was present and supreme over his own, while the other only thinks of that superior will on special occasions when painful events fill him with fear” (= Perbedaan antara seseorang yang sungguh-sungguh baik / saleh dan seseorang dengan kesalehan lahiriah terlihat dalam hal ini, bahwa yang satu selalu merasakan seakan-akan ada suatu kehendak yang lain dan lebih tinggi yang hadir dan mengatasi kehendaknya sendiri, sementara yang lain hanya berpikir tentang kehendak yang lebih tinggi itu pada peristiwa-peristiwa khusus dimana peristiwa-peristiwa yang menyakitkan memenuhinya dengan rasa takut) - hal 434.

 

Jadi penafsir ini mengatakan bahwa orang-orang yang sungguh-sungguh saleh akan selalu menyadari bahwa di atas kehendaknya sendiri ada kehendak dari Tuhan, dan ia selalu berusaha menemukan kehendak Tuhan itu dan mentaatinya.

 

Sedangkan orang yang hanya mempunyai kesalehan lahiriah, hanya kadang-kadang saja memikirkan kehendak Tuhan, dan pada umumnya hidup sesuai kehendaknya sendiri.

 

Bayangkan: kalau saudara, bukan kadang-kadang, tetapi sama sekali tidak pernah memikirkan kehendak Tuhan, dan selalu hidup menuruti kehendak saudara sendiri, saudara termasuk golongan yang mana? Lebih buruk dari orang yang hanya mempunyai kesalehan lahiriah?

 

3)   Ada halangan dari orang-orang Daud.

 

Ay 3: Tetapi orang-orang Daud berkata kepadanya: ‘Ingatlah, sedangkan di sini di Yehuda kita sudah dalam ketakutan, apalagi kalau kita pergi ke Kehila, melawan barisan perang orang Filistin.’.

 

Setiap kali kita mau melakukan kehendak Tuhan, selalu ada orang-orang, bahkan yang dekat dengan kita dan yang adalah orang-orang kristen, yang menghalangi / menentang kita. Misalnya, pada waktu Yesus meminta Yohanes Pembaptis membaptisNya, Yohanes Pembaptis sendiri mula-mula menolak untuk membaptis Yesus (Mat 3:13-14). Juga pada waktu Yesus mau menuju Yerusalem, Ia ditentang oleh Petrus (Mat 16:21-22).

 

Pada waktu seseorang mendapat pimpinan / kehendak Tuhan, orang-orang yang menghalangi ini sering membantah dengan menggunakan logika / perasaan, dan sebagainya. Ini tidak benar. Logika hanya perlu digunakan untuk mengerti kehendak Tuhan, dan setelah mengerti, kita harus tunduk, dan bukannya menilai kehendak Tuhan itu dengan menggunakan logika kita.

 

Kalau mau ngomong soal logika, maka bantahan dari orang-orang Daud ini sangat logis. Mereka sudah ketakutan melawan Saul, mengapa mencari musuh orang Filistin? Tetapi toh pandangan Daudlah yang sesuai dengan kehendak Tuhan!

 

Dalam keadaan repot / kekurangan uang, kita punya kecenderungan untuk bersikap seperti orang-orang Daud ini, dengan tidak mau membantu orang lain. Tetapi belum tentu Tuhan menghendaki saudara bersikap seperti itu. Seringkali Ia menghendaki kita membantu orang, sekalipun kita sendiri repot / tak punya uang dan sebagainya.

 

Bdk. Mat 14:15-16 - “(15) Menjelang malam, murid-muridNya datang kepadaNya dan berkata: ‘Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.’ (16) Tetapi Yesus berkata kepada mereka: ‘Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.’”.

 

Bdk. Yoh 6:7 - “Jawab Filipus kepadaNya: ‘Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.’”.

 

Jelas bahwa dalam peristiwa itu Yesus dan para murid sedang tak punya banyak uang. Tetapi Yesus toh menghendaki para murid untuk memberi makan 5.000 orang itu.

 

Karena itu, jangan sembarangan menghubungkan sikon dengan kehendak Tuhan. Ingat bahwa:

 

a)   Pikiran / rencana Tuhan jauh di atas pikiran / rencana kita.

 

Yes 55:8-9 - “(8) Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah firman TUHAN. (9) Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu”.

 

b)   Tuhan senang membuat kita ‘tak berdaya’, karena itu akan menyebabkan kita bersandar kepadaNya, dan dengan demikian kemahakuasaan Tuhan yang bekerja.

 

Dalam hal ini ada teladan dari Yesus sendiri, misalnya pada waktu Ia ada di kayu salib, Ia tetap memperhatikan Maria (menyerahkannya kepada Yohanes), dan juga memperhatikan penjahat yang bertobat itu.

 

Penerapan:

 

Kalau waktu sempit, kesibukan banyak, apakah pasti Tuhan menghendaki saudara tidak ikut Pemahaman Alkitab / menghentikan pelayanan? Pernahkah saudara menanyakan kepada Tuhan, dan dapat ijin untuk cuti dari Pemahaman Alkitab / pelayanan?

 

4)   Daud menanyakan lagi kehendak Tuhan demi memuaskan orang-orangnya.

 

Ay 4: Lalu bertanya pulalah Daud kepada TUHAN, maka TUHAN menjawab dia, firmanNya: ‘Bersiaplah, pergilah ke Kehila, sebab Aku akan menyerahkan orang Filistin itu ke dalam tanganmu.’.

 

Matthew Henry menganggap bahwa Daud menanyakan lagi kehendak Tuhan untuk memuaskan orang-orang yang menentangnya tadi. Dan kali ini Tuhan bukan hanya menyuruh dia berperang, tetapi juga memberikan jaminan bahwa ia akan mengalahkan orang-orang Filistin tersebut. Sebetulnya dalam ay 2 pada waktu / memerintahkannya pergi ke Kehila dan mengalahkan orang-orang Filistin, janji itu sudah ada secara implicit. Tetapi di sini, janji kemenangan itu diberikan secara explicit.

 

Ini kelihatannya mengubah orang-orang yang menentangnya sehingga mereka tunduk pada kehendak / perintah Tuhan tersebut.

 

Bahwa orang-orang ini mau diajak bersama-sama menanyakan hal itu kepada Tuhan, dan lalu mau tunduk setelah mendapat jawaban dari kehendak Tuhan, menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang-orang yang tegar tengkuk.

 

5)   Hasil peperangan: Daud mengalahkan Filistin, dan menyelamatkan Kehila.

 

Ay 5: Kemudian pergilah Daud dengan orang-orangnya ke Kehila; ia berperang melawan orang Filistin itu, dihalaunya ternak mereka dan ditimbulkannya kekalahan besar di antara mereka. Demikianlah Daud menyelamatkan penduduk Kehila.

 

Memang di sini, karena mentaati kehendak Tuhan, Daud langsung mengalami kemenangan yang besar. Tetapi ingat bahwa tidak selalu akan terjadi demikian. Kadang-kadang sekalipun kita mentaati kehendak Tuhan, yang terjadi adalah:

 

a)   Kekalahan dulu, baru kemenangan.

 

Contoh yang menyolok adalah Hak 19-21. Suku-suku Israel berperang melawan suku Benyamin sesuai dengan kehendak Tuhan, tetapi mereka mengalami 2 x kekalahan, baru kemenangan.

 

b)   Kekalahan total (kelihatannya).

 

Contoh: pelayanan Yesaya sesuai kehendak Tuhan, tetapi boleh dikatakan ia tidak mentobatkan siapapun, sesuai dengan yang telah dinubuatkan oleh Tuhan (Bdk. Yes 6:9-10).

 

Kalau terjadi yang seperti ini, lagi-lagi ingatlah bahwa pikiran Allah sangat berbeda dengan pikiran kita, sehingga apa yang bagi kita merupakan suatu kekalahan, bagi Tuhan bisa dianggap sebagai suatu kesuksesan!

 

II) Daud vs Saul.

 

1)   Sikap Saul.

 

a)   Saul mendengar kabar bahwa Daud ada di Kehila, dan menyimpulkan bahwa Allah memberkati dia dengan menyerahkan Daud ke tangannya.

 

Ay 7: Kepada Saul diberitahukan, bahwa Daud telah masuk Kehila. Lalu berkatalah Saul: ‘Allah telah menyerahkan dia ke dalam tanganku, sebab dengan masuk ke dalam kota yang berpintu dan berpalang ia telah mengurung dirinya.’.

 

1.   Seharusnya Saul menghargai Daud atas apa yang telah dilakukannya dalam menolong Kehila. Tetapi Saul bukannya bersikap seperti itu, malah sebaliknya.

 

2.   Saul, tanpa menanyakan kehendak Tuhan, menyimpulkan bahwa Tuhan telah menyerahkan Daud ke tangannya. Ia mengira bahwa ‘berkat’ membuktikan bahwa Tuhan berpihak kepadanya. Ini adalah kebodohan bercampur dengan sikap tegar tengkuk, karena:

 

a.   Bagaimana mungkin Tuhan berpihak kepadanya, padahal ia baru saja membantai seluruh kota Nob, dan ia tak pernah bertobat dari hal itu.

 

b.   Ia sudah ditolak sebagai raja, dan Daud telah diurapi menjadi raja untuk menggantikan dia.

 

c.   Selama ini ia sudah mengalami banyak peristiwa yang menunjukkan perlindungan Tuhan yang luar biasa atas Daud, sehingga Daud selalu lolos dari kejarannya.

 

Jamieson, Fausset & Brown: “How wonderfully slow and unwilling to be convinced by all his experience, that the special protection of Providence shielded David from all his snares!” (= Betapa luar biasa lamban dan tak mau diyakinkan oleh seluruh pengalamannya, bahwa perlindungan khusus dari Providensia melindungi Daud dari semua jerat-jeratnya!).

 

d.   Adanya ‘berkat’ / hal yang menguntungkan / menyenangkan dalam hidup seseorang, tak membuktikan bahwa Tuhan berpihak kepada orang itu.

 

Matthew Henry: “How Saul abused the God of Israel, in making his providence to patronise and give countenance to his malicious designs, and thence promising himself success in them: ... We must not think that one smiling providence either justifies an unrighteous cause or secures its success (= Bagaimana Saul menyalah-gunakan Allah dari Israel, dengan membuat providensiaNya melindungi dan memberikan persetujuan kepada rencananya yang jahat, dan kemudian menjanjikan dirinya sendiri sukses di dalam rencana-rencana tersebut: ... Kita tidak boleh beranggapan bahwa suatu providensia yang tersenyum sebagai membenarkan perkara yang tidak benar atau memastikan kesuksesannya).

 

Penerapan:

 

·        orang-orang gereja Bethany sering menganggap Allah memberkati mereka, karena mereka makmur, kaya, jemaatnya banyak, dan sebagainya. Ini sikap yang sama seperti sikap Saul. Alex mau membangun ‘menara Jakarta’, dan banyak jemaatnya yang bangga, dan mungkin menganggap itu sebagai berkat Tuhan. Waktu saya mendengar soal ‘menara Jakarta’ itu, saya ingat pada orang-orang yang membangun menara Babel (Kej 11)!

 

·        sebaliknya, kalau providensia Allah merengut terhadap kita, dalam arti kita mengalami hal-hal yang tidak enak, jangan terlalu cepat menganggap bahwa Allah tak berkenan dengan kita, atau memusuhi kita (bdk. Ayub).

 

e.   Ia percaya pada apa yang ia ingin percayai.

 

Ini sesuatu yang berbahaya dalam persoalan mencari kehendak Tuhan. Kita sering mempunyai kecondongan seperti ini, yaitu mempercayai apa yang ingin kita percayai!

 

Misalnya, seseorang jatuh cinta, lalu mencari kehendak Tuhan. Maka, karena ia ingin Tuhan mengijinkan dia menikah dengan orang yang ia cintai, apapun jawaban Tuhan, ia arahkan artinya sesuai dengan yang ingin ia percayai. Demikian juga kalau kita sangat menginginkan suatu pekerjaan, dan sebagainya.

 

Matthew Poole: He easily believed what he greedily desired, though his own experience had oft showed him how strangely God had delivered him out of his hands, and what a singular care God had over him” (= Ia dengan mudah percaya apa yang dengan tamak ia inginkan, sekalipun pengalamannya sendiri telah sering menunjukkan kepadanya betapa dengan aneh Allah telah melepaskan Daud dari tangannya, dan perhatian / pemeliharaan luar biasa apa yang Allah punyai atas Daud) - hal 569.

 

b)   Saul memanggil seluruh rakyat untuk menyerang.

 

Ay 8: Maka Saul memanggil seluruh rakyat pergi berperang ke Kehila dan mengepung Daud dengan orang-orangnya.

 

2)   Daud meminta petunjuk Tuhan lagi.

 

Ketika Daud mengetahui rencana Saul itu, ia meminta petunjuk Tuhan lagi.

 

Ay 9: Ketika diketahui Daud, bahwa Saul berniat jahat terhadap dia, berkatalah ia kepada imam Abyatar: ‘Bawalah efod itu ke mari.’.

 

Daud menanyakan kehendak Tuhan melalui imam Abyatar, yang menggunakan efod (Urim dan Tumim).

 

Ay 10-11: “(10) Berkatalah Daud: ‘TUHAN, Allah Israel, hambaMu ini telah mendengar kabar pasti, bahwa Saul berikhtiar untuk datang ke Kehila dan memusnahkan kota ini oleh karena aku. (11) Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku ke dalam tangannya? Akan datangkah Saul seperti yang telah didengar oleh hambaMu ini? TUHAN, Allah Israel, beritahukanlah kiranya kepada hambaMu ini.’ Jawab TUHAN: ‘Ia akan datang.’.

 

Ay 12: Kemudian bertanyalah Daud: ‘Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku dengan orang-orangku ke dalam tangan Saul?’ Firman TUHAN: ‘Akan mereka serahkan.’.

 

a)   Ada hal yang aneh dalam ay 10. Kalau kabar itu kabar pasti, untuk apa ditanyakan kepada Tuhan?

 

Kitab Suci Indonesia: ‘telah mendengar kabar pasti’.

 

KJV: ‘hath certainly heard’ (= telah mendengar dengan pasti).

 

Jadi, mendengarnya yang pasti, bukan kabarnya. Sekarang ia menanyakan kepada Tuhan, apakah yang telah ia dengar itu betul atau tidak. Akankah Saul datang ke Kehila?

 

b)   Apa kabar yang ia dengar itu?

 

Bahwa ‘Saul berikhtiar untuk datang ke Kehila dan memusnahkan kota ini oleh karena aku’.

 

Perhatikan bahwa ia bukannya memikirkan bahwa Saul akan datang untuk memusnahkan dirinya, tetapi memusnahkan kota ini, seperti yang Saul lakukan dengan kota Nob.

 

Matthew Henry: “He seems more solicitous for their safety than for his own, and will expose himself any where rather than they shall be brought into trouble by his being among them” (= Ia kelihatannya lebih kuatir untuk keselamatan mereka dari pada keselamatannya sendiri, dan mau membuka dirinya sendiri di manapun dari pada membawa mereka ke dalam kesukaran dengan keberadaannya di antara mereka).

 

Ini menunjukkan:

 

·        jiwa yang mulia dan rela berkorban dari Daud.

 

·        ia tidak mau mengulangi kesalahannya pada peristiwa Nob, yang menyebabkan pembantaian seluruh kota Nob.

 

c)   Daud tidak tahu apakah orang-orang Kehila akan menyerahkan dirinya kepada Saul atau tidak, dan karena itu ia menanyakannya kepada Tuhan.

 

1.   Lagi-lagi ada keanehan dalam pertanyaan Daud berkenaan dengan hal ini. Mengapa Daud menanyakan ‘apakah orang-orang Kehila akan menyerahkan aku ke dalam tangan Saul’ sebanyak 2x? Mengapa waktu ditanyakan pertama-kalinya dalam ay 11, tidak dijawab, sehingga harus ditanyakan untuk kedua-kalinya dalam ay 12, dan baru dijawab? Perhatikan jawaban Keil & Delitzsch di bawah ini.

 

Keil & Delitzsch: “It is evident from vv. 9-12, that when the will of God was sought through the Urim and Thummim, the person making the inquiry placed the matter before God in prayer, and received an answer; but always to one particular question. For when David had asked the two questions given in v. 11, he received the answer to the second question only, and had to ask the first again (v. 12)” [= Adalah jelas dari ay 9-12, bahwa pada waktu kehendak Allah dicari melalui Urim dan Tumim, orang yang membuat pertanyaan meletakkan persoalannya di hadapan Allah dalam doa, dan menerima suatu jawaban; tetapi selalu terhadap satu pertanyaan tertentu. Karena pada waktu Daud menanyakan 2 pertanyaan yang diberikan dalam ay 11, ia hanya menerima jawaban bagi pertanyaan kedua, dan harus menanyakan yang pertama lagi (ay 12)].

 

2.   Seseorang yang bijaksana dan rohani, pada saat ragu-ragu, selalu meminta pimpinan / kehendak Tuhan.

 

Pulpit Commentary: “A really wise man in seasons of uncertainty, when important interests are at stake, whether temporal or spiritual, will not rest with speculations on what may be; but will, like David, inquire of the Lord, so as to regulate his present action according to God’s knowledge of what is inevitable” (= Seseorang yang sungguh-sungguh bijaksana pada masa ketidak-pastian, pada waktu kepentingan yang penting dipertaruhkan, apakah itu sesuatu yang bersifat sementara atau rohani, tidak akan berhenti dengan spekulasi tentang apa yang bisa terjadi; tetapi, seperti Daud, akan menanyakan Tuhan, sehingga bisa mengatur tindakannya pada saat itu, sesuai dengan pengetahuan Allah tentang apa yang pasti akan terjadi) - hal 441.

 

d)   Tuhan menjawab bahwa orang-orang Kehila akan menyerahkan Daud kepada Saul.

 

1.   Ini menunjukkan sikap pengecut dan tidak tahu berterima kasih dari orang-orang Kehila.

 

Barnes’ Notes: “The conduct of the men of Keilah would be like that of the men of Judah to Samson their deliverer (Judg. 15:10-13).” [= Tingkah laku dari orang-orang Kehila akan seperti orang-orang Yehuda terhadap Simson, penyelamat mereka (Hak 15:10-13).].

 

Penerapan:

 

·        Kalau saudara pernah ditolong seseorang, apakah saudara merasa hutang budi, dan ingin membalas kebaikan orang itu?

 

·        Satu teman saya baru bercerita kepada saya, bahwa ia menolong teman yang butuh uang dengan memberikan pinjaman uang, tetapi teman yang ditolong ini lalu tidak mau bayar! Ini membalas kebaikan dengan kejahatan! Ada yang mengatakan bahwa membalas kejahatan dengan kebaikan adalah tindakan Allah, membalas kejahatan dengan kejahatan atau kebaikan dengan kebaikan adalah tindakan manusia, tetapi membalas kebaikan dengan kejahatan adalah tindakan setan!

 

2.   Ini menunjukkan bahwa tidak selalu orang yang berbuat baik, dan melakukan kehendak Tuhan, mendapat balasan yang baik. Seringkali, seperti yang dialami oleh Daud di sini, orang yang berbuat baik dan mentaati kehendak Tuhan, justru mengalami balasan yang tidak baik / penderitaan.

 

3)   Daud meninggalkan Kehila.

 

Ay 13: “Lalu bersiaplah Daud dan orang-orangnya, kira-kira enam ratus orang banyaknya, mereka keluar dari Kehila dan pergi ke mana saja mereka dapat pergi. Apabila kepada Saul diberitahukan, bahwa Daud telah meluputkan diri dari Kehila, maka tidak jadilah ia maju berperang”.

 

a)   Pembahasan secara theologis.

 

Karena Daud meninggalkan Kehila, maka Saul tidak jadi datang, sehingga orang-orang Kehila juga tak menyerahkan Daud ke tangan Saul.

 

Bagaimana kita menafsirkan bagian ini? Perhatikan penafsiran dari Adam Clarke, seorang Arminian.

 

Adam Clarke: “In these verses we find the following questions and answers: - David said, Will Saul come down to Keilah? And the Lord said, He will come down. Will the men of Keilah deliver me and my men into the hand of Saul? And the Lord said, They will deliver thee up. In this short history we find an ample proof that there is such a thing as contingency in human affairs; that is God has poised many things between a possibility of being and not being, leaving it to the will of the creature to turn the scale. In the above answers of the Lord the following conditions were evidently implied: - IF thou continue in Keilah, Saul will certainly come down; and IF Saul come down, the men of Keilah will deliver thee into his hands. Now though the text positively asserts that Saul would come to Keilah, yet he did not come; and that the men of Keilah would deliver David into his hand, yet David was not thus delivered to him. And why? Because David left Keilah; but had he stayed, Saul would have come down, and the men of Keilah would have betrayed David. We may observe from this that, however positive a declaration of God may appear that refers to anything in which man is to be employed, the prediction is not intended to suspend or destroy free agency, but always comprehends in it some particular condition” (= Dalam ayat-ayat ini kita mendapati pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban sebagai berikut: - Daud berkata: ‘Akankah Saul datang ke Kehila?’. Dan Tuhan berkata: ‘Ia akan datang’. ‘Akankah orang-orang Kehila menyerahkan aku dan orang-orangku ke dalam tangan Saul?’. Dan Tuhan berkata: ‘Mereka akan menyerahkan engkau’. Dalam sejarah yang singkat ini kita mendapatkan bukti yang cukup bahwa ada hal yang disebut sebagai contingency dalam kehidupan manusia; yaitu Allah telah menyeimbangkan banyak hal di antara suatu kemungkinan ada atau tidak ada, dan menyerahkannya kepada kehendak dari makhluk ciptaan untuk membalikkan timbangan. Dalam jawaban Tuhan di atas, kondisi yang berikut ini jelas ditunjukkan secara implicit: - JIKA engkau terus di Kehila, Saul pasti akan datang; dan JIKA Saul datang, orang-orang Kehila akan menyerahkan engkau ke dalam tangannya. Sekarang, sekalipun text itu secara pasti menegaskan bahwa Saul akan datang ke Kehila, tetapi ia tidak datang; dan sekalipun text itu secara pasti menegaskan bahwa orang-orang Kehila akan menyerahkan Daud ke dalam tangannya, tetapi Daud tidak diserahkan kepadanya. Dan mengapa? Karena Daud meninggalkan Kehila; tetapi seandainya ia tinggal, Saul akan datang, dan orang-orang Kehila akan mengkhianati Daud. Dari sini kita bisa melihat bahwa betapapun pastinya kelihatannya suatu pernyataan Allah berkenaan dengan apapun dalam mana manusia akan digunakan, ramalan itu tidak dimaksudkan untuk menyingkirkan atau menghancurkan kebebasan manusia, tetapi selalu memahami di dalamnya suatu syarat tertentu).

 

Catatan: kata ‘contingency’ bisa berarti:

 

·        sesuatu yang bisa terjadi, bisa tidak.

 

·        ketergantungan pada hal lain.

 

·        kebetulan.

 

Dalam kontext ini, saya kira yang dimaksudkan adalah 2 arti yang pertama.

 

Dengan kata-kata ini jelas bahwa Adam Clarke, orang Arminian ini, ingin menekankan bahwa Allah tidak menentukan hal-hal itu. Semua tergantung pada kebebasan manusia dan tindakan manusia.

 

Penafsiran Adam Clarke ini salah, dengan alasan:

 

1.   Perhatikan kata-kata yang saya beri garis bawah ganda dari kata-kata Adam Clarke di atas. Itu semua salah, karena text Kitab Sucinya tidak menegaskan secara pasti bahwa hal itu akan terjadi. Jika Daud tinggal, maka Saul akan datang’. Ini bukan penegasan yang pasti, tetapi suatu kemungkinan.

 

2.   Memang kalau Daud tetap di Kehila, Saul akan datang, dan kalau Saul datang orang-orang Kehila akan menyerahkan Daud kepada Saul. Seakan-akan segala sesuatu tergantung pada keputusan Daud, Saul, dan orang-orang Kehila. Tetapi perlu diingat bahwa pemikiran dan keputusan Daud, Saul, orang-orang Kehila semua ada di tangan Tuhan! Jadi pada akhirnya, semua bukan tergantung pada Daud, Daud, orang-orang Kehila dsb, tetapi tergantung kepada Tuhan.

 

Argumentasi Clarke ini sama dengan argumentasi seorang pendeta yang pada waktu mengatakan bahwa Tuhan tidak menentukan umur seseorang, lalu berargumentasi sebagai berikut: ada seseorang yang sakit parah dan hidupnya hanya tergantung pada selang infus, alat pacu jantung, oxigen dan alat bantu pernafasan. Sekarang siapa yang menentukan kapan orang itu mati? Bukan Tuhan, tetapi dokter dan para keluarganya. Kalau mereka memutuskan semua pertolongan itu dihentikan, maka orang itu mati. Kalau mereka memutuskan untuk meneruskan pertolongan itu, maka orang itu terus hidup. Ini argumentasi yang konyol dan bodoh! Memang orang itu hidup atau mati tergantung keputusan dari dokter dan keluarga, tetapi jangan pernah lupa bahwa hati dan pikiran dari dokter dan keluarga itu ada dalam tangan Tuhan, dan karena itu keputusan mereka, juga ada di tangan Tuhan. Jadi akhirnya, semua tergantung Tuhan, bukan tergantung manusia!

 

Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

 

·        Amsal 16:1,9 - “(1) Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN. ... (9) Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya”.

 

·        Amsal 19:21 - “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana”.

 

·        Amsal 20:24 - “Langkah orang ditentukan oleh TUHAN, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya?”.

 

·        Amsal 21:1 - “Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkanNya ke mana Ia ingini”.

 

·        Yer 10:23 - “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya”.

 

3.   Penafsiran yang benar dari cerita ini adalah: Tuhan bukan hanya tahu apa yang betul-betul akan terjadi, tetapi juga apa yang akan terjadi seandainya Daud tidak meninggalkan Kehila.

 

b)   Pembahasan secara praktis.

 

1.   Setelah mengetahui sikap pengecut dan bersifat mengkhianat dari orang-orang Kehila, kalau saudara menjadi Daud, mungkin saudara akan melakukan hal-hal ini:

 

·        tetap di Kehila, supaya seluruh kota dibantai oleh Saul, seperti kota Nob.

 

·        membunuhi orang-orang Kehila dulu, baru lari meninggalkan Kehila.

 

Tetapi lagi-lagi kemuliaan jiwa Daud terlihat dengan menyolok dengan dia tidak melakukan hal-hal ini, tetapi segera meninggalkan Kehila.

 

2.   Mengapa Daud tidak menanyakan kehendak Tuhan, apakah ia harus meninggalkan Kehila atau tidak?

 

·        mungkin karena kadang-kadang memang harus digunakan akal sehat. Pada waktu bahaya mendatang, kita harus menyingkir.

 

·        tetapi lebih penting dari alasan pertama di atas, ada alasan kedua, yaitu: Daud tidak mau berperang melawan Saul, raja yang diurapi oleh Tuhan, dan melawan bangsanya sendiri. Karena itu, tidak ada jalan lain kecuali menyingkir dari Kehila.

 

3.   Daud selamat, karena ia meminta petunjuk Tuhan, dan mentaatinya.

 

Ini menunjukkan betapa pentingnya mencari kehendak Tuhan dan mentaatinya. Maukah saudara mencari kehendak Tuhan, dan mentaatinya?

 

III) Orang yang bisa mendapat petunjuk Tuhan.

 

Kita sudah melihat betapa pentingnya mencari kehendak Tuhan dan mentaatinya. Bukan hanya orang-orang percaya pada jaman dulu, atau nabi-nabi, rasul-rasul, dan hamba-hamba Tuhan saja yang bisa mendapatkan pimpinan dari Tuhan, tetapi semua orang kristen yang sejati.

 

Pulpit Commentary: “The fact that in the emergencies of their life God gave specific replies to the inquiry of his chosen servants, because they were instruments of working out the great Messianic purposes, is encouragement to believe that he will give heed to every one whose life is devoted to the same issue, and who is equally sincere in prayer” (= Fakta bahwa dalam keadaan-keadaan darurat dari kehidupan mereka, Allah memberikan jawaban yang spesifik / tertentu terhadap pertanyaan dari pelayan-pelayan pilihanNya, karena mereka adalah alat-alat untuk melaksanakan rencana yang besar / agung berkenaan dengan Mesias, merupakan suatu dorongan untuk percaya bahwa Ia akan memperhatikan setiap orang yang kehidupannya dibaktikan kepada persoalan yang sama, dan yang sama sungguh-sungguhnya dalam doa) - hal 442.

 

Jadi, bukan hanya hamba-hamba Tuhan yang bisa ‘bertanya-jawab’ dengan Tuhan. Saudara juga bisa. Dalam hal ini ada 2 extrim salah, yang harus dihindari:

 

·        orang-orang, pada umumnya dari kalangan Pentakosta / Kharismatik, yang sedikit-sedikit mengatakan ‘Tuhan bicara kepada saya’, atau ‘Saya menerima pesan dari Tuhan’, tetapi ternyata yang dikatakan / dipesankan Tuhan itu salah.

 

·        orang-orang yang sama sekali tidak percaya bahwa Allah bisa berbicara dan memberi petunjuk kepada kita.

 

Kalau kita percaya bahwa Allah itu hidup dan maha kuasa, kita harus percaya bahwa Ia bisa berbicara kepada kita dan menunjukkan kehendakNya secara khusus, yang tidak ada dalam Kitab Suci (tetapi tidak mungkin bertentangan dengan Kitab Suci)!

 

Maz 23 menunjukkan bahwa Tuhan adalah gembala bagi semua yang adalah domba / orang percaya. Karena itu jelas bahwa Ia mau dan bisa memimpin kita dalam hal-hal yang tidak bisa didapatkan secara langsung dari Kitab Suci.

 

Syarat-syarat untuk bisa mendapat petunjuk Tuhan:

 

1)   Saudara adalah anak Allah.

 

Gembala tidak memimpin kambing, tetapi memimpin domba!

 

2)   Saudara mau taat pada kehendak Tuhan secara umum, yang ada dalam Kitab Suci.

 

Kalau kehendak Tuhan yang umum dalam Kitab Suci saja saudara tidak mau taat, untuk apa tahu kehendak yang khusus, yang tak ada dalam Kitab Suci?

 

Bandingkan dengan:

 

·        Maz 25:9,12 - “(9) Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalanNya kepada orang-orang yang rendah hati. ... (12) Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.

 

·        Maz 37:23 - “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya”.

 

KJV: ‘The steps of a good man are ordered by the LORD: and he delighteth in his way’ (= Langkah-langkah seorang yang baik / saleh diatur oleh TUHAN: dan Ia berkenan dengan jalannya).

 

Barnes’ Notes: “‘The steps of a good man are ordered by the LORD.’ Margin, ‘established.’ The word rendered ‘ordered’ means to stand erect; to set up; to found; to adjust, fit, direct. The idea here is, that all which pertains to the journey of a good man through life is directed, ordered, fitted, or arranged by the Lord. That is, his course of life is under the divine guidance and control. ... The word ‘steps’ here means his course of life; the way in which he goes” (= ‘Langkah-langkah seorang yang baik / saleh diatur oleh TUHAN’. Catatan tepi, ‘diteguhkan’. Kata yang diterjemahkan ‘diatur’ berarti ‘berdiri tegak’, ‘mendirikan’, ‘mendirikan’, ‘menyesuaikan’, ‘mencocokkan’, ‘mengarahkan’. Gagasan / artinya di sini adalah bahwa semua yang berkenaan dengan perjalanan dari seorang yang baik / saleh dalam sepanjang hidupnya diarahkan, diatur, disesuaikan, atau ditata oleh Tuhan. Yaitu, jalan hidupnya ada di bawah pimpinan dan kontrol ilahi. ... Kata ‘langkah’ di sini berarti ‘jalan hidupnya’; jalan dalam mana ia pergi / hidup).

 

Matthew Henry: “‘The steps of a good man are ordered by the Lord.’ By his grace and Holy Spirit he directs the thoughts, affections, and designs of good men. ... Observe, God orders the steps of a good man; not only his way in general, by his written word, but his particular steps, by the whispers of conscience, saying, This is the way, walk in it. He does not always show him his way at a distance, but leads him step by step, as children are led, and so keeps him in a continual dependence upon his guidance” (= ‘Langkah-langkah seorang yang baik / saleh diatur oleh TUHAN’. Dengan kasih karunia dan Roh KudusNya Ia mengarahkan pemikiran, perasaan, dan rencana / tujuan dari orang-orang yang baik / saleh. ... Perhatikan, Allah mengatur langkah-langkah dari orang yang baik / saleh; bukan hanya jalannya secara umum, dengan firman tertulisNya, tetapi langkah-langkah khususnya, dengan bisikan dari hati nurani, yang mengatakan, ‘Inilah jalannya, berjalanlah di sana’. Ia tidak selalu menunjukkan kepadanya jalanNya dari jarak jauh, tetapi memimpinnya langkah demi langkah, seperti anak-anak dibimbing, dan dengan demikian menjaga dia dalam suatu ketergantungan yang terus menerus pada bimbinganNya).

 

Bagian yang saya garis bawah ganda itu penting. Tidak biasanya Tuhan menunjukkan jalan yang masih jauh. Ia memimpin langkah demi langkah. Misalnya dalam kasus Abraham, Ia hanya menyuruh Abraham meninggalkan negeri dan sanak saudaranya, pergi ke tempat yang akan Ia tunjukkan dan tidak diketahui oleh Abraham (Kej 12:1  Ibr 11:8)! Baru belakangan Tuhan memberi tahu bahwa Ia akan memberikan tanah Kanaan kepada Abraham (Kej 15:7,13-16,18-21).

 

·        Amsal 3:5-6 - “(5) Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. (6) Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu”.

 

·        1Sam 28:6 - “Dan Saul bertanya kepada TUHAN, tetapi TUHAN tidak menjawab dia, baik dengan mimpi, baik dengan Urim, baik dengan perantaraan para nabi”.

 

Saul yang sudah hidup dalam dosa, bertanya kepada Tuhan, dan Tuhan tidak mau menjawab.

 

·        Ro 12:1-2 - “(1) Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (2) Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

 

Yang saya beri garis bawah ganda menunjukkan persyaratannya, dan kalau itu dipenuhi, maka bagian yang saya beri garis bawah tunggal akan terjadi.

 

Ini tidak berarti bahwa hidup saudara harus suci murni, karena kalau demikian, tidak ada orang yang bisa mengetahui kehendak Tuhan. Tetapi ini berarti bahwa tidak boleh ada dosa yang saudara pegangi dengan cara yang tegar tengkuk.

 

3)   Saudara betul-betul ingin mengetahui kehendak Tuhan dalam hal tertentu, dan saudara mau mentaati kehendak Tuhan itu.

 

Pulpit Commentary: “Those who seek guidance of God in a right spirit never fail to obtain it” (= Mereka yang mencari pimpinan Allah dengan pemikiran yang benar tidak pernah gagal untuk mendapatkannya) - hal 443.

 

Richard L. Strauss: “Horses and mules have never been famous for their cooperative spirit. ... The horse may express it by refusing to stop. ... The mule usually expresses it by refusing to go. ... That is exactly why God said, ‘Do not be as the horse or as the mule which have no understanding.’ The greatest obstacle to knowing God’s plan for our lives is the persistence of our own unbending purposes and preferences. Dealing with that stubborn will may be the most important single factor in discerning and doing the will of God” (= Kuda dan bagal tidak pernah terkenal karena sifat menurut mereka. ... Kuda bisa menyatakannya dengan menolak untuk berhenti. ... Bagal biasanya menyatakannya dengan menolak untuk berjalan. ... Itu sebabnya mengapa Allah berkata: ‘Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal’. Halangan terbesar untuk mengetahui rencana Allah bagi hidup kita adalah sikap keras kepala dari rencana / tujuan dan pilihan / kesukaan kita sendiri yang tidak bisa dibengkokkan. Menangani kemauan yang keras kepala itu mungkin merupakan suatu faktor yang paling penting dalam membedakan dan melakukan kehendak Allah) - ‘How to really know the will of God’, hal 57.

 

Maz 32:9 - “Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau”.

 

a)   Kebanyakan orang kristen tidak menginginkan kehendak Tuhan. Biasanya mereka memutuskan untuk diri mereka sendiri apa yang akan mereka lakukan dan mereka lalu minta Tuhan menyertai dan memberkati apa yang mereka lakukan itu. Dengan kata lain, mereka minta supaya Allah merestui kehendak mereka. Ini salah! Tetapi coba renungkan: apakah bukan ini yang biasanya saudara lakukan? Misalnya dalam mencari pacar, menentukan sekolah / study / pekerjaan, membeli rumah, memilih pelayanan, dsb?

 

b)   Ada juga orang yang menanyakan kehendak Allah tetapi dalam hati ia sudah memutuskan apa yang akan ia lakukan. Jadi, ia cuma ingin mengecheck apakah Allah setuju dengan dia atau tidak. Kalau Allah setuju ia menuruti Allah, tetapi kalau tidak, ia akan mengabaikan kehendak Allah itu. Atau ia menanyakan kehendak Allah untuk melihat apakah Allah punya kehendak yang lebih baik dari keputusannya itu. Ini jelas juga salah!

 

c)   Ada juga orang yang ingin tahu kehendak Tuhan hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya, tetapi ia tidak mempunyai tekad untuk menyesuaikan hidupnya dengan kehendak Tuhan. Ini jelas juga salah.

 

d)   Yang benar adalah: saudara harus menanyakan kehendak Allah dengan suatu tekad bahwa apapun yang Tuhan perintahkan saudara mau menurutinya! Kalau ini ada pada saudara maka Allah mau menunjukkan kehendakNya kepada saudara!

 

4)   Ada ketekunan untuk menantikan petunjuk Tuhan, karena tidak selalu Tuhan segera menunjukkan kehendakNya pada waktu kita menanyakannya.

 

Contoh ketidak-tekunan pada waktu meminta petunjuk Tuhan, ada dalam 1Sam 14:18-19 - “(18) Lalu kata Saul kepada Ahia: ‘Bawalah baju efod ke mari.’ Karena pada waktu itu dialah yang memakai baju efod di antara orang Israel. (19) Tetapi sedang Saul berbicara kepada imam itu, maka kian lama kian bertambahlah keributan di perkemahan orang Filistin, sehingga Saul berkata pula kepada imam itu: ‘Biarlah!’”.

 

Di sini Saul minta petunjuk kepada Tuhan. Ada 2 hal yang perlu diperhatikan:

 

·        ‘baju efod’ (14:18). Ini diambil dari LXX / Septuaginta.

 

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘the ark of God’ (= tabut Allah).

 

Mungkin di sini ada kesalahan pada pengcopyan awal, karena ‘tabut Allah’ tidak pernah digunakan untuk mencari kehendak Allah, tetapi ‘baju efod’ memang dipakai untuk tujuan itu (Kel 28:28-30).

 

Tindakan minta petunjuk Tuhan ini jelas merupakan tindakan yang baik, tetapi tidak jelas petunjuk apa yang diminta oleh Saul.

 

·        tetapi sementara Saul berusaha mencari kehendak Tuhan itu, keributan di perkemahan Filistin makin bertambah, dan Saul lalu berkata kepada imam Ahia: ‘Biarlah’ (14:19). Ini salah terjemahan!

 

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘Withdraw thine / your hand’ (= Tariklah tanganmu).

 

Rupanya karena keributan menjadi makin hebat, Saul lalu membatalkan perintah kepada imam untuk menanyakan kehendak Tuhan. Ini lagi-lagi menunjukkan sikap terburu-buru / tidak sabar dari Saul.

 

Penerapan:

 

Banyak orang bergumul mencari kehendak Tuhan, tetapi karena waktu / keadaan mendesak, mereka lalu menghentikan usaha mencari kehendak Tuhan itu, dan berjalan tanpa pimpinan Tuhan. Misalnya: seseorang bergumul tentang jodoh. Tetapi karena usia yang makin banyak, dan keluarga yang mendesak untuk cepat-cepat kawin, maka akhirnya ia berjalan tanpa pimpinan Tuhan.

 

IV) Macam-macam cara mendapat petunjuk Tuhan.

 

1)   Undian.

 

a)   Ayat-ayat pembanding / pendukung: Amsal 16:33 - “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN”. Bdk. Amsal 18:18.

 

Matthew Henry tentang Amsal 16:33: “The divine Providence orders and directs those things which to us are perfectly casual and fortuitous. Nothing comes to pass by chance, nor is an event determined by a blind fortune, but every thing by the will and counsel of God” [= Providensia ilahi mengatur dan mengarahkan hal-hal itu, yang bagi kita sepenuhnya adalah sembarangan dan kebetulan. Tidak ada yang terjadi karena kebetulan, juga tidak ada peristiwa yang ditentukan oleh nasib / takdir yang buta, tetapi segala sesuatu (terjadi / ditentukan) oleh kehendak dan rencana Allah].

 

b)   Ada yang tidak setuju bahwa Amsal 16:33 merupakan dasar bahwa kehendak Tuhan bisa dicari melalui undian.

 

Wycliffe Bible Commentary (tentang Amsal 16:33): “Greenstone rightly concludes (versus Toy and Delitzsch) that this is not a special sanction of lots to determine matters, much less to determine the divine will. It is merely a declaration that the lot - the most capricious of human acts - is controlled by the all-powerful God” [= Greenstone menyimpulkan dengan benar (versus Toy dan Delitzsch) bahwa ini bukanlah suatu persetujuan khusus tentang undian untuk menentukan persoalan-persoalan, apa lagi untuk menentukan kehendak ilahi. Itu semata-mata merupakan suatu pernyataan bahwa undian - tindakan manusia yang paling tidak terduga - dikontrol oleh Allah yang maha kuasa].

 

Kalau kata-kata di atas ini benar, lalu bagaimana kita menafsirkan peristiwa-peristiwa dalam Kitab Suci dimana mereka menggunakan undian untuk menentukan kehendak Tuhan? Misalnya:

 

·        cara pembagian tanah Kanaan kepada suku-suku Israel (Bil 26:55-56).

 

·        cara Yosua menemukan pencuri barang-barang dari Yerikho (Yos 7:16-18).

 

·        cara mendapatkan Saul menjadi raja, kelihatannya juga dilakukan dengan undian (1Sam 10:17-21).

 

·        cara menemukan Yunus sebagai orang yang menyebabkan terjadinya malapetaka / badai (Yunus 1:7).

 

·        cara para rasul menetapkan orang yang menggantikan Yudas Iskariot (Kis 1:23-26).

 

c)   Apakah jaman sekarang cara menggunakan undian ini masih bisa dipakai untuk mencari kehendak Tuhan?

 

Adam Clarke: “How far it may be proper now to put difficult matters to the lot, after earnest prayer and supplication, I cannot say” (= Sejauh mana pada jaman sekarang ini kita memutuskan persoalan-persoalan yang sukar dengan menggunakan undian, setelah doa dan permohonan yang sungguh-sungguh, saya tidak bisa mengatakan).

 

Saya berpendapat bahwa secara umum cara ini sudah tidak lagi bisa digunakan pada jaman sekarang, karena setelah Kitab Suci lengkap, pada umumnya Tuhan memimpin melalui Kitab Suci. Tetapi saya tidak memutlakkan, karena Tuhan bisa saja melakukan kalau Ia mau, dan Tuhan sering bermurah hati kepada orang yang bodoh.

 

2)   Efod, dengan Urim dan Tumimnya (ay 9).

 

a)   Apakah Efod, Urim dan Tumim itu?

 

Efod adalah jubah / pakaian imam besar, dan pada tutup dadanya ada Urim dan Tumim.

 

Kel 28:30 - “Dan di dalam tutup dada pernyataan keputusan itu haruslah kautaruh Urim dan Tumim; haruslah itu di atas jantung Harun, apabila ia masuk menghadap TUHAN, dan Harun harus tetap membawa keputusan bagi orang Israel di atas jantungnya, di hadapan TUHAN”.

 

Bil 27:21 - “Ia (Yosua) harus berdiri di depan imam Eleazar, supaya Eleazar menanyakan keputusan Urim bagi dia di hadapan TUHAN; atas titahnya mereka akan keluar dan atas titahnya mereka akan masuk, ia beserta semua orang Israel, segenap umat itu.’”.

 

b)   Tentang bentuk dan cara kerja dari Efod dengan Urim dan Tumimnya, sama sekali tidak ada kejelasan.

 

Unger’s Bible Dictionary dengan topik ‘Urim and Thummim’: “Even such early writers as Josephus, Philo, and the rabbis do not furnish any precise information as to what the Urim and Thummim really were. On every side we meet confessions of ignorance. ... The process of consulting Jehovah by Urim and Thummim is not given in Scripture (= Bahkan penulis-penulis awal seperti Josephus, Philo, dan rabi-rabi tidak memberi informasi yang persis berkenaan dengan apa sebetulnya Urim dan Tumim itu. Pada setiap sisi kami bertemu dengan pengakuan tentang ketidak-tahuan. ... Proses dari menanyakan kepada Yehovah dengan Urim dan Tumim tidak diberikan dalam Kitab Suci).

 

The New Bible Dictionary, hal 1306, mengatakan bahwa mungkin cara menggunakan Urim dan Tumim adalah dengan pengundian, dan mungkin Urim dan Tumim itu berbentuk 2 coin, yang masing-masing punya 2 sisi, yang satu disebut Urim dan yang satunya Tumim. Pada waktu kedua coin dilempar, maka:

 

·        kalau kedua-duanya menunjukkan Urim, itu dianggap sebagai jawaban ‘Tidak’.

 

·        kalau keduanya menunjukkan Tumim dianggap sebagai jawaban ‘Ya’.

 

·        kalau yang satu menunjukkan Urim dan satunya menunjukkan Tumim, dianggap sebagai ‘Tidak ada jawaban’.

 

The International Standard Bible Encyclopedia, vol IV: “The Urim and Thummim belonged to God; they were entrusted to Levi (Dt. 33:8) in the person of the high priest and stored in his breastpiece (Ex. 28:30; Lev. 8:8), which was fastened on the EPHOD. ... The form of the Urim and Thummim and the manner of their use are exceedingly difficult to determine. ... At present the most widely accepted view understands the Urim and Thummim as a lot oracle ... The key evidence is 1S. 14:41, ... There are also problems with the lot theory as such. ... the use of a lot (with a possible ‘yes,’ ‘no,’ or ‘no-answer’ response) is difficult to picture when God’s answer contained more information than the question (e.g., 1S. 10:22), and it is unimaginable in 2S. 5:23f. ... Judging from the type of answer given, one could conclude that the divine gift of prophetic inspiration was involved. ... Nowhere does the OT state how the Urim and Thummim were used [= Urim dan Tumim adalah milik Allah; dan itu dipercayakan kepada Lewi (Ul 33:8) dalam diri dari imam besar, dan disimpan dalam tutup dadanya (Kel 28:30; Im 8:8), yang dilekatkan pada efod. ... Bentuk dari Urim dan Tumim dan cara penggunaan mereka sangat sukar untuk ditentukan. ... Pada saat ini pandangan yang paling banyak diterima memahami Urim dan Tumim sebagai jawaban (melalui) undian. Bukti utama adalah 1Sam 14:41, ... Juga ada problem dengan teori undian seperti itu. ... penggunaan dari suatu undi (dengan kemungkinan tanggapan ‘ya’, ‘tidak’, atau ‘tidak ada jawaban’) sukar dibayangkan pada saat jawaban Allah mengandung lebih banyak infomasi dari pertanyaannya (misalnya, 1Sam 10:22), dan tidak bisa dibayangkan dalam 2Sam 5:23-dst. ... Menilai dari jenis jawaban yang diberikan, seseorang bisa menyimpulkan bahwa karunia ilahi yang bersifat ilham nubuatan terlibat. ... Tidak ada satu tempatpun dalam Perjanjian Lama dimana dinyatakan bagaimana Urim dan Tumim digunakan] - hal 957,958.

 

Ul 33:8 - “Tentang Lewi ia berkata: ‘Biarlah Tumim dan UrimMu menjadi kepunyaan orang yang Kaukasihi, yang telah Kaucoba di Masa, dengan siapa Engkau berbantah dekat mata air Meriba”.

 

Kel 28:30 - “Dan di dalam tutup dada pernyataan keputusan itu haruslah kautaruh Urim dan Tumim; haruslah itu di atas jantung Harun, apabila ia masuk menghadap TUHAN, dan Harun harus tetap membawa keputusan bagi orang Israel di atas jantungnya, di hadapan TUHAN”.

 

Im 8:8 - “Dikenakannyalah tutup dada kepadanya dan dibubuhnya di dalam tutup dada itu Urim dan Tumim”.

 

Sekarang mari kita perhatikan 1Sam 14:41 yang ia katakan sebagai bukti utama, bahwa Urim dan Tumim adalah suatu pengundian.

 

1Sam 14:41 - “Lalu berkatalah Saul: ‘Ya, TUHAN, Allah Israel, mengapa Engkau tidak menjawab hambaMu pada hari ini? Jika kesalahan itu ada padaku atau pada anakku Yonatan, ya TUHAN, Allah Israel, tunjukkanlah kiranya Urim; tetapi jika kesalahan itu ada pada umatMu Israel, tunjukkanlah Tumim.’ Lalu didapati Yonatan dan Saul, tetapi rakyat itu terluput”.

 

Catatan: dalam 1Sam 14:41 ini, Kitab Suci Indonesia mengambil terjemahan LXX / Septuaginta, yang secara explicit menyebutkan penggunaan Urim dan Tumim. Ini berbeda dengan NIV yang mengambil dari manuscript Ibrani, yang tidak secara explicit menyebutkan Urim dan Tumim, tetapi hanya menyebutkan penggunaan undian. Tetapi ini tetap mungkin menunjuk pada penggunaan Urim dan Tumim.

 

NIV: “Then Saul prayed to the LORD, the God of Israel, ‘Give me the right answer.’ And Jonathan and Saul were taken by lot, and the men were cleared” (= Lalu Saul berdoa kepada TUHAN, Allah Israel, ‘Berilah aku jawaban yang benar’. Dan Yonatan dan Saul kena undi, dan rakyat dibebaskan).

 

Sekarang kita melihat ayat-ayat yang ia katakan sebagai problem terhadap ‘teori undian’ ini.

 

1Sam 10:22 - “Sebab itu ditanyakan pulalah kepada TUHAN: ‘Apa orang itu juga datang ke mari?’ TUHAN menjawab: ‘Sesungguhnya ia bersembunyi di antara barang-barang.’”.

 

2Sam 5:23-24 - “(23) maka bertanyalah Daud kepada TUHAN, dan Ia menjawab: ‘Janganlah maju, tetapi buatlah gerakan lingkaran sampai ke belakang mereka, sehingga engkau dapat menyerang mereka dari jurusan pohon-pohon kertau. (24) Dan bila engkau mendengar bunyi derap langkah di puncak pohon-pohon kertau itu, maka haruslah engkau bertindak cepat, sebab pada waktu itu TUHAN telah keluar berperang di depanmu untuk memukul kalah tentara orang Filistin.’”.

 

Ia menganggap bahwa kalau Urim dan Tumim itu hanya berupa pengundian, maka paling-paling hanya bisa mengatakan ‘Ya’, ‘Tidak’, atau ‘Tidak menjawab’. Bahwa dalam text-text di atas ini bisa ada jawaban seperti itu, menurut dia menunjukkan bahwa Urim dan Tumim bukan hanya merupakan suatu pengundian, tetapi mengandung pemberian nubuat sebagai jawaban dari Tuhan.

 

Tetapi saya berpendapat bahwa bukti ini tidak cukup kuat, karena bisa saja ditafsirkan bahwa text itu hanya menyingkat cerita dan tidak memberikan seluruh tanya jawab dengan Tuhan secara terperinci.

 

c)   Kapan berakhirnya penggunaan Urim dan Tumim?

 

Ezra 2:63 / Neh 7:65 - “Dan tentang mereka diputuskan oleh kepala daerah, bahwa mereka tidak boleh makan dari persembahan maha kudus, sampai ada seorang imam bertindak dengan memegang Urim dan Tumim.

 

Ada pro dan kontra tentang penafsiran ayat ini, berhubungan dengan masih digunakannya, atau sudah tidak digunakannya, Urim dan Tumim setelah pembuangan ke Babilonia.

 

Jamieson, Fausset & Brown tentang Ezra 2:63: “His language seems to imply that the Urim and Thummim had been continued until the captivity, and the re-establishment of that means of consulting God was eagerly and confidently anticipated” (= Bahasa / kata-katanya secara implicit menunjukkan bahwa Urim dan Tumim berlanjut sampai masa pembuangan, dan peneguhan kembali dari cara / jalan tersebut untuk bertanya kepada Allah, diharapkan dengan sungguh-sungguh dan yakin).

 

Jamieson, Fausset & Brown tentang Neh 7:65: “Whether the Urim and Thummim was continued until the Babylonian captivity, is not known, but it is probable; and Nehemiah seems here to anticipate its restoration” (= Apakah Urim dan Tumim dilanjutkan sampai pembuangan Babilnia, tidak diketahui, tetapi itu mungkin saja; dan di sini Nehemia kelihatannya mengharapkan pemulihannya).

 

Matthew Henry tentang Ezra 2:63: “‘till there should be a high priest with Urim and Thummin,’ by whom they might know God’s mind in this matter. This, it seems, was expected and desired, but it does not appear that ever they were blessed with it under the second temple. They had the canon of the Old Testament complete, which was better than Urim; and, by the want of that oracle, they were taught to expect the Messiah the great Oracle, which the Urim and Thummim was but a type of. Nor does it appear that the second temple had the ark in it, either the old one or a new one. Those shadows by degrees vanished, as the substance approached” (= ‘sampai ada seorang imam bertindak dengan memegang Urim dan Tumim’, oleh siapa mereka bisa mengetahui pikiran Allah dalam persoalan ini. Itu kelihatannya diharapkan dan diinginkan, tetapi tidak terlihat bahwa mereka pernah diberkati dengan hal itu pada Bait Suci yang kedua. Mereka mempunyai kanon Perjanjian Lama secara lengkap, yang lebih baik dari Urim, dan dengan tidak adanya wahyu / jawaban melalui imam itu, mereka diajar untuk mengharapkan Mesias, sang Jawaban / Wahyu / Pengantara yang agung, terhadap siapa Urim dan Tumim hanya merupakan suatu Type. Juga tak terlihat bahwa Bait Suci yang kedua mempunyai tabut perjanjian di dalamnya, apakah tabut yang lama atau yang baru. Bayangan-bayangan ini menghilang secara perlahan-lahan, pada saat hakekatnya mendekati ).

 

Catatan: sebetulnya tidak masuk akal kalau Anti-Typenya belum datang TYPEnya sudah dibuang! Tetapi tabut juga bisa hilang, padahal mercy-seat / tutup pendamaian juga merupakan type dari Kristus.

 

Wycliffe Bible Commentary tentang Ezra 2:63: “it seems that God’s will could no longer be determined in this way after the departure of the Shekinah glory in 592 B. C. (Ezek 8-11). Zerubbabel’s earnest hope (and that of all godly Jews) that this tragic situation would not long continue was, of course, not fulfilled, and the problem of the six families was left unsolved” [= kelihatannya kehendak Allah tak lagi bisa ditentukan dengan cara ini setelah pergnya kemuliaan dari kehadiran Allah pada tahun 592 SM (Yeh 8-11). Harapan yang sungguh-sungguh dari Zerubabel (dan dari semua orang-orang Yahudi yang saleh) bahwa situasi tragis ini tak berlangsung lama, tentu saja tidak terpenuhi, dan problem dari 6 keluarga itu tidak terselesaikan].

 

Keil & Delitzsch tentang Ezra 2:63: “This expectation, however, was unfulfilled. ... we find no single notice of any declaration of the divine will or the divine decision by Urim and Thummim in the period subsequent to the captivity; but have, on the contrary, the unanimous testimony of the Rabbis, that after the Babylonian exile God no longer manifested His will by Urim and Thummim, this kind of divine revelation being reckoned by them among the five things which were wanting in the second temple” (= Tetapi harapan ini tidak terpenuhi. ... kami tidak mendapatkan pemberitahuan tentang pernyataan apapun tentang kehendak ilahi atau keputusan ilahi dengan Urim dan Tumim dalam masa setelah pembuangan; tetapi sebaliknya, kami mempunyai kesaksian dengan suara bulat dari para Rabi, bahwa setelah pembuangan Babilonia, Allah tidak lagi menyatakan kehendakNya dengan Urim dan Tumim, dan jenis wahyu ilahi ini dianggap oleh mereka sebagai salah satu dari 5 hal yang hilang dari Bait Suci yang kedua).

 

Saya setuju dengan pandangan dari kelompok kedua.

 

d)   Bagi kita jaman sekarang, Efod dengan Urim dan Tumimnya sudah pasti tidak lagi bisa dipakai sebagai cara untuk mendapatkan kehendak Tuhan.

 

3)   Penggunaan tiang awan dan tiang api (Kel 13:21-22).

 

Tuhan hanya memakai cara ini pada waktu memimpin bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan. Setelah itu, dalam Kitab Suci Tuhan tidak pernah memakai cara ini lagi. Ini menunjukkan bahwa cara yang dipakai oleh Tuhan dalam Kitab Suci belum tentu bisa dipakai pada jaman ini! Bdk. Ibr 1:1-2a - (1) Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, (2) maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya.

 

4)   Mujijat, seperti:

 

·        theophany (Allah yang menunjukkan diri dalam bentuk manusia).

 

·        malaikat.

 

·        penglihatan / pendengaran.

 

·        Tuhan / Roh Kudus berbicara langsung.

 

·        dll.

 

Catatan: Ini masih bisa terjadi pada jaman sekarang, tetapi tidak mungkin terlalu sering, karena kalau demikian, maka apa gunanya Tuhan memberikan Kitab Suci? Dan ingat, kalau saudara mendapatkan pimpinan Tuhan melalui hal-hal ini, saudara harus mengechecknya apakah itu bertentangan dengan dengan Kitab Suci / Firman Tuhan atau tidak! Kalau bertentangan dengan Kitab Suci / Firman Tuhan, maka itu pasti bukan dari Tuhan!

 

5)   Mimpi (Yusuf, Firaun, dsb).

 

Catatan: sama dengan point 4. di atas.

 

6)   Nabi / pelihat.

 

1Sam 9:6 - “Tetapi orang ini berkata kepadanya: ‘Tunggu, di kota ini ada seorang abdi Allah, seorang yang terhormat; segala yang dikatakannya pasti terjadi. Marilah kita pergi ke sana sekarang juga, mungkin ia dapat memberitahukan kepada kita tentang perjalanan yang kita tempuh ini.’”.

 

Catatan:

 

·        Jangan samakan ini dengan pergi kepada dukun, ‘orang pinter’, suhu, dan sebagainya.

 

·        Jaman sekarang banyak orang yang bertindak seolah-olah mereka adalah nabi / pelihat, tetapi palsu!

 

7)   Tanda.

 

Contoh:

 

·        Gideon (Hakim 6:36-40).

 

·        Hamba Abraham waktu mencarikan istri untuk Ishak (Kej 24:12-dst).

 

·        Yonatan (1Sam 14:6-15).

 

·        Kasus cemburu / kecurigaan bahwa istri telah berzinah (Bil 5:11-31).

 

Beberapa hal yang harus diperhatikan:

 

a)   Dalam contoh-contoh di atas permintaan tanda selalu bersifat specific / tertentu. Jangan meminta pimpinan Tuhan dengan berdoa seperti ini: Tuhan kalau memang Engkau menghendaki saya melakukan hal ini berilah saya tanda (tanpa spesifikasi tanda apa yang ia inginkan). Mengapa? Karena kalaupun saudara menerima tanda, saudara tidak bisa yakin itu dari Tuhan atau bukan. Bisa juga terjadi sesuatu yang saudara kira sebagai tanda dari Tuhan padahal bukan.

 

b)   Kita tidak boleh meminta tanda dengan cara memojokkan / membatasi Tuhan (baik itu kita sadari atau tidak). Yang saya maksudkan dengan ‘tanda yang memojokkan / membatasi Allah’ itu bukanlah tanda yang sukar / tak masuk akal, tetapi kalau kita baik secara langsung / sadar maupun secara tak langsung / tak sadar, meminta: Tuhan, kalau Engkau menghendaki jalan yang ini, muluskan jalannya.

 

Contoh:

 

·        seseorang berdoa: ‘Tuhan, kalau Engkau menghendaki aku pacaran dengan dia, berilah tanda dengan menggerakkan hati orang tuanya mengijinkan hubungan kami’. Bagaimana kalau Tuhan menghendaki, tetapi Ia mau saudara menempuhnya melalui kesukaran, yaitu tantangan dari orang tuanya?

 

·        seseorang berdoa: ‘Tuhan, kalau Engkau mengehendaki aku pergi ke gereja, tolong beri cuaca cerah’. Bagaimana kalau Tuhan menginginkan saudara ke gereja dalam cuaca hujan, untuk menguji cinta saudara kepada Dia?

 

c)   Perlu diingat bahwa dalam jaman Kitab Sucipun Tuhan tidak selalu mau memberi tanda, apalagi pada jaman sekarang! Bandingkan dengan:

 

·        Mat 12:38-39 - “(38) Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: ‘Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari padaMu.’ (39) Tetapi jawabNya kepada mereka: ‘Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus”.

 

·        Mat 16:1-4 - “(1) Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka. (2) Tetapi jawab Yesus: ‘Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, (3) dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak. (4) Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.’ Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi”.

 

·        1Kor 1:22-23 - “(22) Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, (23) tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.

 

Richard L. Strauss: “Scripture relates no instance of a believer seeking the will of God through signs after the day of Pentecost. Today we have the permanent indwelling of the Holy Spirit and the completed revelation of Scripture. We have no need for signs. To devise specific stipulations and to demand them of God is to reduce God to our mold, to make him after our own image, to create our own God. Let God be God! He must be free to deal with us as he pleases” (= Kitab Suci tidak menceritakan satu kejadianpun tentang seorang percaya yang mencari kehendak Allah melalui tanda-tanda setelah hari Pentakosta. Pada jaman ini kita dihuni secara tetap oleh Roh Kudus dan kita mempunyai wahyu Kitab Suci yang lengkap. Kita tidak membutuhkan tanda-tanda. Memikirkan syarat / ketentuan tertentu dan menuntutnya dari Allah sama dengan merendahkan Allah pada pembentukan kita, membuat Ia sesuai gambar kita, menciptakan Allah kita sendiri. Biarlah Allah menjadi Allah. Ia harus bebas memperlakukan kita sesuai kehendakNya) - ‘How to really know the will of God’, hal 132.

 

Saya tidak berani memutlakkan seperti ini. Tuhan tetap bisa menggunakan tanda kalau Ia mau. Tetapi kita tidak boleh memaksa Dia untuk menggunakan cara ini.

 

d)   Kalau kita toh mau minta tanda, sebaiknya kita minta tanda yang berpadanan dengan kehendak Tuhan yang sedang digumulkan itu.

 

Contoh: ada seseorang yang merasa Tuhan memanggil dia menjadi hamba Tuhan, tetapi ia punya hutang, dan istrinya masih kristen KTP. Maka saya menasehatkan untuk minta tanda berupa pelunasan hutang dan pertobatan istri. Mengapa? Karena hal-hal ini berpadanan dengan panggilan jadi hamba Tuhan itu. Ia tidak mungkin pergi ke sekolah Theologia dan menjadi hamba Tuhan dalam keadaan punya hutang yang tak terbayar dan punya istri yang kristen KTP!

 

8)   Adanya damai atau tidak adanya damai.

 

Ini didasarkan atas ajaran Kitab Suci yang menunjukkan bahwa kalau kita berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan, maka kita akan memiliki damai, dan sebaliknya kalau kita berjalan di luar kehendak Tuhan kita tidak akan memiliki damai.

 

Yes 26:3 - “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepadaMulah ia percaya”.

 

Yes 32:17 - “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya”.

 

Yes 48:18,22 - “(18) Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintahKu, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti, ... (22) ‘Tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang fasik!’ firman TUHAN”.

 

2Sam 24:10 - “Tetapi berdebar-debarlah hati Daud, setelah ia menghitung rakyat, lalu berkatalah Daud kepada TUHAN: ‘Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, TUHAN, jauhkanlah kiranya kesalahan hambaMu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh.’”.

 

Gal 6:16 - “Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah”.

 

Cara ini bisa dipakai tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

 

a)   Seringkali kita sukar membedakan damai / sukacita dari Tuhan dengan kesenangan duniawi. Lebih-lebih dalam persoalan jatuh cinta, sukacita karena cinta sukar dibedakan dengan sukacita / damai dari Tuhan!

 

b)   Damai / tidak damai tidak hanya ditentukan oleh keputusan yang sedang kita gumulkan, tetapi oleh seluruh hidup kita. Kalaupun dalam hal yang sedang kita gumulkan, kita memilih jalan yang sesuai kehendak Tuhan, tetapi dalam banyak hal yang lain kita menyimpan dosa, maka kita tetap tidak akan damai.

 

c)   Orang yang berjalan di luar kehendak Tuhan bisa mempunyai damai yang palsu.

 

Contoh:

 

1.   Yunus bisa tidur pada waktu lari dari kehendak Tuhan.

 

2.   Kalau saudara punya pelayanan / pekerjaan yang menjengkelkan dan memberikan banyak stress pada saudara, maka pada waktu saudara meninggalkan pelayanan / pekerjaan itu, bisa saja saudara lalu merasa lega (yang lalu saudara salah-tafsirkan sebagai damai / sukacita), sekalipun itu bukan kehendak Tuhan!

 

3.   Kalau seseorang menjengkelkan saudara, dan saudara sudah lama berusaha menguasai diri, tetapi setelah tidak tahan terhadap tekanan itu, saudara melampiaskan kemarahan saudara kepada orang tersebut, maka mungkin sekali saudara juga merasa lega, yang lalu saudara salah tafsirkan sebagai damai dari Tuhan! Padahal pelampiasan kemarahan saudara jelas adalah dosa!

 

d)   Juga perlu diingat bahwa orang yang berjalan sesuai kehendak Tuhan bisa mengalami begitu banyak kesukaran / serangan setan / hal-hal yang menakutkan, yang justru lalu menyebabkan ia gelisah / tidak damai (karena kurang beriman, dsb).

 

Contoh dalam Kitab Suci: Mat 8:23-25  Mat 14:22-26  Mat 14:29-30  Kel 14:1-12.

 

Contoh dalam hidup sehari-hari:

 

·        mentaati Tuhan untuk menjadi guru sekolah minggu, tetapi lalu merasa sumpek karena nakalnya anak-anak sekolah minggu atau karena pelayanan yang kelihatannya tidak ada gunanya.

 

·        mentaati Tuhan sehingga justru menjadi melarat, lalu menjadi takut / kuatir.

 

Dalam hal ini perlu diingat bahwa yang salah bukanlah jalan yang dipilih itu, tetapi sikap hati kita pada waktu memilih jalan yang benar itu.

 

e)   Kalau pada suatu pergumulan kita lalu mengambil keputusan memilih satu hal tertentu, dan dengan mendadak ada damai yang memenuhi diri kita, maka mungkin itu bisa diartikan bahwa damai itu menunjukkan bahwa kita telah memilih hal yang sesuai dengan kehendak Tuhan [Catatan: saya katakan ‘mungkin’ karena bisa saja terjadi seperti contoh ke 2 dalam point c) di atas].

 

Contoh: Waktu saya dipanggil Tuhan, dan mengambil keputusan untuk menjadi hamba Tuhan, mendadak ada damai yang luar biasa.

 

f)    Nabi-nabi palsu sering memberikan penghiburan kosong / dusta yang bisa saja ‘memberikan damai (yang palsu)’ bagi orang-orang yang mempercayai mereka.

 

Yer 14:10-14 - “(10) Beginilah firman TUHAN tentang bangsa ini: ‘Mereka sangat senang mengembara dan tidak menahan kakinya. Sebab itu TUHAN tidak berkenan kepada mereka; tetapi sekarang Ia mau mengingat kesalahan mereka dan mau menghukum dosa mereka.’ (11) TUHAN berfirman kepadaku: ‘Janganlah engkau berdoa untuk kebaikan bangsa ini! (12) Sekalipun mereka berpuasa, Aku tidak akan mendengarkan seruan mereka; sekalipun mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban sajian, Aku tidak akan berkenan kepada mereka, melainkan Aku akan menghabiskan mereka dengan perang, dengan kelaparan dan dengan penyakit sampar.’ (13) Lalu aku berkata: ‘Aduh, Tuhan ALLAH! Bukankah para nabi telah berkata kepada mereka: Kamu tidak akan mengalami perang, dan kelaparan tidak akan menimpa kamu, tetapi Aku akan memberikan kepada kamu damai sejahtera yang mantap di tempat ini!’ (14) Jawab TUHAN kepadaku: ‘Para nabi itu bernubuat palsu demi namaKu! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka. Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri”.

 

Yer 6:14 - “Mereka mengobati luka umatKu dengan memandangnya ringan, katanya: Damai sejahtera! Damai sejahtera!, tetapi tidak ada damai sejahtera”. Bdk. Yer 8:11.

 

Yer 28:9 - “Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh TUHAN.’”.

 

Karena itu kalau saudara sedang mengalami problem berat, jangan datang kepada sembarang pendeta. Kalau pendeta itu sesat, ia bisa memberikan penghiburan yang bukan dari Tuhan, tetapi pada saat saudara mempercayainya, maka itu bisa memberikan damai yang palsu dalam diri saudara, sehingga saudara lalu mengira bahwa saudara berjalan sesuai kehendak Tuhan, padahal sebetulnya sama sekali tidak!

 

9)   Adanya dorongan dalam hati kita.

 

Bandingkan dengan:

 

·        Kel 25:2 - “‘Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka memungut bagiKu persembahan khusus; dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus kepadaKu itu”.

 

·        Kel 35:5,21,22,26,29 - “(5) Ambillah bagi TUHAN persembahan khusus dari barang kepunyaanmu; setiap orang yang terdorong hatinya harus membawanya sebagai persembahan khusus kepada TUHAN: emas, perak, tembaga, ... (21) Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada TUHAN untuk pekerjaan melengkapi Kemah Pertemuan dan untuk segala ibadah di dalamnya dan untuk pakaian kudus itu. (22) Maka datanglah mereka, baik laki-laki maupun perempuan, setiap orang yang terdorong hatinya, dengan membawa anting-anting hidung, anting-anting telinga, cincin meterai dan kerongsang, segala macam barang emas; demikian juga setiap orang yang mempersembahkan persembahan unjukan dari emas bagi TUHAN. ... (26) Semua perempuan yang tergerak hatinya oleh karena ia berkeahlian, memintal bulu kambing. ... (29) Semua laki-laki dan perempuan, yang terdorong hatinya akan membawa sesuatu untuk segala pekerjaan yang diperintahkan TUHAN dengan perantaraan Musa untuk dilakukan - mereka itu, yakni orang Israel, membawanya sebagai pemberian sukarela bagi TUHAN”.

 

·        Kel 36:2 - “Lalu Musa memanggil Bezaleel dan Aholiab dan setiap orang yang ahli, yang dalam hatinya telah ditanam TUHAN keahlian, setiap orang yang tergerak hatinya untuk datang melakukan pekerjaan itu”.

 

·        Hak 13:25 - “Mulailah hatinya (Simson) digerakkan oleh Roh TUHAN di Mahane-Dan yang terletak di antara Zora dan Esytaol”.

 

·        1Sam 10:26 - “Saulpun pulang ke rumahnya, ke Gibea, dan bersama-sama dengan dia ikut pergi orang-orang gagah perkasa yang hatinya telah digerakkan Allah.

 

·        2Taw 36:22 / Ezra 1:1 - “Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga disiarkan di seluruh kerajaan Koresh secara lisan dan tulisan pengumuman ini”.

 

·        Ezra 1:5 - “Maka berkemaslah kepala-kepala kaum keluarga orang Yehuda dan orang Benyamin, serta para imam dan orang-orang Lewi, yakni setiap orang yang hatinya digerakkan Allah untuk berangkat pulang dan mendirikan rumah TUHAN yang ada di Yerusalem”.

 

·        Ezra 6:14 - Para tua-tua orang Yahudi melanjutkan pembangunan itu dengan lancar digerakkan oleh nubuat nabi Hagai dan nabi Zakharia bin Ido. Mereka menyelesaikan pembangunan menurut perintah Allah Israel dan menurut perintah Koresh, Darius dan Artahsasta, raja-raja negeri Persia.

 

·        Ezra 7:27 - “Terpujilah TUHAN, Allah nenek moyang kita, yang dengan demikian menggerakkan hati raja, sehingga ia menyemarakkan rumah TUHAN yang ada di Yerusalem”.

 

·        Yes 45:13 - “Akulah yang menggerakkan Koresh untuk maksud penyelamatan, dan Aku akan meratakan segala jalannya; dialah yang akan membangun kotaKu dan yang akan melepaskan orang-orangKu yang ada dalam pembuangan, tanpa bayaran dan tanpa suap,’ firman TUHAN semesta alam”.

 

·        Yer 20:9 - “Tetapi apabila aku berpikir: ‘Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi namaNya’, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.

 

·        Hagai 1:14 - TUHAN menggerakkan semangat Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan semangat Yosua bin Yozadak, imam besar, dan semangat selebihnya dari bangsa itu, maka datanglah mereka, lalu melakukan pekerjaan pembangunan rumah TUHAN semesta alam, Allah mereka”.

 

·        2Pet 1:21 - “sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah”.

 

·        Yudas 3 - “Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus”.

 

Tetapi ingat, bahwa tidak semua dorongan yang muncul dalam hati kita datang dari Tuhan. Bisa dari diri kita sendiri, atau dari setan.

 

Contoh:

 

Yes 30:1 - “Celakalah anak-anak pemberontak, demikianlah firman TUHAN, yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan dari padaKu, yang memasuki suatu persekutuan, yang bukan oleh dorongan RohKu, sehingga dosa mereka bertambah-tambah”.

 

Kelihatannya, secara implicit ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang itu memasuki suatu persekutuan oleh suatu dorongan, hanya saja dorongan itu bukan dari Roh Tuhan.

 

Bahkan dorongan yang kelihatannya mulia, yang muncul dari hati yang mengasihi Tuhan, tanpa egoisme, bisa datang dari orangnya sendiri, bukan dari Tuhan.

 

Contoh:

 

¨       dorongan dalam hati Daud untuk mendirikan Bait Suci (2Sam 7:1-17).

 

¨       Paulus mau memberitakan Injil di Asia / Bitinia, tetapi dilarang oleh Tuhan (Kis 16:6-7).

 

Kis 16:6-7 - “(6) Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. (7) Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka”.

 

10) ‘Pintu yang tertutup’ atau ‘pintu yang terbuka’.

 

Contoh:

 

·        1Kor 16:9 - “sebab di sini banyak kesempatan bagiku [KJV: a great door and effectual is opened unto me (= sebuah pintu yang besar dan efektif dibuka untuk aku)] untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang”.

 

·        2Kor 2:12 - “Ketika aku tiba di Troas untuk memberitakan Injil Kristus, aku dapati, bahwa Tuhan telah membuka jalan [KJV: ‘a door was opened unto me of the Lord’ (= sebuah pintu dibukakan bagiku oleh Tuhan)] untuk pekerjaan di sana.

 

·        Kol 4:3 - “Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan”.

 

Kalau saudara menggunakan cara ini perlu diingat bahwa:

 

a)   ‘Pintu yang terbuka’ bisa datang dari setan.

 

Contoh: Yunus mendapat tempat di kapal.

 

Penerapan:

 

·        kalau saudara berdoa minta pekerjaan / pelayanan, lalu ada tawaran pekerjaan / pelayanan, jangan terlalu cepat menganggap ‘pintu terbuka’ itu sebagai datang dari Tuhan.

 

·        kalau saudara berdoa minta pacar, lalu ada lawan jenis yang mendekati saudara, itu belum tentu datang dari Tuhan!

 

b)   Kita harus bisa membedakan antara pintu yang betul-betul ditutup oleh Tuhan dan pintu yang cuma seolah-olah tertutup / ditutup oleh setan. Kalau pintu memang ditutup oleh Tuhan, maka itu tidak akan bisa dibuka oleh siapapun (Wah 3:7b), dan itu menunjukkan bahwa memang bukan kehendak Tuhan kita melewati pintu itu. Tetapi kalau pintu seolah-olah tertutup / ditutup oleh setan, maka perlu diingat bahwa:

 

·        Tuhan lebih berkuasa dari setan, dan karenanya Tuhan bisa membuka pintu manapun termasuk pintu yang ditutup oleh setan (Wah 3:7b  Kel 14:15-31 - Laut Teberau dibelah!).

 

·        iman dan doa bisa memindahkan gunung (Mark 11:22-24)!

 

Catatan: kadang-kadang pintu yang betul-betul tertutup sukar / tidak bisa dibedakan dari pintu yang seolah-olah tertutup. Tetapi seringkali hal itu bisa dibedakan. Misalnya:

 

¨       saudara jatuh cinta pada seorang gadis, dan tahu-tahu gadis itu menikah dengan orang lain. Maka ini tentu harus dianggap sebagai pintu yang betul-betul tertutup!

 

¨       saudara ingin bekerja di suatu perusahaan, tetapi tahu-tahu perusahaan itu tutup.

 

Kita tidak boleh menuntut Tuhan untuk tetap menggunakan semua cara ini. Ada yang masih bisa dan kadang-kadang masih digunakan oleh Tuhan, seperti penggunaan mujijat, mimpi, tanda, pemberian damai, pintu yang terbuka, dan sebagainya. Tetapi karena sekarang Kitab Suci sudah lengkap, maka pada umumnya Tuhan memberi petunjuk dengan menggunakan Kitab Suci. Bisa pada waktu Saat Teduh, atau pada waktu mendengar khotbah dan sebagainya.

 

Tentang ay 6 yang berbunyi: Ketika Abyatar bin Ahimelekh melarikan diri kepada Daud ke Kehila, ia turun dengan membawa efod di tangannya, Matthew Henry memberi komentar sebagai berikut:

“No sooner is the ephod brought to him than he makes use of it: ‘Bring hither the ephod.’ We have the scriptures, those lively oracles, in our hands; let us take advice from them in doubtful cases. ‘Bring hither the Bible.’” (= Begitu efod dibawa kepadanya, ia menggunakannya: ‘Bawalah efod itu kemari’. Kita mempunyai Kitab Suci, sabda Allah yang hidup, dalam tangan kita; hendaklah kita mengambil nasehat darinya dalam kasus-kasus yang meragukan. ‘Bawalah kemari Alkitab’.).

 

V) Mencari kehendak Tuhan melalui Kitab Suci / Firman Tuhan.

 

Saya tidak memaksudkan kehendak Tuhan yang umum, yang memang tertulis dalam Kitab Suci. Yang ini dengan mudah didapatkan hanya dengan belajar Kitab Suci. Tetapi yang saya bicarakan di sini adalah kehendak Tuhan yang khusus, yang tak bisa didapatkan hanya dengan belajar Kitab Suci, seperti:

 

·        siapa jodoh saya? Kalau saya laki-laki maka jodoh saya tentu harus perempuan dan karena saya kristen maka ia harus orang kristen, tetapi perempuan kristen yang mana? Tentu harus yang cocok dengan saya dan yang saya cintai, tetapi bagaimana kalau ada lebih dari satu orang seperti itu? Yang mana yang harus saya pilih?

 

·        saya mendapat 2 tawaran pekerjaan yang sama-sama tidak menabrak acara gereja. Yang mana yang harus saya pilih?

 

·        saya diterima di 2 sekolah. Yang mana yang harus saya pilih?

 

Untuk ini ada beberapa cara yang digunakan:

 

1)   Penggunaan Kitab Suci dengan membuka dan menunjuk secara sembarangan (‘at random’).

 

Caranya adalah dengan berdoa minta pimpinan Tuhan, lalu membuka Kitab Suci secara sembarangan dan menunjuk ayat secara sembarangan. Ayat ini dianggap sebagai petunjuk / jawaban Tuhan.

 

Saya berpendapat bahwa Tuhan tidak pernah mengajar kita menggunakan Kitab Suci dengan cara ini.

 

Richard L. Strauss: “Some Christians seem to think the Bible is some sort of sanctified soothsayer, a hallowed horoscope, or a holy Ouija board. When they have a question or a decision to which they have not been able to find an answer, in sheer desperation they close their eyes, empty their minds of any past knowledge of the Word, open the Bible at random, point to a text, and accept that fragment as divine guidance. Or maybe they use a casual dive into a Bible promise box to get an answer to their dilemma. ... Although God did lead men by casting lots on some occasions before his Word was completed, there is no indication that we should resort to such methods of chance today” (= Beberapa orang kristen kelihatannya mengira / menganggap Alkitab sebagai sejenis peramal yang dikuduskan, horoscope yang disucikan, atau suatu Ouija board yang suci. Ketika mereka mempunyai pertanyaan atau suatu keputusan terhadap mana mereka tidak bisa mendapatkan jawab, dalam keputus-asaan mereka menutup mata mereka, mengosongkan pikiran mereka dari semua pengetahuan yang lalu tentang Firman Tuhan, membuka Alkitab secara sembarangan, menunjuk pada satu text, dan menerima bagian / potongan itu sebagai petunjuk ilahi. Atau mungkin mereka terjun begitu saja ke dalam suatu kotak janji Alkitab untuk mendapatkan jawaban bagi persoalan mereka. ... Sekalipun Allah memang memimpin manusia dengan pembuangan undi dalam beberapa peristiwa sebelum FirmanNya dilengkapkan, tidak ada petunjuk bahwa kita harus mengambil jalan ‘metode kebetulan’ seperti itu pada jaman ini) - ‘How to really know the will of God’, hal 82-83.

 

2)   Penggunaan buku saat teduh.

 

Caranya adalah dengan berdoa menanyakan sesuatu kepada Tuhan, lalu membaca buku saat teduh untuk hari itu, dan menganggapnya sebagai petunjuk Tuhan. Ada yang tak setuju dengan cara ini dan menganggap sama seperti ‘jiam sie’.

 

Jawaban saya:

 

a)   Saya tidak bisa melihat persamaan antara Firman Tuhan dengan ‘jiam sie’!

 

b)   Saya percaya bahwa penulis buku saat teduh itu dipimpin oleh Tuhan pada saat ia menulis (tentu saja kita perlu memilih buku saat teduh yang ditulis oleh orang yang nggenah!). Tuhan tahu kapan saya akan menggunakan buku saat teduh itu untuk menanyakan kehendak Tuhan dan Tuhan bisa memimpin penulis buku saat teduh itu untuk menjawab pertanyaan saya.

 

Hal-hal lain yang perlu diingat adalah:

 

1.   Harus diperhatikan untuk tidak mengambil jawabannya dengan cara sembarangan. Jangan hanya melihat pada suatu kata tertentu, lalu dilepaskan dari kontexnya dan dianggap sebagai jawaban.

 

Contoh: seorang saudara menanyakan apakah Tuhan menghendaki saudara membeli rumah atau mobil, dan mendapatkan jawaban dari Maz 127:1-2 - “(1) Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. (2) Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintaiNya pada waktu tidur”. Ia lalu melihat adanya kata ‘rumah’ dalam Maz 127:1 itu dan menyimpulkan bahwa Tuhan menghendaki ia membeli rumah.

 

2.   Jawaban harus disesuaikan dengan pertanyaannya. Karena itu ingat baik-baik pertanyaannya, lalu lihat apakah jawaban Tuhan itu menjawab pertanyaan itu atau tidak.

 

3.   Dalam mendapatkan jawaban Tuhan melalui saat teduh ini, kita tak boleh bergantung pada perasaan. Misalnya jawabannya jelas ya, tetapi kita menolak, karena hati kita tidak merasakan hal itu!

 

4.   Tuhan tidak selalu menjawab pertanyaan saudara dengan segera. Kalau Ia tidak / belum menjawab, saudara harus tekun untuk bertanya. Kalau Ia terus tidak menjawab, mungkin karena ada dosa dalam diri saudara (1Sam 14:37  1Sam 28:6). Saudara harus bertobat dahulu, baru bertanya lagi.

 

5.   Tuhan tidak selalu menjawab dengan jelas / meyakinkan. Kalau saudara tidak yakin / masih ragu-ragu maka saudara bisa bertanya lagi.

 

Contoh:

 

·        pergumulan saya menjadi hamba Tuhan.

 

Saya mendapatkan jawabannya dari buku saat teduh Streams in the desert, vol 2, tgl 22 Maret. Dalam renungan itu diceritakan tentang seekor anjing gembala yang rela meninggalkan anaknya dan bahkan mengorbankan nyawanya demi mencari 3 domba yang sesat / hilang. Lalu pada bagian akhir saat teduh itu ada tantangan: kalau anjing itu yang hanya mengharapkan senyum tuannya rela melakukan itu untuk mencari domba yang hilang, bagaimana dengan engkau? Ada 1000 juta orang terhilang, maukah engkau pergi?

 

·        saya mau membeli lemari aluminium, dan mendapatkan jawabannya dari Mat 20:20-28. Penekanannya dalam ay 22: ‘Kamu tidak tahu apa yang kamu minta’. Dan seluruh kontext jelas menunjukkan bahwa permintaan Yohanes dan Yakobus itu ditolak oleh Yesus.

 

3)   Menggunakan khotbah.

 

Hampir sama seperti no 2) di atas, tetapi di sini kita meminta jawaban Tuhan melalui khotbah. Tentu saja kita harus memilih pengkhotbah yang benar-benar Alkitabiah dan Injili, bukan seadanya pengkhotbah!

 

Problem dengan cara ini adalah: kalau khotbahnya seperti khotbah saya yang mencakup banyak hal, saudara bisa bingung, yang menjawab pertanyaan saudara itu bagian yang mana.

 

Kesimpulan / Penutup.

 

Mencari kehendak Tuhan, dan menyesuaikan hidup kita dengannya sangat penting. Maukah saudara mencarinya, khususnya melalui FirmanNya, dan mentaatinya? Tuhan memberkati saudara.

 

 

-AMIN-

 



email us at : gkri_exodus@lycos.com