Nabi Elisa

oleh: Pdt. Budi Asali MDiv.


 

II Raja-raja 2:1-18

 

 

I) Menjelang kenaikan Elia ke surga.

 

1)   Ay 1: ‘Menjelang saatnya TUHAN hendak menaikkan Elia ke sorga dalam angin badai’.

 

a)   Cara dan saat Elia (dan juga semua orang lain) meninggalkan dunia ini, ditetapkan oleh Tuhan.

 

Pulpit Commentary: “The time is of God. ... There are no accidental deaths, no premature graves. ... The manner is of God. ... We are not creatures of chance” (= Waktunya adalah dari Allah. ... Tidak ada kematian yang bersifat kebetulan, tidak ada kubur yang bersifat prematur / terlalu pagi. ... Caranya adalah dari Allah. ... Kita bukanlah makhluk kebetulan) - hal 32.

 

b)   ‘angin badai’.

 

KJV/RSVNIV/NASB: ‘whirlwind’ (= angin puting beliung / tornado).

 

Kata Ibraninya adalah SEARAH, dan Pulpit Commentary mengatakan ini bukannya menunjuk pada angin puting beliung tetapi menunjuk pada badai atau gangguan atmosfir. Kata ini digunakan dalam Ayub 38:1  40:6  Yes 40:24  41:16  Yer 23:19  30:23  Zakh 9:14.

 

2)   Rupanya kenaikan Elia ke surga ini sudah diberitahukan lebih dulu, baik kepada Elia, Elisa maupun rombongan nabi di Betel dan Yerikho (ay 3,5,10).

 

3)   Elia mau meninggalkan dunia ini (bukan mati), tetapi ia tetap tenang.

 

Pulpit Commentary: “Many hundred years after this, when John Knox - the Elijah of Scotland - was on his death-bed, he said to those who stood around him, ‘Oh, serve the Lord in fear, and death shall not be terrible unto you!’ Something like this was Elijah’s experience. He had been faithful to God’s cause and commands during his life, and now he was not afraid that God would forsake him at its close” (= Ratusan tahun setelah ini, ketika John Knox, Elia dari Skotlandia, ada di ranjang kematiannya, ia berkata kepada mereka yang berdiri di sekelilingnya, ‘O, layanilah Tuhan dengan rasa takut, dan kematian tidak akan merupakan hal yang mengerikan bagimu!’ Sesuatu yang mirip dengan inilah yang merupakan pengalaman Elia. Ia telah setia pada perkara dan perintah Allah selama hidupnya, dan sekarang ia tidak takut bahwa Allah akan meninggalkannya pada akhir hidupnya) - hal 27.

 

4)   Elia berusaha untuk meninggalkan Elisa (ay 2,4,6).

 

Atau ini dimaksudkan untuk betul-betul mendapatkan kesendirian, atau untuk mengetest kesetiaan Elisa. Keil & Delitzsch mengatakan bahwa ini dilakukan bukan untuk mengetest kesetiaan Elisa, tetapi karena kerendahan hati Elia, yang tidak ingin pemuliaannya dilihat orang lain, kecuali itu betul-betul kehendak Tuhan. Saya condong pada pandangan pertama atau kedua atau gabungan dari kedua pandangan itu, tetapi saya tidak setuju dengan pandangan ketiga.

 

3 x Elia berusaha melakukan hal ini, dan 3 x Elisa menolak untuk ditinggalkan (ay 2,4,6). Dalam keadaan normal seorang pelayan harus menuruti majikannya, tetapi pada saat ini, Elisa, yang tahu bahwa itu adalah saat-saat terakhir ia bisa bersama tuannya (ay 3b,5b), menolak untuk ditinggalkan.

 

5)   Elisa tidak mau membicarakan persoalan kenaikan Elia ke surga (ay 3,5).

 

Mengapa?

 

a)   Pulpit Commentary: “Talking of trouble makes it double” (= Membicarakan kesukaran membuatnya dobel) - hal 29.

 

Tentu ini tidak bisa dimutlakkan untuk semua problem. Problem antara suami - istri atau pendeta - majelis atau orang tua - anak, harus dibicarakan, untuk bisa dibereskan. Tetapi dalam problem-problem tertentu memang apa yang dikatakan Pulpit Commentary itu benar.

 

Tetapi saya meragukan bahwa ini merupakan alasan mengapa Elisa tidak mau membicarakan hal itu.

 

b)   Pulpit Commentary: “There is time to speak, and time to be silent (Eccles. 3:7), and this was the hour for silence. Speech would jar on the solemnity of the occasion” [= Ada waktu untuk berbicara, dan ada waktu untuk berdiam diri (Pkh. 3:7), dan ini adalah waktu untuk berdiam diri. Ucapan akan mengejutkan kekhidmatan dari peristiwa itu] - hal 36.

 

Penerapan:

 

Ada orang terlambat datang dalam kebaktian, lalu saling menyapa, bersalaman, omong-omong, dsb. Sekalipun bersekutu dengan sesama saudara seiman, ramah satu dengan yang lain, merupakan hal yang baik, tetapi kalau itu dilakukan pada saat kebaktian sudah berjalan, itu sangat tidak pada tempatnya!

 

Pulpit Commentary: “The deeper experience of life are to be meditated upon rather than much spoken about. The tongue has great power over the heart. The effects of many a solemn hour have been dissipated by unseasonable talk about them” (= Pengalaman yang lebih dalam dari kehidupan harus lebih direnungkan dari pada dibicarakan. Lidah mempunyai kuasa yang besar terhadap hati. Pengaruh dari banyak saat-saat yang khidmat telah hilang / dibuang oleh pembicaraan yang tidak pada waktunya tentang mereka) - hal 36.

 

6)   Tawaran Elia dan permintaan Elisa (ay 9-10).

 

a)   ‘roh Elia’.

 

Kata ‘roh’ di sini, dan juga dalam ay 15, tentu tidak bisa betul-betul diartikan sebagai ‘roh’, karena pada saat Elia naik ke surga, tentu rohnya juga naik ke surga sehingga tidak mungkin diberikan kepada Elisa. Lalu apa artinya ‘roh’ di sini?

 

Pulpit Commentary: “The spirit of Elijah was a spirit of fidelity to duty, a spirit of faithfulness in rebuking sin, a spirit of fearlessness and courage in the presence of opposition and danger, and at the same time also a spirit of tenderness and love. Such a spirit every Christian worker should seek to possess. ... We need more men with the spirit of Elijah, who will be faithful to God and conscience at any cost, who will rebuke sin in high places and in any place - the sins of the royalty and rank as well as the sins of the poor” (= Roh Elia adalah roh kesetiaan terhadap tanggung jawab, roh kesetiaan dalam mencela dosa, roh yang tidak takut dan berani di hadapan oposisi dan bahaya, dan pada saat yang sama juga roh kelembutan dan kasih. Setiap pekerja Kristen harus berusaha memiliki roh seperti itu. ... Kita membutuhkan lebih banyak orang dengan roh Elia, yang setia kepada Allah dan hati nurani berapapun ongkosnya / pengorbanannya, yang mencela dosa di tempat yang tinggi dan di semua tempat, dosa-dosa dari raja / keluarga raja dan orang berpangkat tinggi maupun dosa-dosa dari orang miskin) - hal 28.

 

Sekalipun hal-hal ini juga tercakup dalam ‘roh Elia’, tetapi jelas bahwa kuasa melakukan mujijat (dan mungkin bernubuat) juga termasuk di dalamnya. Ini terlihat dari ay 14 dimana Elisa membuktikan hal itu dengan melakukan mujijat. Juga ay 15 menunjukkan bahwa ketika para nabi melihat Elisa, mereka memberikan pengakuan bahwa ‘roh Elia telah hinggap pada Elisa’. Mengapa? Karena rupanya mereka melihat, atau setidaknya menduga, terjadinya mujijat dalam ay 14 itu.

 

b)   ‘2 bagian dari roh Elia’.

 

·        Banyak penafsir menganggap bahwa Elisa meminta kuasa 2 x lipat dari apa yang dimiliki oleh Elia, dan bahkan mereka lalu membuktikan bahwa Elisa melakukan mujijat 2 x lebih banyak dari Elia. Tetapi ini merupakan penafsiran yang salah. Alasannya Elisa tidak pernah menjadi 2 x lebih hebat dari Elia, bahkan Elisa tidak pernah bisa menyamai Elia.

 

Keil & Delitzsch: “the ministry of Elisha, when compared with that of Elijah, has all the appearance of being subordinate to it” (= pelayanan Elisa, pada waktu dibandingkan dengan pelayanan Elia, kelihatannya lebih rendah) - hal 293.

 

Bahwa Elia lebih besar dari Elisa, juga terlihat dari fakta bahwa yang muncul bersama Yesus pada waktu pemuliaan di gunung adalah Musa dan Elia, bukan Elisa (Mat 17:3-4).

 

Matthew Poole setuju bahwa arti permintaan ini bukannya Elisa minta kuasa lebih hebat dari Elia, tetapi minta warisan anak sulung, tetapi Poole berkata sebagai berikut:

“though Elisha desired no more, yet God gave him more than he desired or expected; and he seems to have had a greater portion of the prophetical and miraculous gifts of God’s Spirit than Elijah had” (= sekalipun Elisa tidak menginginkan lebih, tetapi Allah memberinya lebih dari yang ia inginkan atau harapkan; dan ia kelihatannya mempunyai bagian yang lebih besar dari karunia-karunia nubuat dan mujijat dari yang dimiliki Elia) - hal 717.

 

Saya lebih setuju dengan Keil & Delitzsch bahwa Elisa tetap tidak bisa melampaui Elia.

 

·        Lalu apa artinya permintaan ini? Ini dihubungkan dengan Ul 21:17, yang mengatakan bahwa anak sulung diberi warisan 2 bagian, atau 2 kali lipat dari anak yang lain. Jadi Elisa rupanya menganggap bahwa Elia mempunyai banyak anak rohani (ini mencakup nabi-nabi di Betel dan Yerikho), dan ia meminta warisan sebagai anak sulung.

 

Daily Bible Commentary, vol I: “a ‘double portion’ of Elijah’s spirit - i.e., not a greater power than that possessed by Elijah but the portion conferred on the eldest son who succeeded to his father’s position (Deut. 21:17)” [= suatu ‘bagian dobel’ dari roh Elia, yaitu, bukan suatu kuasa yang lebih besar dari yang dimiliki Elia, tetapi bagian yang diberikan kepada anak tertua yang menggantikan posisi ayahnya (Ul 21:17)] - hal 322.

 

c)   Permintaan ini tidak menunjukkan ketamakan, karena tamak atau tidaknya tergantung dari motivasi Elisa. Kalau ia meminta hal itu demi kemuliaan Tuhan, maka tentu itu bukan ketamakan.

 

Barnes’ Notes: “Like Solomon, Elisha asks for no worldly advantage, but for spiritual power to discharge his office aright” (= Seperti Salomo, Elisa tidak meminta keuntungan duniawi, tetapi meminta kuasa untuk melaksanakan jabatan / tanggung jawabnya dengan benar) - hal 229.

 

Bahkan kalau seseorang meminta ‘hal duniawi’ seperti mobil, asalkan motivasinya untuk kemuliaan Tuhan, maka itu bukan ketamakan.

 

d)   Berani meminta, seperti yang dilakukan oleh Elisa, merupakan sesuatu yang penting! Karena kalau kita tidak meminta, kita tidak mendapat (Yak 4:2b)!

 

Pulpit Commentary: “There is a holy boldness in seeking a blessing - the spirit of Jacob, ‘I will not let thee go except thou bless me’ (Gen. 32:26), which never fails of its reward” [= Di sini ada keberanian yang kudus dalam mencari berkat; roh / semangat Yakub: ‘Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku’ (Kej 32:26), yang tidak pernah gagal menerima upahnya] - hal 36.

 

Penerapan:

 

Butuh tambahan guru sekolah minggu, pengkhotbah untuk kebaktian remaja, pengurus dsb? Mari kita minta kepada Tuhan! Bdk. Mat 9:37-38 - “Maka kataNya kepada murid-muridNya: ‘Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu’.”.

 

e)   Jawaban Elia (ay 10).

 

Ini disebut sukar, karena ini tidak tergantung kepada Elia, tetapi tergantung kepada Tuhan. Karena itu Elia lalu mengatakan bahwa kalau Elisa bisa melihatnya terangkat ke surga, maka Elisa akan mendapatkan apa yang ia minta. Secara implicit ini menunjukkan bahwa pengangkatan Elia dengan kuda dan kereta berapi dalam ay 11-12 itu sebetulnya tidak terlihat oleh mata biasa. Ini sama seperti pasukan malaikat yang mengawal Elisa dalam 2Raja 6:16-17, yang baru bisa dilihat oleh bujang Elisa setelah Elisa berdoa untuk hal itu.

 

 

II) Kenaikan Elia ke surga.

 

1)   Elia naik ke surga (ay 11).

 

a)   Kereta berapi dan kuda berapi.

 

·        Ini bukan kiasan tetapi betul-betul kereta dan kuda berapi.

 

Pulpit Commentary: “There was an actual appearance to Elisha’s vision of fiery chariot and horse. It is wholly against the text to explain this, as Bahr does, by mere figure of speech” (= Elia betul-betul melihat kereta dan kuda berapi. Merupakan hal yang sepenuhnya bertentangan dengan text untuk menjelaskan ini, seperti yang dilakukan oleh Bahr, sebagai semata-mata suatu kiasan) - hal 37.

 

·        Ini bukanlah api yang bersifat duniawi.

 

Pulpit Commentary: “Material fire is, of course, not to be thought of” (= Tentu saja yang dipikirkan bukanlah api yang bersifat materi) - hal 21.

 

·        Elia naik ke surga dalam kereta berapi itu atau dalam angin badai?

 

‘The New Bible Commentary: Revised’: “note that it is not stated that Elijah was taken up in the chariot of fire. The chariot of fire separated Elijah and Elisha, and Elijah went up by a whirlwind” (= perhatikan bahwa tidak disebutkan bahwa Elia diangkat dalam kereta dari api. Kereta dari api itu memisahkan Elia dan Elisa, dan Elia naik oleh angin puting beliung) - hal 349.

 

Saya tidak terlalu yakin dengan kata-kata ini, karena kalau demikian apa fungsinya kereta dan kuda berapi itu? Bisa saja Elia memang naik kereta berapi itu dan semuanya lalu diangkat oleh angin badai tersebut.

 

·        Elia ternyata tidak menderita apa-apa karena kuda dan kereta berapi itu.

 

Bandingkan dengan tulisan Ir. Herlianto, M. Th. tentang larangan kremasi, yang alasannya adalah: kita tidak tahu kerugian apa yang akan terjadi pada roh orang itu.

 

“dalam pembakaran demikian kita membuka kemungkinan ikut terbakarnya roh / jiwa disamping tubuh, sebab kita tidak tahu berapa lama roh / jiwa manusia masih mempunyai keterkaitan dengan tubuh jasmani setelah seseorang dinyatakan meninggal secara klinis, dan apa yang dirasakan roh / jiwa saat terbakar!” - hal 2, kolom 1.

 

“proses pembakaran jenazah akan berdampak kemungkinan ikut terbakarnya roh / jiwa yang mungkin masih punya keterikatan dengan tubuh jasmani itu. Kita jangan berspekulasi mengenai kemungkinan apa yang bisa terjadi dengan roh / jiwa pada saat kita membakar tubuh jasmaninya dengan sengaja” - hal 3, kolom 1.

 

“Ada kemungkinan bahwa roh / jiwa tidak langsung melepaskan keterkaitannya dengan tubuh setelah seseorang dinyatakan mati tetapi membutuhkan waktu beberapa hari, bila demikian pembakaran jenazah dapat berdampak serius terhadap roh / jiwa yang masih punya keterikatan dengan tubuh” - hal 4, kolom 2.

 

Saya berpendapat bahwa orang ini kacau dalam pengertiannya tentang penebusan Kristus. Karena kalau tidak, seharusnya ia tahu bahwa pada saat orang kristen mati, penebusan Kristus menyebabkan ia tidak mungkin menderita lagi. Pada saat masih hidup memang ada penderitaan, sebagai serangan setan, ujian Tuhan, hajaran / didikan Tuhan, dsb. Tetapi setelah mati, semua itu tidak ada lagi, sehingga tidak mungkin lagi ada penderitaan bagi orang percaya.

 

b)   Elia, sama seperti Henokh (Kej 5:24  Ibr 11:5), tidak mengalami kematian, tetapi diangkat dengan tubuh jasmaninya ke surga.

 

Perhatikan bahwa baik ay 1 maupun ay 11 menyatakan bahwa Elia naik ke surga, bukan ke tempat penantian.

 

Pulpit Commentary: “It is recorded that he went up into heaven. There is no word of an intermediate state” (= Di sini dicatat bahwa ia naik ke surga. Tidak ada suatu katapun tentang keadaan diantara kehidupan dan surga) - hal 29.

 

Naiknya Elia ke surga menurut saya merupakan bukti tentang tidak adanya tempat penantian. Kalau ada tempat penantian, apakah Elia sendirian masuk surga?

 

Lebih-lebih ini bertentangan dengan ajaran Saksi Yehuwa yang mengatakan bahwa semua orang-orang kudus jaman Perjanjian Lama (pokoknya sebelum Pentakosta dalam Kis 2) tidak ada yang masuk surga, tetapi hanya tinggal di bumi yang akan disempurnakan, yang mereka sebuat sebagai ‘Firdaus’.

 

c)   Dengan tubuh apa Elia ada di surga?

 

·        ada yang menganggap tubuhnya diubahkan (tubuh kebangkitan).

 

Keil & Delitzsch: “Elijah did not die, but was received into heaven by being ‘changed’ (1Cor. 15:51,52; 1Thess. 4:15 sqq.)” [= Elia tidak mati, tetapi diterima di surga dengan diubahkan (1Kor 15:51,52; 1Tes 4:15-dst.)] - hal 295.

 

Tetapi ini rasanya tidak mungkin, karena bagaimana ia bisa mempunyai tubuh kebangkitan sebelum Kristus memilikinya? Kristus yang pertama mempunyai tubuh kebangkitan, dan orang-orang lain baru memilikinya pada saat Kristus datang keduakalinya.

 

1Kor 15:20-23 - “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milikNya pada waktu kedatanganNya.

 

·        kalau Elia masuk surga dengan tubuh lamanya, tanpa mengalami perubahan, maka itu rasanya bertentangan dengan 1Kor 15:50 - “Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa”.

 

Saya tidak tahu jawaban terhadap pertanyaan ini.

 

2)   Elisa melihat peristiwa itu (ay 12a).

 

Ini berarti bahwa tanda yang tadi dikatakan oleh Elia (ay 10), terjadi.

 

3)   Sikap Elisa (ay 12).

 

a)   Ia berteriak: ‘Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!’ (ay 12a).

 

·        ‘Bapaku, bapaku’.

 

Pada jaman itu orang muda sering menyebut nabi yang sudah tua dengan sebutan ‘bapa’ (2Raja 6:21  13:14), tetapi Elisa menyebut Elia di sini dengan sebutan ‘bapa’ mungkin lebih dari sekedar penghormatan, tetapi karena dengan ia bisa melihat terangkatnya Elia ke surga, itu berarti permintaannya terhadap 2 bagian roh Elia dikabulkan, dan ia menjadi anak sulung Elia (Pulpit Commentary).

 

·        ‘Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda’.

 

Pulpit Commentary mengatakan bahwa kata-kata ini maksudnya adalah sebagai berikut: Kereta dan kuda merupakan alat pertahanan Israel yang terbaik. Dengan kehilangan Elia, kami kehilangan pelindung yang besar, kekuatan dari Israel.

 

Bandingkan dengan 2Raja 13:14 dimana ungkapan yang persis sama diucapkan oleh Yoas, raja Israel, pada saat Elisa mau mati.

 

b)   Ia menyobek pakaiannya (ay 12b).

 

Ay 12b: penyobekan pakaian ini dilakukan untuk menunjukkan kesedihan (bdk. Kej 37:29,34  2Sam 13:19  Ayub 1:20  Ayub 2:12). Ini umum dalam jaman Perjanjian Lama yang selalu menunjukkan apa yang ada dalam hati melalui tindakan lahiriah.

 

Jangan tiru ini pada jaman ini, apalagi pada masa krismon.

 

 

III) Setelah kenaikan Elia ke surga.

 

1)   Elisa meniru apa yang Elia lakukan pada ay 8 (ay 13-14).

 

Mungkin ini ia lakukan untuk mencoba apakah ia betul-betul mendapatkan warisan 2 bagian roh Elia. Dan ternyata ia berhasil melakukan mujijat itu!

 

2)   Rombongan nabi menyadari bahwa Elisa telah menjadi pengganti / pewaris Elia, dan mereka sujud kepadanya (ay 15).

 

Dalam jaman Perjanjian Baru, setelah Yesus mengucapkan Mat 4:10, maka kita dilarang menyembah manusia, siapapun dia adanya.

 

3)   Rombongan nabi itu ingin mencari Elia atau mayatnya (ay 16-18).

 

a)   Orang sukar menerima kebijaksanaan Tuhan dalam memanggil pulang orang yang hebat.

 

Pulpit Commentary: “So the human heart is ever reluctant to submit to God’s purposes. Because we cannot see the meaning of some good man’s removal, we think it was ill-timed. Yet God’s work does not depend upon the human instruments whom he uses” [= Demikianlah hati manusia selalu segan untuk tunduk pada tujuan / rencana Allah. Karena kita tidak bisa melihat arti / maksud dari penyingkiran (kematian) dari orang yang baik, maka kita berpikir bahwa saatnya tidak tepat. Tetapi pekerjaan Allah tidak tergantung pada alat-alat manusia yang Ia gunakan] - hal 30.

 

b)   Elisa melarang, tetapi mereka mendesak, sehingga ia akhirnya membiarkan mereka melakukan hal itu, yang tentu saja berakhir dengan kegagalan (ay 16b-18).

 

·        Ay 16: mungkin mereka mempunyai pikiran seperti pikiran Obaja dalam 1Raja 18:12.

 

·        Ay 17: ‘sampai memalukan’.

 

KJV/RSV: ‘till he was ashamed’ (= sampai ia merasa malu).

 

NASB: ‘until he was ashamed’ (= sampai ia merasa malu).

 

NIV: ‘until he was too ashamed to refuse’ (= sampai ia merasa terlalu malu untuk menolak).

 

Mungkin maksudnya Elisa tidak mau mereka merasa bahwa ia mengabaikan tuannya (Elia), atau bahwa secara diam-diam ia senang kehilangan tuannya karena dengan demikian ia bisa menggantikan tuannya. Karena itu akhirnya Elisa mengijinkan mereka pergi.

 

·        Tindakan mencari Elia ini betul-betul bodoh, karena:

 

*        mereka sebelumnya sudah diberitahu bahwa Elia akan diangkat ke surga (ay 3,5). Tetapi mungkin mereka menganggap nubuat itu sebagai tidak hurufiah, dan hanya menunjukkan bahwa Elia akan mati. Jadi mereka akan mencari mayatnya.

 

*        Elisa pasti telah memberitahu / menceritakan peristiwa kenaikan Elia itu tetapi mereka tetap tidak percaya.

 

·        Tentu saja akhirnya tindakan mereka berakhir dengan kesia-siaan (ay 17b-18).

 

Perlu dicamkan bahwa lambat atau cepat akan terbukti bahwa segala usaha kita yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan, akan berakhir dengan kesia-siaan (baca kitab Pengkhotbah!). Karena itu sesuaikan semua usaha saudara, baik usaha jasmani maupun rohani, dengan Firman / kehendak Tuhan!

 

c)   Ay 16-18 ini fungsinya untuk menunjukkan bahwa Elia bukannya mengalami kematian / penguburan yang rahasia, tetapi betul-betul diangkat ke surga dengan tubuh jasmaninya tanpa melewati kematian.

 

Betul-betul aneh bahwa dengan adanya text seperti ini, masih ada orang yang menganggap bahwa Elia mengalami kematian.

 

‘The New Bible Commentary: Revised’: “We are not specifically told that Elijah did not die, and his appearance with Moses on the Mount of Transfiguration certainly carries no such implication, since Moses according to Scripture had died and his body had been taken by the Lord (Dt. 34:6) or his angel (Jude 9)” [= Kita tidak diberitahu secara tegas bahwa Elia tidak mati, dan pemunculannya dengan Musa di gunung pemuliaan / perubahan rupa jelas tidak memberikan kesan seperti itu, karena menurut Kitab Suci Musa mati dan tubuhnya diambil / dibawa oleh Tuhan (Ul 34:6) atau oleh malaikatNya (Yudas 9)] - hal 349.

 

Tanggapan saya:

 

·        Tubuh Musa bukannya diambil / dibawa oleh Tuhan, tetapi dikuburkan oleh Tuhan (Ul 34:6). Juga Yudas 9 tidak menunjukkan bahwa malaikat mengambil tubuh Musa. Kebanyakan orang berpendapat bahwa arti Yudas 9 adalah: Tuhan menguburkan mayat Musa sehingga tidak ada orang yang tahu kuburannya, karena Tuhan tidak mau orang Israel menyembah Musa / menjadikan mayat Musa sebagai relics. Dan mungkin sekali karena itu Tuhan lalu menugaskan Mikhael untuk menguburkan dan menjaga mayat Musa itu. Sebaliknya, setan menghendaki mayat Musa itu, supaya bisa ia gunakan untuk menjatuhkan bangsa Israel dalam penyembahan terhadap mayat Musa tersebut.

 

·        Ini merupakan tafsiran yang menggelikan dan bodoh. Saya berpendapat bahwa jauh lebih kuat alasannya kalau dari 2Raja 2 ini kita menyimpulkan bahwa Elia tidak mengalami kematian, dari pada dari Mat 17:3-4 (munculnya Musa dan Elia di puncak gunung) kita menarik kesimpulan bahwa Musa dan Elia sama-sama mengalami kematian. Apakah dengan sama-sama muncul di atas gunung, menunjukkan bahwa mereka sama-sama mengalami kematian? Bagaimana dengan Yesusnya; apakah juga saat itu sudah mengalami kematian?

 

Pulpit Commentary: “We must hold, however, that Elijah was really taken in the body to heaven. Bahr’s supposition that he was simply whirled away, and disappeared from earth, perhaps undergoing some secret death and burial as Moses did (for this seems to be his idea), is too much akin to the error of the disciples who sent out fifty strong men to seek for him among the hills (vers. 16,17). It was not Elisha’s view, and has no support in the narrative” [= Bagaimanapun kita harus mempertahankan bahwa Elia betul-betul diangkat dalam tubuhnya ke surga. Anggapan Bahr bahwa ia hanya diangkat oleh angin puting beliung ke atas, dan menghilang dari bumi, dan mungkin mengalami kematian dan penguburan yang rahasia seperti yang dialami oleh Musa (karena kelihatannya inilah gagasannya), terlalu mirip dengan kesalahan dari para murid / nabi yang mengirim 50 orang yang kuat untuk mencarinya di antara bukit-bukit (ay 16,17). Itu bukanlah pandangan Elisa, dan tidak mempunyai dukungan dalam cerita ini] - hal 37-38.

 

 

IV) Apa makna kenaikan Elia ke surga?

 

Pulpit Commentary: “Besides being a signal honour put upon a great servant of God, and a striking Old Testament anticipation of the ascension of Christ, it gave to the Israelites, in midtime of their history, a powerful confirmation of the fact of immortality. ‘The impression made by the history of Enoch, that ‘God took him,’ is marked by the repetition of the word as to the ascension of Elijah’ (Pusey). It is noteworthy, also, that the immortality typified by these cases is an immortality in the body” [= Disamping merupakan tanda kehormatan yang diberikan pada seorang pelayan yang agung dari Allah, dan suatu antisipasi yang menyolok dari Perjanjian Lama tentang kenaikan Kristus ke surga, itu memberikan kepada Israel, di tengah-tengah sejarah mereka, suatu penegasan yang sangat kuat tentang fakta dari keabadian / ketidak-bisa-binasaan. ‘Kesan yang dibuat oleh sejarah Henokh, bahwa ‘Allah mengambilnya’, ditandai oleh pengulangan kata berkenaan dengan kenaikan Elia ke surga’ (Pusey). Juga patut diperhatikan bahwa keabadian yang digambarkan oleh kasus-kasus ini adalah keabadian dalam tubuh] - hal 38.

 

Jadi menurut Pulpit Commentary ini ada 3 makna dari kenaikan Elia ke surga:

 

1)   Ini merupakan suatu penghormatan bagi hamba Tuhan yang hebat ini.

 

Saya meragukan hal ini, karena ada banyak hamba Tuhan lain yang juga hebat, seperti Abraham, Musa dsb, tetapi tidak mengalami kenaikan ke surga dengan tubuh jasmaninya.

 

2)   Ini merupakan suatu bayangan (TYPE) dari kenaikan Kristus ke surga.

 

3)   Ini menunjukkan keabadian manusia. Setelah kehidupan yang sekarang ini, kita hanya pindah tempat, karena ada kehidupan yang akan datang.

 

Karena itu, kalau saudara tidak ingin menyesal, hiduplah bukan untuk hidup yang sekarang ini yang hanya bersifat sementara, tetapi hiduplah untuk hidup yang akan datang yang bersifat kekal.

 

 

-AMIN-

 


 

email us at : gkri_exodus@lycos.com