Eksposisi Injil Yohanes

oleh: Pdt. Budi Asali MDiv.


Yohanes 16:16-33

 

 

Ay 16: “Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku.”.

 

1)   ‘Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi’.

 

Ini jelas menunjuk kepada kematianNya, yang akan terjadi dalam beberapa jam lagi dari saat itu.

 

Calvin mengatakan bahwa Kristus berulangkali memberitahu bahwa Ia akan meninggalkan para murid. TujuanNya adalah:

 

·        untuk menguatkan para murid pada saat hal itu terjadi.

 

·        supaya para murid menginginkan Roh Kudus. Mereka tidak akan menginginkan Roh Kudus itu selama Kristus masih bersama mereka secara jasmani.

 

2)   ‘dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku’.

 

Leon Morris (NICNT) mengatakan bahwa problem utama dengan bagian ini adalah arti dari kata-kata ‘kamu akan melihat Aku’. Ada yang mengatakan bahwa ini menunjuk pada kedatangan Yesus dalam Roh Kudus; ada pula yang mengatakan bahwa ini menunjuk pada kebangkitan Yesus dari antara orang mati, dan ada juga yang berpendapat bahwa ini menunjuk kepada kenaikan Yesus ke surga dan kedatanganNya yang keduakalinya.

 

Calvin menganggap bahwa ay 16 ini menunjuk pada kedatangan Yesus dalam Roh Kudus. Saya condong pada pandangan Calvin, karena kontext Yoh 14-16 memang tentang Roh Kudus.

 

Calvin menambahkan bahwa kata-kata ‘tinggal sesaat’ yang kedua menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah sangat penting.

 

Calvin: “He shows for what reason he foretold that his departure was at hand, and, at the same time, added a promise about his speedy return. It was, that they might understand better that the aid of the Spirit was highly necessary” (= Ia menunjukkan mengapa Ia memberi tahu lebih dulu bahwa Ia akan segera meninggalkan mereka, dan pada saat yang sama Ia menambahkan suatu janji bahwa Ia akan segera kembali, supaya mereka bisa mengerti dengan lebih baik bahwa pertolongan dari Roh adalah sangat dibutuhkan) - hal 149.

 

Tasker (Tyndale, hal 183) mengatakan bahwa ada yang mengatakan bahwa 2 kata ‘melihat’ dalam ay 16 ini menggunakan kata Yunani yang berbeda. Kata Yunani yang pertama menunjuk pada ‘penglihatan fisik’ sedangkan kata Yunani yang kedua menunjuk pada ‘penglihatan rohani’. Kalau ini benar, ini mendukung pandangan Calvin. Tetapi Tasker sendiri meragukan penafsiran ini.

 

Hendriksen (hal 330) setuju dengan Calvin, tetapi lalu menambahkan bahwa kebangkitan Kristus dan kedatangan Roh Kudus tidak bisa dipisahkan (hal 331).

 

3)   Hubungan ay 16 dengan ay 20 - “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.

 

‘Tidak melihat Aku’ dan ‘melihat Aku’ dalam ay 16 ini yang menyebabkan ‘menangis dan meratap / berdukacita’ dan ‘sukacita’ dalam ay 20. Memang bagi orang Kristen / anak Tuhan, ‘melihat Yesus’ menyebabkan sukacita dan ‘tidak melihat Yesus’ menyebabkan kesedihan. Bandingkan dengan Mat 5:8 yang mengatakan bahwa orang yang murni hatinya akan melihat Allah. Jadi, makin kita menyucikan diri, makin kita melihat Yesus, dan makin kita bersukacita.

 

4)   Dalam KJV ada tambahan.

 

KJV: ‘A little while, and ye shall not see me: and again, a little while, and ye shall see me, because I go to the Father (= Sesaat lagi, dan engkau tidak akan melihat Aku: dan lalu, sesaat lagi, dan engkau akan melihat Aku, karena Aku pergi kepada Bapa).

 

Pada umumnya para penafsir menganggap bahwa tambahan ini tidak orisinil.

 

Ay 17-18: “Mendengar itu beberapa dari muridNya berkata seorang kepada yang lain: ‘Apakah artinya Ia berkata kepada kita: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku? Dan: Aku pergi kepada Bapa?’ Maka kata mereka: ‘Apakah artinya Ia berkata: Tinggal sesaat saja? Kita tidak tahu apa maksudNya.’”.

 

1)   Ketidak-mengertian para murid.

 

Leon Morris (NICNT): “Godet sagely remarks: ‘Where for us all is clear, for them all was mysterious. If Jesus wishes to found the Messianic kingdom, who go away? If He does not wish it, why return?’” (= Godet berkata dengan bijaksana: ‘Dimana untuk kita semua jelas, untuk mereka semua misterius. Jika Yesus ingin mendirikan kerajaan Mesias, mengapa Ia pergi? Jika Ia tidak menginginkannya, mengapa Ia kembali?) - hal 703-704.

 

2)   Ay 17 menunjukkan bahwa ada 2 hal yang tidak dimengerti oleh para murid. Hal yang pertama diambil dari kata-kata Yesus dalam ay 16. Hal yang kedua, yaitu kata-kata ‘Aku pergi kepada Bapa’ (ay 17 akhir), diambil oleh para murid dari kata-kata Yesus dalam Yoh 16:10.

 

3)   Mereka hanya bertanya satu sama lain, tetapi malu bertanya kepada Yesus, mungkin karena tidak mengerti sama sekali. Bandingkan dengan kalau Pemahaman Alkitab dan tidak mengerti apa-apa lalu malu untuk bertanya.

 

Ay 19-21: “Yesus tahu, bahwa mereka hendak menanyakan sesuatu kepadaNya, lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Adakah kamu membicarakan seorang dengan yang lain apa yang Kukatakan tadi, yaitu: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku? Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia”.

 

1)   ‘Yesus tahu’.

 

Ini menunjukkan kemahatahuan Yesus.

 

2)   Yesus menjawab kebutuhan mereka, bukan pertanyaan mereka.

 

3)   ‘Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira’.

 

·        Hendriksen mengatakan bahwa kata ‘dunia’ di sini khususnya menunjuk kepada para tokoh Yahudi yang memusuhi Yesus.

 

·        Orang brengsek / sesat pasti senang kalau nabi asli mati!

 

·        Ini sesuatu yang memang sering terjadi, dimana dunia bergembira tetapi anak-anak Tuhan harus berduka cita! Contoh: Lazarus dan orang kaya (Luk 16:19-21), Maz 73, Yer 12:1-2.

 

4)   ‘kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita’.

 

a)   Sama seperti dengan ay 16 di atas, maka ada yang menganggap bahwa ini menunjuk kepada kebangkitan Yesus dari antara orang mati, karena memang setelah Yesus bangkit, maka para murid bersukacita. Tetapi ada juga yang menganggap bahwa ini menunjuk pada saat pencurahan Roh Kudus.

 

b)   Barclay: “There may be a time when it looks as if to be a Christian brings nothing but sorrow, and to be of the world brings nothing but joy. But the day will come when the roles are reversed. The world’s careless joy will turn to sorrow; and the Christian’s apparent sorrow will turn to joy. The Christian must always remember, when his faith costs him dear, that this is not the end of things and that sorrow will give way to joy” (= Ada saat dimana seakan-akan menjadi seorang Kristen tidak membawa apapun selain kesedihan, dan menjadi orang dunia tidak membawa apapun selain sukacita. Tetapi akan datang saatnya dimana semua itu akan dibalik. Sukacita dunia yang ceroboh akan berubah menjadi kesedihan; dan kesedihan Kristen akan berubah menjadi sukacita. Pada waktu iman harus dibayar mahal, orang Kristen harus selalu ingat, bahwa ini bukanlah akhirnya, dan bahwa kesedihan akan memberi jalan kepada sukacita) - hal 198.

 

c)   Hendriksen mengatakan bahwa kata-kata ‘tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita’ tidak sekedar berarti bahwa kesedihan mereka akan disusul oleh kegembiraan, tetapi bahwa peristiwa yang membuat mereka sedih itu akan menjadi alasan kegembiraan mereka.

 

William Hendriksen: “In the light of Easter and of Pentecost, the source of mourning, namely the cross, becomes the source of exultation, so that Paul can exclaim, ‘Far be it from me to glory, save in the cross of our Lord Jesus Christ’” (= Dalam terang dari Paskah dan Pentakosta, sumber perkabungan, yaitu salib, menjadi sumber kegembiraan yang meluap-luap, sehingga Paulus bisa berseru: ‘Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus’) - hal 333.

 

Catatan:  kutipan ayat dari Gal 6:14.

 

Hendriksen menambahkan bahwa illustrasi dalam ay 21 cocok dengan ini. Kelahiran dari anak itu menyakitkan, tetapi setelah itu peristiwa itu sendiri memberikan sukacita.

 

Barnes’ Notes: “You will not only rejoice at my resurrection, but even my death, now the object of so much grief to you, shall be to you a source of unspeakable joy. It will procure for you peace and pardon in this life, and eternal joy in the world to come. ... And thus in our afflictions, if we could see the whole case, we should rejoice. As it is, when they appear dark and mysterious, we may trust in the promise of God that it will be for our welfare. We may also remark here, that the apparent triumphs of the wicked, though they may produce grief at present in the minds of Christians, will be yet overruled for their good. Their joy will be turned into mourning, and the mourning of the Christians into joy; and the wicked man may be doing the very thing - as they were in the crucifixion of the Lord Jesus - that shall yet be made the means of promoting the glory of God and the good of his people, Ps. 76:10” (= Engkau tidak hanya akan bersukacita pada kebangkitanKu, tetapi bahkan kematianKu, yang sekarang merupakan obyek kesedihan bagimu, akan menjadi sumber dari sukacita yang tak terkatakan bagimu. Itu akan menyebabkan / memastikan untukmu damai dan pengampunan dalam hidup ini, dan sukacita yang kekal dalam dunia yang akan datang. ... Dan karena itu dalam penderitaan / kesusahan kita, jika kita bisa melihat seluruh kasus, kita harus bersukacita. Dengan demikian, pada saat kelihatan gelap dan misterius, kita bisa percaya kepada janji Allah bahwa itu adalah untuk kesejahteraan kita. Kita juga bisa mengatakan di sini, bahwa apa yang terlihat sebagai kemenangan orang jahat, sekalipun itu menghasilkan kesedihan dalam pikiran orang Kristen pada saat ini, akan dibalikkan untuk kebaikan mereka. Sukacita mereka akan berubah menjadi perkabungan, dan perkabungan orang-orang Kristen akan berubah menjadi sukacita; dan orang jahat bisa melakukan sesuatu - seperti dalam kasus penyaliban Tuhan Yesus - yang akan dibuat menjadi jalan / cara untuk memajukan kemuliaan Allah dan kebaikan umatNya, Maz 76:11) - hal 343.

 

Maz 76:11 - “Sesungguhnya panas hati manusia akan menjadi syukur bagiMu, dan sisa panas hati itu akan Kauperikatpinggangkan”.

 

KJV: ‘Surely the wrath of man shall praise thee: the remainder of wrath shalt thou restrain’ (= Sesungguhnya murka manusia akan memuji Engkau: sisa kemurkaan akan Engkau kekang).

 

Ay 22: Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu”.

 

1)   Hendriksen: ini menunjuk pada jaman Roh Kudus.

 

Yesus mengatakan bahwa Ia akan melihat para murid lagi. Kata-kata ini merupakan pasangan dari kata-kata dalam ay 19 - ‘Kamu akan melihat Aku’. Dan Hendriksen (hal 333) mengatakan bahwa ‘saling melihat lagi satu sama lain’ ini tidak menunjuk pada kebangkitan Yesus, tetapi pada jaman Roh Kudus. Ini terlihat dari:

 

·        kata-kata hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu’ pada akhir ay 22.

 

·        awal ay 23 - ‘Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepadaKu’.

 

Kedua hal ini, khususnya yang kedua, jauh lebih cocok untuk menunjuk pada jaman Roh Kudus dari pada jaman kebangkitan / setelah kebangkitan.

 

2)   ‘hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu’.

 

Leon Morris (NICNT): “The thought is not, of course, that believers never know sorrow. It is rather that after they have come to understand the significance of the cross they are possessed by a deep-seated joy. This joy is independent of the world. The world did not give it and the world cannot take it away” (= Pemikirannya tentu bukannya bahwa orang-orang percaya tidak pernah mengenal kesedihan. Tetapi bahwa setelah mereka mengerti arti dari salib mereka mempunyai sukacita yang kedudukannya ada di dalam. Sukacita ini tak tergantung pada dunia. Dunia tidak memberikan sukacita ini dan dunia tidak bisa mengambilnya) - hal 707.

 

Ay 23: Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepadaKu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikanNya kepadamu dalam namaKu”.

 

1)   Kata ‘ask’ pada ay 23a (diterjemahkan ‘menanyakan’ dalam Kitab Suci Indonesia) mempunyai 2 kemungkinan arti:

 

·        bertanya / menanyakan suatu pertanyaan. Leon Morris memilih arti ini, dan mengatakan bahwa ini mungkin menunjuk pada jaman Roh Kudus dimana para murid tidak akan lagi bertanya-tanya seperti dulu, karena Roh Kudus akan mengajar mereka (bdk. 14:26  16:13).

 

·        meminta. Orang-orang memilih arti kedua ini karena melihat ay 23bnya yang membicarakan permintaan kepada Bapa. Ini lalu diartikan bahwa Yesus mengatakan bahwa dalam berdoa mereka tidak boleh berdoa kepadaNya tetapi kepada Bapa. Tetapi penafsiran ini bertentangan dengan Yoh 14:14 yang jelas mengijinkan kita untuk berdoa kepada Yesus.

 

Calvin mengambil pandangan pertama, dan ia berkata bahwa ini menunjukkan perbedaan dengan keadaan dimana mereka belum mempunyai Roh Kudus. Pada saat itu mereka begitu lamban dalam mengerti ajaran-ajaran Kristus (bdk. 13:36  14:5,8,22  16:18). Tetapi nanti pada saat mereka sudah menerima Roh Kudus maka Roh Kudus akan memberikan pencerahan yang membuat mereka mengerti.

 

Calvin: “True, the apostles did not cease to ask at the mouth of Christ, even when they had been elevated to the highest degree of wisdom, but this is only a comparison between the two conditions” (= Memang benar bahwa rasul-rasul tidak berhenti bertanya kepada Kristus, bahkan pada saat mereka telah diangkat pada tingkat hikmat yang tertinggi, tetapi ini hanya merupakan perbandingan di antara kedua keadaan) - hal 152.

 

Calvin membandingkan dengan Yer 31:34a - “Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN”.

 

Bdk. 1Yoh 2:27 - “Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari padaNya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapanNya mengajar kamu tentang segala sesuatu - dan pengajaranNya itu benar, tidak dusta - dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia”.

 

Calvin: “The prophet assuredly does not take away or set aside instruction, which must be in its most vigorous state in the kingdom of Christ; but he affirms that, when all shall be taught by God, no room will be any longer left for this gross ignorance” (= Jelas sang nabi tidak membuang atau menyingkirkan pengajaran, yang harus ada dalam keadaannya yang paling giat / bersemangat dalam kerajaan Kristus; tetapi ia menegaskan bahwa pada saat semua akan diajar oleh Allah, tidak ada tempat lagi yang tersisa untuk ketidaktahuan / kebodohan yang besar / menyolok ini) - hal 152.

 

Jadi jelas bahwa ay 23 ini, dan juga Yer 31:34 dan 1Yoh 2:27, tidak boleh diartikan seakan-akan orang Kristen akan mengerti segala sesuatu dan tidak lagi perlu belajar!

 

2)   ‘Sesungguhnya’.

 

RSV/NASB: ‘Truly, truly’ (= Sesungguhnya).

 

KJV: ‘Verily, verily’ (= Dengan sesungguhnya).

 

Lit: ‘Amin, Amin’.

 

Leon Morris (NICNT): “Moreover, ‘verily, verily’ commonly introduces a new thought. ... The asking in prayer at the end of the verse thus appears to be something different from the asking at the beginning” (= Lebih lagi, kata ‘sesungguhnya’ biasanya memperkenalkan suatu pemikiran yang baru. ... Maka permintaan dalam doa pada akhir dari ayat ini kelihatannya merupakan sesuatu yang berbeda dari pertanyaan pada permulaan ayat ini) - hal 707.

 

Jadi, sekalipun ay 23b berbicara mengenai doa, tetapi ay 23a tidak berbicara mengenai doa, tetapi mengenai pertanyaan kepada Kristus.

 

3)   ‘segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikanNya kepadamu dalam namaKu’.

 

Ada 2 macam terjemahan dalam penempatan kata-kata ‘dalam namaKu’ ini.

 

a)   Ada yang menghubungkannya dengan permintaan para murid (KJV/NIV).

 

KJV: ‘Whatsoever ye shall ask the Father in my name, he will give it you’ (= Apapun yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, Ia akan memberikannya kepadamu).

 

NIV: ‘my Father will give you whatever you ask in my name (= BapaKu akan memberimu apapun yang engkau minta dalam namaKu).

 

b)   Ada yang menghubungkannya dengan pemberian dari Bapa (RSV/NASB/ Kitab Suci Indonesia).

 

RSV: ‘if you ask anything of the Father, he will give it to you in my name (= jika kamu meminta apapun kepada Bapa, Ia akan memberikannya kepadamu dalam namaKu).

 

NASB: ‘if you shall ask the Father for anything, He will give it to you in My name (= jika engkau meminta kepada Bapa apapun, Ia akan memberikannya kepadamu dalam namaKu).

 

Leon Morris memilih pandangan kedua; Hendriksen juga demikian.

 

William Hendriksen: “We now learn that not only the asking is in Christ’s name, but so is also the giving. The Father will give in harmony with his entire redemptive revelation which centers in the Son, and on the basis of his love for the Son and of the latter’s sacrifice” (= Sekarang kita belajar bahwa bukan hanya permintaan dilakukan dalam nama Kristus, tetapi juga pemberiannya / pengabulannya. Bapa akan memberi sesuai dengan wahyu penebusan yang berpusatkan pada Anak, dan berdasarkan pada kasihNya untuk Anak dan pengorbanan Anak) - hal 335.

 

Ay 24: Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam namaKu. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu”.

 

1)   Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam namaKu’.

 

Hendriksen (hal 335) mengatakan bahwa sampai saat ini kalau para murid berdoa, mereka berdoa langsung kepada Allah, tanpa menyebut nama Yesus.

 

Hendriksen menambahkan bahwa ada orang yang menganggap bahwa kata-kata Yesus ini merupakan teguran terhadap kesalahan para murid, tetapi ada juga yang menganggap bahwa mereka tidak salah karena penebusan belum terjadi. Hendriksen mengatakan bahwa textnya tidak berpihak ke pihak manapun dari 2 penafsiran ini. Penekanan utamanya hanyalah bahwa mulai saat ini ada perubahan dalam cara mereka berdoa dimana mereka harus berdoa dalam nama Yesus.

 

Calvin mengatakan (hal 153) bahwa sekalipun para murid sudah diajar dengan cukup jelas bahwa Yesus adalah Pengantara pada Bapa, tetapi pengetahuan mereka begitu kabur, sehingga mereka belum bisa berdoa dalam nama Yesus dengan cara yang benar. Atau kemungkinan lain adalah bahwa sekalipun mereka berdoa dengan menggunakan Pengantara, sesuai dengan ajaran Hukum Taurat, tetapi mereka tidak mengerti dengan jelas dan benar apa artinya hal itu.

 

2)   Doa dalam nama Yesus.

 

Calvin: “It was, therefore, one of the principle of faith, that prayers offered to God, when there was no Mediator, were rash and useless” (= Karena itu, merupakan suatu prinsip iman bahwa doa-doa yang dinaikkan kepada Allah, tanpa Pengantara, adalah gegabah dan tak berguna) - hal 153.

 

Calvin: “we have the heart of the Heavenly Father, as soon as we have placed before Him ‘the name’ of the Son” (= kita mempunyai hati dari Bapa surgawi, begitu kita menempatkan di hadapanNya ‘nama’ dari Anak) - hal 158.

 

Calvin: “We are said ‘to pray in the name’ of Christ when we take him as our Advocate, to reconcile us, and make us find favour with his Father, though we do not expressly mention his name with our lips” (= Kita dikatakan ‘berdoa dalam nama’ dari Kristus pada waktu kita menggunakanNya sebagai Advokat kita, untuk memperdamaikan kita, dan membuat kita diperkenan oleh Bapa, sekalipun kita tidak menyebutkan namaNya dengan bibir kita) - hal 154.

 

C. H. Spurgeon: “The man who, despite the teaching of Scripture, tries to pray without a Saviour insults the Deity; and he who imagines that his own natural desires, coming up before God, unsprinkled with the precious blood, will be an acceptable sacrifice before God, makes a mistake: he has not brought an offering that God can accept, any more than if he had struck off a dog’s neck, or offered an unclean sacrifice” (= Orang yang, bertentangan dengan ajaran Kitab Suci, berusaha untuk berdoa tanpa seorang Juruselamat, menghina Allah; dan ia yang membayangkan / mengkhayalkan bahwa keinginan-keinginan alamiahnya sendiri naik ke hadapan Allah, tanpa diperciki dengan darah yang berharga, akan menjadi suatu korban yang diterima di hadapan Allah, melakukan suatu kesalahan: ia tidak membawa persembahan yang bisa diterima Allah, sama seperti kalau ia  memotong leher seekor anjing, atau mempersembahkan korban yang najis) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 12, hal 204.

 

3)   ‘Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu”.

 

a)   ‘Mintalah’.

 

Kata ‘mintalah’ (Yunani: AITEITE) merupakan suatu present imperative (kata perintah bentuk present), dan ini berarti bahwa itu merupakan suatu perintah yang harus dilakukan terus menerus.

 

b)   ‘supaya penuhlah sukacitamu’.

 

Leon Morris (NICNT): “the purpose of all this is their joy. ... Notice that this is connected with prayer. They are to pray in order that their joy may be made complete. It cannot be made complete in any other way” (= tujuan dari semua ini adalah sukacita mereka. ... Perhatikanlah bahwa ini berhubungan dengan doa. Mereka harus berdoa supaya sukacita mereka menjadi penuh. Itu tidak bisa terjadi dengan cara lain) - hal 708.

 

Penerapan:

 

Karena itu banyaklah berdoa, dan bahkan, berdoalah selalu!

 

Ay 25: “Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu”.

 

1)   ‘Semuanya ini’.

 

Hendriksen mengatakan (hal 336) bahwa kata-kata ‘semuanya ini’ menunjuk pada semua yang diajarkanNya pada malam itu, dan bahkan mungkin pada semua yang telah diajarkanNya sampai pada saat itu.

 

2)   ‘Kukatakan kepadamu dengan kiasan.

 

KJV: ‘in proverbs’ (= dalam pepatah).

 

RSV: ‘in figures’ (= dalam gambaran).

 

NIV: ‘figuratively’ (= dengan kiasan / lambang).

 

NASB: ‘in figurative language’ (= dalam bahasa kiasan / lambang).

 

Leon Morris (hal 709, footnote) mengatakan bahwa kata Yunani yang dipakai adalah PAROIMIA, yang berasal dari 2 kata Yunani yaitu PARA (di samping) + OIMOS (jalan). Jadi artinya adalah ‘a wayside saying, a byword, maxim, proverb’ (= peribahasa / pepatah).

 

Memang banyak ajaran Yesus yang membingungkan. Bagi kita yang sudah mengerti dan terbiasa dengan penggunaan bahasa seperti itu, ini tidak merupakan problem. Tetapi bagi orang yang pertama kali mendengarNya, tentu membingungkan. Misalnya kata-kata / ajaran Yesus tentang:

 

·        membangun kembali Bait Allah dalam 3 hari (Yoh 2:19).

 

·        kelahiran kembali (Yoh 3:1-8).

 

·        air hidup yang memuaskan secara terus menerus (Yoh 4:13-14).

 

·        dagingNya yang harus dimakan dan darahNya yang harus diminum setiap orang (Yoh 6:53-56).

 

·        diriNya yang sudah ada sebelum Abraham (Yoh 8:58).

 

Barnes mengatakan bahwa sekalipun bagi kita pernyataan Tuhan Yesus tentang kematian dan kebangkitanNya cukup jelas, tetapi bagi para rasul yang dipenuhi dengan prasangka Yahudi yang menolak untuk mempercayai bahwa Mesias harus mati, itu merupakan hal yang sukar dan kabur.

 

Calvin mengatakan bahwa ayat ini tidak berarti bahwa Kristus betul-betul mengajar supaya mereka tidak mengerti. Tetapi kebutaan mereka yang menyebabkan semua ini.

 

3)   ‘Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu’.

 

a)   Mengapa tidak dari dulu Yesus mengajar dengan cara seperti ini?

 

Karena penebusan belum terjadi, dan karena Roh Kudus belum dicurahkan.

 

William Hendriksen: “Until the Man of Sorrows has actually suffered and died on the cross and until he is risen, this cross cannot be fully revealed. Until the Helper has arrived, the Father cannot be fully declared” (= Sampai Yesus betul-betul telah menderita dan mati pada kayu salib dan sampai Ia bangkit, salib ini tidak bisa dinyatakan sepenuhnya. Sampai sang Penolong telah tiba, Bapa tidak bisa dinyatakan sepenuhnya) - hal 337.

 

b)   Kapan saat yang dimaksud oleh Yesus itu?

 

Ada yang mengatakan setelah Pentakosta, dan ada yang mengatakan setelah kebangkitan (Luk 24:25-27,32  Kis 1:3). Saya lebih condong untuk memilih ‘setelah Pentakosta’, karena kontex dari Yoh 16 memang tentang Roh Kudus.

 

Hendriksen juga mengatakan bahwa janji Yesus ini digenapi dalam surat-surat dari rasul-rasul, yang sekalipun memang tetap mengandung hal-hal yang sukar (bdk. 2Pet 3:15-16), tetapi tetap lebih langsung dan lebih terbuka. Khususnya ajaran tentang rencana Allah dalam persoalan penebusan dilakukan secara lebih jelas dan terbuka (bdk. Ro 3:21-25  Ro 5  Ro 8  Ef 1:13-14  Fil 2:9-10  1Pet 1:3-12  1Yoh 3 dsb).

 

Penerapan:

 

·        Mungkin saudara pernah menginginkan untuk hidup pada jaman Yesus melayani di dunia ini, supaya saudara bisa menanyakan secara langsung hal-hal yang tidak saudara mengerti. Tetapi dari kata-kata ini, kelihatan bahwa kita yang hidup pada jaman Roh Kudus ini (setelah Pentakosta), memiliki keuntungan dalam persoalan pengertian. Tetapi lalu mengapa masih ada orang-orang yang sesat / salah? Ini pasti karena kesalahan mereka sendiri, yaitu:

 

*        mungkin mereka bukan anak Allah.

 

*        mungkin mereka tidak merindukan kebenaran.

 

*        mungkin mereka tidak berdoa supaya Tuhan memberikan kebenaran kepada mereka.

 

*        mungkin mereka tidak mencarinya dalam Kitab Suci dan mereka tidak mempedulikan otoritas Kitab Suci.

 

·        Ini menyebabkan kita harus berpikir dahulu sebelum menganjurkan orang yang belum percaya untuk membaca Injil Yohanes, seperti yang biasa dilakukan banyak orang kristen. Mungkin surat Roma atau Galatia lebih baik karena lebih terbuka / jelas, khususnya dalam persoalan penebusan dan keselamatan.

 

c)   Ini menyebabkan seakan-akan ada perbedaan antara ajaran Yesus dan ajaran rasul-rasul dalam Perjanjian Baru.

 

Calvin: “The Holy Spirit, certainly, did not teach the apostles anything else than what they had heard from the mouth of Christ himself, but, by enlightening their hearts, he drove away their darkness, so that they heard Christ speak, as it were, in a new and different manner, and thus they easily understood his meaning” (= Roh Kudus pasti tidak mengajar rasul-rasul itu apapun yang lain dari pada apa yang mereka dengar dari mulut Kristus sendiri, tetapi dengan menerangi hati mereka, Ia menyingkirkan kegelapan mereka, sehingga mereka seakan-akan mendengar Kristus berbicara dengan cara yang baru dan berbeda, dan dengan demikian mereka bisa mengerti maksudNya dengan mudah) - hal 156.

 

Karena itu bagian ini penting dalam menghadapi tuduhan orang Islam maupun Yahudi yang mengatakan bahwa ajaran Yesus bertentangan dengan ajaran Paulus dan rasul-rasul yang lain.

 

Ay 26: “Pada hari itu kamu akan berdoa dalam namaKu. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa”.

 

1)   ‘Pada hari itu kamu akan berdoa dalam namaKu’.

 

Kalau tadinya mereka tidak pernah berdoa dalam nama Yesus (ay 24), maka nanti pada ‘jaman Roh Kudus’ mereka akan berdoa dalam nama Yesus.

 

2)   ‘Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa’.

 

a)   Penekanan dari bagian ini hanyalah bahwa kalau dulu para murid itu tidak bisa berdoa sendiri, sehingga Yesus harus mendoakan mereka, maka nanti pada ‘jaman Roh Kudus’ mereka bisa berdoa sendiri. Ini khususnya harus diperhatikan oleh orang-orang Kristen yang selalu meminta pendeta mendoakan mereka, karena merasa bahwa doa mereka sendiri ‘tidak manjur’.

 

b)   Kalimat terakhir dari ay 26 ini tidak berarti bahwa Yesus sama sekali tidak pernah lagi mendoakan mereka, karena kalau ditafsirkan seperti ini akan bertentangan dengan 1Yoh 2:1  Ro 8:34  Ibr 7:25 yang menunjukkan bahwa Yesus adalah Jurusyafaat kita.

 

1Yoh 2:1 - “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil”.

 

Ro 8:34 - “Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?”.

 

NASB: ‘who also intercedes for us’ (= yang juga menjadi penengah / jurusyafaat kita).

 

Ibr 7:25 - “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.

 

NIV: ‘to intercede for them’ (= untuk menjadi penengah bagi mereka).

 

Bahkan Hendriksen mengatakan (hal 338) bahwa pada ‘jaman Roh Kudus’ itu doa para murid tetap membutuhkan sokongan dari doa syafaat Yesus. Dasar Kitab Suci yang ia pakai adalah Yoh 14:6  Ibr 7:24-25  Ibr 13:15.

 

Ibr 7:24-25 - “Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamatNya tidak dapat beralih kepada orang lain. Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka”.

 

Ibr 13:15 - “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namaNya”.

 

Catatan: Kata-kata ‘oleh Dia’ seharusnya adalah ‘through Him’ (= melalui Dia).

 

Ay 27: sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah”.

 

1)   Kata Yunani untuk ‘mengasihi’.

 

William Hendriksen: “The verb for ‘love’ here in verse 27 is filei. However, either verb (filew or agapaw) is used in the Fourth Gospel to express the love of the Father for the disciples, and the love of the disciples for Jesus. In such contexts the verbs are probably almost identical in meaning” [= Kata kerja untuk ‘mengasihi’ di sini dalam ayat 27 adalah filei (PHILEI). Tetapi baik kata kerja filew (PHILEO) atau agapaw (AGAPAO) digunakan dalam Injil keempat ini untuk menyatakan kasih dari Bapa untuk para murid, dan kasih dari para murid untuk Yesus. Dalam kontex-kontex seperti itu kata-kata kerja itu mungkin hampir identik artinya] - hal 338.

 

2)   sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku’.

 

Apakah bagian ini menunjukkan bahwa Bapa mengasihi para murid karena mereka mengasihi Yesus? (Catatan: pembahasan semacam ini sudah ada dalam pembahasan Yoh 14:21).

 

Calvin: “if it is only when we have loved Christ that God begins to love us, it follows that the commencement of salvation is from ourselves, because we have anticipated the grace of God” (= jika hanya setelah kita mengasihi Kristus maka barulah Allah mulai mengasihi kita, maka permulaan keselamatan adalah dari diri kita sendiri, karena kita telah mengantisipasi / mendahului kasih karunia Allah) - hal 158.

 

Bandingkan dengan:

 

·        1Yoh 4:10 - “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita”.

 

·        1Yoh 4:19 - “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita”.

 

Calvin: “God loves men in a secret way, before they are called, if they are among the elect; for he loves his own before they are created; but, as they are not yet reconciled, they are justly accounted ‘enemies’ of God, as Paul speaks, ‘When we were ENEMIES, we were reconciled to God by the death of his Son,’ (Rom. 5:10.) On this ground it is said that we are loved by God, when we love Christ; because we have the pledge of the fatherly love of Him from whom we formerly recoiled as our offended Judge” [= Allah mengasihi manusia dengan cara rahasia, sebelum mereka dipanggil, jika mereka termasuk orang-orang pilihan; karena Ia mengasihi milikNya sebelum mereka diciptakan; tetapi karena mereka belum diperdamaikan, mereka secara benar dianggap sebagai ‘musuh-musuh’ Allah, seperti dikatakan oleh Paulus: ‘Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian AnakNya’ (Ro 5:10). Berdasarkan hal inilah dikatakan bahwa kita dikasihi oleh Allah, pada waktu kita mengasihi Kristus; karena kita mempunyai jaminan kasih seorang bapa dari Dia, yang tadinya kita takuti sebagai Hakim yang marah kepada kita] - hal 158-159.

 

Leon Morris (NICNT) mengutip kata-kata Augustine:

“He would not have wrought in us something He could love, were it not that He loved ourselves before He wrought it” (= Ia tidak akan mengerjakan dalam kita sesuatu yang bisa Ia kasihi, jika bukannya bahwa Ia mengasihi kita sebelum Ia mengerjakan hal itu) - hal 711.

 

3)   dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah’.

 

Ini menunjukkan bahwa iman yang benar mencakup kepercayaan bahwa Yesus mempunyai asal usul dari surga. Dengan kata lain, Yesus adalah Allah.

 

Ay 28: Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa”.

 

1)   ‘Aku datang dari Bapa’.

 

KJV/NASB: ‘I came forth from the Father’ (= Aku tampil ke depan dari Bapa).

 

RSV/NIV: ‘I came from the Father’ (= Aku datang / keluar / berasal dari Bapa).

 

Bdk. Yoh 8:42 - “Kata Yesus kepada mereka: ‘Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendakKu sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku”.

 

Kata Yunani yang digunakan dalam Yoh 8:42 sama dengan yang digunakan dalam ay 28 ini, dan juga sama dengan kata Yunani yang digunakan dalam ay 27 akhir, yaitu evxhlton (EXELTON). Juga kata ‘datang dari’ pada akhir ay 30 menggunakan kata dasar yang sama.

 

Mengapa ayat-ayat ini mengatakan bahwa Yesus ‘keluar’ dari Bapa? Bukankah Yesus ‘diperanakkan’ oleh Bapa, sedangkan kata ‘keluar’ seharusnya ditujukan kepada Roh Kudus? Bandingkan dengan Pengakuan Iman Athanasius no 20-22 yang berbunyi sebagai berikut: 20. Bapa tidak dibuat dari apapun, tidak diciptakan, tidak diperanakkan.  21. Anak itu dari Bapa saja, tidak dibuat, tidak dicipta, tetapi diperanakkan.  22. Roh Kudus itu dari Bapa dan Anak, tidak dibuat, tidak dicipta, tidak diperanakkan, tetapi keluar”.

 

Tentang Yoh 8:42, Calvin berkata bahwa dalam bagian itu Yesus tidak berbicara tentang hakekatNya, tetapi tentang jabatan / misi / pelayananNya. Penafsiran ini sesuai dengan lanjutan kata-kata Yesus dalam Yoh 8:42c - ‘Dan Aku datang bukan atas kehendakKu sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku’.

 

Rupanya ay 27-28 ini juga harus ditafsirkan seperti itu (khususnya perhatikan ay 28, yang menunjukkan misi Tuhan Yesus).

 

Ini berbeda dengan kata ‘keluar’ yang ditujukan kepada Roh Kudus dalam Yoh 15:26, yang menggunakan kata Yunani evkporeuetai (EKPOREUETAI).

 

2)   Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa’.

 

a)   Keilahian Kristus.

 

Kata-kata ‘Aku datang’ menunjukkan pre-existence dan keilahian Yesus.

 

Perhatikan juga bahwa bagi Kristus baik ‘datang ke dalam dunia’ maupun ‘meninggalkan dunia’, digambarkan sebagai tindakan aktif, dan ini lagi-lagi menunjukkan keilahianNya.

 

b)   Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa’.

 

·        Kristus mengatakan bahwa pada waktu meninggalkan dunia ini Ia pergi kepada Bapa. Ini menunjukkan 2 hal:

 

*        setelah kepergianNya Ia menjadi penguasa seluruh alam semesta.

 

*        pemberian berkat dari Dia tidak terhenti dengan kepergianNya.

 

·        William Hendriksen: “The path of suffering, crucifixion, resurrection, ascension is, from one aspect, a departure from the world; from another point of view, it is a journey to the Father” (= Jalan penderitaan, penyaliban, kebangkitan, kenaikan adalah, dari satu aspek, suatu kepergian dari dunia; dari sudut pandang yang lain, itu merupakan suatu perjalanan kepada Bapa) - hal 339.

 

Penerapan:

 

Kita juga bisa memandang ‘kepergian’ (menjadi tua, sakit, mati) kita dengan cara yang sama. Bandingkan dengan kata-kata Paulus dalam Fil 1:21-23  2Kor 5:1,8.

 

·        Leon Morris (NICNT): “Here we have the great movement of salvation. It is a twofold movement, from heaven to earth and back again. Christ’s heavenly origin is important, else He could not be the Saviour of men. But His heavenly destination is also important, for it witnesses to the Father’s seal on the Son’s saving work” (= Di sini kita mempunyai gerakan yang besar dari keselamatan. Itu merupakan gerakan ganda, dari surga ke bumi dan kembali lagi. Asal usul surgawi Kristus merupakan sesuatu yang penting, karena kalau tidak Ia tidak bisa menjadi Juruselamat manusia. Tetapi tujuan surgawi juga penting, karena itu memberi kesaksian tentang pengesahan Bapa pada pekerjaan penyelamatan Anak) - hal 711.

 

Ay 29-30: “Kata murid-muridNya: ‘Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepadaMu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah.’”.

 

1)   Kata murid-muridNya: ‘Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan.

 

Hendriksen berpendapat bahwa para murid mengira bahwa apa yang tadi Yesus katakan (ay 25) sudah terjadi sekarang, tetapi mereka salah sangka, dan Yesus tidak berusaha membetulkan mereka, mungkin karena waktu memang sudah tidak memungkinkan.

 

Calvin mengatakan bahwa bagian ini menunjukkan bahwa murid-murid dikuatkan oleh penghiburan yang Kristus berikan, sekalipun sebetulnya mereka belum mengerti sepenuhnya apa yang Kristus katakan.

 

Calvin: “he who has only tasted a little of the doctrine of the Gospel is more inflamed, and feels much greater energy in that small measure of faith, than if he had been acquainted with all the writings of Plato” (= ia yang telah mencicipi hanya sedikit dari ajaran Injil, lebih dikobarkan, dan merasakan lebih banyak kekuatan dalam ukuran kecil dari iman itu, dari pada jika ia telah mempelajari / mengenal semua tulisan Plato) - hal 160.

 

Penerapan:

 

Ini perlu dihayati oleh semua pelayan firman, sehingga mereka betul-betul mengajarkan Firman Tuhan, dan bukannya filsafat yang tidak ada gunanya.

 

2)   Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepadaMu’.

 

Ini berhubungan dengan ay 18-19, dimana sekalipun para murid tidak bertanya kepada Yesus, tetapi Yesus tahu pikiran mereka. Dan artinya dari kata-kata ini adalah: Sekarang kami tahu bahwa Engkau maha tahu, dan tanpa seseorang bertanya kepadaMu, Engkau tahu apa yang ada dalam pikirannya.

 

3)   Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah.’.

 

Dari pengetahuan mereka tentang kemaha-tahuan Yesus itu mereka lalu menarik kesimpulan ini.

 

Ay 31-32: Jawab Yesus kepada mereka: ‘Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.”.

 

1)   Jawab Yesus kepada mereka: ‘Percayakah kamu sekarang?.

 

Kata-kata Yesus ini, ditinjau dari sudut bahasa Yunaninya, bisa diterjemahkan ke dalam kalimat tanya (seperti dalam terjemahan Kitab Suci Indonesia, KJV, RSV, NASB), bisa juga sebagai kalimat positif [seperti dalam terjemahan NIV: ‘You believe at last!’ (= Akhirnya kamu percaya!)].

 

Sekalipun diterjemahkan ke dalam kalimat tanya, itu tidak berarti bahwa Yesus meragukan iman mereka. Bahwa Yesus tidak meragukan iman mereka terlihat dari Yoh 17:8b dimana Yesus berkata dalam doanya: “Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari padaMu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”.

 

Lalu apa maksudnya kata-kata ini?

 

·        William Hendriksen: “the Lord, though accepting their confession at face-value, wishes to put them on guard against over-confidence” (= Tuhan, sekalipun menerima pengakuan mereka apa adanya, ingin supaya mereka berjaga-jaga terhadap keyakinan yang berlebih-lebihan) - hal 341.

 

Bandingkan dengan 1Kor 10:12 - “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!”.

 

·        William Hendriksen: “The Master does not in any way deny the presence of genuine faith in the hearts of his friends ...; but he stresses the imperfect character of that faith” (= Sang Guru / Tuan sama sekali tidak menyangkal adanya iman yang sejati dalam hati dari teman-temanNya ..., tetapi Ia menekankan ketidak-sempurnaan iman itu) - hal 343.

 

Penerapan:

 

Memang selama kita hidup di dunia ini, iman kita tidak akan pernah sempurna. Memang iman yang tidak sempurna ini tetap akan menyelamatkan kita selama itu betul-betul adalah iman yang benar, tetapi bagaimanapun juga merupakan kewajiban kita untuk berusaha menyempurnakan / meningkatkan iman kita dalam sepanjang hidup kita, melalui doa, Firman Tuhan dan pengudusan.

 

Bandingkan dengan:

 

*        1Pet 2:1-2 - “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan”.

 

*        2Pet 1:5-11 - “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus”.

 

2)   Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang’.

 

Istilah seperti ini menunjuk pada suatu proses yang sedang berlangsung.

 

William Hendriksen: “In a way it is still future, for Jesus and the disciples have not yet crossed the brook ... Yet, in another sense, this season has already arrived, for a. Judas is even now on the way, and b. so certain it is that the predicted event will occur that to the mind of Christ it is already present” (= Dalam arti tertentu, itu masih akan datang, karena Yesus dan murid-muridNya belum menyeberangi sungai ... Tetapi dalam arti yang lain, saat itu sudah tiba, karena a. Yudas sekarang sedang dalam perjalanan, dan b. begitu pastinya bahwa kejadian yang diramalkan itu akan terjadi sehingga bagi pikiran Kristus kejadian itu sudah ada) - hal 341.

 

3)   bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri’.

 

a)   Bandingkan nubuat Yesus ini dengan:

 

·        Zakh 13:7 - “‘Hai pedang, bangkitlah terhadap gembalaKu, terhadap orang yang paling karib kepadaKu!’, demikianlah firman TUHAN semesta alam. ‘Bunuhlah gembala, sehingga domba-domba tercerai-berai! Aku akan mengenakan tanganKu terhadap yang lemah”.

 

·        Mat 26:31 - “Maka berkatalah Yesus kepada mereka: ‘Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai”.

 

b)   Pengakuan iman yang disusul dengan penderitaan.

 

Perhatikan bahwa iman mereka yang diutarakan dalam ay 30 tadi langsung disusul oleh pemberitaan tentang penderitaan yang harus mereka hadapi (ay 31-33).

 

Pulpit Commentary: “The faith now acknowledged was destined to be severely tried” (= Iman yang diakui sekarang ditentukan untuk diuji dengan hebat) - hal 314.

 

Karena itu kalau saudara memberitakan Injil kepada seseorang dan orang itu mau percaya, saudara harus memperingatkan supaya ia berjaga-jaga terhadap datangnya penderitaan. Mengapa? Karena di satu pihak setan pasti menyerang orang yang beriman, dan di lain pihak iman yang benar itu memang harus mengalami ujian dari Tuhan. Dalam menghadapi serangan / penderitaan tersebut, bisa dipastikan kita pernah, dan bahkan sering, jatuh. Dan sekalipun kejatuhan tersebut merupakan dosa, tetapi ini juga mempunyai manfaat, yaitu untuk mencegah kita dari kesombongan dan keyakinan yang berlebih-lebihan.

 

Calvin: “As the disciples were too highly pleased with themselves, Christ reminds them that, remembering their weakness, they ought rather to confine themselves within their own little capacity. Now, we never are fully aware of what we want, and of our great distance from the fulness of faith, till we come to some serious trial; for then the fact shows how weak our faith was, which we imagined to be full” (= Karena murid-murid terlalu puas / senang dengan diri mereka sendiri, Kristus mengingatkan mereka bahwa mengingat kelemahan mereka, mereka seharusnya membatasi diri mereka di dalam kapasitas mereka yang kecil. Kita tidak akan pernah menyadari sepenuhnya apa yang kita butuhkan / apa yang tidak kita miliki, dan besarnya jarak kita dari iman yang penuh, sampai kita menghadapi ujian yang serius; karena pada saat itu fakta menunjukkan betapa lemahnya iman kita, yang kita bayangkan sebagai iman yang penuh) - hal 160-161.

 

Barnes’ Notes: “Though they supposed that they had unshaken faith - faith that would endure every trial, yet he told them that they would need all their confidence in God. When we feel strong in the faith, we should examine ourselves. It may be that we are deceived; and it may be that God may even then be preparing trials for us that will shake our faith to its foundation” (= Sekalipun mereka menganggap bahwa mereka mempunyai iman yang tidak tergoyahkan - iman yang akan bertahan terhadap setiap ujian, tetapi Ia memberitahu mereka bahwa mereka membutuhkan seluruh keyakinan mereka kepada Allah. Pada saat kita merasa kuat dalam iman, kita harus memeriksa diri kita sendiri. Bisa saja bahwa kita tertipu; dan mungkin pada saat itu Allah sedang mempersiapkan ujian-ujian untuk kita yang akan menggoncangkan iman kita sampai pada fondasinya) - hal 344.

 

c)   Hendriksen mengatakan bahwa memang setelah Yesus mati, para murid kembali ke rumahnya masing-masing. Itu sebabnya Maria Magdalena bisa dengan mudah menemukan mereka (bdk. Yoh 20:2). Juga mereka kembali pada pekerjaannya semula (bdk. Yoh 21:3), sekalipun mungkin sekali ini tidak berlaku untuk semua murid, karena tidak terbayangkan bahwa Matius kembali menjadi pemungut cukai.

 

Penerapan:

 

Penderitaan yang hebat sering dipakai oleh setan untuk membujuk seorang hamba Tuhan / pelayan Tuhan untuk meninggalkan pelayanan dan kembali pada keadaan dan pekerjaannya yang semula. Karena itu semua hamba Tuhan / pelayan Tuhan harus waspada terhadap hal ini!

 

4)   dan kamu meninggalkan Aku seorang diri’.

 

a)   Orang kristen yang sejati, bisa meninggalkan Yesus untuk sementara waktu, tetapi Yesus tidak pernah meninggalkan orang kristen yang sejati!

 

Pulpit Commentary: “Although genuine faith may sometimes leave Jesus, he never leaves genuine faith” (= Sekalipun iman yang sejati bisa kadang-kadang meninggalkan Yesus, Ia tidak pernah meninggalkan iman yang sejati) - hal 329.

 

Bandingkan dengan 2Tim 2:13 - “jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya.’”.

 

b)   Ini menunjukkan keluar-biasaan Yesus, yang sekalipun tahu akan kelemahan dan kegagalan para muridNya, tetapi tetap mengasihi mereka.

 

Barclay: “Here is perhaps the most extraordinary thing about Jesus. He knew the weakness of his men; he knew their failure; he knew that they would let him down in the moment of his direst need; and yet he still loved them; and what is even more wonderful - he still trusted them. He knew men at their worst and still loved and trusted them. It is quite possible for a man to forgive someone and, at the same time, to make it clear that he is never prepared to trust that person again. But Jesus said: ‘I know that in your weakness you will desert me; nevertheless I know that you will still be conquerors.’ Never in all the world were forgiveness and trust so combined. What a lesson is there! Jesus teaches us how to forgive, and how to trust the man who was guilty of failure” (= Di sinilah mungkin hal yang paling luar biasa tentang Yesus. Ia tahu kelemahan dari orang-orangNya, Ia tahu kegagalan mereka; Ia tahu bahwa mereka akan mengecewakanNya pada saat Ia paling membutuhkan; tetapi Ia tetap mengasihi mereka; dan apa yang lebih hebat - Ia tetap mempercayai mereka. Ia mengetahui hal yang terjelek dari manusia dan tetap mengasihi dan mempercayai mereka. Adalah mungkin bagi seseorang untuk mengampuni seseorang dan pada saat yang sama tidak mempercayai orang itu lagi. Tetapi Yesus berkata: ‘Aku tahu bahwa dalam kelemahanmu kamu akan meninggalkan Aku; tetapi sekalipun demikian Aku tahu bahwa engkau tetap akan menjadi pemenang’. Di dunia ini tidak pernah ada pengampunan dan kepercayaan yang dikombinasikan seperti itu. Di sini kita mendapat pelajaran yang luar biasa. Yesus mengajar kita bagaimana mengampuni, dan bagaimana mempercayai manusia yang bersalah dalam kegagalan) - hal 202.

 

Catatan: apa yang tidak saya terima dari kata-kata ini adalah dimana Barclay berkata bahwa Yesus mempercayai murid-muridNya. Jelas bahwa Yesus tidak mempercayai manusia, siapapun juga adanya orang itu, karena Ia tahu apa yang ada dalam diri manusia (bdk. Yoh 2:23-25). Ia tahu bahwa dalam diri manusia tidak ada sesuatupun yang baik (bdk. Ro 7:18-19). Boleh dikatakan bahwa sebetulnya Yesus bukannya mempercayai para muridNya, tetapi Ia mempercayai apa yang Ia sendiri bisa lakukan terhadap para murid yang jelek itu. Dengan kasih karuniaNya dan kuasaNya Ia bisa membentuk mereka sehingga menjadi orang-orang yang berguna bagiNya. Perhatikan apa yang dikatakan Leon Morris di bawah ini.

 

Leon Morris (NICNT): “The limitations of the disciples’ faith are shown in that they will shortly abandon their Lord. Their failure at the moment of crisis is faithfully recorded and it has its importance. The church depends ultimately on what God has done in Christ, not on the courage and wit of its first members” (= Keterbatasan dari iman murid-murid ditunjukkan dalam hal dimana mereka sebentar lagi akan meninggalkan Tuhan mereka. Kegagalan mereka pada saat krisis dicatat dengan setia dan ini mempunyai kepentingannya. Gereja bergantung pada apa yang Allah lakukan dalam Kristus, bukan pada keberanian dan akal / kecerdasan dari anggota-anggotanya yang mula-mula) - hal 713.

 

c)   Sikap Yesus yang tetap mengasihi para muridNya di tengah-tengah kelemahan dan kegagalan mereka, harus kita tiru.

 

Barclay: “He knew that his friends would abandon him, yet at the moment he did not upbraid them, and afterwards he did not hold it against them. He loved men in all their weakness; saw them and loved them as they were. Love must be clear-sighted. If we idolize a person and think him faultless, we are doomed to disappointment. We must love him as he really is” (= Ia mengetahui bahwa teman-temanNya akan meninggalkanNya, tetapi pada saat itu Ia tidak mencela / memarahi mereka, dan setelah itu Ia tidak mendendam terhadap mereka. Ia mengasihi manusia dalam semua kelemahan mereka; melihat kelemahan-kelemahan itu dan mengasihi orang-orang itu sebagaimana adanya mereka. Kasih harus melihat dengan jelas. Jika kita mengidolakan seseorang dan mengira bahwa ia tidak bercacat, kita pasti akan kecewa. Kita harus mengasihi dia sebagaimana adanya dia) - hal 203.

 

Penerapan:

 

·        bisakah saudara mengasihi suami, istri, anak, orang tua, teman saudara sebagaimana adanya mereka? Maukah berusaha meniru Kristus dalam hal ini?

 

·        ini juga harus diterapkan secara timbal balik dalam hubungan guru sekolah Minggu dengan murid-muridnya, dan pendeta dengan jemaatnya.

 

5)   Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku’.

 

a)   Penafsiran yang salah tentang kata-kata ini.

 

Ada penafsir-penafsir yang menekankan kata-kata ini kelewat batas karena mereka mengatakan bahwa bahkan pada saat Yesus berteriak ‘Eli, Eli lama sabakhtani?’, Bapa tetap tidak meninggalkan Dia. Contoh:

 

·        Pulpit Commentary: “This fellowship was essential. Being one in nature and essence, nothing could separate him from this. ... It is true that at that darkest moment on the cross he exclaimed, ‘My God, my God,’ etc. - the full meaning of which we probably can never know. When drinking the very dregs of the cup of our curse, he could not describe his experience better than by saying that he felt as if the Father had for a moment hid his face from him. But he was still conscious of his fellowship, addressed him as his God, and soon committed his Spirit unto his loving care” (= Persekutuan ini bersifat hakiki. Karena satu dalam hakekat, tidak ada yang bisa memisahkanNya dari ini. ... Memang benar bahwa pada saat tergelap di kayu salib Ia berseru, ‘AllahKu, AllahKu’, dst. - kalimat mana yang artinya mungkin tidak akan pernah kita ketahui. Pada waktu meminum ampas dari cawan kutukan kita, Ia tidak bisa menggambarkan pengalamanNya dengan cara yang lebih baik dari pada dengan mengatakan bahwa Ia merasakan seakan-akan Bapa untuk sementara waktu menyembunyikan wajahNya dari Dia. Tetapi Ia tetap sadar akan persekutuanNya, menyebutNya sebagai AllahNya, dan segera setelahnya Ia menyerahkan RohNya ke dalam pemeliharaanNya yang penuh kasih) - hal 330.

 

·        Thomas Whitelaw: “The momentary feeling of forsakenness by the Father which Christ experienced of the cross (Matt. 27:46) must be explained in harmony with this” [= Perasaan sementara tentang ditingalkan oleh Bapa yang dialami Kristus pada kayu salib (Mat 27:46) harus dijelaskan secara harmonis dengan ini] - hal 342.

 

Ini jelas merupakan penafsiran yang salah, karena kalau Yesus tidak betul-betul ditinggal oleh Bapa, itu menunjukkan bahwa Ia tidak betul-betul memikul hukuman dosa, yaitu keterpisahan dengan Allah (2Tes 1:9  Yes 59:1-2).

 

Tasker (Tyndale): “Only for a brief, though terrible, moment will that consciousness of the Father’s love be withdrawn. Made sin on behalf of sinners He will experience the separation from God that is the essence of sin, and cry ‘My God, why hast thou forsaken me?’” (= Hanya untuk waktu yang singkat, sekalipun mengerikan, kesadaran akan kasih Bapa itu akan ditarik. Dibuat menjadi dosa demi orang-orang berdosa, Ia akan mengalami perpisahan dengan Allah yang merupakan hakekat dari dosa, dan berteriak: ‘AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?’) - hal 186.

 

b)   Penafsiran yang benar tentang kata-kata ini.

 

William Hendriksen mengatakan bahwa Yesus makin lama makin diisolasi. Ia akan ditinggalkan oleh para murid / pengikutNya (Mark 14:50), dan pada akhirnya akan ditinggal oleh BapaNya (Mat 27:46). Tetapi pada waktu para murid / pengikutNya meninggalkanNya, Ia belum ditinggalkan oleh Bapa, sehingga Ia masih bisa berkata: ‘Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku’. Ini selalu menjadi penghiburanNya sampai saat itu, sesuai dengan yang Ia katakan dalam Yoh 8:29 - “Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepadaNya.’”.

 

c)   Karena Yesus mengalami keterpisahan dengan Bapa untuk memikul hukuman dosa kita, maka bagi kita yang percaya, kata-kata Yesus ini bisa selalu kita terapkan dalam hidup kita. Sekalipun seluruh dunia meninggalkan kita, tetapi Bapa tidak mungkin meninggalkan kita (bdk. Ibr 13:5). Dan kalau saudara adalah seorang yang betul-betul melayani Tuhan dan saudara lalu ditinggalkan oleh orang-orang yang saudara layani, maka percayalah bahwa Tuhan tidak meninggalkan saudara.

 

Calvin: “Whoever shall meditate on this in a proper manner will remain firm, though the whole world be shaken, and the revolt of all men will not overturn his faith; for we do not render to God the honour which is due to him, if we are not satisfied with having God alone” (= Siapapun yang merenungkan hal ini dengan cara yang benar akan tetap teguh, sekalipun seluruh dunia digoncangkan, dan pemberontakan dari semua manusia tidak akan menjatuhkan iman kita; karena kita tidak memberikan kepada Allah hormat yang seharusnya untuk Dia, jika kita tidak puas dengan hanya mempunyai Allah saja) - hal 161.

 

Barnes’ Notes: “It matters little who else forsakes us, if God be with us in the hour of pain and of death. And though poor, forsaken, or despised, yet if we have the consciousness of his presence and his favour, then we may fear no evil: his rod and his staff, they will comfort us. Without his favour, then, death will be full of horrors, though we be surrounded by weeping relatives, by all the honours, and splendour, and wealth which the world can bestow” (= Tidak terlalu berarti siapa lagi yang meninggalkan kita, jika Allah beserta kita pada saat sakit dan mati. Dan sekalipun kita miskin, ditinggalkan, atau dihina / diremehkan, tetapi jika kita mempunyai kesadaran tentang kehadiranNya dan perkenanNya, maka kita tidak akan takut pada bencana apapun: gadaNya dan tongkatNya, mereka akan menghibur kita. Tanpa perkenanNya, maka kematian akan sangat menakutkan, sekalipun kita dikelilingi oleh keluarga yang menangisi kita, oleh semua kehormatan, dan kemegahan, dan kekayaan yang bisa diberikan oleh dunia) - hal 345.

 

Pulpit Commentary: “the human desertion made the Divine all the more precious and sweet. ... We should not be disappointed or despair if in the hour of trial we are deserted by the best of friends. Think of Jesus. ... When deserted by friends and by all, God comes nearest to us. The least of man the most of God, often; furthest from earth the nearest to heaven” (= Tindakan manusia meninggalkan kita membuat Allah makin berharga dan manis. ... Kita tidak boleh merasa kecewa atau putus asa jika pada saat ujian kita ditinggalkan oleh teman-teman yang terbaik. Pikirkan tentang Yesus. ... Pada waktu ditinggalkan oleh teman-teman dan oleh semua, Allah datang paling dekat kepada kita. Paling sedikit dari manusia, paling banyak dari Allah, dan seringkali; paling jauh dari bumi, paling dekat dengan surga) - hal 331.

 

Pulpit Commentary: “When men showed themselves furthest from him, God was nearest” (= Pada waktu manusia menunjukkan diri mereka sendiri paling jauh darinya, Allah paling dekat) - hal 340.

 

d)   Pada saat matipun orang kristen pasti mengalami penyertaan dan kehadiran Allah.

 

Barnes’ Notes: “The Christian can die, saying, I am not alone, because the Father is with me. The sinner dies without a friend that can sustain, and without one source of real joy” (= Orang Kristen bisa mati sambil berkata: aku tidak sendirian, karena Bapa menyertai aku. Orang berdosa mati tanpa seorang teman yang bisa menyokong, dan tanpa satupun sumber sukacita yang sejati) - hal 345.

 

Ay 33: Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.’”.

 

1)   Ia menjanjikan damai kepada pengikut / murid yang gagal.

 

Leon Morris (NICNT): “He assured them of the peace He would give them. He loved them for what they were and despite their shortcomings. ... And, in full knowledge that they would act in this way, He had promised them peace” (= Ia meyakinkan mereka tentang damai yang akan Ia berikan kepada mereka. Ia mengasihi mereka sebagaimana adanya mereka dan sekalipun mereka mempunyai kelemahan / kekurangan. ... Dan dalam pengetahuan penuh bahwa mereka akan bertindak seperti itu, Ia telah menjanjikan mereka damai) - hal 714.

 

2)   Kata-kata ‘dalam Aku’ kontras dengan ‘dalam dunia’; sedangkan ‘damai sejahtera’ kontras dengan ‘penganiayaan’.

 

Sedangkan kata ‘penganiayaan’, oleh KJV/RSV/NASB diterjemahkan ‘tribulation’ (= kesengsaraan), dan oleh NIV diterjemahkan ‘trouble’ (= kesukaran).

 

William Hendriksen: “The term which is correctly rendered ‘tribulation’ has the primary meaning (both in Greek and in English): ‘pressure.’” [= Istilah yang secara benar diterjemahkan ‘kesengsaraan’ mempunyai arti utama (baik dalam Yunani maupun Inggris): ‘tekanan’] - hal 343.

 

Jadi, dalam dunia orang-orang Kristen akan selalu mendapatkan kesukaran / kesengsaraan / penganiayaan / tekanan, tetapi dalam Kristus mereka mempunyai damai.

 

Calvin: “Since, therefore, ‘the world’ is like a troubled sea, true ‘peace’ will be found nowhere but in Christ” (= Karena ‘dunia’ itu seperti laut yang berombak-ombak, ‘damai’ yang sejati tidak akan ditemukan dimanapun selain dalam Kristus) - hal 162.

 

Pulpit Commentary: “The difficulty of a Christian life is to live in the world and in Christ at the same time. It would be easy to live in the world in complete agreement with it, and it would be easy to live in heaven as a perfect saint; but to live in the world and in Christ means a conflict with the former, and it is the difficulty to triumph” (= Sukarnya hidup kristen adalah untuk hidup dalam dunia dan dalam Kristus pada saat yang sama. Adalah mudah untuk hidup dalam dunia dalam persetujuan sepenuhnya dengan dunia, dan adalah mudah untuk hidup di surga sebagai orang kudus yang sempurna; tetapi hidup dalam dunia dan dalam Kristus berarti konflik dengan dunia, dan itu merupakan suatu kesukaran untuk dimenangkan) - hal 333.

 

3)   “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.’”.

 

Leon Morris (NICNT): “This statement, spoken as it is in the shadow of the cross, is audacious. The cross would seem to the outsider to be Christ’s total defeat. He sees it as His complete victory over all that the world is and can do to Him. He goes to the cross not in fear or in gloom, but as a conqueror” (= Pernyataan ini, diucapkan sebagaimana adanya dalam bayang-bayang dari salib, merupakan sesuatu yang berani. Bagi orang luar, salib kelihatannya merupakan kekalahan total dari Kristus. Ia melihatnya sebagai kemenanganNya yang lengkap / sempurna atas dunia dan apa yang dunia bisa lakukan terhadapNya. Ia pergi menuju salib bukan dengan takut atau murung, tetapi sebagai seorang pemenang) - hal 714-715.

 

William Barclay: “The victory which I will win can be your victory too. The world did its worst to me, and I emerged victorious. Life can do its worst to you, and you too can emerge victorious. You too can possess the courage and the conquest of the Cross” (= Kemenangan yang akan Aku menangkan bisa menjadi kemenanganmu juga. Dunia melakukan yang terburuk kepadaKu, dan Aku muncul sebagai pemenang. Kehidupan bisa melakukan yang terburuk bagimu, dan engkau juga bisa muncul sebagai pemenang. Engkau juga bisa memiliki keberanian dan kemenangan dari Salib) - hal 203.

 

William Hendriksen: “this very principle - namely, that what happens to the Master will happen to the disciple - also applies in the opposite direction: the disciple can expect to conquer because of his relation to the Master. The words, ‘Be of good courage. I have conquered the world,’ clearly imply, ‘And therefore you, my followers, will also conquer.’” (= prinsip ini, yaitu bahwa apa yang terjadi dengan Tuan / Gurunya akan terjadi dengan muridNya - juga diterapkan dalam arah yang berlawanan: sang murid bisa mengharapkan untuk menang karena hubungannya dengan sang Tuan / Guru. Kata-kata ‘kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia’, secara jelas menunjukkan: ‘Dan karena itu engkau, para pengikutKu, juga akan menang’.) - hal 344.

 

Barnes’ Notes: “The world is a vanquished enemy. Satan is a humbled foe. And all that the believers have to do is to put their trust in the Captain of their salvation, putting on the whole armour of God; assured that the victory is theirs” (= Dunia adalah musuh yang telah ditaklukkan, Setan adalah musuh yang telah direndahkan. Dan semua yang harus dilakukan oleh orang-orang percaya adalah percaya kepada Kapten keselamatan mereka, mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah; dengan yakin bahwa kemenangan adalah milik mereka) - hal 345.



-AMIN-

 


email us at : gkri_exodus@lycos.com