HERMENEUTICS : Ilmu Penafsiran Alkitab

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.


HERMENEUTICS 4

SIMILE & METAPHOR

PARABLE & ALLEGORY

 

I) Simile & Metaphor.

 

A) Simile.

 

Ciri-ciri Simile:

 

1)     Ini adalah perbandingan yang dinyatakan (expressed comparison) antara 2 hal.

 

2)     Selalu menggunakan kata ‘seperti’ (‘like / as’).

 

Contoh: Yer 23:29 - “Bukankah firmanKu seperti api, demikianlah firman TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?”.

 

3)     Dalam membandingkan, maka 2 hal yang diperbandingkan itu tetap dipisah (tidak dicampur aduk).

 

Contoh: Yes 55:10-11 - “Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firmanKu yang keluar dari mulutKu: ia tidak akan kembali kepadaKu dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya”.

 

Ay 10 membicarakan hal pertama (hujan dan salju), sedangkan ay 11 membicarakan hal ke 2 (firman Tuhan).

 

B) Metaphor.

 

Ciri-ciri Metaphor:

 

1)     Ini juga merupakan suatu perbandingan antara 2 hal, tetapi perbandingannya tidak dinyatakan (‘unexpressed / implied comparison’).

 

2)     Tidak ada kata ‘seperti’.

 

3)     2 hal yang diperbandingkan itu dicampur.

 

Contoh: Yoh 8:12 - ‘Akulah Terang Dunia’.

 

Di sini pencampuran itu tidak terlalu kelihatan, tetapi pencampuran itu akan lebih terlihat dalam Allegory yang merupakan ‘extended Metaphor’ (= Metaphor yang panjang).

 

C) Penafsiran Simile & Metaphor.

 

Satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam penafsiran Simile dan Metaphor adalah: baik Simile maupun Metaphor hanya menekankan adanya persamaan-persamaan tertentu antara 2 hal yang diperbandingkan itu (jadi bukan segala sesuatunya sama!).

 

Ini sama seperti kalau dalam pembicaraan sehari-hari saya berkata: ‘orang itu seperti keledai’, maka itu tentu tidak berarti bahwa orang itu berkaki empat, mempunyai ekor, berwarna abu-abu, dsb. Saya hanya memaksudkan adanya persamaan tertentu antara keledai dan orang itu, yaitu sama-sama bodoh.

 

Contoh: Mat 5:13 - ‘kamu adalah garam dunia’.

 

Metaphor ini menunjukkan adanya persamaan tertentu antara garam dan orang kristen. Misalnya: garam mencegah kebusukan, mengenakkan makanan, mengasinkan / mempengaruhi makanan. Orang kristen juga harus demikian. Ini semua adalah persamaan-persamaan yang dapat diambil. Tetapi ada hal-hal yang tidak cocok antara orang Kristen dan garam. Misalnya:

 

        Garam berfungsi untuk membunuh bekicot; kita tentu tidak bisa berkata bahwa orang Kristen harus memusuhi / membunuh bekicot.

 

        Makanan yang terlalu banyak garam, rasanya justru jadi tidak enak; ini tentu tidak bisa dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa dalam dunia sebaiknya hanya ada sedikit orang Kristen.

 

Kalau hal ini tidak diperhatikan, dan kita menganggap bahwa 2 hal yang diperbandingkan itu sama dalam segala hal, maka sudah pasti akan terjadi ajaran yang kacau.

 

Contoh: Salah satu ayat yang dipakai oleh orang yang pro Toronto Blessing adalah Yer 23:9 yang berbunyi: “Mengenai nabi-nabi. Hatiku hancur dalam dadaku, segala tulangku goyah. Keadaanku seperti orang mabuk, seperti laki-laki yang terlalu banyak minum anggur, oleh karena TUHAN dan oleh karena firmanNya yang kudus”.

 

Adanya kata-kata ‘seperti orang mabuk’ dan ‘seperti laki-laki yang terlalu banyak minum anggur’, dipakai sebagai dasar untuk mengatakan bahwa pada saat itu nabi Yeremia mengalami hal-hal seperti yang dialami oleh orang-orang yang terkena Toronto Blessing, seperti terhuyung-huyung, bergerak seperti orang sakit ayan, roboh dan berguling-guling di lantai, muntah-muntah, ngomong ngelantur tidak karuan, dsb.

 

Jadi, terlihat bahwa di sini orang yang pro Toronto Blessing ini menyamakan 2 hal yang diperbandingkan itu dalam segala hal (atau setidaknya mereka mengambil terlalu banyak persamaan), padahal ayat itu hanya memaksudkan persamaan tertentu saja antara Yeremia dan orang mabuk. Mungkin maksudnya hanya: Yeremia merasa lemas, sama seperti orang mabuk.

 

Harus diakui bahwa tidak selalu gampang diketahui persamaan yang mana yang boleh diambil, dan persamaan yang mana yang tidak boleh diambil. Untuk bisa mengetahui hal itu, tentu kita harus melihat:

 

      kontexnya.

 

      seluruh Kitab Suci.

 

Kalau kita mengambil persamaan yang ternyata menghasilkan ajaran yang out of context, atau ajaran yang menentang bagian lain dari Kitab Suci, maka itu berarti kita mengambil persamaan yang salah.

 

II) Parable (= perumpamaan).

 

A) Ciri-ciri Parable / perumpamaan.

 

1)     Parable / perumpamaan adalah Simile yang panjang (extended Simile).

 

2)     Dalam Parable / perumpamaan sering (tapi tidak selalu) digunakan kata ‘seperti’.

 

Contoh: Mat 13:24 - “Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kataNya: Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya”.

 

Kata ‘seumpama’ di sini seharusnya adalah ‘seperti’.

 

Tetapi pada waktu Yesus menceritakan perumpamaan dalam Mat 13:3-dst, Ia  tidak menggunakan kata ‘seperti’.

 

3)     2 hal yang diperbandingkan (perumpamaan dan arti / penerapannya) tetap dipisahkan (tidak dicampur).

 

Contoh: Dalam Mat 13:47-50, ay 47-48 adalah perumpamaannya, sedangkan penerapan / artinya ada pada ay 49-50.

 

4)     Biasanya hanya menekankan 1 kebenaran rohani dan biasanya fokus / arah dari perumpamaan itu terlihat dengan jelas.

 

Contoh:

 

        Luk 15:4-7 - Allah senang kalau orang berdosa bertobat.

 

        Luk 18:1-8 - kita harus berdoa dengan tekun.

 

        Luk 18:9-14 - harus berdoa / menghadap Tuhan dengan rendah hati / sadar akan keberdosaannya.

 

Tetapi kadang-kadang toh ada perumpamaan yang mengandung banyak kebenaran rohani dan yang fokus / arahnya tidak terlihat dengan jelas.

 

Contoh: Luk 16:19-31 (cerita tentang Lazarus dan orang kaya).

 

Catatan: apakah Luk 16:19-31 itu adalah suatu perumpamaan atau bukan, adalah suatu hal yang banyak diperdebatkan.

 

B) Tujuan Parable.

 

1)   Memperjelas suatu kebenaran sehingga lebih mudah dimengerti dan lebih mudah untuk diingat.

 

Contoh:

 

        Kalau Yesus hanya sekedar mengatakan: ‘Tekunlah berdoa’, maka murid-murid akan melupakannya dalam waktu yang singkat. Tetapi dengan memberikan Luk 18:1-8, ajaran itu akan menancap dalam diri setiap murid.

 

        Kalau Yesus hanya mengajar: ‘Ampunilah sesamamu’, maka mungkin sekali murid-murid akan segera lupa. Tetapi dengan memberikan Mat 18:21-35 maka ajaran itu akan lebih mudah diingat

 

2)   Kebalikan dari yang no 1 tadi, kadang-kadang Parable / perumpamaan digunakan justru untuk menyembunyikan arti dari suatu ajaran.

 

Contoh: Mat 13:10-15 - “Maka datanglah murid-muridNya dan bertanya kepadaNya: ‘Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?’ Jawab Yesus: ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka’”.

 

 

Dari tanya jawab ini terlihat bahwa Yesus menggunakan perumpamaan supaya orang lain tidak mengerti apa yang ia ajarkan, sehingga nubuat Yesaya tergenapi. Tetapi pada waktu ia sendirian dengan murid-muridNya, Ia lalu menjelaskan arti perumpamaan itu kepada mereka (Mat 13:18-dst).

 

3)   Untuk menegur.

 

Contoh:

 

        2Sam 12:1-7.

 

Ini adalah cerita tentang nabi Natan yang ingin menegur Daud. Kalau dari semula Natan langsung menyatakan kesalahan Daud, mungkin sekali Daud tidak mau mendengarnya. Karena itu Natan lalu menggunakan suatu perumpamaan / cerita, dan setelah Daud bereaksi terhadap perumpamaan / cerita itu, barulah Natan menerapkan perumpamaan itu kepada diri Daud sendiri.

 

        Mat 21:33-45.

 

Di sini Yesus ingin menegur imam-imam dan orang-orang Farisi. Kalau ia langsung menegur kesalahan mereka, pasti mereka akan langsung marah, sehingga mungkin Yesus tidak bisa menyelesaikan teguranNya. Karena itu Ia menceritakan suatu perumpamaan, dan setelah itu baru menerapkannya kepada diri mereka.

 

C) Menafsirkan Parable / perumpamaan.

 

1)   Seringkali sebelum atau sesudah Parable / perumpamaan sudah diberikan artinya atau petunjuk yang jelas mengenai arti / arah / fokus / tujuan perumpamaan itu.

 

Contoh:

 

      Mat 18:21-35 - arti / petunjuknya ada pada ay 21,22,35.

 

      Mat 22:1-14 - arti / petunjuknya ada pada ay 14.

 

      Mat 25:1-13 - arti / petunjuknya ada pada ay 13.

 

Kalau arti / fokus sudah diberikan, maka kita tidak boleh memberikan arti / arah / fokus yang lain.

 

Contoh:

 

      Dalam Luk 8:11, kata ‘benih’ menunjuk pada ‘Firman Allah’. Kita boleh menerapkan ‘benih’ ini pada ‘Injil’ karena ‘Injil’ adalah sebagian dari ‘Firman Allah’. Tetapi kalau kita mengartikannya sebagai ‘perbuatan baik’, ini tentu salah.

 

      Perumpamaan dalam Mat 7:24-27, sudah diberi arti / fokus, yaitu setelah mendengar firman kita harus melaksanakannya.

 

Tetapi ada banyak pengkhotbah yang menguraikan bahwa batu yang dijadikan dasar / fondasi rumah itu adalah Kristus. Dengan demikian, perumpamaan ini bukan lagi mengkontraskan ‘orang yang mendengar tetapi tidak mentaati firman’ (ay 26a) dengan ‘orang yang mendengar firman dan mentaatinya’ (ay 24a), tetapi mengkontraskan ‘orang yang percaya kepada Kristus’ dengan ‘orang yang tidak percaya kepada Kristus’. Ini tentu saja salah, karena tidak sesuai dengan arah / fokus / tujuan perumpamaan yang sebenarnya.

 

      Seorang pendeta menafsirkan ‘jubah’ dalam Luk 15:22 sebagai ‘pengudusan’. Padahal penekanan kontex adalah penerimaan kembali sebagai anak, bukan pengudusan.

 

Tetapi ada perumpamaan yang tidak diberi arti / petunjuk, mungkin karena dianggap sudah cukup jelas.

 

Contoh: Luk 16:19-31  Mat 13:31-32  Mat 13:33  Mat 13:44  Mat 13:45-46.

 

2)   Dalam suatu perumpamaan ada fokus dan detail-detail.

 

Ada 2 pandangan yang bertentangan tentang penafsiran fokus dan detail-detail ini.

 

        Chrysostom mengatakan bahwa hanya fokusnya yang penting dan harus diperhatikan, sedangkan detail-detailnya hanya merupakan hiasan belaka, sehingga sama sekali tidak boleh dipedulikan.

 

        Cocceius mengatakan bahwa semua detail-detail adalah penting dan harus diperhatikan / dibahas.

 

Kedua pandangan ini sama-sama extrim dan salah. Pandangan yang pertama menimbulkan kerugian-kerugian tertentu, karena dengan mengabaikan detail-detail tertentu yang sebetulnya cukup penting, kita mengurangi apa yang bisa kita dapatkan dari Kitab Suci. Pandangan kedua adalah pandangan yang berbahaya karena dengan memperhatikan semua detail, mungkin sekali kita akan membahas detail yang sebetulnya tidak penting sehingga pembahasan akan keluar dari fokus.

 

Yang benar adalah: fokus dari parable harus diketahui lebih dulu. Detail-detail hanya ada artinya dan dianggap penting kalau detail-detail itu sesuai dengan arah fokus. Detail-detail yang tidak sesuai dengan arah fokus harus diabaikan.

 

Contoh: Mat13:24-30 fokusnya adalah: dalam kerajaan Allah, orang kristen asli dan orang kristen palsu terus ada bersama-sama sampai akhir jaman.

 

Ada detail-detail yang perlu diperhatikan karena sesuai dengan arah fokus, misalnya:

 

      orang kristen asli dan palsu itu mirip (gandum mirip dengan lalang).

 

      orang kristen palsu sengaja disusupkan oleh setan.

 

Tetapi ada detail-detail yang tidak sesuai dengan fokus dan harus diabaikan seperti: musuh menabur benih lalang pada waktu semua tidur (ay 25). Kalau detail yang tidak sesuai dengan fokus ini kita bahas dan kita lalu mengatakan bahwa Tuhan tidak tahu pada waktu setan bekerja, maka jelas timbul ajaran yang salah!

 

Contoh-contoh lain tentang detail-detail yang tidak sesuai dengan fokus perumpamaan:

 

        Luk 18:1-8 fokusnya adalah berdoalah dengan tekun. Bahwa Allah digambarkan sebagai seorang hakim yang lalim, ini adalah detail yang tidak sesuai dengan fokus. Ini harus diabaikan!

 

        Luk 15:11-32 fokusnya adalah Tuhan senang orang berdosa itu bertobat. Bahwa anak bungsu itu kembali sendiri (tidak dicari / dibantu oleh ayahnya), itu adalah detail yang tidak sesuai dengan fokus. Karena itu tidak bisa dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa manusia bisa bertobat dengan kekuatannya sendiri (bdk. Yoh 6:44,65 yang secara explicit mengatakan bahwa manusia tidak bisa datang kepada Yesus kalau bukan karena perkerjaan Bapa yang menarik dia / mengaruniakan iman kepadanya).

 

3)   Biasanya kata-kata dalam perumpamaan diartikan secara hurufiah dan biasanya tidak diartikan per kata / per bagian, tetapi secara keseluruhan.

 

Contoh: Luk 15 menekankan bahwa Allah senang kalau ada orang yang bertobat.

 

Contoh yang salah: Ada orang menafsirkan Luk 10:25-37 (Perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati) sebagai berikut:

 

        ‘turun’ (ay 30) = turun secara rohani.

 

        ‘orang’ (ay 30) = orang berdosa.

 

        ‘penyamun’ (ay 30) = setan.

 

        ‘imam dan orang Lewi’ (ay 31,32) = agama dan perbuatan-perbuatan baik.

 

        ‘orang Samaria’ (ay 33) = Yesus.

 

        ‘minyak’ (ay 34) = Roh Kudus.

 

        ‘penginapan’ (ay 34) = gereja.

 

        ‘pemilik penginapan’ (ay 35) = pendeta / hamba Tuhan.

 

        ‘2 dinar’ (ay 35) = Kitab Suci (Perjanjian Lama + Perjanjian Baru).

 

Ini jelas adalah sesuatu yang salah karena perumpamaan tidak dimaksudkan untuk dibahas kata per kata. Disamping itu, pemba-hasan seperti itu jelas keluar dari fokus. Perhatikan bahwa perumpamaan ini diceritakan oleh Yesus untuk menjawab pertanyaan dalam Luk 10:29 - “Dan siapakah sesamaku manusia?”. Kalau perumpa-maan yang merupakan jawaban Yesus itu diartikan seperti itu, maka jelas bahwa jawaban itu sama sekali tidak cocok dengan pertanyaannya.

 

Tetapi kadang-kadang ada perumpamaan yang diartikan kata per kata. Tetapi dalam hal ini Kitab Suci sendiri memberikan artinya.

 

Contoh:

 

      Mat 13:18-23 - arti dari perumpamaan tentang penabur yang menabur di empat golongan tanah.

 

      Mat 13:36-43 - arti dari perumpamaan tentang lalang di antara gandum.

 

III) Allegory.

 

A) Ciri-ciri Allegory.

 

1)   Allegory adalah metaphor yang panjang (extended metaphor).

 

2)   Pada Allegory, 2 hal yang diperbandingkan (kiasan dan arti / penerapannya) dicampur-baurkan.

 

B) Contoh allegory.

 

1)   Yoh 15:1-8.

 

Kalau bagian ini diceritakan dalam bentuk Parable / perumpamaan, maka Yesus akan bercerita tentang hal pertama, yaitu pokok anggur, pengusaha kebun anggur, ranting-ranting anggur, daun-daun anggur yang perlu dibersihkan, buah anggur dsb sampai semua selesai, lalu barulah Ia akan bercerita tentang hal kedua yaitu arti / penerapannya.

 

Tetapi karena Ia menceritakannya sebagai suatu Allegory, maka bukan hal itu yang kita jumpai. Ia berpindah dari hal 1 ke hal 2 , lalu ke hal 1 lagi, lalu ke hal 2 lagi dst. Jadi jelas kedua hal yang diperbandingkan itu tidak dipisahkan tetapi justru dicampur aduk. Inilah Allegory!

 

2)   Yeh 23:1-dst.

 

Ay 1-4a merupakan kiasannya, tetapi ay 4b memberikan arti / penerapannya. Lalu ay 5a melanjutkan kiasannya, tetapi pada akhir ay 5 (‘Asyur’) dan ay 6 kembali pada arti / penerapannya. Ay 7a merupakan kiasannya, ay 7b merupakan arti / penerapannya, dst.

 

3)   Yeh 13:10-15 - Oleh karena, ya sungguh karena mereka menyesatkan umatKu dengan mengatakan: Damai sejahtera!, padahal sama sekali tidak ada damai sejahtera - mereka itu mendirikan tembok dan lihat, mereka mengapurnya - katakanlah kepada mereka yang mengapur tembok itu: Hujan lebat akan membanjir, rambun akan jatuh dan angin tofan akan bertiup! Kalau tembok itu sudah runtuh, apakah orang tidak akan berkata kepadamu: Di mana sekarang kapur, yang kamu oleskan itu? Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Di dalam amarahKu Aku akan membuat angin tofan bertiup dan di dalam murkaKu hujan lebat akan membanjir, dan di dalam amarahKu rambun yang membinasakan akan jatuh. Dan Aku akan meruntuhkan tembok yang kamu kapur itu dan merobohkannya ke tanah, supaya dasarnya menjadi kelihatan; tembok kota itu akan runtuh dan kamu akan tewas di dalamnya. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN. Begitulah Aku akan melampiaskan amarahKu atas tembok itu dan kepada mereka yang mengapurnya dan Aku akan berkata kepadamu: Lenyap temboknya dan lenyap orang-orang yang mengapurnya.

 

Catatan: yang saya garis-bawahi merupakan kiasannya, sedangkan yang saya cetak miring merupakan arti / penerapannya.

 

4)   Maz 80:9-16.

 

5)   1Kor 3:10-15.

 

6)   1Kor 5:6-8.

 

7)   Ef 6:11-17.

 

C) Menafsirkan allegory.

 

Arti dari Allegory sudah ada pada Allegory itu sendiri. Memang kadang-kadang artinya tidak diberikan secara explicit, tetapi seluruh bagian itu bisa menunjukkan arti yang benar secara implicit.

 

Arti yang sudah ada ini tidak boleh diubah!

 

D) Beberapa hal penting berhubungan dengan Allegory.

 

1)   Kitab Wahyu bukan Allegory karena tidak memberikan arti.

 

2)   Suatu historical narrative (cerita sejarah) tidak boleh diallegorikan!

 

3)   Type berbeda dengan Allegory.

 

Contoh Type: ular tembaga (Bil 21:4-9  Yoh 3:14-15).

 

Tentang Type ini kita akan membahasnya dalam pelajaran yang akan datang.

 

4)   Kitab Kidung Agung banyak diperdebatkan. Banyak orang yang menganggap kitab ini sebagai suatu Allegory yang menggambarkan percintaan antara Kristus dengan orang percaya. Tetapi Kidung Agung tidak memberikan arti. Jadi saya condong untuk mengambil kesimpulan bahwa Kidung Agung bukanlah suatu Allegory.

 

-o0o-


email us at : gkri_exodus@lycos.com