Make your own free website on Tripod.com
Otak Sebagai Saksi di Akhirat

Prof. DR. H. Rusdi Lamsudin*

Otak menguasai, mengendalikan, dan mencatat seluruh kegiatan manusia, seperti: gerakan seluruh bagian tubuh, pancaindera, perencanaan, peran intelektual tinggi (berbicara, belajar, menulis, membaca, dan berfikir).

Setiap fungsi kegiatan tersebut mempunyai kawasan sendiri-sendiri.
Setiap kegiatan yang dilakukan manusia meninggalkan bekas dalam sel otak.
Bekas-bekas ini belum terungkap dengan jelas oleh ilmu pengetahuan.
Bekas-bekas yang tersimpan dalam otak inilah yang menjadi proses intelektual tinggi manusia.

Menarik untuk disimak hipotesis yang diajukan oleh Dr. Muhammad Ustman Najati (1982) dalam bukunya: “Al quran wa ilmu al nafs”, yang diterjemahkan oleh Ahmad Rofi’ Usmani (1985).

Dia menyatakan bahwa kelak di akhirat, otak akan berperan sebagai saksi atas segala perbuatan manusia di dunia.

Al quran telah menyatakan dengan jelas bahwa pendengaran, penglihatan, dan kulit/perasa (Q.S. 41: 19-21), lidah, tangan, dan kaki (Q.S. 24: 24 dan Q.S. 36: 65) akan menjadi saksi atas segala perbuatan kita di dunia.

Oleh karena segala perbuatan kita tercatat dalam sel-sel otak, maka adalah mungkin bisa berbunyi dan menyatakan semua apa yang dicatatnya, seperti tape recorder atau compact disk.

Allah-lah yang menjadikan semuanya itu, dan Allah-lah yang maha tahu bagaimana persaksian itu.
Kita kaji firman-firman Allah (Q.S. 17: 13-14; Q.S. 39: 69; Q.S. 18: 49} bahwa ada satu kitab yang terbuka , buku perhitungan, kitab yang berisi tulisan segala perbuatan setiap manusia yang diperlihatkan kelak di akhirat.

Kita tidak mengetahui apa bentuk kitab tersebut, Allah-lah yang maha tahu.
Dengan hitungan trilliunan sel-sel syaraf, entah berapa juta gigabit dapat mencatat semua kegiatan manusia.

Kalau dihamparkan lapisan-lapisan otak yang berlipat-lipat itu, diperkirakan luasnya sekitar 16 meter persegi.

Apakah hamparan otak ini yang dikatakan Allah sebagai buku tersebut, Allah-lah yang maha tahu.
Melihat fakta ini kita mestinya menjadi ingat dan sadar bahwa segala perbuatan kita yang baik, yang buruk akan tercatat, bahkan berupa niat saja tetap akan tercatat di sel-sel saraf otak tersebut.

* Guru besar neurologi, Fak. Kedokteran U.G.M. Tulisan ini pernah dimuat dalam kolom Hikmah hr. Republika 21-10-1994 dan dikutip dengan izin dari penulis artikel.

CUKUPI GIZI DAN PELIHARALAH OTAK AGAR RASO - PARESO BERFUNGSI

Raso dan pareso dikelola otak
Sebelah kiri dan sebelah kanan
Makanya otak jangan dirusak
Dengan kotoran bahan makanan

Menurut ilmu Palang Merah
Dalam darah bermukim nyawa
Sari makanan pembentuk darah
Kotor makanan, cemarlah jiwa

Sering mabuk digotong pulang
Itulah akibat perbuatan tolol
Raso dan pareso telah hilang
Karena otak diracuni alkohol

Ibarat kotoran di kepala udang
Perumpamaan otak orang yang sesat
Narkoba dinikmati sambil berdendang
Berbuat dosa terasa nikmat

Otak kanan sedang rusak
Seperti nasi keadaannya basi
Pada manusia yang tidak bijak
Tandanya raso belum berfungsi

Seumpama emas bermutu suasa
Itulah otak yang sudah tercemar
Dialah orang tak punya rasa
Tidak sopan, bicaranya kasar

Karena di otak ada borok
Raso dan pareso sedang kacau
Senang berucap kata jorok
Lawan bicara menjadi risau

Agar keinginan tak hanya khayal
Jagalah otak jangan binasa
Raso pareso orang normal
Adalah bekal sepanjang masa

Jangan dianggap masalah remeh
Ketika manusia disuruh memilih
Amal salah atau amal saleh
Fungsikan otak secara jernih

Raso dan pareso jangan dirusak
Dengan makanan mengandung najis
Kendalikan diri dengan otak
Jangan ikuti arahan iblis

Hindari menu tak jelas asal
Meski perut terasa lapar
Periksa makanan apakah halal
Ketika membeli dari pasar

Perhatian: Ada perbedaan mendasar antara falsafah Minang dengan falsafah Materialisme Barat.
Ilmuwan Barat percaya, perasaan dikendalikan otak, sedangkan adagium Adat Minang menyebutkan Raso (perasaan) yang harus dibawa naik ke otak.
Iman yang merupakan konsep Islam, secara dialektika adalah bagian dari "raso".
Iman tak pernah ada tanpa "raso". Sedangkan "raso" tak akan diketahui tanpa kesadaran otak.
Selanjutnya otaklah yang memahami alam, melalui pancaindera yang dimiliki tubuh manusia.

Kembali ke Halaman Utama