Bolehkah Kita Merayakan Natal?

oleh: Pdt. Budi Asali M.Div.


 

7) Tidak ada perintah untuk merayakan hari kelahiran Kristus.

 

Rasul-rasul dan orang-orang kristen abad pertama tidak merayakan Natal; tidak ada Natal pada waktu itu.

 

Internet: “TIDAK ADA SATUPUN FIRMAN ALLAH ATAUPUN DENGAN PENYATAAN DI MANA ALLAH MEMERINTAHKAN KEPADA KITA UNTUK MEMPERINGATI KELAHIRAN TUHAN KITA. Tidak ada satu katapun di seluruh Perjanjian Baru, maupun di seluruh Alkitab, yang mengatakan agar supaya kita merayakan Natal. Orang-orang Kristen pada abad pertama, di bawah pengajaran Petrus, Paulus dan rasul-rasul lain, tidak pernah merayakan Natal. Paulus tidak pernah merayakan Natal. Petrus tidak pernah merayakan Natal. Yohanes tidak pernah merayakan Natal. Sesungguhnya – TIDAK ADA NATAL – pada waktu itu! Tidak ada OTORITAS untuk merayakannya”.

 

Internet: “Yesus berbicara tentang praktek-praktek kedagingan ini ketika Ia berkata, Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang diajarkan ialah perintah manusia.

Inilah sebuah kebenaran yang sederhana: apapun yang engkau lakukan guna MENGAGUNGKAN ALLAH – di mana Allah TIDAK PERNAH MEMERINTAHKANNYA atau BERADA DI DALAMNYA – maka penyembahanmu itu terhadap Allah adalah SIA-SIA! Semuanya TIDAK BERARTI!”.

 

Catatan: ayat yang dikutip dari Mat 15:8-9.

 

Mereka memberikan tambahan serangan dengan menggunakan Im 10:1-2 - “(1) Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkanNya kepada mereka. (2) Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN”.

 

Orang-orang yang anti Natal menggunakan text ini dan mengatakan bahwa Nadab dan Abihu bukan melakukan sesuatu yang dilarang oleh Tuhan, tetapi hanya melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Tuhan, dan mereka dihukum mati!

 

Jawaban saya:

 

a)  Memang Kitab Suci tidak pernah memerintahkan untuk merayakan Natal, tetapi jangan lupa bahwa Kitab Suci juga tidak pernah melarang untuk merayakan Natal. Perayaan Natal yang dilakukan oleh orang kristen memang merupakan tradisi, tetapi saya berpendapat bahwa tradisi tidak salah:

 

1.  Selama tradisi itu tidak bertentangan dengan Kitab Suci.

 

2.  Selama tradisi itu tidak kita paksakan / haruskan kepada orang-orang lain.

 

Dalam gereja ada banyak hal-hal yang tidak diperintahkan, dan hanya bersifat tradisi, misalnya:

 

·        penggunaan 12 Pengakuan Iman Rasuli dan Doa Bapa Kami dalam banyak gereja-gereja Protestan.

 

·        pendeta memakai toga; paduan suara juga demikian.

 

·        adanya salib di gereja. Siapa yang menyuruh memasang tanda salib itu? Dan bagaimana bentuk salib Yesus? Berbentuk tiang tegak saja, atau berbentuk seperti huruf X, Y, T? Atau seperti yang biasa kita kenal? Kita bahkan tidak tahu dengan pasti bagaimana bentuk salib yang digunakan terhadap Yesus! Memang ada orang-orang yang melarang adanya salib di gereja, tetapi mereka juga tidak mempunyai dasar untuk melarang, selama salib itu tidak disembah.

 

·        adanya pengedaran kantong kolekte; siapa yang memerintahkan praktek ini? Dalam Bait Allah, tidak ada hal seperti itu, karena mereka menggunakan peti persembahan, dan orang yang mau mempersembahkan, mempersembahkan ke dalam peti tersebut.

 

Bdk. Luk 21:1-2 - “(1) Ketika Yesus mengangkat mukaNya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. (2) Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu”.

 

·        doa dengan tutup mata, tunduk kepala, dan sebagainya.

 

·        sakramen dan pemberkatan pernikahan hanya boleh dilayani oleh pendeta.

 

·        upacara pemberkatan nikah di gereja.

 

·        adanya kebaktian tutup peti, kebaktian penghiburan, dan kebaktian / upacara penguburan pada saat ada orang kristen yang meninggal dunia.

 

Semua ini tidak pernah diperintahkan, tetapi juga tidak dilarang, dan tidak bertentangan dengan Kitab Suci. Saya berpendapat perayaan Natal, dan hari-hari raya Kristen yang lain juga demikian.

 

b)  Rasul-rasul juga tidak mempunyai gedung gereja, dan kita juga tidak pernah diperintahkan untuk membangun gedung gereja. Jadi, apakah adanya gedung gereja merupakan sesuatu yang salah?

 

c)  Hal ini bisa diextrimkan, misalnya dengan mengatakan: Tuhan juga tidak pernah menyuruh kita mandi, dan karena itu orang kristen tidak boleh mandi! Atau ‘makan menggunakan sendok garpu / sumpit’, ‘pakai sepatu’ ke gereja, ‘menggunakan piano / organ / band’ di gereja, dan sebagainya.

 

d)  Pembahasan tentang Mat 15:8-9.

 

Ini juga penafsiran yang ‘out of context’ / keluar dari kontextnya. Akan berbeda artinya kalau dibaca seluruhnya yaitu Mat 15:1-20 - “(1) Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: (2) ‘Mengapa murid-muridMu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.’ (3) Tetapi jawab Yesus kepada mereka: ‘Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? (4) Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. (5) Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, (6) orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri. (7) Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: (8) Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu. (9) Percuma mereka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.’ (10) Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka: (11) ‘Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.’ (12) Maka datanglah murid-muridNya dan bertanya kepadaNya: ‘Engkau tahu bahwa perkataanMu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?’ (13) Jawab Yesus: ‘Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh BapaKu yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya. (14) Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.’ (15) Lalu Petrus berkata kepadaNya: ‘Jelaskanlah perumpamaan itu kepada kami.’ (16) Jawab Yesus: ‘Kamupun masih belum dapat memahaminya? (17) Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban? (18) Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. (19) Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. (20) Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.’”.

 

Yesus menyerang orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu karena:

 

1.  Mereka menjadikan tradisi mereka sebagai suatu keharusan bagi orang lain.

 

Mat 15:1-2 - “(1) Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: (2) ‘Mengapa murid-muridMu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.’”.

 

Kata yang diterjemahkan ‘adat istiadat’ dalam Kitab Suci Indonesia itu, oleh KJV/RSV/NIV/NASB secara seragam diterjemahkan ‘tradition’ (= tradisi).

 

Pertama-tama perlu saudara ketahui, bahwa apa yang dipersoalkan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat ini, sama sekali tidak berurusan dengan kesehatan, tetapi semata-mata merupakan persoalan yang bersifat upacara. Cuci tangan yang mereka haruskan dalam ay 2 itu tidak sembarangan, tetapi harus dengan cara tertentu. Ini tidak pernah diperintahkan dalam Kitab Suci, tetapi hanya merupakan tradisi mereka, tetapi hal yang hanya merupakan tradisi ini lalu dijadikan suatu keharusan.

 

William Barclay: “to the orthodox Jew all this ritual ceremony was religion; this is what they believed, God demanded. To do these things was to please God, and to be a good man. To put it in another way, all this business of ritual washing was regarded as just as important and just as binding as the Ten Commandments themselves” (= bagi orang-orang Yahudi yang orthodox semua upacara ini adalah agama; ini adalah apa yang mereka percaya sebagai tuntutan Allah. Melakukan hal-hal ini berarti menyenangkan Allah, dan menjadi seorang yang baik. Dengan kata lain, semua urusan pembasuhan yang bersifat upacara ini dianggap sama penting dan sama mengikatnya seperti sepuluh Hukum Tuhan sendiri) - hal 115.

 

Kalau apa yang sebetulnya bukan merupakan keharusan lalu dijadikan sebagai keharusan, itu sama dengan menambahi Firman Tuhan. Dan itulah yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu. Firman Tuhan tidak pernah menyuruh orang yang mau makan untuk membasuh tangan lebih dulu. Jadi semua itu hanya tradisi, tetapi pada waktu para murid Yesus tidak melakukan hal itu, mereka menuduh para murid sebagai telah berdosa.

 

2.  Mereka menggunakan tradisi yang salah.

 

Ini secara implicit terlihat dari kata-kata Yesus dalam Mat 15:11,17-20 - “(11) ‘Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.’ ... (17) Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban? (18) Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. (19) Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. (20) Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.’”.

 

Dari kata-kata yang saya garis bawahi itu terlihat bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mengajarkan bahwa makan dengan tangan yang tidak dibasuh itu menajiskan seseorang, dan Yesus mengcounter ajaran tersebut, dan mengatakan sebaliknya.

 

3.  Mereka mengutamakan tradisi sedemikian rupa sehingga menggeser Firman Tuhan.

 

Mat 15:3-6 - “(3) Tetapi jawab Yesus kepada mereka: ‘Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? (4) Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. (5) Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, (6) orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri”.

 

Karena itulah maka Yesus lalu menegur mereka dengan keras, dan mengucapkan Mat 15:7-9 - “(7) Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: (8) Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu. (9) Percuma mereka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.’”.

 

Sekarang, cocokkah kalau text seperti ini diterapkan kepada orang-orang kristen yang merayakan Natal? Selama kita tidak menjadikan perayaan Natal itu sebagai suatu keharusan, maka saya berpendapat bahwa text ini tidak bisa dipakai untuk menyerang kita.

 

e)  Pembahasan tentang Nadab dan Abihu dengan ‘api asing’ mereka.

 

Penulis di internet itu mengatakan bahwa Nadab dan Abihu dihukum mati karena mereka memberikan api asing, dan dengan demikian mereka melakukan apa yang tidak diperintahkan oleh Tuhan. Memang dalam Im 10:1b ada kata-kata ‘yang tidak diperintahkanNya’. Tetapi mari kita membahas kontext itu beserta dengan kontext-kontext lain yang berhubungan, untuk melihat apakah Nadab dan Abihu sekedar melakukan apa yang tidak diperintahkan oleh Tuhan, atau, mereka melakukan apa yang dilarang oleh Tuhan!

 

Im 10:1-7 - “(1) Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkanNya kepada mereka. (2) Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN. (3) Berkatalah Musa kepada Harun: ‘Inilah yang difirmankan TUHAN: Kepada orang yang karib kepadaKu Kunyatakan kekudusanKu, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaanKu.’ Dan Harun berdiam diri. (4) Kemudian Musa memanggil Misael dan Elsafan, anak-anak Uziel, paman Harun, lalu berkatalah ia kepada mereka: ‘Datang ke mari, angkatlah saudara-saudaramu ini dari depan tempat kudus ke luar perkemahan.’ (5) Mereka datang, dan mengangkat mayat keduanya, masih berpakaian kemeja, ke luar perkemahan, seperti yang dikatakan Musa. (6) Kemudian berkatalah Musa kepada Harun dan kepada Eleazar dan Itamar, anak-anak Harun: ‘Janganlah kamu berkabung dan janganlah kamu berdukacita, supaya jangan kamu mati dan jangan TUHAN memurkai segenap umat ini, tetapi saudara-saudaramu, yaitu seluruh bangsa Israel, merekalah yang harus menangis karena api yang dinyalakan TUHAN itu. (7) Janganlah kamu pergi dari depan pintu Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati, karena minyak urapan TUHAN ada di atasmu.’ Mereka melakukan sesuai dengan perkataan Musa”.

 

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa dosa Nadab dan Abihu dalam menggunakan api asing ini, dilakukan persis setelah ayat terakhir dalam Im 9, yaitu Im 9:24 yang menunjukkan bahwa Tuhan sendiri yang memberikan api yang harus digunakan.

 

Im 9:24 - “Dan keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan korban bakaran dan segala lemak di atas mezbah. Tatkala seluruh bangsa itu melihatnya, bersorak-sorailah mereka, lalu sujud menyembah”.

 

Dan sebelumnya Tuhan telah memerintahkan supaya api yang telah Ia berikan itu dijaga supaya jangan sampai mati.

 

Im 6:9-13 - “(9) ‘Perintahkanlah kepada Harun dan anak-anaknya: Inilah hukum tentang korban bakaran. Korban bakaran itu haruslah tinggal di atas perapian di atas mezbah semalam-malaman sampai pagi, dan api mezbah haruslah dipelihara menyala di atasnya. (10) Imam haruslah mengenakan pakaian lenannya, dan mengenakan celana lenan untuk menutup auratnya. Lalu ia harus mengangkat abu yang ada di atas mezbah sesudah korban bakaran habis dimakan api, dan haruslah ia membuangnya di samping mezbah. (11) Kemudian haruslah ia menanggalkan pakaiannya dan mengenakan pakaian lain, lalu membawa abu itu ke luar perkemahan ke suatu tempat yang tahir. (12) Api yang di atas mezbah itu harus dijaga supaya terus menyala, jangan dibiarkan padam. Tiap-tiap pagi imam harus menaruh kayu di atas mezbah, mengatur korban bakaran di atasnya dan membakar segala lemak korban keselamatan di sana. (13) Harus dijaga supaya api tetap menyala di atas mezbah, janganlah dibiarkan padam.’”.

 

Adam Clarke tentang Im 9:24: “This celestial fire was carefully preserved among the Israelites till the time of Solomon, when it was renewed, and continued among them till the Babylonish captivity” (= Api dari surga itu harus dipelihara dengan seksama di antara bangsa Israel sampai jaman Salomo, dimana itu diperbaharui, dan dilanjutkan di antara mereka sampai pembuangan Babilonia) - hal 536.

 

Pulpit Commentary tentang Im 6: “The altar fire was never to go out, because the daily sacrifices constantly burning on the altar symbolized the unceasing worship of God by Israel, and the gracious acceptance of Israel by God” (= Api mezbah tidak pernah padam, karena korban-korban harian secara terus menerus menyala pada mezbah menyimbolkan ibadah yang tak henti-hentinya kepada Allah oleh Israel, dan penerimaan yang murah hati terhadap Israel oleh Allah) - hal 90.

 

Calvin tentang Im 6:

 

·        The intent of this perpetuity was, that the offerings should be burnt with heavenly fire; for on the day that Aaron was consecrated, the sacrifice was reduced to ashes not by human means but miraculously, in token of approbation. True that God did not choose daily to exert this power; but He interposed the hand and labour of men in such a manner that the origin of the sacred fire should still be from heaven (= Tujuan dari keabadian ini adalah supaya persembahan / korban dibakar dari api surgawi; karena pada hari Harun ditahbiskan, korban dibakar menjadi abu bukan dengan cara manusiawi tetapi secara mujizat, sebagai tanda penerimaan. Memang benar bahwa Allah tidak memilih untuk menggunakan kuasa ini setiap hari; tetapi Ia meletakkan di tengah-tengahnya tangan dan pekerjaan dari orang-orang dengan cara sedemikian rupa sehingga asal usul dari api yang keramat itu tetap dari surga) - hal 364.

 

·        in order to prevent any adulterations, He chose to have the fire continually burning on the altar day and night, nor was it allowable to take it from elsewhere (= untuk mencegah percampuran apapun, Ia memilih untuk memerintahkan supaya api itu secara terus menerus menyala di mezbah siang dan malam, juga tidak diijinkan untuk mengambilnya dari tempat lain) - hal 364.

 

·        “the purpose of God in rejecting strange fire was to retain the people in His own genuine ordinance prescribed by the Law, lest any inventions of men should insinuate themselves; for the prohibition of strange fire was tantamount to forbidding men to introduce anything of their own, or to add to the pure doctrine of the Law, or to decline from its rule” (= tujuan dari Allah dalam menolak api asing adalah untuk mempertahankan umatNya dalam peraturan / upacaraNya sendiri yang murni yang ditentukan oleh hukum Taurat, supaya jangan penemuan manusia memasukkan dirinya sendiri; karena larangan api asing sama dengan melarang orang untuk memperkenalkan apapun dari diri mereka sendiri, atau untuk menambahkan kepada ajaran hukum Taurat yang murni, atau untuk mundur dari peraturannya) - hal 365.

 

Jadi, pada waktu Nadab dan Abihu tidak menggunakan api yang Tuhan berikan itu, tetapi menggunakan api asing / api dari sumber lain, apakah mereka sekedar melakukan apa yang tidak diperintahkan oleh Tuhan? Perhatikan komentar dari para penafsir tentang Im 10 di bawah ini:

 

¨      Adam Clarke: “In the preceding chapter we have seen how ... he sent his own fire ... Here we find Aaron’s sons neglecting the Divine ordinance, and offering incense with strange, that is, common fire, - fire not of a celestial origin” (= Dalam pasal sebelumnya kita telah melihat bagaimana ... Ia mengirim apiNya sendiri ... Di sini kita mendapati bahwa anak-anak Harun mengabaikan peraturan Ilahi, dan mempersembahkan ukupan / kemenyan dengan api asing, yaitu api biasa, - api yang bukan berasal dari surga) - hal 537.

 

¨      Pulpit Commentary: “They had acted presumptuously. ... they had irreverently broken the custom, which rested upon a Divine command, of taking the fire for the altar of incense from the altar of burnt sacrifice alone. ... this offence was the transgression of a positive rather than of a moral precept, ... They ... had, with whatever good intentions, done what God had not commended, and in doing it had done what he had forbidden (= Mereka telah bertindak dengan lancang. ... dengan cara yang tidak hormat mereka merusak kebiasaan, yang didasarkan pada perintah Ilahi, tentang pengambilan api untuk mezbah ukupan dari mezbah korban bakaran saja. ... pelanggaran ini lebih merupakan pelanggaran terhadap suatu peraturan / perintah yang positif dari pada moral, ... Mereka ... dengan maksud baik apapun, telah melakukan apa yang Allah tidak perintahkan, dan dengan melakukannya mereka telah melakukan apa yang Ia larang) - hal 149.

 

¨      Calvin: “The ‘strange fire’ is distinguished from the sacred fire which was always burning upon the altar: not miraculously, as some pretend, but by the constant watchfulness of the priests. Now, God had forbidden any other fire to be used in the ordinances, in order to exclude all extraneous rites, and to shew His detestation of whatever might be derived from elsewhere. Let us learn, therefore, so to attend to God’s command as not to corrupt His worship by any strange inventions” (= ‘Api asing’ itu dibedakan dari api yang keramat yang selalu menyala di mezbah: bukan secara mujizat, seperti yang dikira oleh sebagian orang, tetapi oleh suatu penjagaan terus menerus dari para imam. Jadi, Allah telah melarang api yang lain untuk digunakan dalam upacara, supaya membuang semua upacara asing, dan untuk menunjukkan kebencianNya terhadap apapun yang bisa didapatkan dari tempat lain. Karena itu, marilah kita belajar untuk memperhatikan perintah Allah sedemikian rupa sehingga tidak merusak ibadahNya dengan penemuan-penemuan asing) - hal 431-432.

 

Dari semua pembahasan ini bisa disimpulkan bahwa pada waktu Nadab dan Abihu memberikan ‘api asing’, itu bukan berarti bahwa mereka sekedar melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Tuhan. Tuhan memberikan api secara mujizat, dan mengharuskan memelihara api itu. Secara implicit, Tuhan melarang penggunaan ‘api asing’. Karena itu sekalipun Im 10:1 mengatakan ‘mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkanNya kepada mereka’, tetapi kalau kita membandingkannya dengan text-text lain yang sudah kita lihat di atas, jelas bahwa Nadab dan Abihu tidak bisa dikatakan hanya sebagai ‘melakukan apa yang tidak diperintahkan’ oleh Tuhan, tetapi harus juga dikatakan sebagai ‘melakukan apa yang dilarang’ oleh Tuhan.

 

Jadi, menggunakan text tentang Nadab dan Abihu untuk menentang perayaan Natal, adalah sangat tidak cocok.

 

f)  Ada banyak hal yang tidak diperintahkan Tuhan, tetapi toh dilakukan, dan tidak dipersalahkan.

 

Misalnya:

 

1.  Orang Israel tidak makan daging yang menutupi sendi pangkal paha.

 

Kej 32:25,31-32 - “(25) Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. ... (31) Lalu tampaklah kepadanya matahari terbit, ketika ia telah melewati Pniel; dan Yakub pincang karena pangkal pahanya. (32) Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena Dia telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya”.

 

Barnes’ Notes: “God did not demand this ritual observance in the Mosaic law, but the descendants of Israel of their own accord instituted the practice because they recognized how extremely important this experience of Jacob was for him and for themselves” (= Allah tidak menuntut ketaatan / ibadah yang bersifat upacara ini dalam hukum Musa, tetapi keturunan dari Israel menyepakati sendiri untuk mengadakan praktek ini karena mereka menyadari betapa pentingnya pengalaman Yakub ini untuk dirinya dan untuk diri mereka sendiri) - hal 883.

 

Matthew Poole: “Not from any superstitious conceit about it, but only for a memorial of this admirable conflict, the blessed effects whereof even the future generations received” (= Bukan dari pemikiran yang bersifat takhyul tentangnya, tetapi hanya untuk suatu peringatan tentang konflik yang mengagumkan ini, tentang mana akibat-akibat yang memberkati bahkan diterima oleh generasi-generasi yang akan datang) - hal 76.

 

2.  Musa mendirikan 12 tugu peringatan tanpa adanya perintah dari Tuhan.

 

Kel 24:4 - “Lalu Musa menuliskan segala firman TUHAN itu. Keesokan harinya pagi-pagi didirikannyalah mezbah di kaki gunung itu, dengan dua belas tugu sesuai dengan kedua belas suku Israel”.

 

3.  Anak-anak perempuan Israel mempunyai tradisi untuk meratapi anak perempuan Yefta 4 hari dalam setahun, dan ini juga tidak pernah diperintahkan oleh Tuhan.

 

Hak 11:34-40 - “(34) Ketika Yefta pulang ke Mizpa ke rumahnya, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan. (35) Demi dilihatnya dia, dikoyakkannyalah bajunya, sambil berkata: ‘Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur.’ (36) Tetapi jawabnya kepadanya: ‘Bapa, jika engkau telah membuka mulutmu bernazar kepada TUHAN, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu, karena TUHAN telah mengadakan bagimu pembalasan terhadap musuhmu, yakni bani Amon itu.’ (37) Lagi katanya kepada ayahnya: ‘Hanya izinkanlah aku melakukan hal ini: berilah keluasan kepadaku dua bulan lamanya, supaya aku pergi mengembara ke pegunungan dan menangisi kegadisanku bersama-sama dengan teman-temanku.’ (38) Jawab Yefta: ‘Pergilah,’ dan ia membiarkan dia pergi dua bulan lamanya. Maka pergilah gadis itu bersama-sama dengan teman-temannya menangisi kegadisannya di pegunungan. (39) Setelah lewat kedua bulan itu, kembalilah ia kepada ayahnya, dan ayahnya melakukan kepadanya apa yang telah dinazarkannya itu; jadi gadis itu tidak pernah kenal laki-laki. Dan telah menjadi adat di Israel, (40) bahwa dari tahun ke tahun anak-anak perempuan orang Israel selama empat hari setahun meratapi anak perempuan Yefta, orang Gilead itu.

 

4.  Samuel mengambil batu sebagai suatu peringatan tentang penyertaan Tuhan, dan menamainya Eben-Haezer.

 

1Sam 7:12 - “Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: ‘Sampai di sini TUHAN menolong kita.’”.

 

Siapa yang memerintahkan Samuel untuk melakukan hal itu? Tidak ada. Dan apakah Tuhan mempersalahkannya atas hal itu? Sama sekali tidak!

 

5.  Suku Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye, mendirikan mezbah sebagai saksi / peringatan, tanpa perintah dari Tuhan. Ini menyebabkan sisa Israel yang lain marah dan mau memerangi mereka, karena mengira bahwa 2 ½ suku itu memberontak terhadap Tuhan. Memang sebetulnya 2 ½ suku itu juga mempunyai kesalahan, yaitu karena mereka tidak memberitahu lebih dulu tentang hal itu kepada suku-suku yang lain, sehingga muncul kecurigaan yang memang cukup beralasan. Tetapi setelah mereka menjelaskan apa tujuan mezbah itu, suku-suku yang lain menganggap hal itu baik, dan membatalkan rencana mereka untuk memerangi 2 ½ suku itu.

 

Yos 22:9-34 - “(9) Maka pulanglah bani Ruben, bani Gad dan suku Manasye yang setengah itu dan mereka pergi meninggalkan orang Israel, keluar dari Silo di tanah Kanaan untuk pergi ke tanah Gilead, tanah milik mereka yang didiami mereka sesuai dengan titah TUHAN dengan perantaraan Musa. (10) Ketika mereka sampai ke Gelilot pada sungai Yordan, yang di tanah Kanaan, maka bani Ruben, bani Gad dan suku Manasye yang setengah itu mendirikan mezbah di sana di tepi sungai Yordan, mezbah yang besar bangunannya. (11) Lalu terdengarlah oleh orang Israel itu cakap orang: ‘Telah didirikan mezbah oleh bani Ruben, bani Gad dan suku Manasye yang setengah itu, mezbah menghadap ke tanah Kanaan, di Gelilot pada sungai Yordan, di sebelah wilayah orang Israel.’ (12) Ketika hal itu terdengar oleh orang Israel, berkumpullah segenap umat Israel di Silo, untuk maju memerangi mereka. (13) Kemudian orang Israel mengutus kepada bani Ruben, kepada bani Gad dan kepada suku Manasye yang setengah itu, ke tanah Gilead, imam Pinehas bin Eleazar, (14) dan bersama-sama dengan dia sepuluh pemimpin, yakni seorang pemimpin kaum keluarga sebagai wakil tiap-tiap suku Israel. Masing-masing mereka itu kepala kaum keluarganya di antara kaum-kaum orang Israel. (15) Setelah mereka sampai kepada bani Ruben, kepada bani Gad dan kepada suku Manasye yang setengah itu di tanah Gilead, berkatalah mereka kepada orang-orang itu, demikian: (16) ‘Beginilah kata segenap umat TUHAN: Apa macam perbuatanmu yang tidak setia ini terhadap Allah Israel, dengan sekarang berbalik dari pada TUHAN dan mendirikan mezbah bagimu, dengan demikian memberontak terhadap TUHAN pada hari ini? (17) Belum cukupkah bagi kita noda yang di Peor itu, yang dari padanya kita belum mentahirkan diri sampai hari ini dan yang menyebabkan umat TUHAN kena tulah, (18) sehingga kamu berbalik pula sekarang ini membelakangi TUHAN? Jika kamu hari ini memberontak terhadap TUHAN, maka besok Ia akan murka kepada segenap umat Israel. (19) Akan tetapi, jika sekiranya tanah milikmu itu najis, marilah menyeberang ke tanah milik TUHAN, tempat kedudukan Kemah Suci TUHAN, dan menetaplah di tengah-tengah kami. Tetapi janganlah memberontak terhadap TUHAN dan janganlah memberontak terhadap kami, dengan mendirikan mezbah bagimu sendiri, selain dari mezbah TUHAN, Allah kita. (20) Ketika Akhan bin Zerah berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan, bukankah segenap umat Israel kena murka? Bukan orang itu saja yang mati karena dosanya.’ (21) Lalu jawab bani Ruben, bani Gad dan suku Manasye yang setengah itu, katanya kepada para kepala kaum-kaum orang Israel: (22) ‘Allah segala allah, TUHAN, Allah segala allah, TUHAN, Dialah yang mengetahui, dan patutlah orang Israel mengetahuinya juga! Jika sekiranya hal ini terjadi dengan maksud memberontak atau dengan maksud berubah setia terhadap TUHAN - biarlah jangan TUHAN selamatkan kami pada hari ini. (23) Jika sekiranya kami mendirikan mezbah untuk berbalik dari pada TUHAN, untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban sajian di atasnya serta korban keselamatan di atasnya, biarlah TUHAN sendiri yang menuntut balas terhadap kami. (24) Tetapi sesungguhnya, kami telah melakukannya karena cemas. Sebab pikir kami: Di kemudian hari anak-anak kamu mungkin berkata kepada anak-anak kami, demikian: Apakah sangkut pautmu dengan TUHAN, Allah Israel? (25) Bukankah TUHAN telah menentukan sungai Yordan sebagai batas antara kami dan kamu, hai orang bani Ruben dan bani Gad! Kamu tidak mempunyai bagian akan TUHAN. Demikianlah mungkin anak-anak kamu membuat anak-anak kami berhenti dari pada takut akan TUHAN. (26) Sebab itu kata kami: Biarlah kita mendirikan mezbah itu bagi kita! Bukanlah untuk korban bakaran dan bukanlah untuk korban sembelihan, (27) tetapi supaya mezbah itu menjadi saksi antara kami dan kamu, dan antara keturunan kita kemudian, bahwa kami tetap beribadah kepada TUHAN di hadapanNya dengan korban bakaran, korban sembelihan dan korban keselamatan kami. Jadi tidaklah mungkin anak-anak kamu di kemudian hari berkata kepada anak-anak kami: Kamu tidak mempunyai bagian pada TUHAN. (28) Lagi kata kami: Apabila di kemudian hari demikian dikatakan mereka kepada kita dan kepada keturunan kita, maka kita akan berkata: Tengoklah bangunan tiruan mezbah TUHAN itu, yang telah dibuat oleh nenek moyang kami. Bukan untuk korban bakaran dan bukan untuk korban sembelihan, tetapi mezbah itu menjadi saksi antara kami dan kamu. (29) Jauhlah dari pada kami untuk memberontak terhadap TUHAN, dan untuk berbalik dari pada TUHAN pada hari ini dengan mendirikan mezbah untuk korban bakaran, korban sajian atau korban sembelihan, mezbah yang bukan mezbah TUHAN, Allah kita, yang ada di depan Kemah SuciNya!’ (30) Setelah imam Pinehas dan para pemimpin umat serta para kepala kaum-kaum orang Israel yang bersama-sama dengan dia, mendengar perkataan yang dikatakan oleh bani Ruben, bani Gad dan bani Manasye itu, maka mereka menganggap hal itu baik. (31) Kemudian berkatalah imam Pinehas bin Eleazar kepada bani Ruben, bani Gad dan bani Manasye: ‘Sekarang tahulah kami bahwa TUHAN ada di tengah-tengah kita, sebab tidaklah kamu berubah setia terhadap TUHAN. Dengan demikian kamu telah melepaskan orang Israel dari hukuman TUHAN.’ (32) Sesudah itu imam Pinehas bin Eleazar serta para pemimpin itu meninggalkan bani Ruben dan bani Gad di tanah Gilead, pulang ke Kanaan kepada orang Israel, lalu disampaikanlah berita itu kepada mereka. (33) Hal itu dipandang baik oleh orang Israel, sehingga orang Israel memuji Allah dan tidak lagi berkata hendak maju memerangi mereka untuk memusnahkan negeri yang didiami bani Ruben dan bani Gad itu. (34) Dan bani Ruben dan bani Gad menamai mezbah itu: Saksi, karena inilah saksi antara kita, bahwa TUHAN itulah Allah.

 

Kalau ada orang-orang yang anti Natal yang membaca text ini, semoga merekapun berhenti memerangi kita yang pro pada perayaan Natal! Kalau sudah dijelaskanpun mereka tetap ingin ‘memerangi’ kita, itu menunjukkan kebrengsekan mereka, yang tidak mempunyai jiwa persatuan seperti suku-suku lain dalam cerita ini!

 

6.  Salomo mengadakan perayaan pentahbisan mezbah selama 7 hari; dan sepanjang yang saya ketahui dari Kitab Suci, tidak ada perintah Tuhan untuk hal itu.

 

2Taw 7:9 - “Pada hari yang kedelapan mereka mengadakan perkumpulan raya, karena mereka telah merayakan pentahbisan mezbah selama tujuh hari, dan perayaan Pondok Daun selama tujuh hari”.

 

7.  Perayaan hari-hari raya tertentu, seperti Purim, hari raya pentahbisan Bait Suci, dsb.

 

Alfred Edersheim: “Besides the festivals mentioned in the Law of Moses, other festive seasons were also observed at the time of our Lord, to perpetuate the memory either of great national deliverances or of great national calamities” (= Selain hari-hari raya yang disebutkan dalam hukum Musa, waktu-waktu untuk hari raya yang lain juga dijalankan pada jaman Tuhan kita, untuk mengabadikan ingatan terhadap pembebasan-pembebasan nasional yang besar atau bencana-bencana nasional yang besar) - ‘The Temple’, hal 330.

 

Alfred Edersheim: “these feasts ... of human, not Divine institution” (= hari-hari raya ini ... merupakan sesuatu yang didirikan oleh manusia, bukan oleh Allah) - ‘The Temple, hal 330,331.

 

Alfred Edersheim: “Besides the Mosaic festivals, the Jews celebrated at the time of Christ two other feasts - that of Esther, or Purim, and that of the Dedication of the Temple, on its restoration by Judas Maccabee” (= Disamping hari-hari raya dari hukum Musa, orang-orang Yahudi merayakan pada jaman Kristus dua hari raya yang lain - hari raya dari Ester, atau Purim, dan hari raya Pentahbisan Bait Suci, pada pemulihannya oleh Yudas Makabeus) - ‘The Temple’, hal 197.

 

Catatan: Jadi, pada jaman Tuhan Yesus hidup dan melayani dalam dunia ini, dalam kalangan orang-orang Yahudi ada perayaan-perayaan dari hari-hari raja yang tidak diperintahkan dalam kitab Musa / Perjanjian Lama. Tetapi anehnya, Tuhan Yesus tidak bersikap seperti orang-orang yang anti Natal ini. Tuhan Yesus tidak pernah mencela perayaan dari hari-hari raya yang tidak diperintahkan dalam Kitab Suci itu.

 

Merrill C. Tenney: “Two other feasts were added later in post-exilic times: the Feast of Lights and the Feast of Purim. ... The Feast of Lights or the Feast of Dedication was observed for eight days beginning with the twenty-fifth of Kislev. It is mentioned in John 10:22. It was first established in 164 B.C. when Judas Maccabeus cleansed the temple, which had been profaned by Antiochus Epiphanes, and rededicated it to the service of God. Every Jewish home was brilliantly lighted in its honor and the stories of the Maccabees were repeated for the benefit of the children. It corresponds almost exactly in time to the Christian Christmas. ... The Feast of Purim. Purim, or ‘lots,’ as the word signifies, was kept on the fourteenth and fifteenth days of Adar. On the evening of the thirteenth day the whole of the book of Esther was read publicly in the synagogue. It contained a minimum of religious observances and was rather a national holiday, corresponding somewhat to the Fourth of July as Americans used to celebrate it. It is not mentioned in the New Testament, unless John 5:1 is an allusion to it” (= Dua hari raya ditambahkan belakangan pada jaman setelah pembuangan: Hari Raya Terang dan Hari Raya Purim. ... Hari Raya Terang atau Hari Pentahbisan dijalankan / diperhatikan untuk 8 hari mulai bulan Kislev tanggal 25. Itu disebutkan dalam Yoh 10:22. Itu pertama-tama ditetapkan pada tahun 164 S. M. pada saat Yudas Makabeus membersihkan Bait Suci, yang telah dinodai oleh Antiokhus Epiphanes, dan mempersembahkannya kembali bagi pelayanan Allah. Setiap rumah Yahudi diterangi secara gemerlapan untuk menghormatinya dan cerita-cerita tentang Makabeus diulang untuk kepentingan anak-anak. Itu hampir bersamaan dengan Natalnya orang kristen. ... Hari Raya Purim. Purim, atau ‘undi’, seperti arti dari kata itu, dipelihara pada tanggal 14 dan 15 dari bulan Adar. Pada malam hari dari tanggal 13 seluruh kitab Ester dibacakan di depan umum dalam synagogue. Ini mengandung ibadat agama yang minimum dan lebih merupakan hari libur nasional, agak mirip dengan tanggal 4 Juli sebagaimana orang-orang Amerika merayakannya. Itu tidak disebutkan dalam Perjanjian Baru, kecuali kalau Yoh 5:1 dianggap menunjuk kepada hari itu) - ‘New Testament Survey’, hal 98-99.

 

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Jewish Holidays’: “Purim (Feast of Lots) and Hanukka (Feast of Dedication), while not mentioned in the Torah (and therefore of lesser solemnity), were instituted by Jewish authorities in the Persian and Greco-Roman periods” [= Purim (Hari Raya Undian) dan Hanukka (Hari Raya Pentahbisan), sementara tidak disebutkan dalam hukum Taurat (dan karena itu mempunyai kekhidmatan yang agak kurang), didirikan oleh otorita-otoritas Yahudi pada jaman Persia dan Romawi-Yunani].

 

a.  Purim.

 

Dalam 2Makabe 15:36 disebut hari Mordekhai.

 

Ester 9:1-32 - “(1) Dalam bulan yang kedua belas - yakni bulan Adar - , pada hari yang ketiga belas, ketika titah serta undang-undang raja akan dilaksanakan, pada hari musuh-musuh orang Yahudi berharap mengalahkan orang Yahudi, terjadilah yang sebaliknya: orang Yahudi mengalahkan pembenci-pembenci mereka. (2) Maka berkumpullah orang Yahudi di dalam kota-kotanya di seluruh daerah raja Ahasyweros, untuk membunuh orang-orang yang berikhtiar mencelakakan mereka, dan tiada seorangpun tahan menghadapi mereka, karena ketakutan kepada orang Yahudi telah menimpa segala bangsa itu. (3) Dan semua pembesar daerah dan wakil pemerintahan dan bupati serta pejabat kerajaan menyokong orang Yahudi, karena ketakutan kepada Mordekhai telah menimpa mereka. (4) Sebab Mordekhai besar kekuasaannya di dalam istana raja dan tersiarlah berita tentang dia ke segenap daerah, karena Mordekhai itu bertambah-tambah besar kekuasaannya. (5) Maka orang Yahudi mengalahkan semua musuhnya: mereka memukulnya dengan pedang, membunuh dan membinasakannya; mereka berbuat sekehendak hatinya terhadap pembenci-pembenci mereka. (6) Di dalam benteng Susan saja orang Yahudi membunuh dan membinasakan lima ratus orang. (7) Juga Parsandata, Dalfon, Aspata, (8) Porata, Adalya, Aridata, (9) Parmasta, Arisai, Aridai dan Waizata, (10) kesepuluh anak laki-laki Haman bin Hamedata, seteru orang Yahudi, dibunuh oleh mereka, tetapi kepada barang rampasan tidaklah mereka mengulurkan tangan. (11) Pada hari itu juga jumlah orang-orang yang terbunuh di dalam benteng Susan disampaikan ke hadapan raja. (12) Lalu titah raja kepada Ester, sang ratu: ‘Di dalam benteng Susan saja orang Yahudi telah membunuh dan membinasakan lima ratus orang beserta kesepuluh anak Haman. Di daerah-daerah kerajaan yang lain, entahlah apa yang diperbuat mereka. Dan apakah permintaanmu sekarang? Niscaya akan dikabulkan. Dan apakah keinginanmu lagi? Niscaya dipenuhi.’ (13) Lalu jawab Ester: ‘Jikalau baik pada pemandangan raja, diizinkanlah kiranya kepada orang Yahudi yang di Susan untuk berbuat besokpun sesuai dengan undang-undang untuk hari ini, dan kesepuluh anak Haman itu hendaklah disulakan pada tiang.’ (14) Rajapun menitahkan berbuat demikian; maka undang-undang itu dikeluarkan di Susan dan kesepuluh anak Haman disulakan orang. (15) Jadi berkumpullah orang Yahudi yang di Susan pada hari yang keempat belas bulan Adar juga dan dibunuhnyalah di Susan tiga ratus orang, tetapi kepada barang rampasan tidaklah mereka mengulurkan tangan. (16) Orang Yahudi yang lain, yang ada di dalam daerah kerajaan, berkumpul dan mempertahankan nyawanya serta mendapat keamanan terhadap musuhnya; mereka membunuh tujuh puluh lima ribu orang di antara pembenci-pembenci mereka, tetapi kepada barang rampasan tidaklah mereka mengulurkan tangan. (17) Hal itu terjadi pada hari yang ketiga belas dalam bulan Adar. Pada hari yang keempat belas berhentilah mereka dan hari itu dijadikan mereka hari perjamuan dan sukacita. (18) Akan tetapi orang Yahudi yang di Susan berkumpul, baik pada hari yang ketiga belas, baik pada hari yang keempat belas dalam bulan itu. Lalu berhentilah mereka pada hari yang kelima belas dan hari itu dijadikan mereka hari perjamuan dan sukacita. (19) Oleh sebab itu orang Yahudi yang di pedusunan, yakni yang diam di perkampungan merayakan hari yang keempat belas bulan Adar itu sebagai hari sukacita dan hari perjamuan, dan sebagai hari gembira untuk antar-mengantar makanan. (20) Maka Mordekhai menuliskan peristiwa itu, lalu mengirimkan surat-surat kepada semua orang Yahudi di seluruh daerah raja Ahasyweros, baik yang dekat baik yang jauh, (21) untuk mewajibkan mereka, supaya tiap-tiap tahun merayakan hari yang keempat belas dan yang kelima belas bulan Adar, (22) karena pada hari-hari itulah orang Yahudi mendapat keamanan terhadap musuhnya dan dalam bulan itulah dukacita mereka berubah menjadi sukacita dan hari perkabungan menjadi hari gembira, dan supaya menjadikan hari-hari itu hari perjamuan dan sukacita dan hari untuk antar-mengantar makanan dan untuk bersedekah kepada orang-orang miskin. (23) Maka orang Yahudi menerima sebagai ketetapan apa yang sudah dimulai mereka melakukannya dan apa yang ditulis Mordekhai kepada mereka. (24) Sesungguhnya Haman bin Hamedata, orang Agag, seteru semua orang Yahudi itu, telah merancangkan hendak membinasakan orang Yahudi dan diapun telah membuang pur - yakni undi - untuk menghancurkan dan membinasakan mereka, (25) akan tetapi ketika hal itu disampaikan ke hadapan raja, maka dititahkannyalah dengan surat, supaya rancangan jahat yang dibuat Haman terhadap orang Yahudi itu dibalikkan ke atas kepalanya. Maka Haman beserta anak-anaknya disulakan pada tiang. (26) Oleh sebab itulah hari-hari itu disebut Purim, menurut kata pur. Oleh sebab itu jugalah, yakni karena seluruh isi surat itu dan karena apa yang dilihat mereka mengenai hal itu dan apa yang dialami mereka, (27) orang Yahudi menerima sebagai kewajiban dan sebagai ketetapan bagi dirinya sendiri dan keturunannya dan bagi sekalian orang yang akan bergabung dengan mereka, bahwa mereka tidak akan melampaui merayakan kedua hari itu tiap-tiap tahun, menurut yang dituliskan tentang itu dan pada waktu yang ditentukan, (28) dan bahwa hari-hari itu akan diperingati dan dirayakan di dalam tiap-tiap angkatan, di dalam tiap-tiap kaum, di tiap-tiap daerah, di tiap-tiap kota, sehingga hari-hari Purim itu tidak akan lenyap dari tengah-tengah orang Yahudi dan peringatannya tidak akan berakhir dari antara keturunan mereka. (29)  Lalu Ester, sang ratu, anak Abihail, menulis surat, bersama-sama dengan Mordekhai, orang Yahudi itu; surat yang kedua tentang hari raya Purim ini dituliskannya dengan segala ketegasan untuk menguatkannya. (30) Lalu dikirimkanlah surat-surat kepada semua orang Yahudi di dalam keseratus dua puluh tujuh daerah kerajaan Ahasyweros, dengan kata-kata salam dan setia, (31) supaya hari-hari Purim itu dirayakan pada waktu yang ditentukan, seperti yang diwajibkan kepada mereka oleh Mordekhai, orang Yahudi itu, dan oleh Ester, sang ratu, dan seperti yang diwajibkan mereka kepada dirinya sendiri serta keturunan mereka, mengenai hal berpuasa dan meratap-ratap. (32) Demikianlah perintah Ester menetapkan perihal Purim itu, kemudian dituliskan di dalam kitab”.

 

Text ini menunjukkan bahwa Purim diharuskan / diwajibkan. Perintah itu diberikan oleh Mordekhai dan Ester, dan tidak pernah diberikan oleh Tuhan! Salah satu hal yang mereka lakukan selain bergembira adalah saling mengirimkan makanan (ay 19).

 

KJV: ‘sending portions’ (= mengirimkan bagian-bagian).

 

RSV: ‘send choice portions’ (= mengirimkan bagian-bagian pilihan).

 

NIV: ‘giving presents’ (= memberikan hadiah-hadiah).

 

NASB: ‘sending portions of food’ (= mengirimkan bagian-bagian makanan).

 

Dalam komentarnya tentang Ester 9:31, Adam Clarke berkata:

“‘As they had decreed for themselves and for their seed’. There is no mention of their receiving the approbation of any high priest, nor of any authority beyond that of Mordecai and Esther; the king could not join in such a business, as he had nothing to do with the Jewish religion, that not being the religion of the country” (= ‘Seperti yang diwajibkan mereka kepada dirinya sendiri serta keturunan mereka’. Tidak disebutkan bahwa mereka menerima persetujuan dari imam besar manapun, ataupun dari otoritas di atas Mordekhai dan Ester; raja tidak bisa ikut dalam urusan seperti itu, karena ia tidak mempunyai urusan dengan agama Yahudi, karena itu bukan agama negerinya) - hal 827.

 

Pulpit Commentary: “In modern times the Jews keep up the practice, and on the 15th of Adar both interchange gifts, chiefly sweetmeats, and make liberal offering for the poor (comp. ver. 22, ad fin.)” [= Dalam jaman modern orang-orang Yahudi mempertahankan praktek ini, dan pada tanggal 15 bulan Adar mereka saling tukar menukar hadiah, yang terutama daging manis, dan memberikan persembahan yang murah hati kepada orang-orang miskin (bdk. ay 22 bagian akhir)] - hal 158.

 

Pulpit Commentary: “The universal adoption of the Purim feast by the Jewish nation, originating as it did at Susa, among the Persian Jews, ... Mordecai had no ecclesiastical authority; and it might have been expected that the Jews of Jerusalem would have demurred to the imposition of a fresh religious obligation upon them by a Jew of the Dispersion, who was neither a prophet, nor a priest, not even a Levite. ... But Joiakim, the high priest of the time (Neh. 12:10-12), ... must have given his approval to the feast from the first, and have adopted it into the ceremonial of the nation, or it would scarcely have become universal. Hooker ... rightly makes the establishment of the feast an argument in favour of the Church’s power to prescribe festival days; and it must certainly have been by ecclesiastical, and not by civil, command that it became obligatory” [= Penerimaan secara universal terhadap Hari Raya Purim oleh bangsa Yahudi, berasal mula di Susa, di antara orang-orang Yahudi Persia, ... Mordekhai tidak mempunyai otoritas kegerejaan; dan bisa diharapkan bahwa orang-orang Yahudi Yerusalem akan keberatan pada pembebanan suatu kewajiban agama yang baru kepada mereka oleh seorang Yahudi yang sedang tersebar, yang bukan seorang nabi, atau imam, dan bahkan bukan seorang Lewi. ... Tetapi Yoyakim, sang imam besar pada saat itu (Neh 12:10-12, ... pasti memberikan persetujuannya terhadap hari raya itu dari semula, dan telah mengadopsinya ke dalam upacara bangsa itu, atau itu tidak mungkin bisa bersifat universal. Hooker ... secara benar membuat peneguhan dari hari raya ini suatu argumentasi yang mendukung kuasa Gereja untuk menentukan hari-hari raya; dan itu haruslah oleh perintah gereja, dan bukan perintah pemerintah, sehingga itu menjadi suatu yang bersifat wajib)] - hal 158-159.

 

Pulpit Commentary: “Other Jewish festivals, as the passover and tabernacles, were instituted by express Divine authority. The feast of Purim was instituted by the authority of Mordecai and Esther. Yet its observance was undoubtedly sanctioned by the God whose merciful interposition it commemorated” (= Hari-hari raya Yahudi yang lain, seperti Paskah dan Pondok Daun, ditetapkan oleh otoritas Ilahi yang explicit. Pesta Purim ditetapkan oleh otoritas dari Mordekhai dan Ester. Tetapi pemeliharaannya tidak diragukan didukung oleh Allah yang campur tanganNya yang penuh belas kasihan diperingati oleh hari itu) - hal 160.

 

Pulpit Commentary: “the observances consisting of a preliminary fast; and of a sacred assembly in the synagogue, when the Megillah (or roll) of the Book of Esther, is unfolded and solemnly read aloud; and of a repast at home, followed by merry-making, and the sending of presents” (= Perayaan / peringatannya terdiri dari suatu puasa pendahuluan; dan suatu pertemuan kudus dalam sinagog, dimana gulungan kitab Ester dibuka dan dibaca dengan khidmat; dan suatu jamuan makan di rumah, diikuti dengan acara suka ria dan pengiriman hadiah-hadiah) - hal 160.

 

Tentang Ester 9:28b - “sehingga hari-hari Purim itu tidak akan lenyap dari tengah-tengah orang Yahudi dan peringatannya tidak akan berakhir dari antara keturunan mereka”, Pulpit Commentary berkata:

“As a commemoration of human, and not of Divine, appointment, the feast of Purim was liable to abrogation or discontinuance. The Jews of that time resolved that the observance should be perpetual; and in point of fact the feast has continued up to the present date” (= Sebagai suatu peringatan oleh penetapan manusia, dan bukan penetapan Ilahi, hari raya Purim bisa dihapuskan atau tidak dilanjutkan. Orang-orang Yahudi pada jaman itu memutuskan bahwa pemeliharaan hari itu harus kekal; dan dalam faktanya hari raya itu berlanjut sampai saat ini) - hal 159.

 

W. N. McElrath & Billy Mathias: “Purim. Hari raya bangsa Yahudi untuk memperingati kemenangan Ester dan Mordekhai atas komplotan jahat Haman (Ester 9:23-26). Pesta itu agak luar biasa di antara hari-hari raya bangsa Yahudi, karena dirayakan dengan penuh sukacita dan keramaian. Kisah Ester dipentaskan pula dengan cukup keriangan” - ‘Ensiklopedia Alkitab Praktis’, hal 117.

 

Alfred Edersheim: “Purim was never more than a popular festival. As such it was kept with great merriment and rejoicing, when friends and relations were wont to send presents to each other (= Purim tidak pernah lebih dari suatu pesta / perayaan yang populer. Sebagai pesta / perayaan populer itu dipelihara dengan keriangan dan sukacita yang besar, pada waktu teman-teman dan famili biasa mengirimkan hadiah satu sama lain) - ‘The Temple’, hal 331.

 

Alfred Edersheim: “the religious observances of Purim commenced with a fast” (= Pemeliharaan Purim secara agamawi dimulai dengan suatu puasa) - ‘The Temple, hal 332.

 

Alfred Edersheim: in such synagogues the Megillah, or at least the principal portions of it, was read on the previous Thursday. It was also allowed to read the Book of Esther in any language other than Hebrew, ... The prayers for the occasion now used in the synagogue, ... ” (= dalam synagogue-synagogue seperti itu Megillah, atau setidaknya bagian-bagian utama darinya, dibacakan pada hari Kamis sebelumnya. Juga diijinkan untuk membaca kitab Ester dalam bahasa apapun selain Ibrani, ... Doa-doa untuk peristiwa itu yang sekarang digunakan di synagogue, ...) - ‘The Temple, hal 333.

 

Alfred Edersheim: “According to the testimony of Josephus, in his time ‘all the Jews that are in the habitable earth’ kept ‘these days festivals,’ and sent ‘portions to one another.’. In our own days, though the synagogue has prescribed for them special prayers and portions of Scripture, they are chiefly marked by boisterous and uproarious merrymaking, even beyond the limits of propriety” (= Menurut kesaksian dari Josephus, pada jamannya ‘semua orang Yahudi yang ada di bagian bumi yang bisa dihuni’ memelihara ‘hari-hari pesta / perayaan ini’, dan mengirimkan ‘bagian dari makanan satu sama lain’. Pada jaman kita, sekalipun sinagog telah menentukan untuk hari-hari itu doa-doa khusus dan bagian-bagian Kitab Suci, hari-hari itu terutama ditandai oleh tindakan bersenang-senang yang riuh dan hiruk pikuk, bahkan melampaui batasan kepantasan) - ‘The Temple, hal 333.

 

Catatan: bagian-bagian yang saya garis bawahi dari 3 kutipan terakhir dari Edersheim itu menunjukkan bahwa hari raya Purim itu, sekalipun tidak diperintahkan oleh Allah, dirayakan dalam sinagog, yang bisa disamakan dengan gereja pada jaman sekarang.

 

Seorang penulis yang anti Natal mengatakan di internet sebagai berikut:

 

·        “There is almost no resemblance between Christmas and Purim. Purim consists of two days of thanksgiving. The events of Purim are: ‘joy and gladness, a feast and a good day. . . and of sending portions one to another, and gifts to the poor’ (Est. 8:17; 9:22). There was no worship service. There were no levitical priestly activities. There were no ceremonies. The two days of Purim have much more in common with Thanksgiving and it’s dinners than Christmas. Purim is certainly no justification for Christmas services [= Hampir tidak ada persamaan antara Natal dan Purim. Purim terdiri dari 2 hari pengucapan syukur. Peristiwa-peristiwa dari Purim adalah: ‘ada sukacita dan kegirangan di antara orang Yahudi, dan perjamuan serta hari gembira. ...  dan hari untuk antar-mengantar makanan dan untuk bersedekah kepada orang-orang miskin’ (Est 8:17  9:22). Tidak ada kebaktian. Tidak ada aktivitas keimaman. Tidak ada ada upacara. Dua hari dari Purim jauh lebih mempunyai persamaan dengan Thanksgiving day / hari Pengucapan Syukur dan makanannya dari pada dengan Natal. Purim pasti bukan suatu pembenaran untuk kebaktian-kebaktian Natal].

 

·        “Purim ... The festival was decreed by the civil magistrate: the prime minister, Mordecai, and the queen, Esther. It was agreed to unanimously by the people. The occasion and authorization of Purim are inscripturated in the Word of God and approved by the Holy Spirit. The biblical imperative of no addition and no subtraction applies to man-made law and worship. It most certainly does not forbid the Holy Spirit from completing the canon of Scripture and instituting new regulations” (= Purim ... Pesta / perayaan ini ditetapkan oleh hakim sipil: perdana menteri Mordekhai, dan ratu Ester. Itu disetujui secara mutlak oleh bangsa itu. Peristiwa / upacara dan otorisasi dari Purim dituliskan dalam Firman Allah dan disetujui oleh Roh Kudus. Perintah Alkitab tentang tidak boleh ada penambahan dan pengurangan berlaku kepada hukum dan ibadah buatan manusia. Itu jelas tidak melarang Roh Kudus untuk melengkapi kanon Kitab Suci dan mengadakan peraturan-peraturan baru).

 

·        “Christmas is intrinsically immoral because it is built upon the monuments of pagan idolatry. There is nothing wrong with a country having a day of thanksgiving for a special act of deliverance by God. But there is something very wrong when a corrupt church attempts to sew Christian cloth onto pagan garments. There is something very wrong when Protestants conspire with the corrupt church of Rome and use godly Mordecai as an excuse” [= Natal pada hakekatnya adalah tidak bermoral karena itu dibangun pada monumen dari penyembahan berhala kafir. Tidak ada yang salah dengan suatu negara mempunyai suatu hari pengucapan syukur untuk tindakan khusus dari pembebasan oleh Allah. Tetapi ada sesuatu yang sangat salah pada waktu suatu gereja yang rusak berusaha menjahitkan kain Kristen pada jubah kafir. Ada sesuatu yang sangat salah pada waktu orang-orang Protestan bersekongkol dengan gereja Roma (Katolik) yang rusak dan menggunakan Mordekhai yang saleh sebagai suatu alasan].

 

Jawaban saya:

 

¨      Persoalan kekafiran sudah saya bahas di atas, dan tidak saya ulangi di sini.

 

¨      Adalah omong kosong kalau dalam Purim tidak ada kebaktian, upacara dan sebagainya. Bandingkan dengan dengan kata-kata Edersheim di atas yang mengatakan perayaan Purim sebagai ‘religious observances’ (= pemeliharaan agamawi). Juga bdk. dengan kata-kata Edersheim bahwa pada Purim dilakukan perayaan di synagogue, dengan pembacaan kitab Ester, disertai doa, dan sebagainya.

 

¨      Yang saya garis bawahi dobel itu juga ngawur. Perayaan Purim tidak pernah diperintahkan oleh Tuhan, tetapi hanya oleh Mordekhai dan Ester. Kitab Suci hanya menceritakan hal itu tetapi tidak memberikan persetujuan / otoritas dari Tuhan! Baca sendiri Ester 9:20-32 - “(20) Maka Mordekhai menuliskan peristiwa itu, lalu mengirimkan surat-surat kepada semua orang Yahudi di seluruh daerah raja Ahasyweros, baik yang dekat baik yang jauh, (21) untuk mewajibkan mereka, supaya tiap-tiap tahun merayakan hari yang keempat belas dan yang kelima belas bulan Adar, (22) karena pada hari-hari itulah orang Yahudi mendapat keamanan terhadap musuhnya dan dalam bulan itulah dukacita mereka berubah menjadi sukacita dan hari perkabungan menjadi hari gembira, dan supaya menjadikan hari-hari itu hari perjamuan dan sukacita dan hari untuk antar-mengantar makanan dan untuk bersedekah kepada orang-orang miskin. (23) Maka orang Yahudi menerima sebagai ketetapan apa yang sudah dimulai mereka melakukannya dan apa yang ditulis Mordekhai kepada mereka. (24) Sesungguhnya Haman bin Hamedata, orang Agag, seteru semua orang Yahudi itu, telah merancangkan hendak membinasakan orang Yahudi dan diapun telah membuang pur - yakni undi - untuk menghancurkan dan membinasakan mereka, (25) akan tetapi ketika hal itu disampaikan ke hadapan raja, maka dititahkannyalah dengan surat, supaya rancangan jahat yang dibuat Haman terhadap orang Yahudi itu dibalikkan ke atas kepalanya. Maka Haman beserta anak-anaknya disulakan pada tiang. (26) Oleh sebab itulah hari-hari itu disebut Purim, menurut kata pur. Oleh sebab itu jugalah, yakni karena seluruh isi surat itu dan karena apa yang dilihat mereka mengenai hal itu dan apa yang dialami mereka, (27) orang Yahudi menerima sebagai kewajiban dan sebagai ketetapan bagi dirinya sendiri dan keturunannya dan bagi sekalian orang yang akan bergabung dengan mereka, bahwa mereka tidak akan melampaui merayakan kedua hari itu tiap-tiap tahun, menurut yang dituliskan tentang itu dan pada waktu yang ditentukan, (28) dan bahwa hari-hari itu akan diperingati dan dirayakan di dalam tiap-tiap angkatan, di dalam tiap-tiap kaum, di tiap-tiap daerah, di tiap-tiap kota, sehingga hari-hari Purim itu tidak akan lenyap dari tengah-tengah orang Yahudi dan peringatannya tidak akan berakhir dari antara keturunan mereka. (29) Lalu Ester, sang ratu, anak Abihail, menulis surat, bersama-sama dengan Mordekhai, orang Yahudi itu; surat yang kedua tentang hari raya Purim ini dituliskannya dengan segala ketegasan untuk menguatkannya. (30) Lalu dikirimkanlah surat-surat kepada semua orang Yahudi di dalam keseratus dua puluh tujuh daerah kerajaan Ahasyweros, dengan kata-kata salam dan setia, (31) supaya hari-hari Purim itu dirayakan pada waktu yang ditentukan, seperti yang diwajibkan kepada mereka oleh Mordekhai, orang Yahudi itu, dan oleh Ester, sang ratu, dan seperti yang diwajibkan mereka kepada dirinya sendiri serta keturunan mereka, mengenai hal berpuasa dan meratap-ratap. (32) Demikianlah perintah Ester menetapkan perihal Purim itu, kemudian dituliskan di dalam kitab”.

 

Cobalah saudara sendiri mencari dalam text ini, apakah perayaan Purim tersebut disahkan oleh Allah / Roh Kudus atau tidak. Jelas sekali bahwa Purim hanya diperintahkan oleh Mordekhai dan Ester, dan disetujui oleh orang-orang Yahudi, tetapi tidak pernah disetujui / disahkan oleh Tuhan.

 

b.  Perayaan hari Pentahbisan Bait Suci.

 

Yoh 10:22-23 - “(22) Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. (23) Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo”.

 

Yang dimaksud dengan Pentahbisan di sini adalah Pentahbisan Bait Suci yang perayaannya diperintahkan oleh Yudas Makabe pada tahun 165 S. M. Ini dicatat dalam kitab Apocrypha, yaitu 1Makabe 1:59  4:52,59. Pentahbisan ini lalu dirayakan setiap tahun.

 

Pulpit Commentary: “This feast is not elsewhere noticed in the New Testament. The account of its origin is found in 1Macc. 4:36, etc.; 2Macc. 10:1-8; ... It was held on the 25th of Chisleu, which, in A.D. 29, would correspond with the 19th of December, in commemoration of the ‘renewal,’ reconstruction, of the temple by Judas Maccabæus after the gross profanation of it by Antiochus Epiphanes (1Macc. 1:20-60; 4:36-57). It occupied eight days, was distinguished by illumination of the city and temple and of other places throughout the land, and hence was called the ‘Feast of Lights.’ ... One feature was the increase night by night of the number of lights which commemorated the restoration of the temple. All fasting and public mourning were prohibited” [= Pesta / perayaan ini tidak terlihat dimanapun dalam Perjanjian Baru. Cerita tentang asal usulnya ditemukan dalam 1Makabe 4:36, dst.; 2Makabe 10:1-8; ... Itu diadakan pada tanggal 25 bulan Kislew, yang dalam tahun 29 M. sesuai dengan tanggal 19 Desember, untuk memperingati pembaharuan, rekonstruksi, dari Bait Suci oleh Yudas Makabe setelah pencemaran yang besar terhadapnya oleh Antiokhus Epifanes (1Makabe 1:20-60; 4:36-57). Itu memakan waktu 8 hari, terkenal oleh penerangan kota dan Bait Suci dan tempat-tempat lain di seluruh negara, dan karena itu disebut ‘Pesta / perayaan Terang’. ... Satu keistimewaan adalah naiknya malam demi malam jumlah dari terang yang memperingati pemulihan dari Bait Suci. Semua puasa dan perkabungan umum dilarang] - hal 48.

 

Catatan: Antiochus Epifanes adalah raja Syria yang bertakhta tahun 175-164 S. M. (Barclay hal 69). Ia mempersembahkan daging babi untuk dewa-dewa kafir di Bait Allah. Yudas Makabe memerintahkan perayaan hari ini dalam 1Mak 4:59.

 

Calvin: “the temple, which had been polluted, was again consecrated by the command of Judas Maccabæus; and at that time it was enacted that the day of the new dedication or consecration should be celebrated every year as a festival, that the people might recall to remembrance the grace of God” (= Bait Suci, yang telah dicemarkan, ditahbiskan lagi oleh perintah dari Yudas Makabe; dan pada saat itu ditetapkan sebagai hukum bahwa hari dari pembaktian atau pentahbisan itu harus dirayakan setiap tahun sebagai suatu perayaan / pesta, supaya bangsa itu bisa mengingat kasih karunia Allah) - hal 412.

 

William Hendriksen: “Though it is not one of the three great pilgrim-feasts, it nevertheless, drew many people to Jerusalem (= Sekalipun itu bukan salah satu dari 3 hari raya besar, tetapi hari itu menarik banyak orang ke Yerusalem) - hal 120.

 

Barclay: “This was the latest of the great Jewish festivals to be founded. It was sometimes called The Festival of Lights; and its Jewish name was Hanukkah. Its date is the 25th of the Jewish month called Chislew which corresponds with our December. This Festival therefore falls very near our Christmas time and is still universally observed by the Jews” (= Ini adalah perayaan / hari raya Yahudi besar yang terakhir yang ditetapkan. Hari itu kadang-kadang disebut Perayaan / Hari Raya Terang; dan nama Yahudinya adalah HANUKKAH. Tanggalnya adalah 25 dari bulan Yahudi yang disebut Kislew, yang sesuai dengan bulan Desember kita. Karena itu, perayaan / hari raya ini terletak dekat dengan masa Natal kita dan tetap diperingati secara universal oleh orang-orang Yahudi) - hal 69.

 

Alfred Edersheim: “It was not of Biblical origin, but had been instituted by Judas Maccabaeus in 164 B.C., when the Temple, which had been desecrated by Antiochus Epiphanes, was once more purified, and re-dedicated to the Service of Jehovah (1Macc 6:52-59) ... In memory of this, it was ordered the following year, that the Temple be illuminated for eight days on the anniversary of its ‘Dedication’ ... the ‘Lights’ in honour of the Feast were lit not only in the Temple, but in every home. ... Certain benediction are spoken on lighting these lights, all work is stayed, and the festive time spent in merriment” [= Itu bukan mempunyai asal usul dari Alkitab, tetapi telah ditetapkan oleh Yudas Makabe pada tahun 164 S.M., pada waktu Bait Suci, yang telah dinajiskan oleh Antiokhus Epifanes, sekali lagi disucikan, dan dipersembahkan ulang bagi Pelayanan Yehovah (1Makabe 6:52-59) ... Untuk memperingati hal ini, diperintahkan pada tahun berikutnya, supaya Bait Suci diterangi untuk 8 hari pada hari ulang tahun dari ‘pentahbisan’nya ... Terang untuk menghormati perayaan / hari raya itu dinyalakan bukan hanya dalam Bait Suci, tetapi di setiap rumah. ... Berkat tertentu diucapkan pada waktu menyalakan terang-terang ini, semua pekerjaan dihentikan / ditunda, dan saat perayaan dihabiskan dalam kegirangan] - ‘The Life and Times of Jesus the Messiah’, hal 428-429.

 

Alfred Edersheim: “The Feast of the Dedication of the Temple, Chanuchah (‘the dedication’), called in 1Maccab. 4:52-59 ‘the dedication of the altar,’ and by Josephus ‘the Feast of Lights,’ was another popular and joyous festival. It was instituted by Judas Maccabæus in 164 B.C., when, after the recovery of Jewish independence from the Syro-Grecian domination, the Temple of Jerusalem was solemnly purified, the old polluted altar removed, its stones put in a separate place on the Temple-mount, and the worship of the Lord restored. The feast commenced on the 25th of Chislev (December), and lasted for eight days. On each of them the ‘Hallel’ was sung, the people appeared carrying palm and other branches, and there was a grand illumination of the Temple and of all private houses” [= Hari Raya Pentahbisan Bait Suci, CHANUCHAH (‘pentahbisan’), disebut dalam 1Makabe 4:52-59 ‘pentahbisan mezbah’, dan oleh Josephus ‘Perayaan Terang’, merupakan perayaan yang lain yang populer dan penuh sukacita. Hari itu ditetapkan oleh Yudas Makabe pada tahun 164 S. M., pada waktu, setelah pemulihan dari kemerdekaan Yahudi dari penguasaan Syria-Yunani, Bait Suci disucikan secara khidmat, mezmah lama yang dicemarkan itu disingkirkan, batu-batunya diletakkan di tempat terpisah pada gunung Bait Suci, dan ibadah kepada Tuhan dipulihkan. Pesta / perayaan itu dimulai pada tanggal 25 bukan Kislew (Desember), dan berlangsung 8 hari. Pada setiap hari lagu ‘Hallel’ dinyanyikan, orang-orang terlihat membawa daun palm dan ranting-ranting yang lain, dan ada suatu penerangan yang besar dari Bait Suci dan semua rumah-rumah pribadi] - ‘The Temple’, hal 333-334.

 

Alfred Edersheim: “the date of the Feast of the Dedication - the 25th of Chislev - seems to have been adopted by the ancient Church as that of the birth of our blessed Lord - Christmas - the Dedication of the true Temple, which was the body of Jesus” [= tanggal dari hari raya Pentahbisan Bait Allah - bulan Kislew tanggal 25 - kelihatannya telah diadopsi oleh Gereja kuno sebagai tanggal kelahiran dari Tuhan kita yang terpuji - Natal - Pentahbisan dari Bait Allah yang sejati, yang adalah tubuh dari Yesus (bdk. Yoh 2:19-22)] - ‘The Temple, hal 334.

 

Alfred Edersheim: “From the hesitating language of Josephus, we infer that even in his time the real origin of the practice of illuminating the Temple was unknown. Tradition, indeed, has it that when in the restored Temple the sacred candlestick was to be lit, only one flagon of oil, sealed with the signet of the high-priest, was found to feed the lamps. This, then, was pure oil, but the supply was barely sufficient for one day - but when, lo, by a miracle, the oil increased, and the flagon remained filled for eight days, in memory of which it was ordered to illuminate for the same space of time the Temple and private houses” (= Dari bahasa yang ragu-ragu dari Josephus, kami menyimpulkan bahwa bahkan pada jamannya asal usul dari praktek menerangi Bait Suci tidak diketahui. Tradisi mengatakan bahwa pada saat dalam Bait Suci yang dipulihkan itu lilin yang kudus akan dinyalakan, hanya satu tempat minyak, dimeteraikan dengan segel dari imam besar, ditemukan untuk menyalakan lampu. Ini adalah minyak murni, tetapi jumlah itu hampir tidak cukup untuk satu hari - tetapi pada waktu, lihatlah, oleh suatu mujizat, minyak itu bertambah, dan tempat minyak itu tetap penuh untuk delapan hari, untuk mengingat hal mana diperintahkan untuk menerangi untuk jangka waktu yang sama Bait Suci dan rumah-rumah pribadi) - ‘The Temple’, hal 335.

 

Alfred Edersheim: “there cannot be a doubt that our blessed Lord Himself attended this festival at Jerusalem, on which occasion He told them plainly: ‘I and My Father are one.’” (= Tidak diragukan bahwa Tuhan kita sendiri menghadiri hari raya / perayaan ini di Yerusalem, dalam peristiwa mana Ia memberitahu mereka dengan jelas, ‘Aku dan Bapa adalah satu’.) - ‘The Temple, hal 336.

 

Yoh 10:22-23,30 - “(22) Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. (23) Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo. ... (30) Aku dan Bapa adalah satu.’”.

 

Calvin: “Christ appeared in the temple at that time, according to custom, that his preaching might yield more abundant fruit amidst a large assembly of men” (= Kristus muncul di Bait Allah pada saat itu, sesuai dengan kebiasaan / tradisi, supaya khotbahnya bisa menghasilkan buah yang lebih berlimpah-limpah di tengah-tengah kumpulan orang banyak) - hal 412.

 

Ini merupakan sesuatu yang harus diperhatikan. Hari Raya Pentahbisan itu bukanlah hari Raya yang ditetapkan oleh Tuhan, tetapi oleh Yudas Makabe. Tetapi sekalipun demikian, dalam perayaan hari itu, Yesus mengikutinya! Yesus tidak bersikap sok suci seperti orang-orang yang anti Natal, dengan menolak mengikuti perayaan tersebut dan mengecam setiap orang yang mengikutinya!

 

c.  The Feast of Wood-offering, yang terjadi pada bulan Ab (Agustus) tanggal 15 (Edersheim, ‘The Temple, hal 336).

 

d.  Hari-hari puasa, yang banyak ditambahkan kepada hari puasa yang memang merupakan perintah Allah. Yang ditambahkan adalah:

 

·        puasa untuk memperingati pembuangan ke Babilonia (Edersheim, ‘The Temple, hal 338).

 

·        puasa untuk memperingati direbutnya Yerusalem oleh Nebukadnezar (Edersheim, ‘The Temple, hal 339).

 

·        puasa untuk memperingati pembuatan anak lembu emas, dan pemecahan 10 hukum Tuhan oleh Musa (Edersheim, ‘The Temple, hal 339).

 

Alfred Edersheim: “the Jewish calendar at present contains other twenty-two fast-days” (= kalender Yahudi pada masa ini berisikan 22 hari puasa yang lain) - ‘The Temple, hal 340.

 

g.  Dalam 2Makabe 15:35-36 terlihat bahwa orang-orang Yahudi merayakan hari matinya Nikanor.

 

h.  Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Calendar: Months and important days’: “The months of the Jewish year and the notable days are as follows:

·        Tishri: 1-2, Rosh Hashana (New Year); 3, Fast of Gedaliah; 10, Yom Kippur (Day of Atonement); 15-21, Sukkot (Tabernacles); 22, Shemini Atzeret (Eighth Day of Solemn Assembly); 23, Simhat Torah (Rejoicing of the Law).

·        Heshvan.

·        Kislev: 25, Hanukka (Festival of Lights) begins.

·        Tevet: 2 or 3, Hanukka ends; 10, Fast.

·        Shevat: 15, New Year for Trees (Mishna).

·        Adar: 13, Fast of Esther; 14-15, Purim (Lots).

·        Second Adar (Adar Sheni) or ve-Adar (intercalated month); Adar holidays fall in ve-Adar during leap years.

·        Nisan: 15-22, Pesah (Passover).

·        Iyyar: 5, Israel Independence Day.

·        Sivan: 6-7, Shavuot (Feast of Weeks [Pentecost]).

·        Tammuz: 17, Fast (Mishna).

·        Av: 9, Fast (Mishna).

·        Elul”.

 

Dari sini juga terlihat adanya hari-hari yang dirayakan tanpa adanya perintah Tuhan, seperti ‘Shemini Atzeret’, ‘Simhat Torah’, ‘Hezhvan’, ‘New Year for Trees’, ‘Israel’s Independence Day’, dan sebagainya.

 

8.  Kebiasaan mendedikasikan rumah baru.

 

Orang-orang Yahudi biasanya selalu mendedikasikan rumah baru, dan kebiasaan itu terlihat dari Ul 20:5.

 

Ul 20:5 - Para pengatur pasukan haruslah berbicara kepada tentara, demikian: Siapakah orang yang telah mendirikan rumah baru, tetapi belum menempatinya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang menempatinya”.

 

Kata ‘menempatinya’ salah terjemahan.

 

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘and not dedicated it?’ (= dan belum mendedikasikannya?).

 

Kata ‘dedicate’ bisa berarti ‘mempersembahkan’, ‘membaktikan’, ‘meresmikan pemakaiannya’. Kelihatannya arti yang terakhir yang harus diambil di sini.

 

Bdk. Maz 30:1 - “Mazmur. Nyanyian untuk pentahbisan Bait Suci. Dari Daud. (2) Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku”.

 

RSV/NIV: ‘temple’.

 

KJV/NASB: ‘house’.

 

Fred H. Wight: “It was common when any person had finished a house and entered into it, to celebrate it with great rejoicing, and keep a festival, to which his friends are invited, and to perform some religious ceremonies, to secure the protection of Heaven” (= Merupakan sesuatu yang umum pada waktu seseorang telah menyelesaikan suatu rumah dan memasukinya, untuk merayakannya dengan kegembiraan yang besar, dan mengadakan suatu pesta, kemana teman-temannya diundang, dan melaksanakan upacara-upacara agamawi, untuk memastikan perlindungan dari surga) - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 135.

 

Hal seperti ini sebetulnya juga ada dalam kebiasaan orang-orang kristen di Indonesia. Kalau pindah ke rumah baru, mereka mengadakan bidstond / acara persekutuan / syukuran dsb.

 

9.  Perayaan berkenaan dengan penyapihan anak.

 

Pada jaman itu penyapihan (penghentian susu ibu) anak baru terjadi pada usia 3 tahun, dan ini dilakukan dengan suatu perayaan, dimana teman-teman berkumpul, ada pesta, dan ada upacara-upacara agama, dan kadang-kadang ada acara pemberian nasi kepada anak itu.

 

Fred H. Wight: “The weaning of a child is an important event in the domestic life of the East. In many places it is celebrated by a festive gathering of friends, by feasting, by religious ceremonies, and sometimes the formal presentation of rice to the child. ... It was probably at this age of three, or possibly even later, that Hannah weaned Samuel and brought him to God’s sanctuary, where offerings were made to God, and he was presented to the Lord (1Sam 1:23)” [= Penyapihan seorang anak merupakan suatu peristiwa yang penting dalam kehidupan domestik di Timur. Di banyak tempat itu dirayakan dengan suatu perayaan dengan mengumpulkan teman-teman, dengan pesta, dengan upacara-upacara agamawi, dan kadang-kadang pemberian nasi secara formil kepada anak itu. ... Mungkin pada usia 3 tahun atau lebih Hana menyapih Samuel dan membawanya ke rumah Allah, dimana persembahan dibuat bagi Allah, dan Ia diberikan kepada Allah (1Sam 1:23)] - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 136.

 

Catatan: 2Makabe 7:27 mengatakan bahwa pada jaman itu seorang ibu menyusui anaknya sampai usia 3 tahun.

 

Bdk. Kej 21:8 - “Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu.

 

10. Perayaan pada masa pengguntingan bulu domba.

 

Masa pengguntingan bulu domba juga merupakan saat dimana mereka melakukan perayaan / pesta, sebagai suatu ucapan syukur kepada Tuhan.

 

Fred H. Wight: “It would seem from two Bible references that sheep-shearing was another time of special festivity in the ancient Hebrew home. ... without doubt, in many pious homes it was a time of thanksgiving to God for the wool provided from the flock” (= Kelihatan dari 2 referensi Alkitab bahwa pengguntingan bulu domba merupakan saat perayaan khusus yang lain dalam rumah Ibrani kuno. ... tidak diragukan, dalam banyak rumah orang-orang saleh, itu merupakan suatu saat pengucapan syukur kepada Allah untuk wol yang disediakan dari kawanan domba) - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 137.

 

1Sam 25:4,36 - “(4) Ketika didengar Daud di padang gurun, bahwa Nabal sedang menggunting bulu domba-dombanya, ... (36) Sampailah Abigail kepada Nabal dan tampaklah, Nabal mengadakan perjamuan di rumahnya, seperti perjamuan raja-raja. Nabal riang gembira dan mabuk sekali. Sebab itu tidaklah diceriterakan perempuan itu sepatah katapun kepadanya, sampai fajar menyingsing”.

 

2Sam 13:23-28 - “(23) Sesudah lewat dua tahun, Absalom mengadakan pengguntingan bulu domba di Baal-Hazor yang dekat kota Efraim. Lalu Absalom mengundang semua anak raja. (24) Kemudian Absalom menghadap raja, lalu berkata: ‘Hambamu ini mengadakan pengguntingan bulu domba. Kiranya raja dan pegawai-pegawainya ikut bersama-sama dengan hambamu ini.’ (25) Tetapi raja berkata kepada Absalom: ‘Maaf, anakku, jangan kami semua pergi, supaya kami jangan menyusahkan engkau.’ Lalu Absalom mendesak, tetapi raja tidak mau pergi, ia hanya memberi restu kepadanya. (26) Kemudian berkatalah Absalom: ‘Kalau tidak, izinkanlah kakakku Amnon pergi beserta kami.’ Tetapi raja menjawabnya: ‘Apa gunanya ia pergi bersama-sama dengan engkau?’ (27) Tetapi ketika Absalom mendesak, diizinkannyalah Amnon dan semua anak raja pergi beserta dia. (28) Lalu Absalom memerintahkan orang-orangnya, demikian: ‘Perhatikan! Apabila hati Amnon menjadi gembira karena anggur, dan aku berkata kepadamu: Paranglah Amnon, maka haruslah kamu membunuh dia. Jangan takut. Bukankah aku yang memerintahkannya kepadamu? Kuatkanlah hatimu dan tunjukkanlah dirimu sebagai orang yang gagah perkasa!’”.

 

Memang perjamuan dalam 2Sam 13 ini merupakan suatu perangkap dari Absalom. Tetapi seandainya hal itu bukan sesuatu yang lazim dilakukan, tidak mungkin saudara-saudara yang lain mau datang ke pesta itu.