Eksposisi Surat Yohanes yang Pertama

oleh: Pdt. Budi Asali M.Div.


I Yohanes 2:1-6

 

 

Tentang 1Yoh 2:1-2 William Barclay berkata: “there are hardly any other two in the New Testament which so succinctly set out the work of Christ” (= hampir tidak ada 2 ayat lain dalam Perjanjian Baru yang secara begitu ringkas mengemukakan pekerjaan Kristus) - hal 35.

 

I) Yesus adalah pendamaian untuk dosa kita (ay 2).

 

1)  Yesus adalah pendamaian untuk dosa kita (ay 2).

 

Ay 2: ‘pendamaian’.

 

NIV: ‘the atoning sacrifice’ (= korban yang menebus).

 

KJV: ‘the propitiation’ (= penebusan).

 

RSV/NASB: ‘the expiation’ (= penebusan).

 

Herschel H. Hobbs: “The word for ‘propitiation’ (HILASMOS) is found in the New Testament only here and in 1John 4:10; the verb form is used in Luke 18:13 and Hebrews 2:17. Both the noun and verb forms are used in the Greek translation of the Old Testament to denote a ‘covering’ and ‘to cover’ respectively” [= Kata untuk ‘propitiation / pendamaian’ (HILASMOS) didapatkan dalam Perjanjian Baru hanya di sini dan dalam 1Yoh 4:10; bentuk kata kerjanya digunakan dalam Luk 18:13 dan Ibr 2:17. Bentuk kata benda dan kata kerjanya digunakan dalam terjemahan bahasa Yunani dari Perjanjian Lama untuk menunjuk pada suatu ‘penutupan’ dan ‘menutupi’] - hal 40-41.

 

Herschel H. Hobbs: “Rather than to see ‘propitiation’ as an appeasing of God’s wrath, which is an idea foreign to the New Testament, we may see it as the grounds upon which a holy, righteous, and loving God may forgive sin” (= Dari pada melihat ‘pendamaian’ sebagai penenangan / peredaan murka Allah, yang merupakan suatu gagasan yang asing dalam Perjanjian Baru, kita bisa melihatnya sebagai dasar di atas mana Allah yang suci, benar, dan kasih, bisa mengampuni dosa) - hal 41.

 

Saya tidak mengerti mengapa ia menolak propitiation sebagai pereda murka Allah, dan menganggapnya sebagai ajaran yang asing dalam Perjanjian Baru. Bandingkan dengan kata-kata John Murray di bawah ini.

 

John Murray: “what does propitiation mean? In the Hebrew of the Old Testament it is expressed by a word which means to ‘cover.’ ... Vengeance is the reaction of the holiness of God to sin, and the covering is that which provides for the removal of divine displeasure which the sin evokes. ... Propitiation presupposes the wrath and displeasure of God, and the purpose of propitiation is the removal of this displeasure” (= apa arti propitiation? Dalam Perjanjian Lama berbahasa Ibrani itu dinyatakan dengan suatu kata yang berarti ‘menutupi’. ... Pembalasan adalah reaksi dari kesucian Allah terhadap dosa, dan ‘penutupan’ adalah hal yang menyediakan penghapusan ketidaksenangan ilahi yang ditimbulkan oleh dosa. ... Propitiation mensyaratkan adanya murka dan ketidaksenangan Allah, dan tujuan dari propitiation adalah penghapusan ketidaksenangan ini) - hal 30.

 

John Murray: “Propitiation places in the focus of attention the wrath of God and the divine provision for the removal of that wrath” (= Propitiation memusatkan perhatian pada murka Allah dan penyediaan ilahi untuk penghapusan murka itu) - hal 33.

 

Tetapi perlu diwaspadai untuk tidak beranggapan bahwa propitiation itu menyebabkan Allah berubah dari murka menjadi kasih. Allah dari dahulu sudah kasih, kalau tidak Ia tidak akan menyediakan propitiation itu!

 

John Murray: “It is false to suppose that the doctrine of propitiation regards propitiation as that which causes or constrains the divine love. ... propitiation is not a turning of the wrath of God into love. The propitiation of the divine wrath, effected in the expiatory work of Christ, is the provision of God’s eternal and unchangeable love, so that through the propitiation of his own wrath that love may realize its purpose in a way that is consonant with and to the glory of the dictates of his holiness. It one thing to say that the wrathful God is made loving. That would be entirely false. It is another thing to say the wrathful God is loving. That is profoundly true” (= Adalah salah untuk beranggapan bahwa doktrin propitiation menganggap propitiation sebagai hal yang menyebabkan atau memaksa / mendesak kasih ilahi. ... Propitiation bukanlah suatu pembalikan murka Allah menjadi kasih. Propitiation dari murka ilahi, dijalankan dalam pekerjaan penebusan Kristus, adalah penyediaan dari kasih Allah yang kekal dan tak berubah, sehingga melalui propitiation dari murkaNya sendiri sehingga kasih bisa mewujudkan tujuannya dengan cara yang sesuai dengan dan bagi kemuliaan dari ketentuan kesucianNya. Mengatakan bahwa Allah yang murka dibuat menjadi kasih adalah salah. Ini berbeda dengan mengatakan bahwa Allah yang murka itu mengasihi, yang adalah sesuatu yang benar) - hal 31.

 

Kesucian Allah membuatNya murka terhadap manusia berdosa, dan keadilanNya membuat Ia harus menghukum manusia yang berdosa itu. Tetapi Ia tetap mengasihi manusia yang berdosa itu. Jadi Ia kasih dan murka sekaligus. KasihNya itu menyebabkan Ia menjadi manusia dalam diri Tuhan Yesus Kristus, dan mati di salib sebagai ‘propitiation / pendamaian’ untuk dosa kita, supaya melalui semua itu murkaNya bisa diredakan.

 

Jangan menganggap aneh bahwa Allah bisa murka tetapi pada saat yang sama tetap mengasihi. Ini juga bisa terjadi pada diri saudara, misalnya pada waktu menghadapi anak saudara yang nakal. Saudara marah kepada anak itu, tetapi saudara tetap mengasihinya. Lalu mengapa ini tidak bisa terjadi pada diri Allah?

 

Ada seorang yang berkata: “The holiness of God excuses no sin, but the love of God forgives all sin through Christ” (= Kesucian Allah tidak memaafkan dosa, tetapi kasih Allah mengampuni semua dosa melalui Kristus) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 409.

 

Andaikata Allah itu hanya suci tetapi tidak kasih, maka Ia akan membuang semua orang ke dalam neraka. Tidak ada penebusan ataupun pengampunan. Sebaliknya, andaikata Allah itu hanya kasih tetapi tidak suci, Ia akan mengampuni semua orang berdosa dan memasukkan mereka begitu saja ke surga, tanpa penebusan. Tetapi karena dalam faktanya Allah itu suci dan kasih, maka Ia memberikan penebusan, dan hanya mengampuni berdasarkan penebusan itu. Karena itu hanya orang yang percaya kepada Yesus saja yang diampuni dan dimasukkan ke surga, sedangkan lainnya dihukum selama-lamanya dalam neraka.

 

Charles Haddon Spurgeon: “Our eternal hopes are built on the justice and the faithfulness of God, which are clear and cloudless as the sapphire. We are not saved by a compromise, by mercy defeating justice, or law suspending its operations; no, we defy the eagle’s eye to detect a flaw in the groundwork of our confidence - our foundation is of sapphire and will endure the fire” (= Harapan kekal kita dibangun pada keadilan dan kesetiaan Allah, yang bersih dan tak berawan seperti safir / batu nilam. Kita tidak diselamatkan oleh suatu kompromi, oleh belas kasihan yang mengalahkan keadilan, atau hukum yang dicabut / disingkirkan pemberlakuannya; tidak, kita menantang / tahan menghadapi mata rajawali untuk mendeteksi suatu cacat dalam dasar dari keyakinan kita - fondasi kita adalah dari safir / batu nilam dan akan bertahan terhadap api) - ‘Morning and Evening’, December 15, evening.

 

Catatan: ini ia katakan untuk mengomentari Yes 54:11 - ‘dasar-dasarmu dari batu nilam’.

 

2)  Karena adanya penebusan / pendamaian Yesus Kristus ini maka:

 

a)  Keselamatan itu cuma-cuma.

 

Ro 3:23-24 - “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia Allah telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”.

 

Apa artinya ‘dengan cuma-cuma’? Artinya kita mendapatkan keselamatan / pembenaran itu bukan dengan usaha kita berbuat baik / mentaati Tuhan / membuang dosa, tetapi hanya dengan iman kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Ini terlihat dari ayat-ayat di bawah ini.

 

·        Ro 3:27-28 - “Jika demikian, apa dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia mela-kukan hukum Taurat”.

 

·        Gal 2:16a - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus”.

 

·        Gal 2:21b - “... sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus”.

 

·        Ef 2:8-9 - “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

 

Untuk saudara yang belum percaya kepada Kristus, cepatlah datang dan percaya kepada Kristus. Untuk saudara yang sudah percaya, jangan takut memberitakan bahwa keselamatan itu cuma-cuma dan didapatkan hanya dengan iman kepada Yesus.

 

Calvin: “He then joins together two parts of the gospel, which unreasonable men separate, and thus lacerate and mutilate. Besides, the doctrine of grace has always been calumniated by the ungodly. When the expiation of sins by Christ is set forth, they boastingly say that a license is given to sin. ... He is not, however, silent as to the gratuitous remission of sins; for though heaven should fall and all things be confounded, yet this part of truth ought never to be omitted; but, on the contrary, what Christ is ought to be preached clearly and distinctly. ... whenever it happens that men wantonly abuse the mercy of God, there are many snarlish men who load us with calumny, as though we gave loose reins to vices. We ought still boldly to go and proclaim the grace of Christ, in which consists the whole salvation of men. These barkings of the ungodly ought, I repeat it, to be wholly disregarded; for we see that the apostles were also by these barkings assailed” (= Ia lalu menggabungkan 2 bagian dari injil, yang oleh orang-orang yang tidak rasional dipisahkan, dan dengan demikian mengkoyak dan merusak. Disamping itu, doktrin tentang kasih karunia selalu difitnah oleh orang-orang jahat. Pada waktu penebusan dosa oleh Kristus dinyatakan, mereka dengan bangga berkata bahwa diberikan ijin untuk berbuat dosa. ... Tetapi ia tidak diam berkenaan dengan pengampunan dosa yang bersifat cuma-cuma; karena sekalipun surga runtuh dan segala sesuatu menjadi kacau, tetapi bagian injil ini tidak pernah boleh dihapuskan; tetapi sebaliknya, apa adanya Kristus harus dikhotbahkan dengan jelas. ... kapanpun terjadi bahwa orang-orang secara tak beralasan / ceroboh menyalahgunakan belas kasihan Allah, ada banyak orang yang kacau pikirannya yang membebani kami dengan fitnah, seakan-akan kami memberi kebebasan untuk berbuat jahat. Kita harus tetap dengan berani pergi dan memberitakan kasih karunia Kristus, di dalam mana terdapat seluruh keselamatan manusia. Gonggongan dari orang-orang jahat ini harus, saya ulangi, diabaikan sepenuhnya; karena kita melihat bahwa rasul-rasul juga diserang oleh gonggongan-gonggongan ini) - hal 170.

 

b)  Setiap kali kita jatuh ke dalam dosa, selalu ada pengampunan (ay 1).

 

1.  Kita memang tidak boleh berbuat dosa (ay 1a), dan ketaatan merupakan bukti iman (ay 3-6  bdk. Yak 2:17,26).

 

Calvin: “But we are not hence to conclude that faith recumbs on works; for though every one receives a testimony to his faith from his works, yet it does not follow that it is founded on them, since they are added as an evidence” (= Tetapi kami tidak menyimpulkan bahwa iman bersandar pada perbuatan baik; karena sekalipun setiap orang mendapatkan kesaksian bagi imannya dari perbuatan baiknya, tetapi itu tidak berarti bahwa iman didirikan di atas perbuatan baik, karena perbuatan baik itu ditambahkan sebagai bukti) - hal 175.

 

Illustrasi:

 

Sakit ® obat ® sembuh ® kerja / olah raga.

 

Dosa ® iman ® selamat ® berbuat baik / taat.

 

Beberapa komentar tentang keharusan taat dalam ay 3-6:

 

William Barclay: “union with Christ necessarily involves imitation of Christ” (= kesatuan dengan Kristus harus / pasti melibatkan peniruan / peneladanan terhadap Kristus) - hal 35.

 

William Barclay: “The God who revealed himself was a holy God and his holiness brought the obligation to his worshipper to be holy” (= Allah yang menyatakan diriNya sendiri adalah Allah yang suci dan kesucianNya membawa kewajiban kepada penyembahNya untuk menjadi suci) - hal 43.

 

William Barclay kutip C. H. Dodd: “To know God is to experience his love in Christ, and to return that love in obedience” (= Mengenal Allah adalah mengalami kasihNya dalam Kristus, dan membalas kasih itu dengan ketaatan) - hal 43.

 

William Barclay: “Christianity is the religion which offers the greatest privilege and brings with it the greatest obligation. Intellectual effort and emotional experience are not neglected - far from it - but they must combine to issue in moral action” (= Kekristenan adalah agama yang menawarkan / memberikan hak terbesar dan membawa dengan itu kewajiban terbesar. Usaha intelektual dan pengalaman emosional tidak diabaikan - jauh dari itu - tetapi mereka harus bergabung untuk mengeluarkan tindakan moral) - hal 43.

 

Tentang ay 5 Calvin berkata:

“If any one objects and says, that no one has ever been found who loved God thus perfectly; to this I reply, that it is sufficient, provided every one aspired to this perfection according to the measure of grace given unto him” (= Jika ada orang yang keberatan dan berkata bahwa tidak pernah ditemukan adanya orang yang mengasihi Allah dengan begitu sempurna; terhadap hal ini saya menjawab bahwa adalah cukup asalkan setiap orang menginginkan kesempurnaan ini sesuai dengan ukuran kasih karunia yang diberikan kepadanya) - hal 176.

 

2.  Tetapi bagaimanapun tidak ada orang bisa taat secara sempurna (1Yoh 1:8,10). Kita pasti akan jatuh berulangkali ke dalam dosa. Dalam hal ini kita tinggal minta ampun, dan kita (yang percaya kepada Kristus) pasti diampuni karena:

 

·        pekerjaan pendamaian / penebusan Kristus (ay 2).

 

·        Yesus Kristus adalah ‘pengantara’ kita pada Bapa (ay 1b).

 

NIV: ‘one who speak to the Father in our defense’ (= seorang yang berbicara kepada Bapa untuk membela kita).

 

KJV/RSV/NASB: ‘an advocate’ (= advokat / pengacara).

 

*        Kata ‘pengantara’ dalam bahasa Yunani adalah PARAKLETOS, yang muncul sebanyak 5 x dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam Yoh 14:16,26  Yoh 15:26  Yoh 16:7 dan 1Yoh 2:1. Dalam keempat ayat yang pertama, kata ini digunakan oleh Yesus, sedangkan dalam ayat yang terakhir kata ini digunakan oleh Yohanes.

 

*        Herschel H. Hobbs: “Note that Jesus’ use of the word refers to the Holy Spirit, while John’s use refers to Jesus Christ. The two uses complement each other. Vaughan (p. 37) says, ‘Here on earth we have the Holy Spirit as our Advocate; in heaven we have Christ as our Advocate’” [= Perhatikan bahwa penggunaan kata itu oleh Yesus menunjuk kepada Roh Kudus, sementara penggunaan oleh Yohanes menunjuk kepada Yesus Kristus. Kedua penggunaan itu saling melengkapi. Vaughan (hal 37) berkata: ‘Di sini di bumi kita mempunyai Roh Kudus sebagai Pengacara kita; di surga kita mempunyai Kristus sebagai Pengacara kita] - hal 39.

 

*        Herschel H. Hobbs: “‘advocate’ carries a legal meaning” (= ‘advokat’ membawa arti hukum) - hal 40.

 

Jadi, pada waktu kita berbuat dosa, Ia berfungsi sebagai Pengacara yang membela kita di hadapan Bapa (bdk. Ro 8:34  Ibr 7:25).

 

*        Herschel H. Hobbs: “He also does not plead our innocence. Instead, His redemption work is always before the Father on behalf of all believers in Jesus Christ as Savior” (= Ia juga tidak menyatakan ketidakbersalahan kita. Sebaliknya, pekerjaan penebusanNya selalu ada di depan Bapa demi kepentingan semua orang percaya dalam Yesus Kristus sebagai Juruselamat) - hal 40.

 

*        seorang pengantara / advokat pada Bapa’ (ay 1 akhir).

 

Kata-kata ‘pada Bapa’ dalam bahasa Yunaninya kembali menggunakan PROS TON PATERA, seperti dalam 1:2 (diterjemahkan ‘bersama-sama dengan Bapa’), dan Hobbs mengatakan ini sebagai ‘a phrase which denotes equality’ (= ungkapan yang menunjukkan kesetaraan) - hal 40.

 

·        keadilan Tuhan (akhir ay 2  bdk. 1Yoh 1:9).

 

NIV: ‘the Righteous One’ (= Orang benar).

 

KJV/RSV/NASB: ‘the righteous’ (= Orang benar).

 

Charles Haddon Spurgeon: “Memory looks back on past sins with deep sorrow for the sin, but yet with no dread of any penalty to come; for Christ has paid the debt of His people to the last jot and tittle, and received the divine receipt; and unless God can be so unjust as to demand double payment for one debt, no soul for whom Jesus died as a substitute can ever be cast into hell. It seems to be one of the very principles of our enlightened nature to believe that God is just; we feel that it must be so, and this gives us our terror at first; but is it not marvelous that this very same belief that God is just, becomes afterwards the pillar of our confidence and peace! If God is just, I, a sinner alone and without a substitute, must be punished; but Jesus stands in my stead and is punished for me; and now, if God is just, I, a sinner, standing in Christ, can never be punished” (= Ingatan melihat ke belakang kepada dosa-dosa yang lalu dengan kesedihan yang dalam untuk dosa, tetapi tanpa rasa takut terhadap hukuman yang akan datang; karena Kristus telah membayar hutang umatNya sampai pada hal yang paling kecil / remeh, dan telah menerima kwitansi ilahi; dan kecuali Allah itu bisa begitu tidak adil / benar sehingga menuntut pembayaran dobel untuk satu hutang, tidak ada jiwa, untuk siapa Yesus mati sebagai pengganti, bisa dicampakkan ke dalam neraka. Kelihatannya merupakan satu prinsip dari diri kita yang sudah diterangi untuk percaya bahwa Allah itu adil / benar; kita merasa bahwa haruslah demikian, dan ini mula-mula memberikan kita rasa takut; tetapi tidakkah merupakan sesuatu yang mengagumkan bahwa kepercayaan yang sama bahwa Allah itu adil / benar, setelah itu lalu menjadi pilar / tonggak dari keyakinan dan damai kita! Jika Allah itu adil / benar, saya, seorang yang berdosa, sendirian dan tanpa seorang pengganti, harus dihukum; tetapi Yesus telah menggantikan saya dan dihukum untuk saya; dan sekarang, jika Allah itu adil / benar, saya, seorang yang berdosa, berdiri dalam Kristus, tidak pernah bisa dihukum) - ‘Morning and Evening’, September 25, morning.

 

II) Yesus adalah pendamaian untuk dosa ‘seluruh dunia’ (ay 2).

 

Ay 2: “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.

 

Ayat ini menjadi ‘medan pertempuran’ antara golongan Arminian dan Calvinist / Reformed.

 

A)  Orang Arminian menafsirkan bahwa:

 

·        kita’ berarti ‘orang percaya’.

 

·        dunia’ berarti ‘semua orang’.

 

William Barclay: “As John sees it, this work of Jesus was carried out not only for us but for the whole world. There is in the New Testament a strong line of thought in which the universality of the salvation of God is stressed. God so loved the world that he sent his son (John 3:16). Jesus is confident that, if he is lifted up, he will draw all men to him (John 12:32). God will have all men to be saved (1Timothy 2:4). He would be a bold man who would set limits to the grace and love of God or to the effectiveness of the work and sacrifice of Jesus Christ” [= Sebagaimana Yohanes melihatnya, pekerjaan Yesus ini diselesaikan bukan hanya untuk kita tetapi untuk seluruh dunia. Dalam Perjanjian Baru ada garis pemikiran yang kuat dalam mana keuniversalan dari keselamatan dari Allah ditekankan. Allah begitu mengasihi dunia sehingga Ia mengirimkan AnakNya (Yoh 3:16). Yesus yakin bahwa jika Ia ditinggikan, Ia akan menarik semua orang kepadaNya (Yoh 12:32). Allah menginginkan supaya semua orang diselamatkan (1Tim 2:4). Ia adalah seorang yang berani yang memberikan batasan terhadap kasih karunia dan kasih Allah atau terhadap keefektifan dari pekerjaan dan pengorbanan Yesus Kristus] - hal 40.

 

Ini bukan sekedar Arminianisme, tetapi Universalisme!

 

B)  Tetapi orang Calvinist / Reformed menafsirkan bahwa:

 

·        kita’ berarti ‘orang percaya tertentu / lokal / Yahudi’.

 

·        dunia’ berarti ‘orang percaya di seluruh dunia / orang pilihan’.

 

Bdk. Yoh 11:51-52 - “Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai”.

 

Calvin: “Here a question may be raised, how have the sins of the whole world been expiated? I pass by the dotages of the fanatics, who under this pretence extend salvation to all the reprobate, and therefore to Satan himself. Such a monstrous thing deserves no refutation. They who seek to avoid this absurdity, have said that Christ suffered sufficiently for the whole world, but efficiently only for the elect. This solution has commonly prevailed in the schools. Though then I allow that what has been said is true, yet I deny that it is suitable to this passage; for the design of John was no other than to make this benefit common to the whole Church. Then under the word ‘all’ or whole, he does not include the reprobate, but designates those who should believe as well as those who were then scattered through various parts of the world” (= Di sini bisa ditanyakan, bagaimana dosa dari seluruh dunia telah ditebus? Saya mengabaikan kebodohan dari orang-orang fanatik, yang dengan alasan ini meluaskan keselamatan kepada semua orang reprobate / orang yang ditentukan untuk binasa, dan karena itu kepada Setan sendiri. Hal yang mengerikan seperti itu tidak layak mendapatkan bantahan. Mereka yang berusaha untuk menghindari hal yang menggelikan ini, telah berkata bahwa Kristus menderita secara cukup untuk seluruh dunia, tetapi secara efisien hanya untuk orang pilihan. Penyelesaian / solusi ini telah berlaku secara umum di sekolah-sekolah / aliran-aliran. Sekalipun saya mengakui bahwa apa yang telah dikatakan itu adalah benar, tetapi saya menyangkal bahwa itu cocok untuk text ini; karena tujuan Yohanes tidak lain dari membuat keuntungan / manfaat ini berlaku untuk seluruh Gereja. Jadi dalam kata ‘semua’ atau ‘seluruh’, ia tidak memasukkan orang-orang reprobate / orang yang ditentukan untuk binasa, tetapi menunjuk mereka yang percaya dan mereka yang pada saat itu tersebar di berbagai bagian dunia) - hal 173.

 

Apa dasarnya untuk mempercayai pandangan Calvinisme / Reformed dan bukannya pandangan Arminian?

 

1)  Dari 1Yoh 2:2 ini:

 

a)  Surat Yohanes ditujukan kepada Yahudi Kristen.

 

Ini terlihat dari:

 

·        Gal 2:9 - Yohanes adalah rasul untuk orang Yahudi.

 

·        1Yoh 2:7 - kata-kata ‘perintah lama’ tidak memungkinkan surat ini untuk non Yahudi.

 

Karena itu kata ‘kita’ dalam 1Yoh 2:2 ini jelas menunjuk pada orang kristen tertentu, yaitu orang kristen Yahudi.

 

b)  Tujuan Yohanes dalam bagian ini: menghibur orang percaya pada saat mereka jatuh ke dalam dosa (1Yoh 2:1).

 

Jadi adalah aneh kalau ia tahu-tahu mengatakan bahwa Kristus mati untuk menebus seluruh dunia (termasuk orang non kristen / bukan pilihan). Jauh lebih cocok kalau ia berkata bahwa Kristus mati untuk semua orang pilihan / percaya.

 

c)  Sekarang kita membahas kata ‘pendamaian’ dalam 1Yoh 2:2.

 

NASB/KJV: ‘Propitiation’ (= Penebusan).

 

NIV: ‘Atoning sacrifice’ (= Korban yang menebus).

 

RSV: ‘Expiation’ (= Penebusan).

 

Kata Yunaninya adalah HILASMOS (1Yoh 2:2  1Yoh 4:10).

 

HILASKOMAI, yaitu kata kerjanya muncul dalam Ibr 2:17 dan Luk 18:13.

 

Akar katanya yaitu HILAO berarti ‘to appease’ (= menenangkan / memenuhi tuntutan), ‘to pacify’ (= menenangkan), ‘to reconcile / to conciliate’ (= mendamaikan).

 

Jadi, dalam kata HILASMOS tercakup:

 

·        dosa ditebus / ditutup.

 

·        hukum dipenuhi tuntutannya.

 

·        orang berdosa diampuni.

 

·        Allah dipenuhi tuntutanNya, ditenangkan / diredakan murkaNya, dan diperdamaikan dengan orang berdosa itu.

 

Kalau ini ditujukan kepada ‘setiap orang di dunia’ maka akan menimbulkan Universalisme (ajaran yang mengatakan bahwa akhirnya semua orang akan masuk surga), yang jelas ditolak oleh semua orang kristen yang alkitabiah dan injili.

 

2)  Dari hal-hal lain / ayat-ayat lain:

 

a)  Ayat-ayat Kitab Suci seperti:

 

·        Mat 1:21 - untuk umatNya.

 

·        Mat 20:28 - banyak orang.

 

·        Yoh 10:11,15 - untuk domba-dombaNya.

 

Yesus berkata: ‘Aku memberikan nyawaKu bagi domba-dombaKu’ (Yoh 10:15b). Tetapi juga berkata kepada orang Farisi: kamu bukanlah dombaKu (Yoh 10:26). Jadi jelas Yesus tidak mati untuk orang Farisi itu.

 

·        Yoh 15:13 - menyerahkan nyawaNya untuk sahabat-sahabatNya.

 

·        Yoh 17:9,20 - hanya berdoa untuk orang yang percaya atau yang akan percaya, yang jelas menunjuk kepada orang-orang pilihan.

 

·        Kis 20:28 - untuk gereja.

 

·        Ro 8:32-35 - untuk orang-orang pilihan.

 

·        Ef 5:25-27 - untuk gereja.

 

b)  Adanya Predestinasi tidak memungkinkan Allah melakukan penebusan terhadap semua orang, karena memang bukan kehendak / RencanaNya untuk menyelamatkan semua orang.

 

c)  Kalau Kristus mati untuk semua orang, maka hanya ada 2 kemungkinan:

 

·        Allah gagal mencapai tujuan / RencanaNya, karena dalam faktanya nanti akan ada banyak orang yang masuk ke neraka.

 

·        Allah berhasil mencapai tujuanNya, dan ini menghasilkan Universalisme (ajaran yang mengatakan bahwa akhirnya semua orang akan masuk surga).

 

Tidak ada orang kristen yang alkitabiah /  injili  yang  mau menerima yang manapun dari 2 kemungkinan tersebut di atas, karena yang pertama merupakan penghinaan terhadap Allah seakan-akan Ia tidak mahakuasa, dan yang kedua jelas bertentangan dengan Kitab Suci!

 

d)  Kalau Kristus mati untuk semua orang, maka orang yang tak percaya yang akhirnya masuk ke neraka, dosanya dihukum 2 x. Ini tidak adil!

 

e)  Sebelum Kristus mati menebus dosa, sudah ada orang yang binasa dalam dosa mereka, dan jelas masuk ke neraka. Jadi jelas bahwa Kristus tak mati untuk menebus dosa mereka.

 

Penutup / kesimpulan.

 

Kristus mati untuk semua orang pilihan. Tetapi di antara orang pilihan itu ada banyak yang belum percaya. Kita mempunyai kewajiban untuk memberitakan Injil kepada orang-orang itu, supaya mereka bisa diselamatkan. Maukah saudara memberitakan Injil?

 

 

-AMIN-