Eksposisi Kitab Samuel yang Pertama

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.


I Samuel 19:1-24

 

I) Saul mau membunuh Daud.

 

1)   Saul merencanakan pembunuhan terhadap Daud secara terbuka (ay 1).

 

Saul maju selangkah demi selangkah dalam kejahatannya. Ini terlihat dari urut-urutan dosanya:

 

a)   Mula-mula ia iri hati / marah karena Daud dipuji lebih dari dirinya sendiri (1Sam 18:6-9).

 

b)   Lalu ia sendiri berusaha membunuh Daud (1Sam 18:10-11).

 

c)   Lalu ia merencanakan supaya Daud dibunuh melalui tangan orang Filistin. Ini dilakukannya 2 x yaitu:

 

·        menempatkan Daud sebagai kepala pasukan 1000 sehingga ada di garis depan (1Sam 18:13-14).

 

·        menawarkan anaknya untuk menjadi istri Daud dengan syarat bahwa Daud memberi mas kawin berupa 100 kulit khatan orang Filistin (1Sam 18:17-30).

 

d)   Sekarang ia berani merencanakannya dengan orang-orang lain (ay 1).

 

Penerapan:

 

Jangan membiarkan dosa ada dalam diri saudara, karena dosa itu selalu bertumbuh menjadi dosa yang makin hebat! Perhatikanlah apa yang dikatakan oleh John Owen di bawah ini.

 

John Owen: “Cease not a day from this work; be killing sin or it will be killing you” (= Jangan berhenti satu haripun dari pekerjaan ini; bunuhlah dosa atau dosa itu akan membunuhmu) - ‘The Works of John Owen’, vol 6 (‘Temptation and Sin’), hal 9.

 

2)   Yonatan termasuk di antara orang-orang yang diajak oleh Saul untuk membunuh Daud (ay 1).

 

a)   Mengajak Yonatan untuk membunuh Daud merupakan kebodohan Saul.

 

Pulpit (hal 363). mengatakan bahwa semua dosa merupakan sejenis kegilaan / kebodohan. Misalnya Adam dan Hawa mengira bisa bersembunyi dari Allah di antara pohon-pohon (Kej 3:8). Di sini Saul menjadi begitu bodoh sehingga ia mengira bahwa anaknya yang saleh, yaitu Yonatan, bisa mau ikut berkomplot dengan dia untuk membunuh Daud. Andaikatapun ia tidak mengetahui tentang persahabatan Daud dengan Yonatan, seharusnya ia tetap tahu bahwa anaknya yang saleh itu tidak akan membunuh orang yang tidak bersalah, apalagi membunuh Daud yang dianggap sebagai pahlawan karena telah mengalahkan Goliat.

 

b)   Saul mengira Yonatan sama seperti dirinya sendiri.

 

Pada waktu mengajak berkomplot, tidak mungkin Saul tidak memberitahu Yonatan, apa ‘bahaya’nya Daud bagi mereka berdua, yaitu bahwa Daudlah yang akan menjadi raja, menggeser Saul dan Yonatan.

 

Mungkin ia berpikir bahwa Yonatan akan mau membunuh Daud karena alasan yang sama dengan yang ia miliki yaitu iri hati. Dalam hal ini ia melakukan tindakan yang bodoh, yang sangat umum di kalangan orang jahat, dimana ia mengira bahwa alasan / godaan yang mempunyai kekuatan terhadapnya, juga mempunyai kekuatan terhadap orang lain.

 

3)   Sikap Yonatan terhadap ajakan Saul.

 

a)   Konflik dalam diri Yonatan.

 

Dalam diri Yonatan sendiri mungkin ada konflik antara kepentingan duniawi (menjadi raja) dan kesetiaan kepada sahabatnya. Tidak sedikit orang yang kalah dalam pencobaan seperti ini, tetapi Yonatan menang dalam konflik ini.

 

Penerapan:

 

Kalau saudara mengalami konflik antara kepentingan duniawi dan kesetiaan kepada sahabat, kepada gereja, kepada Tuhan, dsb, apakah saudara menang?

 

b)   Sikap / keadaan Saul pasti menyedihkan Yonatan.

 

Sebagai orang saleh, Yonatan pasti sangat sedih melihat penurunan kerohanian ayahnya, tetapi yang paling menyedihkannya adalah bahwa ayahnya mengajaknya berkomplot untuk membunuh sahabatnya tanpa alasan. Ada banyak anak yang sedih melihat kelakuan ayahnya yang jahat; dan kiranya kita tidak meniru Saul dalam hal ini.

 

c)   Yonatan memberitahu Daud tentang rencana ayahnya untuk membunuhnya (ay 2).

 

Pulpit Commentary: “Father and son are at cross purposes concerning the life of one who in the providence of God is to supplant both” (= Ayah dan anak mempunyai tujuan yang bertentangan mengenai nyawa dari orang yang dalam providensia Allah akan menggantikan keduanya) - hal 363.

 

d)   Yonatan menasehati ayahnya (ay 3b-5).

 

Anak menasehati ayah jelas merupakan sesuatu yang sukar. Beranikah / maukah saudara menasehati / memberitakan Injil kepada orang tua saudara?

 

Pulpit (hal 364) mengatakan bahwa ada 3 hal yang penting dalam hal ini:

 

·        Yonatan memberitakan kebenaran, dan kalau kita melakukan hal seperti ini maka kita juga harus memberitakan kebenaran. Maksudnya, jangan melakukan hal ini dengan dusta.

 

Kebenaran yang diberitakan oleh Yonatan adalah kebaikan Daud dan ketidakbersalahan Daud. Ini yang harus kita lakukan kalau mau mendamaikan orang. Atau kalau tidak ada pendamai, dan saudara ingin berdamai dengan seseorang, maka pikirkanlah apa kebaikan orang itu.

 

·        Yonatan memberitahukan kebenaran itu dengan cara yang baik, sopan. Cara yang keras akan membangkitkan permusuhan / kemarahan.

 

·        Banyak berdoa. Sekalipun di sini tidak diceritakan, pasti Yonatan maupun Daud berdoa untuk persoalan ini.

 

4)   Saul menuruti perkataan Yonatan (ay 6).

 

a)   Penyesalan Saul ini menunjukkan bahwa Saul adalah orang yang sangat plin-plan. Ada penafsir yang beranggapan bahwa ini menunjukkan bahwa dalam diri Saul masih ada sedikit perasaan yang mulia. Tetapi mengingat bahwa pertobatannya di sini merupakan pertobatan yang semu, maka saya berpendapat ini harus diragukan.

 

b)   Saul menuruti kata-kata Yonatan sambil bersumpah (ay 6).

 

c)   ‘Pertobatan’ Saul ini menyebabkan Daud bisa kembali bekerja seperti dulu (ay 7).

 

II) Saul ingin membunuh Daud lagi.

 

1)   Keinginan Saul untuk membunuh Daud kambuh.

 

a)   Ada perang lagi antara Israel dan Filistin; Daud maju berperang dan menang lagi (ay 8).

 

Perhatikan hati yang begitu mulia dari Daud. Sekalipun ada ‘ganjelan’ antara dia dengan Saul, ia tetap mencintai negara, bangsa dan Tuhannya, dan ia tetap berperang demi negara, bangsa dan Tuhannya.

 

Bandingkan dengan banyak orang kristen yang begitu ada sedikit pertengkaran atau ada ganjelan dengan pendeta / majelis / orang kristen yang lain, lalu ngambek dan tidak mau melayani / berperang lagi!

 

b)   Saul berusaha membunuh Daud lagi (ay 9-10).

 

Setan tidak pernah senang dengan perdamaian. Rupanya ia menggunakan kemenangan Daud dalam ay 8 untuk membangkitkan kembali iri hati dari Saul, sehingga Saul kumat, dan lagi-lagi berusaha membunuh Daud, padahal tadi dalam ay 6 ia bersumpah bahwa Daud tidak akan dibunuh. Ini menunjukkan bahwa dosa yang sudah ditinggalkan mudah kembali! Karena itu waspadalah terhadap dosa yang sudah saudara tinggalkan, karena kalau tidak itu bisa kembali lagi.

 

c)   Tetapi pembunuhan ini lagi-lagi gagal, dan Daud melarikan diri (ay 10b).

 

2)   Mikhal, istri Daud, menolong Daud (ay 11-17).

 

a)   Saul mengirimkan orang-orangnya untuk mengamat-amati rumah Daud, dan untuk membunuhnya pada waktu pagi (ay 11).

 

b)   Tetapi Mikhal, istri Daud yang juga adalah anak Saul, memberitahu Daud tentang hal itu, dan membantu Daud untuk lolos melalui jendela (ay 11).

 

Mulai saat ini Daud menjadi seorang pelarian selama bertahun-tahun. Ini merupakan ujian bagi imannya. Ia diurapi oleh Samuel untuk menjadi raja, tetapi kalau tadi ia menjadi kepala pasukan, dan ini kelihatannya cocok dengan nubuat / pengurapan itu, maka sekarang ia menjadi buronan selama ± 7 tahun, dan ini kelihatannya bertentangan dengan nubuat / pengurapan tersebut.

 

Penerapan:

 

Seringkah saudara mengalami hal-hal yang kelihatannya bertentangan dengan Firman Tuhan? Yang mana yang saudara percayai: Firman Tuhan atau hal-hal itu?

 

c)   Mikhal menggunakan sebuah terafim yang disamarkan sebagai Daud yang sakit (ay 13).

 

Berbeda dengan terafimnya Laban yang kecil dan bisa disembunyikan oleh Rahel di bawah pelana untanya (Kej 31:34), maka rupanya terafim Mikhal ini cukup besar sehingga terlihat sebagai seorang manusia.

 

Entah bagaimana dan dari mana ia mempunyai terafim, padahal ini jelas merupakan penyembahan berhala dan adalah dosa.

 

Bandingkan dengan 1Sam 15:23a - Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim.

 

d)   2 x Mikhal berdusta (ay 14,17b), yang pertama untuk menolong Daud, yang kedua untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

 

Beberapa komentar tentang dusta Mikhal ini:

 

·        Pulpit Commentary: “The statement of the facts in Scripture is by no means identical with approval of them. God’s purposes have sometimes been furthered by the actions of imperfect men, but the actions have been their own, and never have had Divine approval” (= Pernyataan tentang fakta-fakta dalam Kitab Suci sama sekali tidak identik dengan persetujuan terhadap fakta-fakta itu. Rencana / tujuan Allah kadang-kadang dibantu oleh tindakan-tindakan dari manusia yang tidak sempurna, tetapi tindakan-tindakan itu merupakan tindakan-tindakan mereka sendiri, dan tidak pernah mendapatkan persetujuan ilahi) - hal 366.

 

·        Pulpit Commentary: “Her fear of her father was greater than her love for truth; and her love for her husband  greater than her hatred of sin” (= Rasa takutnya kepada ayahnya lebih besar dari pada cintanya kepada kebenaran; dan cintanya kepada suaminya lebih besar dari pada kebenciannya kepada dosa) - hal 371.

 

·        Pulpit Commentary: “The safe rule is ‘not to do evil that good may come.’ ... It is not for us to say that dangers will be avoided by occasional lies. The principle involved in truth-speaking is of vast importance in all times and places, and is worth the sacrifice of much for its vindication. Suppose a man is slain rather than utter a lie, does not his martyrdom for truth, in the enduring moral sphere, bring greater good to moral beings and himself than could have come from trampling on a sacred principle for a present advantage? God, moreover, does not leave his servants when they do right. Had Michal stated the facts she would have saved her husband from slander, and there were ten thousand ways by which God could have frustrated the purpose of the men and shielded David. Our duty is to be true and leave consequences to God. God does not lie - we are children of God; Christ did not lie - we are followers of Christ” (= Peraturan yang aman adalah ‘jangan melakukan kejahatan supaya terjadi hal yang baik’. ... Kita tidak boleh mengatakan bahwa bahaya-bahaya akan dihindarkan oleh dusta. Prinsip yang tercakup dalam pengucapan kebenaran merupakan sesuatu yang sangat penting di setiap saat dan di segala tempat, dan layak untuk mendapatkan pengorbanan yang besar untuk mempertahankannya. Seandainya seseorang dibunuh dari pada mengucapkan suatu dusta, bukankah kematian syahidnya untuk kebenaran, dalam bidang moral yang abadi, menghasilkan kebaikan yang lebih besar kepada makhluk-makhluk bermoral dan kepada dirinya sendiri dari pada yang bisa dihasilkan melalui penginjak-injakan prinsip yang kudus demi kepentingan saat ini? Lebih dari itu, Allah, biasanya tidak meninggalkan pelayan-pelayanNya pada waktu mereka bertindak benar. Andaikata Mikhal mengatakan kebenaran ia akan menyelamatkan suaminya dari fitnahan, dan ada 10.000 cara dengan mana Allah bisa menggagalkan rencana manusia dan melindungi Daud. Kewajiban kita adalah untuk menjadi benar / berkata benar dan menyerahkan konsekwensinya kepada Allah. Allah tidak berdusta dan kita adalah anak-anak Allah; Kristus tidak berdusta, dan kita adalah pengikut-pengikut Kristus) - hal 366.

 

Bahwa dusta Mikhal tidak dibutuhkan terlihat dari ay 18-24, dimana Allah mampu melindungi Daud tanpa dusta siapapun dan tanpa pertolongan siapapun.

 

e)   Jerat Saul bagi Daud menjerat dirinya sendiri.

 

Tadinya Saul memberikan Mikhal untuk menjadi istri Daud hanya sebagai tipu muslihat / jerat untuk membunuh Daud melalui tangan orang Filistin (1Sam 18:21-30), tetapi sekarang ‘jerat’ tersebut dipakai oleh Tuhan untuk menggagalkan pembunuhannya atas Daud!

 

Bandingkan dengan:

 

·        Maz 7:16-17 - “Ia membuat lobang dan menggalinya, tetapi ia sendiri jatuh ke dalam pelubang yang dibuatnya. Kelaliman yang dilakukannya kembali menimpa kepalanya, dan kekerasannya turun menimpa batu kepalanya”.

 

·        Amsal 26:27 - “Siapa menggali lobang akan jatuh ke dalamnya, dan siapa menggelindingkan batu, batu itu akan kembali menimpa dia”.

 

Penerapan:

 

Karena itu jangan pernah membuat jerat / lubang untuk orang lain.

 

3)   Tuhan sendiri menolong Daud (ay 18-24).

 

a)   Daud lari kepada Samuel di Nayot (ay 18).

 

·        Kata ‘Nayot’ seharusnya adalah Nevayoth, dan ini bukan nama tempat, tetapi berarti ‘dwellings’ (= tempat tinggal) atau ‘lodgings’ (= penginapan), dan orang Chaldee selalu menterjemahkan ‘house of study’ (= rumah belajar).

 

·        Rupanya di sini Samuel membentuk semacam sekolah nabi.

 

Jadi, pada waktu ada perang antara Israel dengan Filistin dan juga ada rencana / usaha dari Saul untuk membunuh Daud, Samuel tetap melakukan aktivitas rohani (puji-pujian, ibadah, pengajaran Firman Tuhan, doa, dsb.) di tempat ini. Dan semua ini mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi kehidupan negara tersebut.

 

Pulpit (hal 367) mengatakan bahwa kehidupan yang lebih baik dari bangsa dan negara itu pada jaman Daud dan Salomo merupakan hasil / akibat dari aktivitas rohani tersebut.

 

Bandingkan dengan jaman Kisah Rasul, dimana sekelompok kecil orang kristen berdoa (Kis 1:13-14), dan menyebabkan tersebarnya kekristenan di seluruh wilayah kekaisaran Romawi.

 

Penerapan:

 

Karena itu di tengah-tengah kekacauan dalam negara ini, krisis ekonomi, juga di tengah-tengah segala problem dan kesibukan saudara, maka:

 

*        tetaplah lakukan dan bahkan tingkatkan aktivitas rohani saudara.

 

*        banyaklah berdoa, baik untuk negara maupun untuk gereja!

 

b)   Saul dan orang-orang suruhannya bernubuat (ay 19-24).

 

1.   Ketika Saul mendengar bahwa Daud ada di Nayot, maka ia mengirim orang-orang suruhan untuk mengambil Daud (ay 19-20a).

 

Tetapi lalu terjadi apa yang diceritakan dalam ay 20b-21 - “Tetapi orang-orang ini melihat sekumpulan nabi kepenuhan, dengan dikepalai oleh Samuel. Dan Roh Allah hinggap pada orang-orang suruhan Saul, sehingga merekapun kepenuhan seperti nabi. Lalu hal itu diberitahukan kepada Saul; ia mengirim orang-orang suruhan yang lain, tetapi orang-orang itupun juga kepenuhan seperti nabi. Saul mengirim sekali lagi orang-orang suruhan, rombongan yang ketiga, dan orang-orang inipun juga kepenuhan. Semua yang saya garis bawahi ini salah terjemahan; bandingkan dengan terjemahan NIV di bawah ini.

 

NIV: ‘But when they saw a group of prophets prophesying, with Samuel standing there as their leader, the spirit of God came upon Saul’s men and they also prophesied. Saul was told about it, and he sent more men, and they prophesied too. Saul sent men a third time, and they also prophesied (= Tetapi ketika mereka melihat sekumpulan nabi bernubuat, bersama Samuel yang berdiri di sana sebagai pemimpin mereka, Roh Allah datang kepada orang-orang Saul dan mereka juga bernubuat. Saul diberitahu tentang hal itu, dan ia mengirim lebih banyak orang, dan mereka bernubuat juga. Saul mengirim orang-orang untuk ketiga-kalinya, dan mereka juga bernubuat). KJV/RSV/NASB » NIV.

 

Jadi, orang-orang itu bukannya kepenuhan Roh Kudus, tetapi hanya bernubuat.

 

2.   Akhirnya Saul sendiri datang ke Nayot / Rama, dan lalu terjadilah apa yang diceritakan dalam ay 23-24 - “Lalu pergilah ia ke sana, ke Nayot, dekat Rama dan pada diapun hinggaplah Roh Allah, dan selama ia melanjutkan perjalanannya ia kepenuhan seperti nabi, hingga ia sampai ke Nayot dekat Rama. Iapun menanggalkan pakaiannya, dan iapun juga kepenuhan di depan Samuel. Ia rebah terhantar dengan telanjang sehari-harian dan semalam-malaman itu. Itulah sebabnya orang berkata: ‘Apakah juga Saul termasuk golongan nabi?’.”. Ini juga salah terjemahan seperti bagian yang di atas; bandingkan dengan terjemahan NIV di bawah ini.

 

NIV: “So Saul went to Naioth at Ramah. But the Spirit of God came even upon him, and he walked along prophesying until he came to Naioth. He stripped off his robes and also prophesied in Samuel’s presence. He lay that way all that day and night. This is why people say, ‘Is Saul also among the prophets?’.” (= Lalu Saul pergi ke Nayot di Rama. Tetapi Roh Allah juga datang kepada dia, dan ia berjalan sambil bernubuat sampai ia tiba di Nayot. Ia menanggalkan jubahnya dan juga bernubuat di hadapan Samuel. Ia berbaring dalam keadaan itu sepanjang hari dan malam. Itulah sebabnya orang berkata: ‘Apakah Saul juga ada di antara nabi-nabi?’). KJV/RSV/NASB » NIV.

 

Catatan: Dalam Kitab Suci seringkali kata ‘telanjang’ digunakan dalam arti ‘tidak memakai jubah luar’, bukan ‘telanjang bulat’. Misalnya Ul 28:48  2Sam 6:20  Yes 20:2-4  Mikha 1:8  Amos 2:16  Yoh 21:7.

 

3.   Pembetulan terjemahan dari ‘kepenuhan’ menjadi ‘bernubuat’ ini penting, supaya orang tidak menafsirkan bahwa orang yang kepenuhan Roh Kudus, bisa rebah / telanjang dan sebagainya!

 

Kalau kita membaca seluruh ayat-ayat Kitab Suci tentang orang-orang yang rebah / tumbang / pingsan / menjadi lemas dsb, maka bisa disimpulkan beberapa kemungkinan sebagai berikut:

 

·        Hal itu datang dari Tuhan, tetapi ditujukan kepada orang-orang yang bukan anakNya, untuk menghukum / menghajar / mempertobatkan mereka. Misalnya: raja Saul (1Sam 19:23-24), Saulus (Kis 9:2-6), orang yang mau menangkap Yesus (Yoh 18:6), dsb.

 

Karena ini ditujukan kepada orang yang bukan anak Tuhan, maka jelas ayat-ayat ini tidak bisa dijadikan dasar dari ‘tumbang / rebah dalam Roh’! Disamping itu, ini adalah hukuman / hajaran, sedangkan ‘tumbang / rebah dalam Roh’ diartikan sebagai berkat (blessing) dari Tuhan.

 

·        Hal itu datang dari setan, dan terjadi pada diri orang yang kerasukan setan. Ini bisa (tidak selalu) terjadi:

 

*        pada waktu setan itu masih ada di dalam orang itu, dimana ia membanting-banting orang itu, atau membuat orang itu melakukan aktivitas-aktivitas aneh di luar kontrol dari orang yang kerasukan itu (Mat 17:15  Mark 9:17-18  Luk 9:39  Mark 5:3-5). Aktivitas tak terkontrol sebagai akibat tindakan setan ini bahkan terjadi pada binatang / babi (Mark 5:13).

 

Karena itu kalau dalam Toronto Blessing / kalangan Kharismatik ada aktivitas aneh yang terjadi di luar kontrol dari orangnya, itu harus dicurigai sebagai pekerjaan setan!

 

*        pada waktu orang yang kerasukan itu dibawa kepada Yesus (Mark 9:20  Mark 3:11  Luk 8:28).

 

*        pada waktu setannya sedang diusir dan pada waktu setannya baru keluar (Mark 9:25-26). Ini terjadi karena tubuh yang baru dipakai oleh setan untuk melakukan aktivitas yang hebat itu lalu menjadi lemas pada waktu setannya meninggal­kan tubuh itu.

 

Karena itu, orang-orang Kharismatik yang setuju dengan ‘tumbang / rebah dalam Roh’, mengatakan bahwa orang-orang yang rebah itu bisa rebah / pingsan karena ada kuasa gelapnya.

 

Terhadap hal ini saya menjawab bahwa tidak mungkin begitu banyak orang yang rebah itu semua mempunyai kuasa gelap, karena pada diri merekapun tak ada tanda-tanda kerasukan. Dan disamping itu, hamba Tuhannya tidak menengking setan, tetapi hanya menumpangi tangan (bahkan dari jarak jauh); lalu mengapa setannya tahu-tahu pergi tanpa ditengking?

 

Karena kemungkinan kedua ini merupakan pekerjaan setan, maka jelas bahwa ayat-ayat ini tidak bisa dijadikan dasar dari ‘tumbang / rebah dalam Roh’ yang dianggap sebagai pekerjaan Tuhan!

 

Perlu juga saudara ketahui bahwa dalam Kitab Suci tidak pernah dikatakan Tuhan membuat anak-anakNya jatuh pingsan, dan tidak pernah Tuhan membanting-banting anak-anakNya. Yang senang melakukan hal-hal seperti itu hanyalah setan. Karena itu saya mencurigai ‘tumbang / rebah dalam Roh’ justru sebagai pekerjaan kuasa gelap! Bisa saja para ‘hamba Tuhan’ itu menggunakan kuasa gelap, supaya dianggap sakti. Ingat bahwa menjelang akhir jaman ada banyak nabi palsu!

 

·        Hal ini datang dari orang itu sendiri.

 

Rasa takut, yang diikuti dengan muka yang menjadi pucat, badan lemas, kehilangan tenaga dan jatuh pingsan, merupakan reaksi normal yang sering terjadi pada orang-orang yang mendapat penglihatan tentang Tuhan. Saya menyebut ini sebagai reaksi normal, karena hal ini juga bisa terjadi kalau orang melihat hantu atau hal menakutkan lainnya. Karena itu mengapa tidak bisa terjadi kalau orang melihat malaikat atau Tuhan sendiri, yang jauh lebih dahsyat dari setan / hantu?

 

Bahwa hal ini sebetulnya bukan merupakan pekerjaan Tuhan, terbukti dari fakta bahwa Tuhan justru menyuruh orang yang rebah itu bangun, atau bahkan Tuhan membangunkan orang yang rebah itu (Yeh 2:1-2  Yeh 3:24  Daniel 8:18).

 

Karena ini datang dari orang itu sendiri, dan bukan merupa­kan pekerjaan Tuhan, maka lagi-lagi kejadian-kejadian ini tidak bisa dijadikan dasar dari ‘tumbang / rebah dalam Roh’.

 

Kesimpulannya:

 

Dalam Kitab Suci tidak ada ayat yang mendukung ‘tumbang / rebah dalam Roh’! ‘Tumbang / rebah dalam Roh’ adalah sesuatu yang sama sekali tidak Alkitabiah! Kalau saudara mengalami hal itu, ingatlah bahwa kemungkinan besar itu adalah pekerjaan setan!

 

4.   Pulpit (hal 375) mengatakan bahwa Daud sendiri juga pernah mengalami kegembiraan / semangat yang hebat pada waktu ia menari-nari di depan tabut perjanjian, tetapi pikirannya tetap waras, dan ia tetap mempunyai penguasaan diri. Ini berbeda dengan para utusan Saul, yang sekalipun tidak kehilangan kesadaran secara total, tetapi jelas kehilangan sebagian kewarasannya, karena mereka lupa akan tugasnya untuk menangkap Daud. Lebih-lebih ini berbeda dengan Saul, yang betul-betul kehilangan kewarasan, kesadaran dan penguasaan dirinya.

 

Pulpit Commentary: “We may be reminded here that David could show no small excitement, for he danced before the ark in the sight of all Israel (2Sam. 6:14). True; but in all the enthusiasm of that great occasion King David was sober-minded and self-possessed. He had good reasons for leading the sacred processional dance, as may afterwards be shown; but, far from giving  way to excitement, or losing his senses like Saul, he went calmly through the duties of an eventful and fatiguing day. He offered burnt offerings and peace offerings. Then he blessed the people, causing provisions to be distributed among them. And after all this ‘David returned to bless his house.’ Such is the enthusiasm we desire. To be full of joy before the Lord, but at the same time to be of a healthy mind, ready for public or private duty hour by hour. But we see no good in nervous excitement or hysterical ecstasy” [= Kita bisa diingatkan di sini bahwa Daud bisa menunjukkan kegembiraan yang besar, karena ia menari-nari di depan tabut perjanjian di hadapan seluruh Israel (2Sam 6:14). Benar; tetapi dalam seluruh semangat / kegairahan / kegembiraan yang peristiwa yang besar itu raja Daud tetap waras pikirannya dan tetap mempunyai penguasaan diri. Ia mempunyai alasan yang baik untuk memimpin arak-arakan tari-tarian yang kudus itu, seperti yang ditujukan belakangan; tetapi ia tidak ‘menyerah’ kepada kegembiraan / semangat yang besar itu, ataupun kehilangan pikirannya seperti Saul; ia dengan tenang menjalankan kewajiban-kewajiban dari hari yang penting dan melelahkan itu. Ia mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan. Lalu ia memberkati bangsa itu, dan menyuruh membagikan persediaan / makanan kepada mereka. Dan sesudah semua ini ‘Daud pulang untuk memberi salam kepada / memberkati seisi rumahnya’. Seperti itulah semangat / kegembiraan yang besar yang kita inginkan. Penuh sukacita di hadapan Tuhan, tetapi pada saat yang sama mempunyai pikiran yang sehat, siap untuk kewajiban umum atau pribadi saat demi saat. Tetapi kita tidak melihat kebaikan dalam kegembiraan / semangat yang gelisah (?) atau kegembiraan yang bersifat histeris] - hal 375.

 

5.   Ada 3 orang yang perlu disoroti di sini, yaitu Daud, Samuel dan Saul. Ada 1 orang yang nggeblak / tumbang / rebah, yaitu Saul, sedangkan yang dua tidak rebah / nggeblak. Yang mana dari mereka yang kepenuhan Roh Kudus? Yang mana yang hidupnya berkenan kepada Tuhan?

 

Pulpit Commentary: “The degree in which new religious emotion overpowers the body is generally proportioned to the previous ignorance of the mind, or its estrangement from God. ... This case should teach caution in ascribing any religious value to prostrations, trances, and long fasts (= Tingkat dimana emosi agamawi yang baru menguasai tubuh biasanya sebanding dengan ketidaktahuan / kebodohan dari pikiran, atau pemisahan pikiran itu dari Allah. ... Kasus ini harus mengajarkan kewaspadaan untuk memberikan nilai agama kepada rebah, trance / tidak sadar, dan fast yang panjang ) - hal 375.

 

Catatan: kata ‘fast’ bisa berarti ‘tidak bergerak’, tetapi juga bisa berarti ‘gerakan yang cepat’. Keduanya memungkinkan, karena dalam Toronto Blessing kedua manifestasi itu ada. Tetapi kontex Saul pada saat ini rasanya lebih cocok dengan arti pertama, karena Saul rebah dan tak bergerak untuk waktu yang lama.

 

6.   Saul pernah mengalami hal yang serupa yaitu dalam 1Sam 10:10-12.

 

Pulpit Commentary: “This was not the first time that Saul was so affected, and the recollection of his earlier experience had probably some influence upon him. But then it was a sign that the power of God was for him, now that it was against him. ... It was to Saul more than a warning that he was fighting against God” (= Ini bukan untuk pertama kalinya Saul dipengaruhi seperti itu, dan ingatan tentang pengalamannya yang terdahulu mungkin mempunyai pengaruh terhadapnya. Tetapi pada saat yang terdahulu itu, itu merupakan tanda bahwa kuasa Allah adalah untuk dia, sekarang bahwa itu menentang dia. ... Bagi Saul itu merupakan lebih dari suatu peringatan bahwa ia sedang berkelahi melawan Allah) - hal 373.

 

7.   Roh Kudus datang kepada Saul dan orang-orang suruhannya dan membuat mereka bernubuat, bukan demi mereka, dan juga bukan karena Ia mau menggunakan mereka untuk pelayanan, tetapi justru untuk menentang mereka dan menghalangi mereka menangkap Daud!

 

Pulpit Commentary: “Hitherto Saul appeared to be fighting solely against David; but now that the mysterious spirit of prophecy came upon his messengers and rendered them harmless, it ought to have been obvious to him that in persecuting David he was at war with God” (= Sampai saat ini Saul kelihatannya berperang melawan Daud sendiri; tetapi sekarang bahwa Roh nubuatan yang misterius datang kepada para utusannya dan membuat mereka tidak berbahaya, seharusnya jelas baginya bahwa dalam menganiaya Daud ia sedang berperang melawan Allah ) - hal 368.

 

Bandingkan dengan 1Taw 16:22 - “Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat terhadap nabi-nabiKu!.

 

Catatan: Perlu diketahui bahwa Tuhan tidak selalu melindungi hamba-hambaNya atau anak-anakNya dari bahaya / usaha pembunuhan. Banyak juga yang dibiarkan mati dibunuh / mati syahid, seperti Yohanes Pembaptis dan rasul Yakobus yang dipenggal. Kalau Tuhan membiarkan ini terjadi Ia pasti mempunyai tujuanNya sendiri.

 

Kesimpulan / penutup.

 

Tuhan selalu melindungi Daud. Kadang-kadang Tuhan melakukannya melalui manusia, seperti Yonatan dan Mikhal, dan bahkan Daud sendiri (mengelakkan lemparan tombak, lari dsb.). Dan kadang-kadang Tuhan bahkan melakukannya melalui dosa manusia (dusta Mikhal). Tetapi Tuhan juga bisa melakukannya secara langsung.

 

Karena itu kalau saudara mengalami bahaya apapun, jangan takut, panik atau kuatir. Saudara memang tetap harus melakukan apa yang terbaik selama itu tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, tetapi selanjutnya bersandarlah dan berharaplah pada perlindungan dan pertolongan Tuhan.

 

 

-AMIN-

 



email us at : gkri_exodus@lycos.com