Eksposisi Kitab Samuel yang Pertama

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.


I SAMUEL 13:1-14

 

I) Saul gagal dalam ujian (ay 1-10).

 

      1)   Terjemahan ay 1.

 

KJV: ‘Saul reigned one year; and when he had reigned two years over Israel’ (= Saul memerintah satu tahun; dan pada waktu ia telah memerintah 2 tahun atas Israel).

 

NASB: ‘Saul was forty years old when he began to reign, and he reigned thirty two years over Israel’ (= Saul berumur 40 tahun pada waktu ia mulai memerintah, dan ia memerintah 32 tahun atas Israel).

 

ASV: ‘Saul was [forty] years old when he began to reign, and when he had reigned two years over Israel’ [= Saul berumur (40) tahun pada waktu ia mulai memerintah, dan pada waktu ia telah memerintah dua tahun atas Israel].

 

NIV: ‘Saul was thirty1 years old when he become king, and he reigned over Israel forty2 two years’ (= Saul berumur 30 1 tahun pada waktu ia menjadi raja, dan ia memerintah atas Israel empat puluh 2 dua tahun).

 

Footnote NIV: 1 A few late manuscripts of the Septuagint; Hebrew does not have thirty. 2 See the round number in Acts 13:21; Hebrew does not have forty (= 1 Beberapa manuscript Septuaginta yang belakangan; Ibrani tidak mempunyai ‘tiga puluh’. 2 Lihatlah bilangan bulat dalam Kis 13:21; Ibrani tidak mempunyai ‘empat puluh’).

 

RSV/Lit: ‘Saul was ... 1 years old when he began to reign; and he reigned ... 2 and two years over Israel’ (= Saul berumur ... 1 tahun pada waktu ia mulai memerintah; dan ia memerintah ... 2 dan dua tahun atas Israel).

 

Footnote RSV: 1 The number is lacking in Heb. 2 Two is not the entire number. Something has dropped out (= 1 Bilangannya hilang / tak ada dalam Ibraninya. 2 Dua bukanlah seluruh bilangan. Sesuatu telah hilang).

 

Dari footnote RSV ini kita bisa melihat bahwa terjemahan menjadi berbeda-beda, karena memang dalam manuscript Ibraninya ada bagian-bagian yang kosong / hilang. Mungkin manuscript yang disalin begitu kabur pada bagian ini, sehingga penyalinnya lalu mengosongi bagian ini.

 

2)   Saul ada dalam peperangan melawan Filistin.

 

Dengan membandingkan ay 2 dengan ay 5 kita bisa melihat bahwa tentara Filistin jauh lebih banyak dari tentara Israel.

 

Ay 5: ‘tiga ribu kereta’.

 

NIV: ‘three thousand chariots’ (= tiga ribu kereta).

 

Footnote NIV: ‘Some Septuagint manuscripts and Syriac; Hebrew thirty thousand’ (= Beberapa manuscript Septuaginta dan Syriac; Ibrani tiga puluh ribu).

 

KJV/RSV/NASB/ASV: ‘thirty thousand chariots’ (= tiga puluh ribu kereta).

 

Ada yang menganggap di sini pasti terjadi kesalahan pengcopyan, seharusnya hanya 3.000, bukan 30.000. Alasannya:

 

·        jumlah 30.000 kereta terlalu banyak. Tidak ada kaisar / raja manapun yang mempunyai 30.000 kereta.

 

·        jumlah 30.000 kereta itu tidak seimbang dengan 6.000 pasukan berkuda (ay 5). Ini sama seperti kalau jaman sekarang ada negara yang mempunyai 1000 kapal induk, tetapi hanya 50 kapal perusak. Ini tidak masuk akal.

 

Tetapi Matthew Poole menganggap bahwa mungkin 30.000 itu bukan keretanya, tetapi tentara yang ada di atas kereta.

 

Yang manapun yang benar, ini tetap menunjukkan bahwa tentara Filistin jauh lebih banyak dan lebih kuat dari tentara Israel.

 

Penerapan:

 

Dalam dunia rohani, hal seperti ini sering terjadi. Kalau kita membandingkan jumlah jemaat kita dengan jumlah jemaat agama lain, atau jumlah jemaat gereja-gereja yang Liberal, Kharismatik extrim dsb, kita kalah jumlah. Tetapi hal ini tidak seharusnya membuat kita menjadi kecewa, kecil hati, dsb.

 

Apa yang seharusnya dilakukan oleh Israel dalam menghadapi kekuatan lawan yang jauh lebih besar itu?

 

a)   Menyiapkan tentara seperti dalam ay 2, adalah sesuatu yang harus dilakukan.

 

Penerapan:

 

Ada orang yang berpendapat bahwa dalam menghadapi kerusuhan orang kristen harus ‘berserah’, dan tidak melakukan apa-apa. Saya berpendapat bahwa ini salah. Untuk menghadapi kerusuhan, kita harus melakukan persiapan sebisa mungkin. Tetapi, dalam melakukan persiapan, jangan melakukan persiapan yang:

 

¨      bertentangan dengan Tuhan / Firman Tuhan. Misalnya dengan latihan tenaga dalam atau black magic (= ilmu hitam).

 

¨      bertentangan dengan hukum negara (bdk. Ro 13:1-2), misalnya dengan membeli senjata api tanpa ijin, atau membawa senjata tajam di mobil.

 

Latihan bela diri dan mempunyai senjata tajam atau senapan angin di rumah, atau membawa senjata tumpul di mobil, itu diijinkan. Bandingkan ini dengan apa yang dilakukan orang Yahudi pada jaman Ester, pada waktu bangsa mereka mau dimusnahkan (Ester 8-9).

 

Tetapi kalau saudara sudah melakukan persiapan, jangan beriman / bersandar pada persiapan saudara itu! Bdk. Yes 31:1  Yer 17:5-8.

 

b)   Tetap percaya / beriman kepada Tuhan, seperti Yonatan dalam 1Sam 14:6, atau seperti Elisa dalam 2Raja 6:16. Ini tidak dilakukan oleh Israel, sebaliknya mereka bersikap seperti murid-murid Yesus waktu mengalami badai (Mat 8:23-27), atau seperti Petrus waktu berjalan di atas air (Mat 14:30-31). Mereka menjadi takut / tawar hati dalam peperangan itu, dan bahkan banyak yang lari.

 

Dalam ay 6-7a dikatakan bahwa rakyat bersembunyi / lari, tetapi dalam ay 7b dikatakan bahwa rakyat masih mengikuti Saul. Ini terlihat kontradiksi karena salah terjemahan. Dalam NIV, yang lari dalam ay 6-7a adalah ‘the men of Israel’ (= orang-orang Israel) dan ‘some Hebrews’ (= beberapa orang Ibrani) yang menunjuk kepada rakyat biasa, tetapi yang masih tetap mengikuti Saul dalam ay 7b adalah ‘all the troops’ (= seluruh pasukan), yang menunjuk pada tentara Israel. Tetapi dalam ay 8, tentara juga mulai lari. Lari yang seperti ini jelas dosa karena menunjukkan ketidakpercayaan. Dan perlu diingat juga bahwa sikap tawar hati, takut, dsb ini adalah sikap yang mudah menular! Karena itu kalau dalam perang melawan setan saudara tawar hati, kecewa, malas-malasan, dsb, bereskanlah hal itu secepatnya!

 

Kedua hal di atas ini harus dilakukan dalam setiap situasi, misalnya dalam krisis ekonomi, maka kita harus:

 

*        mencari pekerjaan / penghasilan tambahan, menghemat uang, dsb.

 

*        beriman kepada Tuhan.

 

Hanya kalau Allah memerintahkan kita untuk tidak melakukan apa-apa (seperti dalam Kel 14:13-14), atau dalam situasi dimana kita memang tidak bisa berbuat apa-apa (seperti di padang gurun Israel tidak bisa mengusahakan makanan atau minuman), maka yang point a) boleh dibuang, dan kita hanya beriman saja.

 

3)   Tadinya orang Israel minta raja supaya raja itu bisa memimpin mereka dalam perang (8:19-20), tentu saja dengan harapan mereka akan menang dalam perang itu. Tetapi sekarang kenyataannya sekalipun mereka sudah mempunyai raja, tetapi dalam perang itu mereka terjepit / terdesak (ay 5-7).

 

Matthew Poole: “And hereby God intended to teach them the vanity of all carnal confidence in men; and that they did not one jot less need the help and favour of God now than they did before, when they had no king” (= Dan dengan ini Allah bermaksud mengajar mereka kesia-siaan dari semua keyakinan daging dalam manusia; dan bahwa pada saat ini mereka tidak membutuhkan pertolongan dan kebaikan Allah lebih sedikit satu titikpun dari pada sebelumnya, pada waktu mereka tidak mempunyai raja).

 

Penerapan:

 

Waktu saudara tidak mempunyai istri saudara mengalami godaan untuk berzinah, dan saudara berpikir: ‘Ah andaikata saya mempunyai istri, godaan ini akan hilang’. Tetapi pada waktu saudara sudah mempunyai istri, ternyata godaan itu masih ada, dan mungkin bahkan bertambah kuat. Juga waktu tidak mempunyai uang ada godaan untuk tamak / mengejar uang. Saudara berpikir: ‘Ah andaikata saya banyak uang, pasti godaan itu hilang’. Tetapi setelah mempunyai banyak uang, ternyata godaan untuk tamak / mengejar uang itu bukan hanya masih ada, tetapi bahkan makin bertambah kuat. Jadi, sebetulnya dalam setiap sikon, kita sama tergantungnya pada pertolongan Tuhan!

 

4)   Saul gagal dalam ujian (ay 7-10).

 

a)   Ada perjanjian dengan Samuel untuk menunggu selama 7 hari (ay 8).

 

Para penafsir bertentangan pendapat tentang janji ini. Ada yang beranggapan bahwa ini menunjuk pada janji dalam 1Sam 10:8, dan ada yang menganggap ini menunjuk pada janji yang lain yang tidak ditulis dalam Kitab Suci.

 

b)   Ay 8: hari ke 7 belum habis, jadi sebetulnya Samuel tidak menyalahi janji. Jadi Saul hanya menunggu 6 hari penuh + sebagian dari hari ke 7.

 

Ay 10a: Baru saja ia habis mempersembahkan korban bakaran, maka tampaklah Samuel datang’. Ini menunjukkan bahwa kesabaran / ketekunan Saul dalam menunggu, sebetulnya hanya perlu ditambah sedikit waktu saja!

 

Pulpit Commentary: “Men sometimes wait long for the fulfilment of Divine promises, but not long enough; and their lack of perseverance shows weakness or absence of faith” (= Kadang-kadang manusia menunggu lama untuk penggenapan janji ilahi, tetapi tidak cukup lama; dan kurangnya ketekunan mereka menunjukkan kelemahan atau tidak adanya iman).

 

Pulpit Commentary: “O that he had waited a little longer! ‘Saul lost his kingdom for want of two or three hours’ patience’” (= O andaikata ia menunggu sedikit lebih lama! ‘Saul kehilangan kerajaannya karena kekurangan kesabaran dua atau tiga jam’).

 

Daily Bible Commentary: “The last five minutes of waiting are often the most difficult!” (= Menunggu pada lima menit yang terakhir seringkali adalah yang paling sukar).

 

Penerapan:

 

Sabarlah dalam menunggu penggenapan janji Tuhan, pertolongan Tuhan, atau jawaban doa, baik dalam persoalan ekonomi, jodoh, dsb. Tuhan senang menolong pada saat sudah hampir terlambat!

 

c)   Apa sebetulnya kesalahan Saul?

 

Ada yang mengatakan kesalahannya bukan hanya kurang sabar menunggu Samuel, yang merupakan tanda ketidakpercayaan, tetapi juga karena ia, sebagai seorang raja dan bukan imam, berani mempersembahkan korban kepada Tuhan. Tetapi ay 9-10 tidak harus diartikan bahwa Saul sendiri yang mempersembahkan korban, tetapi bisa diartikan bahwa Saul menyuruh imam mempersembahkan korban. Saya lebih setuju dengan pandangan kedua ini, karena:

 

·        Kalau dikatakan Saul mempersembahkan korban, maka memang bisa diartikan bahwa Saul menyuruh imam untuk mempersembahkan korban. Bdk. 1Raja 3:4 dimana dikatakan bahwa Salomo mempersembahkan korban, padahal pasti ia menyuruh imam mempersembahkan korban. Juga bdk. 1Sam 1:3  2Sam 24:25  1Raja 8:63.

 

Illustrasi: kalau dikatakan bahwa si A membangun rumah, maka tentu tidak diartikan bahwa si A membangun sendiri rumah itu. Tetapi bisa diartikan bahwa si A menggunakan pemborong / tukang batu untuk membangun rumah.

 

·        Dari 1Sam 14:3 terlihat adanya imam Ahia bersama dengan Saul, dan karena itu ia bisa menyuruh imam ini untuk mempersembahkan korban.

 

·        Dalam dialog antara Samuel dan Saul dalam ay 11-14 tidak ada teguran tentang Saul melanggar hak imam dalam mempersembahkan korban. Bandingkan ini dengan 1Taw 26:18 dimana raja Uzia ditegur oleh imam Azarya karena melanggar hak imam tersebut.

 

Kesimpulannya: kesalahan Saul ‘hanya’ karena ketidaksabaran menunggu dan ketidakpercayaan, bukan karena pelanggaran hak imam dalam mempersembahkan korban.

 

II) Dialog Samuel - Saul (ay 11-14).

 

1)   Samuel bertanya: ‘Apa yang telah kauperbuat?’ (ay 11).

 

Ini jelas merupakan pertanyaan yang bersifat teguran, padahal Saul melakukan sesuatu yang secara lahiriah kelihatannya baik, yaitu mempersembahkan korban kepada Tuhan.

 

Pulpit Commentary: “A burnt offering was a symbol and expression of consecration, and when offered aright, in a spirit of obedience, it honoured God and obtained his blessing; but when wrongly offered it was worthless, dishonour him, and was abomination in his sight (ch. 15:22; Prov. 21:27; Isa 1:13). It is the same with other outward forms of service” [= Korban bakaran merupakan suatu simbol dan pernyataan penyerahan diri, dan jika dipersembahkan dengan benar, dalam roh ketaatan, itu menghormati Allah dan mendapatkan berkatNya; tetapi jika dipersembahkan secara salah, itu tidak berharga, tak menghormati Dia, dan merupakan kejijikan dalam pandanganNya (pasal 15:22; Amsal 21:27; Yes 1:13)].

 

Karena itu dalam melakukan Kebaktian, Saat Teduh, mengikuti Perjamuan Kudus, Pemahaman Alkitab, dsb, saudara juga harus memperhatikan sikap hati, motivasi, tujuan saudara dalam melakukan hal-hal itu!

 

2)   Jawaban / alasan Saul untuk tidak menunggu Samuel (ay 11b-12).

 

a)   Rakyat terserak-serak meninggalkan dia. Ini menyalahkan rakyat!

 

b)   ‘Engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan’ (ay 11b). Ini menyalahkan Samuel, padahal Samuel tidak salah.

 

c)   Orang Filistin telah berkumpul dan sebentar lagi akan menyerang (ay 11c-12a). Jadi Saul menggunakan ‘bahaya’ / ‘keadaan darurat’ sebagai alasan untuk berbuat dosa.

 

Pulpit Commentary: “The question implies rebuke, which Saul answers by pleading his danger. ... But it was the reality of the danger which put his faith and obedience to the trial” (= Pertanyaan ini secara tak langsung merupakan teguran / hardikan, yang dijawab oleh Saul dengan menggunakan bahayanya sebagai dalih. ... Tetapi justru kenyataan adanya bahaya itu yang meletakkan imannya dan ketaatannya pada ujian).

 

Keadaan bahaya / darurat memang merupakan saat dimana Setan mencobai kita / Tuhan menguji kita.

 

Pulpit Commentary: “The tempter says, ‘It is better to steal than to starve, better to sin than perish.’” (= Penggoda berkata: ‘Lebih baik mencuri dari pada mati kelaparan, lebih baik berbuat dosa dari pada mati’).

 

Penerapan:

 

Dalam krisis moneter, banyak orang ‘terpaksa’ berbuat dosa, mulai mencuri, merampok, korupsi, menjadi pelacur, atau berusaha mendapatkan uang dengan cara yang tidak halal, bekerja pada hari Minggu sehingga tidak ke gereja, dsb. Padahal situasi seperti ini sebetulnya merupakan ujian bagi kita apakah kita hanya mau taat kepada Tuhan dalam keadaan enak, atau dalam setiap keadaan!

 

d)   Aku belum minta belas kasihan Tuhan (ay 12b).

 

Kesimpulan dari jawaban Saul ini: Saul bukannya mengaku salah dan minta ampun, tetapi sebaliknya mencari segala macam dalih! Ini sama seperti Adam dan Hawa dalam Kej 3:12-13. Bdk. Maz 32:1-5.

 

3)   Jawaban Samuel (ay 13-14).

 

a)   ‘Perbuatanmu itu bodoh’ (ay 13a).

 

Saul ‘terpaksa’ berbuat dosa (ay 8-12), tetapi Samuel berkata bahwa itu adalah tindakan bodoh! Padahal Saul mungkin mengira bahwa ia telah bertindak bijaksana. Hati-hatilah dengan ‘kebijaksanaan’ yang bodoh! Seharusnya Saul bersikap seperti Yesus dalam Mat 4:1-4, atau seperti Yonatan dalam 1Sam 14:6.

 

b)   Ay 13b-14.

 

Ay 13b: ‘sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya’. Ini seakan-akan menunjukkan adanya perubahan rencana Allah.

 

NIV: ‘You have not kept the command the LORD your God gave you; if you had, he would have established your kingdom over Israel for all time’ (= Engkau telah tidak memelihara perintah yang diberikan TUHAN Allahmu kepadamu; seandainya engkau memeliharanya, engkau telah meneguhkan kerajaanmu atas Israel untuk selama-lamanya).

 

Jadi, ini cuma seandainya! Ingat juga bahwa dalam Kej 49:10 kerajaan Israel sudah dijanjikan / dinubuatkan untuk Yehuda, bukan untuk suku Benyamin dari mana Saul berasal! Ketidaktaatan Saul di sini harus terjadi supaya Tuhan bisa menggenapi janjinya dalam Kej 49:10 itu.

 

c)   Ay 13-14: Ini hanya menunjukkan bahwa keturunan Saul tidak akan menjadi raja Israel menggantikan Saul, tetapi tidak menunjukkan bahwa Allah memecat Saul sebagai raja. Setelah kesalahan kedua nanti (1Sam 15) barulah Saul sendiri ditolak menjadi raja.

 

d)   Mengapa Tuhan menghukum kesalahan yang kelihatannya begitu kecil dengan hukuman yang begitu berat? Jawab:

 

1.   Manusia tidak mampu menilai adil tidaknya hukuman Tuhan. Kita hanya melihat luarnya, tetapi Allah melihat segala sesuatu. Allah melihat betapa jahatnya pikiran dan hati Saul pada waktu melakukan hal ini, betapa tidak percayanya ia kepada Tuhan, dan betapa rendahnya otoritas Tuhan / FirmanNya / nabiNya dalam hati Saul.

 

2.   Ini adalah kesalahan pertama dari Saul sejak ia menjadi raja / sejak adanya kerajaan Israel.

 

Matthew Poole: “And it hath been ever held a piece of wisdom in all lawgivers, severely to punish the first violation of their laws, to secure their honour and obedience, and to affright and caution offenders for the future” (= Merupakan hikmat yang selalu dipegang dalam semua pemberi hukum untuk menghukum dengan keras pelanggaran pertama dari hukum-hukum mereka, untuk memastikan hormat dan ketaatan mereka, dan untuk menakut-nakuti dan memperingatkan pada pelanggar untuk masa yang akan datang).

 

Contoh lain:

 

·        hukuman berat bagi Kain, pembunuh pertama (Kej 4:10-14).

 

·        hukuman berat bagi imam yang pertama kalinya membubuhkan api asing (Im 10:1-2).

 

·        hukuman berat bagi pelanggar pertama hukum hari Sabat (Bil 15:32-36).

 

·        hukuman berat bagi pendusta pertama dalam gereja, yaitu Ananias dan Safira (Kis 5:1-11).

 

3.   Ada kemungkinan bahwa sebetulnya hukuman ini belum merupakan keputusan terakhir, dan bisa dibalik / dibatalkan seandainya Saul betul-betul bertobat (bdk. dengan pemberitahuan tentang kehancuran Niniwe dalam Yunus 3:4 yang akhirnya tidak jadi dilaksanakan). Penolakan akhir terjadi dalam 1Sam 15, setelah Saul melakukan kesalahan lagi.

 

4.   Tuhan kadang-kadang memang menghukum dosa yang kecil dengan hukuman yang berat, untuk menunjukkan bahwa sebetulnya itulah hukuman dari dosa yang kecil. Dengan demikian kita akan:

 

·        lebih melihat betapa banyak kita berhutang kepada Allah, karena kita sudah melakukan dosa-dosa yang banyak dan besar, tetapi tidak mendapat hukuman yang hebat!

 

·        kita akan berhenti meremehkan dosa!

 

Penutup / kesimpulan.

 

Tetaplah setia dan percaya kepada Tuhan dalam keadaan darurat!

 

 

-AMIN-

 



email us at : gkri_exodus@lycos.com