Eksposisi Injil Matius

oleh: Pdt. Budi Asali MDiv.


MATIUS 12:1-14

 

Mat 12:1-8:

 

1)   Tuduhan (ay 1-2).

 

a)   Murid-murid bukan dituduh mencuri, karena apa yang mereka lakukan itu bukanlah pencurian, karena memang diijinkan oleh Hukum Taurat (Ul 23:25). Mereka dituduh karena mereka melakukan hal itu pada hari Sabat.

 

b)   Pada hari Sabat memang orang dilarang bekerja (Kel 20:8-11 Kel 34:21 Kel 31:14-15 Kel 35:1-3 Bil 15:32-36 Kel 16:4-5,21-29). Tujuan peraturan ini adalah:

 

·        supaya bisa beristirahat (bdk. Kel 20:11 - ‘rested’ / beristirahat).

 

·        supaya bebas dari hal-hal duniawi sehingga bisa berkonsentrasi pada Tuhan dalam berbakti.

 

c)   Tetapi orang-orang Farisi menambahi peraturan Sabat ini dengan 39 larangan (hal-hal yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat. Mereka beranggapan bahwa:

 

·        memetik gandum = menuai.

 

·        menggisar gandum di tangan = mengirik.

 

·        memisahkan gandum dari kulit = menampi.

 

·        seluruh proses itu = menyiapkan makanan.

 

Dan karena itu mereka menganggap bahwa murid-murid Yesus berdosa melanggar peraturan hari Sabat.

 

2)   Jawaban Yesus:

 

a)   Ay 3-4 (bdk. 1Sam 21:3-6):

 

Roti itu hanya untuk imam (Kel 29:32-34 Im 24:5-9), tetapi Daud dan pengikut-pengikutnya memakannya karena lapar dan hal ini tidak pernah dianggap sebagai suatu dosa / kesalahan.

 

Jadi, kesimpulannya: kebutuhan manusia lebih penting dari peraturan-peraturan ibadah / ceremonial law, sehingga ceremonial law (bukan moral law!) boleh dilanggar dalam keadaan seperti itu, sekalipun ceremonial law itu diberikan oleh Tuhan sendiri.

 

Pada saat itu murid-murid Yesus juga lapar sehingga boleh melanggar peraturan Sabat.

 

Mark 2:25-26 - “JawabNya kepada mereka: ‘Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu - yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam - dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?’”.

 

1Sam 21 memang mengatakan bahwa imam besar pada saat itu adalah Ahimelekh, dan 1Sam 22:20 menunjukkan bahwa Abyatar adalah anak dari Ahimelekh.

 

1Sam 22:20 - “Tetapi seorang anak Ahimelekh bin Ahitub, namanya Abyatar luput; ia melarikan diri menjadi pengikut Daud”.

 

1Sam 22:20 mengatakan bahwa Abyatar = anak Ahimelekh. Tetapi dalam bagian-bagian lain dikatakan sebaliknya:

 

·        2Sam 8:17 - “Zadok bin Ahitub dan Ahimelekh bin Abyatar menjadi imam; Seraya menjadi panitera negara”.

·        1Taw 18:16 - “Zadok bin Ahitub dan Ahimelekh bin Abyatar menjadi imam; Sausa menjadi panitera”.

 

Catatan: untuk 1Taw 18:16, KJV menyebutkan bukan Ahimelekh tetapi Abimelekh, dan NIV memberikan footnote yang mengatakan bahwa beberapa manuscripts Ibrani menyebutkan ‘Ahimelekh’, tetapi mayoritas manuscripts Ibrani menyebutkan ‘Abimelekh’. Tetapi untuk 2Sam 8:17 semua menyebutkan ‘Ahimelekh’!

 

Jadi, yang mana yang benar? ‘Ahimelekh adalah anak dari Abyatar’ (2Sam 8:17) atau ‘Abyatar adalah anak dari Ahimelekh’ (1Sam 22:20)?

 

Dengan mempertimbangkan semua ini J.A. Alexander (hal 54) mengatakan bahwa ada 2 kemungkinan:

 

a)   Memang ada kesalahan dalam penyalinan manuscripts.

 

b)   Nama Ahimelekh (Abimelekh) dan Abyatar merupakan nama-nama warisan dalam keturunan imam dan kadang-kadang kedua nama itu digunakan oleh orang yang sama.

 

Kemungkinan lain adalah mengakui bahwa kita tidak mengetahui jawaban dari persoalan / teka teki ini. Untuk itu perhatikan kata-kata E.J. Young di bawah ini.

 

E.J. Young: “When therefore we meet difficulties in the Bible let us reserve judgment. If any explanation is not at hand, let us freely acknowledge that we do not know all things, that we do not know the solution. Rather than hastily to proclaim the presence of an error is it not the part of wisdom to acknowledge our ignorance?” (= Karena itu pada waktu kita menjumpai problem dalam Alkitab baiklah kita menahan diri dari penghakiman. Jika tidak ada penjelasan yang tersedia, baiklah kita dengan bebas mengakui bahwa kita tidak mengetahui segala sesuatu, bahwa kita tidak mengetahui penyelesaiannya. Dari pada dengan tergesa-gesa menyatakan adanya kesalahan, tidakkah merupakan bagian dari hikmat untuk mengakui ketidak-tahuan kita?) - ‘Thy Word Is Truth’, hal 182.

 

b)   Ay 5-6: imam-imam bekerja dalam Bait Allah pada hari Sabat.

 

·        ‘melanggar’ (ay 5). Yesus memakai kata ini karena Ia menyesuaikan diri dengan jalan pemikiran orang-orang Farisi.

 

·        Pekerjaan imam-imam pada hari Sabat: menyalakan api untuk mezbah, menyembelih binatang, mengangkat binatang ke mexbah, dsb. Semua ini merupakan pekerjaan yang cukup berat.

 

·        Dari sini jelaslah bahwa pada hari Sabat kita boleh melakukan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah (seperti pelayanan, dsb). Ini bukan pelanggaran terhadap hukum Sabat.

 

·        Bait Allah lebih besar dari Sabat (ay 5).

 

Yesus lebih besar dari Bait Allah (ay 6). Jadi Yesus jauh lebih besar dari Sabat. Kalau Bait Allah saja menuntut supaya peraturan Sabat dimodifikasi, apalagi Yesus.

 

c)   Ay 7: ini merupakan kutipan dari Hosea 6:6 (bdk. Mat 9:13).

 

Ini mengecam orang-orang Farisi karena mereka menekankan yang kurang penting tetapi mengabaikan yang penting.

 

d)   Mark 2:27. Arti: Sabat diberikan untuk kebahagiaan manusia dan karena itu jangan menjadikan manusia budak hari Sabat.

 

e)   Ay 8: ‘Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat’.

 

Ada yang menafsirkan bahwa ‘anak manusia’ di sini bukanlah suatu gelar bagi Yesus, tetapi hanya berarti ‘manusia’ (bdk. Maz 8:5 Yeh 2:1,6,8). Penafsiran ini cocok dengan Mark 2:27-28 karena:

 

·        ay 27 menekankan bahwa Sabat itu untuk manusia.

 

·        ay 28: manusia bukan budak Sabat; tetapi Tuhan / tuan atas Sabat.

 

Tetapi bagaimanapun ada keberatan-keberatan yang serius terhadap penafsiran ini:

 

¨      Kata ‘anak manusia’ itu memakai definite article / kata sandang di depannya (‘The Son of Man’) sehingga tidak cocok kalau menunjuk pada manusia secara umum.

 

¨      Dalam Perjanjian Lama memang istilah ‘anak manusia’ sering berarti ‘manusia’, tetapi dalam Perjanjian Baru istilah itu selalu menunjuk kepada Yesus. Perkecualiannya:

 

*        Mark 3:28. Tetapi ini ada dalam bentuk plural / jamak.

 

*        Ef 3:5. Ini juga ada dalam bentuk jamak.

 

*        Ibr 2:6. Ini ada dalam bentuk tunggal, tetapi ini adalah kutipan dari Perjanjian Lama.

 

¨      Mark 2:28: ‘Anak Manusia adalah Tuhan juga atas hari Sabat’.

 

Kata ‘juga’ ini menunjukkan bahwa anak manusia adalah Tuhan atas hal-hal lain, tetapi juga atas hari Sabat. Ini tidak memungkinkan untuk mengartikan bahwa ‘anak manusia’ adalah ‘manusia’. Jelas bahwa ‘Anak Manusia’ di sini menunjuk kepada Yesus!

 

Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat! Karena itu Dialah yang berhak menentukan apa yang harus, boleh, dan tidak boleh dilakukan pada hari Sabat.

 

Mat 12:9-14:

 

1)   Ay 10:

 

a)   Mereka bertanya, tetapi maksudnya / tujuannya: supaya bisa mempersalahkan Yesus. Apakah saudara sering bertanya secara munafik begitu?

 

b)   Orang Yahudi melarang menyembuhkan pada hari Sabat. Kalau orang itu sakit berat dan mau mati, maka ia boleh ditolong, tetapi hanya sekedar untuk mencegah kematiannya, bukan untuk menyembuhkannya.

 

William Barclay berkata: orang Yahudi sering kalah perang gara-gara fanatisme mereka pada hari Sabat (baca 1Makabe 2:31-38 - ini kitab Apocrypha).

 

2)   Ay 11-12: jawaban Yesus.

 

·        binatang ditolong pada hari Sabat.

 

·        manusia lebih penting dari binatang.

 

Jadi, jelas bahwa menolong / menyembuhkan pada hari Sabat adalah sesuatu yang boleh dilakukan.

 

Ay 12b bdk. Luk 6:9 Mark 3:4. Kata-kata ‘membunuh orang / berbuat jahat’ mungkin dimaksudkan untuk menyindir orang-orang Farisi (lihat ay 10,14).

 

3)   Reaksi mereka terhadap kata-kata Yesus: mereka diam saja (Mark 3:4). Mereka tahu mereka salah, tetapi mereka tidak mau mengakui kesalahan. Apakah saudara juga sering berbuat seperti itu?

 

4)   Reaksi Yesus (Mark 3:5).

 

Ia marah. Tetapi ini bukan dosa. Tidak setiap kemarahan adalah dosa (Ef 4:26). Kemarahan Yesus adalah kemarahan yang suci. Buktinya: kemarahan ini disertai dukacita (Mark 3:5). Ini berbeda sekali dengan kemarahan orang-orang Farisi (Luk 6:11). Kalau saudara marah, saudara marah dengan kemarahan yang bagaimana?

 

5)   Yesus menyembuhkan orang itu pada saat itu juga (ay 13).

 

a)   Ia tidak mau menunda, karena penundaan jelas merupakan kompromi.

 

b)   Orang itu diperintah mengulurkan tangan. Ini tidak mungkin karena tangannya mati. Tetapi orang itu mau melakukan perintah Tuhan itu sehingga Tuhan memberinya kemampuan untuk melakukan hal itu, dan lalu menyembuhkannya.

 

Penerapan:

 

Tuhan mempunyai banyak perintah yang kelihatannya tidak mungkin saudara lakukan (memberitakan Injil, melayani, memberi persepuluhan, membuang dosa tertentu, dsb). Tetapi yang penting saudara mau taat, maka Tuhan akan memberi kekuatan / kemampuan untuk melakukan hal itu.

 

6)   Ay 14 (bdk. Luk 6:11 Mark 3:6).

 

Mereka marah, keluar, berkomplot dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Yesus. Melakukan sesuatu yang benar (seperti yang Yesus lakukan), apalagi menentang tradisi yang sudah ratusan tahun, besar resikonya. Maukah / beranikah saudara mengambil resiko itu, atau saudara lebih suka ‘hidup aman’ dan membiarkan semua ketidakbenaran berjalan terus?

 

Penutup.

 

Ay 1-14 menunjukkan bahwa ikut Yesus memang bebannya lebih ringan dari ikut orang-orang Farisi (bdk. Mat 11:28-30), khususnya dalam peraturan Sabat.



-AMIN-

 


email us at : gkri_exodus@lycos.com