>

Calvinisme yang difitnah : Kontroversi Calvinisme & Armenianisme

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.


 V) Serangan terhadap Predestinasi.

1) Doktrin Conditional Election (= Pemilihan bersyarat).

Yang dimaksud dengan Conditional Election adalah kebalikan dari Uncon-ditional Election (= Pemilihan tanpa syarat).

Dalam Unconditional Election, alasan Allah untuk memilih seseorang bu-kanlah karena adanya atau akan adanya kebaikan ataupun iman dari orang itu, tetapi hanya karena Allah menghendaki untuk memilih dia.

Dalam Conditional Election, Allah memilih seseorang karena Allah melihat bahwa orang itu bakal beriman atau menjadi baik.

Guy Duty, dalam bukunya ‘Keselamatan bersyarat atau tanpa syarat?’, berkata:

Guy Duty lalu menguraikan panjang lebar segala ‘kebaikan Yakub’ dan ‘kejelekan Esau’ (hal 103-104).

Dasar Kitab Suci yang sering dipakai sebagai dasar dari Conditional Election adalah Ro 8:29-30 yang berbunyi:

"Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya".

Catatan: Kitab Suci Indonesia menterjemahkan ‘dipilihNya’, tetapi terje-mahan hurufiahnya seharusnya adalah ‘foreknew’ (= diketahui lebih dulu), seperti dalam terjemahan NIV di bawah ini.

NIV: "For those God foreknew he also predestined to be conformed to the likeness of his Son, that he might be the firstborn among many brothers. And those he predestined, he also called; those he called, he also justified; those he justified, he also glorified" (= Karena mereka yang diketahuiNya lebih dulu, juga dipredestinasikanNya untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang dipredestinasikanNya, juga dipanggilNya; mereka yang dipanggilNya, juga dibenarkanNya; mereka yang dibenarkanNya, juga dimuliakanNya).

Tentang Ro 8:29 ini Pdt. dr. Yusuf B. S. berkata:

"Di sini disebutkan bahwa Allah mengenal lebih dahulu dan baru sesudah itu, mereka yang sudah dikenalNya terdahulu, mereka itu juga yang ditetap-kan lebih dahulu (ditentukan atau dipilih untuk ini dan itu), dengan sangat adil. Di dalamnya sudah termasuk segala kehendak dan perbuatan orang itu, semua ini diperhitungkan dengan teliti (1Pet 1:2a)" - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 39.

Catatan: kata-kata ‘dipilih sesuai dengan rencana Allah’ dalam 1Pet 1:2a juga salah terjemahan. Seharusnya adalah ‘have been chosen according to the foreknowledge of God’ (= telah dipilih menurut pengetahuan lebih dulu dari Allah).

Jadi, jelas terlihat bahwa baik Pdt. dr. Yusuf B. S. maupun Guy Duty mempercayai doktrin conditional election (= pemilihan bersyarat).

Jawaban / tanggapan:

a) Conditional Election merupakan pandangan bodoh dari orang yang tidak punya logika!

Pikirkan baik-baik! Kalau Allah sudah tahu lebih dulu bahwa orang itu akan beriman / menjadi baik, bukankah hal itu sudah pasti akan terjadi? Lalu untuk apa Allah lalu menentukan / memilih? Penentuan / pemilihan yang Allah lakukan sama sekali tidak ada gunanya / tidak mempunyai fungsi, karena tanpa hal itupun apa yang Ia ketahui lebih dulu itu toh akan terjadi.

b) Untuk bisa memilih seseorang, maka dalam arti tertentu Allah memang harus tahu tentang orang itu.

R. C. Sproul:

"All the text declares is that God predestines those whom he foreknows. No one in this debate disputes that God has foreknowledge. Even God could not choose people he didn’t know anything about. Before he could choose Jacob he had to have some idea in his mind of Jacob. But the text does not teach that God chose Jacob on the basis of Jacob’s choice" [= Semua yang dinyatakan oleh text itu (Ro 8:29) adalah bahwa Allah mempredestinasi-kan mereka yang Ia ketahui lebih dulu. Tidak seorangpun dalam perdebatan ini memperdebatkan bahwa Allah mempunyai pengetahuan lebih dulu. Bahkan Allah tidak bisa memilih orang yang sama sekali tidak diketahuiNya. Sebelum Ia memilih Yakub Ia harus mempunyai beberapa gagasan dalam pikiranNya tentang Yakub. Tetapi text itu (Ro 8:29) tidak mengajar bahwa Allah memilih Yakub berdasarkan pilihan Yakub] - ‘Chosen By God’, hal 131.

c) Ro 8:29 itu tidak mengatakan bahwa ‘Allah tahu lebih dulu tentang iman / perbuatan baik mereka’.

A. H. Strong:

"The Arminian interpretation of ‘whom he foreknew’ (Rom 8:29) would require the phrase ‘as conformed to the image of His Son’ to be conjoined with it. Paul, however, makes conformity to Christ to be the result, not the foreseen condition, of God’s foreordination" [= Penafsiran Arminian tentang ‘siapa yang diketahuiNya lebih dulu’ (Ro 8:29) mengharuskan kata-kata ‘untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya’ dihu-bungkan dengannya. Tetapi Paulus membuat keserupaan dengan Kristus sebagai hasil, dan bukan sebagai syarat yang dilihat lebih dulu, dari penetapan Allah] - ‘Systematic Theology’, hal 781.

Saya sangat setuju dengan kata-kata A. H. Strong ini! Orang-orang Arminian, termasuk Pdt. dr. Yusuf B. S. dan Guy Duty membaca / menafsirkan Ro 8:29 ini seakan-akan ayat itu berbunyi sebagai berikut:

"Karena mereka yang diketahuiNya lebih dulu akan menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, lalu dipredestinasikanNya, supaya Ia menja-di yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang dipredesti-nasikanNya, juga dipanggilNya; mereka yang dipanggilNya, juga dibe-narkanNya; mereka yang dibenarkanNya, juga dimuliakanNya".

Bandingkan dengan bunyi Ro 8:29 yang seharusnya berbunyi:

"Karena mereka yang diketahuiNya lebih dulu, juga dipredestinasikan-Nya untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia men-jadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang dipre-destinasikanNya, juga dipanggilNya; mereka yang dipanggilNya, juga dibenarkanNya; mereka yang dibenarkanNya, juga dimuliakanNya".

Loraine Boettner:

"Notice especially that Rom. 8:29 does not say that they were foreknown as doers of good works, but that they were foreknown as individuals to whom God would extend the grace of election" (= Perhatikan khususnya bahwa Ro 8:29 tidak berkata bahwa mereka diketahui lebih dulu sebagai pem-buat kebaikan, tetapi bahwa mereka diketahui lebih dulu sebagai indi-vidu-individu kepada siapa Allah memberikan kasih karunia pemilihan) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 100.

Charles Haddon Spurgeon:

"it is further asserted that the Lord foreknew who would exercise repentance, who would believe in Jesus, and who would persevere in a consistent life to the end. This is readily granted, but a reader must wear very powerful magnifying spectacles before he will be able to discover that sense in the text. Upon looking carefully at my Bible again I do not perceive such statement. Where are those words which you have added, ‘Whom he did foreknew to repent, to believe, and to persevere in grace’? I do not find them either in the English version or in the Greek original. If I could so read them the passage would certainly be very easy, and would very greatly alter my doctrinal views; but, as I do not find those words there, begging your pardon, I do not believe in them. However wise and advisable a human interpolation may be, it has no authority with us; we bow to holy Scripture, but not to glosses which theologians may choose to put upon it. No hint is given in the text of foreseen virtue any more than of foreseen sin, and, therefore, we are driven to find another meaning for the word" (= Selanjutnya ditegaskan / dinyatakan bahwa Tuhan mengetahui lebih dulu siapa yang akan bertobat, siapa yang akan percaya kepada Yesus, dan siapa yang akan bertekun dalam hidup yang konsisten sampai akhir. Ini dengan mudah diterima, tetapi seorang pembaca harus memakai kacamata pembesar yang sangat kuat sebelum ia bisa menemukan arti itu dalam text itu. Melihat dalam Alkitab saya dengan teliti sekali lagi, saya tidak mendapatkan arti seperti itu. Dimana kata-kata yang kamu tambahkan itu ‘Yang diketahuiNya lebih dulu akan bertobat, percaya, dan bertekun dalam kasih karunia’? Saya tidak menemukan kata-kata itu baik dalam versi Inggris atau dalam bahasa Yunani orisinilnya. Jika saya bisa membaca seperti itu, text itu pasti akan menjadi sangat mudah, dan akan sangat mengubah pandangan doktrinal saya; tetapi, karena saya tidak menemukan kata-kata itu di sana, maaf, saya tidak percaya padanya. Bagaiman apun bijaksana dan baiknya penyisipan / penam-bahan manusia, itu tidak mempunyai otoritas bagi kami; kami mem-bungkuk / menghormat pada Kitab Suci, tetapi tidak pada komentar / keterangan yang dipilih oleh ahli-ahli theologia untuk diletakkan pada-nya. Tidak ada petunjuk yang diberikan dalam text itu tentang kebaikan atau dosa yang dilihat lebih dulu, dan karena itu, kami didorong untuk mencari / mendapatkan arti yang lain untuk kata itu) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 22.

d) Pembahasan kata ‘know’ (= tahu) dalam Kitab Suci.

Kata ‘know’ (= tahu) dalam bahasa Ibrani adalah YADA.

Kata YADA ini digunakan dalam Kej 4:1 (KJV/Lit): "Adam knew Eve his wife, and she conceived" (= Adam tahu / kenal Hawa istrinya, dan ia mengandung).

Dari sini bisa kita lihat bahwa ‘to know’ tidak selalu sekedar berarti ‘tahu’, tetapi ada kasih / hubungan intim di dalamnya.

Karena itu kalau Ro 8:29 mengatakan Allah tahu / kenal, lalu menentukan, maksudnya adalah Allah mengasihi, lalu menentu-kan. Jadi penekanannya adalah: penentuan itu didasarkan atas kasih. Bdk. Ef 1:5 - ‘Dalam kasih Allah telah memilih kita ...’.

Catatan: tafsiran ini saya ambil dari buku tafsiran kitab Roma oleh John Murray (NICNT).

Kata YADA ini digunakan dalam Kej 18:19 dan diterjemahkan ‘memilih’ oleh Kitab Suci Indonesia.

"Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menu-rut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikanNya kepadanya".

RSV, NIV, NASB menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia!

ASV/KJV/NKJV tetap menterjemahkan ‘know’, tetapi kalimatnya jadi aneh.

Kej 18:19 (KJV): "For I know him, that he will command his children and his household after him, and they shall keep the way of the LORD, to do justice and judgment; that the LORD may bring upon Abraham that which he hath spoken of him" (= Karena Aku mengetahui / mengenalnya, bahwa ia akan memerintahkan anak-anaknya dan seisi rumahnya / keturunannya, dan mereka akan hidup menurut jalan TUHAN, melakukan keadilan dan penghakiman; supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dikatakanNya kepadanya).

Dalam Amos 3:2, kata YADA diterjemahkan ‘kenal’ oleh Kitab Suci Indonesia.

"Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu".

KJV/ASV/RSV tetap menterjemahkan ‘know’, tetapi NIV/NASB menterjemahkan ‘choose’ (= memilih).

Tentang kata YADA dalam Amos 3:2 ini B. B. Warfield berkata:

"what is thrown prominently forward is clearly the elective love which has singled Israel out for special care" (= apa yang ditonjolkan ke depan secara menyolok jelas adalah kasih yang memilih yang telah memilih / mengkhususkan Israel untuk perhatian istimewa) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 288.

Loraine Boettner:

"The word ‘know’ is sometimes used in a sense other than that of having merely an intellectual perception of the thing mentioned. It occasionally means that the persons so ‘known’ are the special and peculiar objects of God’s favor, as when it was said of the Jews, ‘You only have I known of all the families of the earth,’ Amos 3:2." [= Kata ‘tahu’ kadang-kadang digunakan bukan dalam arti sekedar penge-tahuan intelektual tentang hal yang disebutkan. Kadang-kadang kata ini berarti bahwa orang yang ‘diketahui’ merupakan obyek istimewa dan khusus dari kemurahan / kebaikan hati Allah, seperti pada waktu dikatakan tentang orang-orang Yahudi: ‘Hanya kamu yang Kukenal / Kuketahui dari segala kaum di muka bumi’ (Amos 3:2)] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 100.

Penggunaan kata YADA yang lain:

Dalam semua ayat-ayat di atas ini kata YADA tidak memungkinkan untuk diartikan sebagai sekedar suatu pengetahuan intelektual.

Kata ‘know’ (= tahu) dalam bahasa Yunani adalah GINOSKO, dan digunakan dalam ayat-ayat di bawah ini:

Dalam semua ayat-ayat ini kata GINOSKO itu tidak mungkin diarti-kan sekedar ‘mengetahui secara intelektual’.

e) Pembahasan kata ‘foreknow’ (= mengetahui lebih dulu) / ‘foreknow-ledge’ (= pengetahuan lebih dulu).

Ayat-ayat yang mengandung kata-kata foreknowledge, foreknew, dsb:

NASB: "this Man, delivered up by the predetermined plan and fore-knowledge of God" (= Orang ini, diserahkan oleh rencana yang ditentukan lebih dulu dan pengetahuan lebih dulu dari Allah).

Jelas bahwa ‘foreknowledge’ (= pengetahuan lebih dulu) di sini tidak sekedar berarti pengetahuan intelektual, karena Allah menye-rahkan Anak Manusia untuk mewujudkan ‘foreknowledge’ itu. Kare-na itu tidak heran Kitab Suci Indonesia menterjemahkan seperti itu.

NASB: "God has not rejected His people whom He foreknew" (= Allah tidak menolak umatNya yang diketahuiNya lebih dulu).

Ini lagi-lagi menunjukkan secara jelas bahwa ‘foreknew’ tidak bisa diartikan ‘mengetahui lebih dulu secara intelektual’.

Loraine Boettner menghubungkan Ro 8:29 dengan Ro 11:2a ini dengan berkata:

"Those in Romans 8:29 are foreknown in the sense that they are fore-appointed to be the special objects of His favor. This is shown more plainly in Rom. 11:2-5, where we read, ‘God did not cast off His people whom He foreknew’" (= Mereka dalam Ro 8:29 diketahui lebih dulu dalam arti bahwa mereka ditetapkan lebih dulu untuk menjadi obyek khusus kemurahan hatiNya. Ini ditunjukkan lebih jelas dalam Ro 11:2-5, dimana kita membaca: ‘Allah tidak menolak / membuang umatNya yang dipilihNya / diketahuiNya lebih dulu’) - ‘The Reform-ed Doctrine of Predestination’, hal 100.

NASB: "who are chosen according to the foreknowledge of God the Father" (= yang dipilih sesuai dengan pengetahuan lebih dulu dari Allah Bapa).

NASB: "For He was foreknown before the foundation of the world, but has appeared in these last times for the sake of you" (= Karena Ia diketahui lebih dulu sebelum penciptaan dunia, tetapi menam-pakkan diri pada jaman akhir karena kamu).

Melihat ayat-ayat di atas ini, saya berpendapat bahwa bukan tanpa alasan Kitab Suci Indonesia tidak pernah mau menterjemahkan ‘tahu lebih dulu’ atau ‘pengetahuan lebih dulu’, tetapi menterjemahkan de-ngan kata ‘pilih’ atau ‘rencana’.

f) Dengan ajaran Conditional Election (= pemilihan bersyarat) ini, Armi-nianisme menjadikan tujuan pemilihan sebagai alasan pemilihan.

Seharusnya iman maupun perbuatan baik adalah hasil / buah / akibat / tujuan dari pemilihan. Tetapi Arminianisme mengajarkan bahwa iman dan perbuatan baik (yang dilihat lebih dulu oleh Allah) merupakan alasan dari pemilihan.

Yang seharusnya / yang alkitabiah:

Pemilihan ® Iman dan perbuatan baik.

Ajaran Arminian:

Iman dan perbuatan baik ® pemilihan.

Bahwa iman / perbuatan baik seharusnya merupakan hasil / buah / akibat / tujuan dari pemilihan, terlihat dari banyak ayat Kitab Suci seperti:

Mengomentari Kis 13:48 ini, Arthur W. Pink berkata:

"believing is the consequence and not the cause of God’s decree" (= percaya adalah konsekwensi / akibat dan bukannya penyebab dari ketetapan Allah) - ‘The Sovereignty of God’, hal 46.

Jadi ‘buah’ adalah hasil / tujuan dari pemilihan, bukan alasan dari pemilihan seperti yang dikatakan oleh Arminian.

Ayat ini mengatakan bahwa kita dipilih supaya menjadi kudus / tak bercacat. Jadi, pemilihan itulah yang menyebabkan kita menjadi kudus / tak bercacat. Dalam pemikiran Allah, pemilihan itu yang ada lebih dulu, dan tujuannya adalah supaya kita menjadi kudus dan tak bercacat. Sedangkan kalau diambil penafsiran Arminian, maka ‘kudus / tak bercacat’ inilah yang ada lebih dulu dalam pemikiran Allah, dan sebagai akibatnya maka kita dipilih. Ini jelas terbalik!

Ayat ini juga menunjukkan bahwa seseorang dipilih supaya taat, bukannya karena bakal taat lalu dipilih.

Calvin:

"Say: ‘Since he foresaw that we would be holy, he chose us,’ and you will invert Paul’s order" (= Katakan: ‘Karena Ia melihat lebih dulu bahwa kita akan menjadi kudus, Ia memilih kita’, dan engkau akan membalik urut-urutan Paulus) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 3.

Loraine Boettner:

"Foreseen faith and good works, then, are never to be looked upon as the cause of the Divine election. They are rather its fruits and proof. They show that the person has been chosen and regenerated. To make them the basis of election involves us again in a covenant of works, and places God’s purposes in time rather than in eternity. This would not be pre-destination but post-destination, an inversion of the Scripture account which makes faith and holiness to be the consequents, and not the antecedents, of election (Eph. 1:4; John 15:16; Titus 3:5)" [= Maka, iman dan perbuatan baik yang dilihat lebih dulu, tidak pernah boleh dilihat sebagai penyebab dari pemilihan ilahi. Sebaliknya iman dan perbuatan baik adalah buah dan bukti dari pemilihan ilahi. Iman dan perbuatan baik membuktikan bahwa orang itu telah dipilih dan dilahirbarukan. Membuat iman dan perbuatan baik sebagai dasar dari pemilihan melibatkan kita kembali pada perjanjian berdasarkan perbuatan baik, dan menempatkan Ren-cana Allah dalam waktu dan bukannya dalam kekekalan. Ini bukanlah pre-destinasi tetapi post-destinasi, suatu pembalikan terhadap penjelasan / penggambaran Kitab Suci yang membuat iman dan kekudusan sebagai konsekwensi / akibat, dan bukannya sebagai sesuatu yang mendahului, pemilihan] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 98.

g) Ajaran Arminian yang mengatakan bahwa Allah tahu lebih dulu iman dan kesalehan seseorang baru memilih orang itu, bertentangan de-ngan Ro 9:21 yang mengatakan bahwa baik orang pilihan / elect mau-pun orang non pilihan / reprobate dipilih / diambil ‘dari gumpal yang sama.

Ajaran Arminian ini menunjukkan bahwa orang pilihan / elect dipilih karena mereka lebih baik dari pada yang tidak dipilih / reprobate. Ini sejalan dengan doktrin sesat ‘salvation by works’ (= keselamatan karena perbuatan baik).

h) Kalau Conditional Election itu benar, bagaimana kita harus menafsir-kan ayat-ayat di bawah ini, yang secara explicit menyingkirkan per-buatan baik manusia sebagai alasan pemilihan?

Ro 9:11 - "Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berda-sarkan panggilanNya".

2Tim 1:9 - "Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita de-ngan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaru-niakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman".

i) Loraine Boettner:

"Foreordination in general cannot rest on foreknowledge; for only that which is certain can be foreknown, and only that which is predetermined can be certain" (= Secara umum, penentuan lebih dulu tidak bisa didasar-kan pada pengetahuan lebih dulu; karena hanya apa yang tertentu yang bisa diketahui lebih dulu, dan hanya apa yang ditentukan lebih dulu yang bisa tertentu) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 99.

j) John Owen:

"Is it not because such propositions as these, ‘Believe, Peter, and continue in the faith unto the end, and I will choose thee before the foundation of the world,’ are fitter for the writings of the Arminians than the word of God?" (= Bukankah karena pernyataan seperti ini ‘Percayalah Petrus, dan bertekunlah dalam iman sampai akhir, dan Aku akan memilih engkau sebelum dunia dijadikan’, lebih cocok untuk tulisan-tulisan Arminian dari pada Firman Allah?) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 55.

Kata-kata John Owen ini menunjukkan betapa menggelikan dan tidak masuk akalnya ajaran Arminian yang mengatakan bahwa seseorang dipilih dari semula karena Ia bakal baik!

2) Dalam memilih, Tuhan memilih semua orang.

Jawab:

    1. Kata ‘memilih’ tidak memungkinkan untuk diartikan ‘memilih semua’.
    2. ‘Memilih semua’ sama dengan tidak memilih, dan juga sama menggeli-kannya seperti anak saya yang berusia 3 1/2 tahun, yang kalau ditanya: ‘Mau es krim atau permen?’, lalu berkata ‘Mau es krim dan permen’.

    3. Kitab Suci secara jelas mengatakan bahwa Tuhan hanya memilih sebagian dari umat manusia untuk diselamatkan.

Pada waktu Paulus memberitakan Injil di sini, ada orang-orang yang menjadi iri hati, menghujat, membantah dsb (Kis 13:45), tetapi orang-orang pilihan bergembira dan menjadi percaya (Kis 13:48). Jelas bahwa orang-orang pilihan ini hanya sebagian dari para pendengar saat itu.

Tentang Ro 11:25 ini, perlu diingat bahwa sebagian Israel ditegar-kan selama ribuan tahun (sampai saat ini sudah hampir 2000 tahun), sementara Tuhan bekerja sampai orang-orang pilihan dari kalangan non Israel bertobat. Jelas bahwa selama ribuan tahun ini sudah banyak orang Israel yang binasa dalam dosa mereka, dan ini jelas menunjukkan bahwa mereka tidak dipilih. Sebagian yang lain (sebagian kecil) tidak ditegarkan, dan sebaliknya diberi kasih karunia, sehingga mereka percaya kepada Kristus. Ini orang Israel yang termasuk orang pilihan. Jadi lagi-lagi terlihat bahwa tidak semua manusia dipilih oleh Tuhan.

c) Kalau Tuhan memilih semua, maka hanya ada 2 kemungkinan:

Ini tidak mungkin karena Kitab Suci jelas menunjukkan adanya orang yang masuk neraka.

Ini juga tidak mungkin karena di atas telah kita bahas bahwa Rencana Allah / predestinasi tidak bisa gagal.

Kedua kemungkinan ini sama-sama tidak mungkin, dan karena itu tidak mungkin Tuhan memilih semua orang.

3) Predestinasi menunjukkan bahwa Allah tidak adil.

Pdt. dr. Yusuf B. S. berkata bahwa Allah tidak membeda-bedakan. Ia lalu memberikan beberapa ayat sebagai dasar yaitu Ro 2:11 Kis 10:34-35 Kol 3:25 dan 1Pet 1:17 (‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 18).

Jawab:

a) ‘Adil’ tidak selalu berarti ‘memperlakukan secara sama rata’.

Perlu diingat bahwa dalam banyak hal Allah bersikap membedakan (tidak memperlakukan secara sama rata), misalnya:

Karena itu, kalau yang dimaksud dengan ‘adil’ adalah bahwa Allah harus memperlakukan semua orang dengan sama rata, maka jelas bahwa Allah memang tidak adil.

R. C. Sproul:

"The hue and cry the Calvinist usually hears at this point is ‘That’s not fair!’ But what is meant by fairness here? If by fair we mean equal, then of course the protest is accurate. God does not treat all men equally. Nothing could be clearer from the Bible than that. God appeared to Moses in a way that he did not appear to Hammurabi. God gave blessings to Israel that he did not give to Persia. Christ appeared to Paul on the road to Damascus in a way he did not manifest himself to Pilate" (= Teriakan-teriakan yang biasanya didengar oleh orang Calvinist pada titik ini adalah ‘Itu tidak adil!’ Tetapi apa yang dimaksud dengan keadilan di sini? Kalau yang dimaksud dengan ‘adil’ adalah ‘sama’, maka tentu protes itu benar. Allah tidak memperlakukan semua orang secara sama. Tidak ada hal yang bisa lebih jelas dari Alkitab dari pada hal itu. Allah menampakkan diri kepada Musa dalam suatu cara yang tidak Ia lakukan kepada Hammurabi. Allah memberi berkat kepada Israel yang tidak Ia berikan kepada Persia. Kristus menampakkan diri kepada Paulus di jalan ke Damaskus dalam suatu cara yang Ia tidak nyatakan kepada Pilatus) - ‘Chosen By God’, hal 155.

Tetapi siapa yang mengatakan bahwa ‘adil’ harus berarti mem-perlakukan semua orang dengan sama rata? Dari perumpamaan dalam Mat 20:1-15 terlihat dengan jelas bahwa ‘adil’ tidak selalu harus berarti ‘mem-perlakukan secara sama rata’.

Mat 20:1-15 - "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?".

Jelas bahwa tuan itu tidak memperlakukan para pekerja itu secara sama rata, karena ia lebih bermurah hati kepada pekerja yang masuk lebih belakangan. Tetapi pada waktu pekerja golongan pertama mem-protesnya, ia berkata: "aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau" (Mat 20:13).

Juga perlu diperhatikan bahwa dalam persoalan Predestinasi ini orang yang tidak dipilih mendapatkan keadilan Allah sedangkan orang pilihan mendapatkan belas kasihan / kemurahan hati Allah. Tidak ada yang menerima ketidakadilan Allah!

b) Paulus menjawab pertanyaan ‘Apakah Allah tidak adil?’ dengan ber-kata ‘Mustahil!’, dan ia lalu berkata bahwa Allah berhak untuk mela-kukan pemilihan itu (Ro 9:14-18).

c) Jawaban terhadap Pdt. dr. Yusuf B. S.

Keempat ayat yang dipakai oleh Pdt. dr. Yusuf B. S. itu digunakannya secara out of context (= keluar dari kontextnya)!

Kita harus menafsirkan ayat ini sesuai dengan kontexnya. Kalau saudara membaca Kis 10:1 sampai Kis 11:18 (cerita pertobatan Kornelius yang bukan orang Yahudi) maka saudara akan melihat dengan jelas bahwa yang dimaksud dengan ‘Allah tidak membeda-kan orang’ dalam Kis 10:34 itu adalah bahwa Allah berkenan kepada baik Yahudi maupun non Yahudi yang takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran. Jadi melalui seluruh bagian ini Allah ingin mengajarkan bahwa bukan orang Yahudi saja yang bisa dise-lamatkan, tetapi juga orang-orang non Yahudi.

Kalau kita melihat kontex, yaitu Ro 2:9-12, maka terlihat dengan jelas bahwa yang dimaksud oleh Ro 2:11 adalah bahwa dalam menghakimi Allah tidak membedakan Yahudi dan Yunani / non Yahudi. Kalau jahat akan dihukum, kalau baik akan diberi pahala, tak peduli mereka Yahudi atau Yunani / non Yahudi.

Kol 3:25 - "Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang".

1Pet 1:17 - "Dan jika kamu menyebutNya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut per-buatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini".

Jelas bahwa kedua ayat ini sama-sama berbicara tentang penghakiman Allah, dan menunjukkan bahwa dalam melakukan penghakiman, Allah tidak membedakan orang. Jelas bahwa ayat-ayat ini tidak berhubungan dengan Predestinasi, sehingga tidak bisa dipakai untuk menentang Predestinasi.

Memang dalam melakukan penghakiman, Allah tidak pandang bulu. Siapapun yang berdosa akan dihukum. Tetapi pada waktu Allah memberikan belas kasihan atau kasih karuniaNya, ia hanya memberikannya kepada orang-orang pilihanNya.

4) Allah selalu menghendaki manusia selamat.

Pdt. dr. Yusuf B. S. mengatakan bahwa Allah menghendaki semua orang selamat, dan karena itu tidak mungkin Ia menetapkan sebagian manusia untuk binasa.

Ia berpendapat bahwa Predestinasi "bertentangan dengan rencana dan kehendak Allah sendiri yang ingin semua orang selamat (2Pet 3:9 / 1Tim 2:4)" - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 41.

2Pet 3:9 - "Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat".

1Tim 2:3-4 - "Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juru-selamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran".

Pdt. dr. Yusuf B. S. juga berkata:

"Ia tidak ingin seorangpun binasa, termasuk juga orang fasik yang jahat. Tuhan masih mengharapkannya untuk bertobat kembali dan diselamatkan" - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 15.

Dan ia lalu mengutip Yeh 18:23 dan Yeh 33:11.

Yeh 18:23 - "Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?"

Yeh 33:11 - "Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?"

Jawab:

a) Kalau membahas tentang ‘kehendak Allah’ maka perlu diingat bahwa ada beberapa ‘kehendak Allah’, yaitu:

1. Kehendak Allah yang menunjuk pada prinsip-prinsip kehidupan yang Ia berikan kepada manusia, dan ini mencakup baik perintah-perintah maupun larangan-larangan dari Allah untuk manusia.

Kehendak Allah yang ini sering tidak terjadi, karena manusianya tidak taat pada Firman Tuhan.

2. Kehendak Allah yang menunjuk pada hal yang menyenangkan Allah kalau hal itu terjadi.

Kehendak Allah yang ini juga sering tidak terjadi.

3. Kehendak Allah yang menunjuk pada RencanaNya / KetetapanNya yang telah Ia tetapkan dalam kekekalan.

Kehendak yang ini pasti terlaksana dan tidak mungkin digagalkan oleh apapun / siapapun juga. Ini terlihat dari banyak ayat seperti ayat-ayat di bawah ini:

Pembedaan ‘kehendak Allah’ seperti ini memang harus ada karena kalau tidak, akan terjadi kontradiksi dalam Kitab Suci. Dalam 5 text Kitab Suci yang baru saya sebutkan, terlihat dengan sangat jelas bahwa kehendak Allah pasti terjadi / tidak mungkin gagal. Kalau ini dianggap membicarakan ‘kehendak Allah‘ yang sama dengan yang dibicarakan dalam 2Pet 3:9 1Tim 2:3-4 Yeh 33:11 Yeh 18:23, maka kita harus menyimpulkan bahwa semua manusia pasti akan selamat (Universalisme), dan ini jelas adalah ajaran sesat!

Ayat-ayat yang dipakai oleh Pdt. dr. Yusuf B. S. di atas, yaitu 2Pet 3:9 1Tim 2:3-4 Yeh 33:11 Yeh 18:23, menunjuk pada kehendak Allah yang nomor 2, yaitu sesuatu yang kalau terjadi akan menyenangkan Allah, tetapi bukan menunjuk pada Rencana / Ketetapan kekal dari Allah. Sebaliknya Predestinasi / pemilihan memang menunjuk pada Rencana / Ketetapan Allah, dan karenanya pasti terjadi.

b) Arthur W. Pink:

"To say that God the Father has purposed the salvation of all mankind, that God the Son died with the express intention of saving the whole human race, and that God the Holy Spirit is now seeking to win the world to Christ; when, as a matter of common observation, it is apparent that the great majority of our fellow-men are dying in sin, and passing into a hopeless eternity: is to say that God the Father is disappointed, that God the Son is dissatisfied, and that God the Holy Spirit is defeated" (= Mengatakan bahwa Allah Bapa telah merencanakan keselamatan untuk semua orang, bahwa Allah Anak mati dengan maksud yang jelas / tegas untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, dan bahwa Allah Roh Kudus sekarang berusaha memenangkan dunia bagi Kristus; padahal, sesuai dengan pengamatan umum, adalah jelas bahwa sebagian besar sesama kita mati dalam dosa, dan masuk ke dalam kekekalan tanpa harapan: sama dengan mengatakan bahwa Allah Bapa dikecewakan, Allah Anak tidak dipuaskan, dan Allah Roh Kudus dikalahkan) - ‘The Sovereignty of God’, hal 21.

c) Serangan terhadap Pdt. dr. Yusuf B. S.

Saya ingin menambahkan satu hal tentang Pdt. dr. Yusuf B. S. yang mengatakan bahwa Allah selalu menghendaki manusia untuk selamat.

Dalam bukunya ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 20, Pdt. dr. Yusuf B. S. berkata:

"Allah dapat mencegah Saul, Balhum, Yerobeam, Yudas dan lain-lain untuk berhenti berdosa, tetapi Ia tidak melakukan hal itu, sebab itu bukan rencana / tujuan Allah".

Apakah ini bukan suatu kontradiksi dengan pernyataan bahwa Allah selalu menghendaki manusia untuk selamat?

d) Mat 11:20-24 jelas menunjukkan bahwa Allah tidak selalu menghen-daki keselamatan seseorang.

Mat 11:20-24 - "Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizatNya: ‘Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu’".

Yesus berkata bahwa kalau di Tirus, Sidon, dan Sodom ada mujijat-mujijat terjadi, seperti yang terjadi di Khorazim, Betsaida dan Kapernaum, maka Tirus, Sidon, dan Sodom pasti sudah ber-tobat. Tetapi mengapa Tuhan dalam kenyataannya tidak memberi mujijat-mujijat itu kepada mereka? Jelas karena mereka termasuk orang bukan pilihan dan karena itu Allah memang tidak meng-hendaki keselamatan mereka!

Sekarang silahkan Pdt. dr. Yusuf B. S. menjawab mengapa Allah tidak memberikan mujijat kepada kota-kota Tirus, Sidon, dan Sodom, padahal Allah tahu bahwa kota-kota itu akan bertobat kalau terjadi mujijat!

5) Kalau ada Predestinasi setan tidak akan menyerang mati-matian.

Kalau ada Predestinasi / penentuan selamat, maka Iblis tidak akan me-nyerang mati-matian, karena toh akan gagal. Tetapi kenyataannya setan menyerang mati-matian, dan ini menunjukkan bahwa Predestinasi itu tidak ada (‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 26-27).

Jawab:

a) Iblis tidak mahatahu sehingga ia tidak tahu siapa yang ditentukan selamat dan siapa yang ditentukan binasa. Karena itu ia menyerang semua orang. Ini ada miripnya dengan kita pada waktu memberitakan Injil. Karena kita tidak tahu siapa yang dipilih dan siapa yang tidak, maka kita harus memberitakan Injil kepada semua orang.

b) Kalaupun setan tidak bisa membatalkan keselamatan tetapi setidak-nya dengan serangannya ia bisa mempersulit hidup kita, merusak pelayanan kita, membuat hati kita sumpek, dsb.

c) Iblis memang adalah seseorang yang luar biasa tekun. Pada waktu Yesus hidup sebagai manusia di muka bumi ini, keilahianNya tidak memungkinkan Ia untuk jatuh ke dalam dosa. Tetapi sekalipun demi-kian, setan terus menyerang Yesus! Mungkin memang sudah menjadi nature (= sifat dasar) dari setan untuk terus menyerang, tak perduli bisa berhasil atau tidak.

Catatan: kalau saudara mau tahu secara mendetail tentang ketidak-mungkinan Kristus untuk jatuh ke dalam dosa, baca buku saya yang berjudul ‘CHRISTOLOGY’.

6) Ajaran Predestinasi menimbulkan reaksi yang salah.

a) Untuk orang kristen.

b) Untuk orang non kristen.

Doktrin ini menyebabkan orang non kristen menjadi kecil hati dalam mencari Yesus / datang kepada Yesus.

Jawab:

a) Tidak perlu disangkal bahwa doktrin Predestinasi memang bisa me-nimbulkan reaksi negatif dari orang kristen. Ini diakui oleh Calvin sen-diri yang berkata:

"Obviously they are not completely lying, for there are many swine that pollute the doctrine of predestination with their foul blasphemy, and by this pretext evade all admonitions and reproofs" (= Jelas bahwa mereka tidak sepenuhnya berdusta, karena ada banyak babi yang mengotori doktrin predestinasi dengan hujatan mereka yang kotor, dan dengan dalih ini menghindari semua nasehat dan teguran) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXIII, no 12.

Tetapi perhatikan komentar-komentar dari Spurgeon dan Calvin di bawah ini:

"But do not men abuse the doctrine of grace? I grant you that they do; but if we destroyed everything that men misuse, we should have nothing left. Are there to be no ropes because some fools will hang themselves?" (= Tetapi bukankah manusia menyalahgunakan doktrin kasih karu-nia? Saya mengakui bahwa mereka memang menyalahgunakannya; tetapi kalau kita menghancurkan segala sesuatu yang disalahgunakan manusia, kita tidak akan mempunyai apapun yang tersisa. Apakah tidak boleh ada tali karena beberapa orang tolol akan menggantung diri mereka sendiri?) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 9.

Saya sangat setuju dengan kata-kata Spurgeon ini. Memang kalau kita mau membuang semua ajaran yang disalahgunakan / ditang-gapi secara salah, maka tidak ada ajaran apapun yang akan ter-sisa pada kita. Mengapa? Karena manusia begitu berdosa / con-dong kepada dosa sehingga ajaran yang bagaimanapun baiknya selalu bisa saja ditanggapi secara salah! Bahkan Injil, yang me-ngatakan bahwa semua dosa kita sudah dibayar oleh Kristus, bisa ditanggapi secara salah dengan terus menerus berbuat dosa. Apakah karena itu kita harus berhenti memberitakan Injil?

Dalam kutipan di atas Spurgeon juga menganalogikan dengan dunia jasmani. Apakah kita harus membuang semua tali yang ada hanya karena ada orang tolol yang menggantung dirinya sendiri? Tali, pisau, bahkan morfin sebetulnya mempunyai manfaat yang sangat besar, dan hanya karena ada orang-orang yang menyalah-gunakannya, tidak berarti bahwa kita harus membuang semua hal itu. Kalau ini berlaku dalam hal jasmani, maka ini berlaku juga dalam hal rohani / ajaran.

"I know that some men who have embraced the doctrine of election have become Antinomians; such men would probably have found other excuses for their misdeeds if they had not sheltered themselves under the shadow of this doctrine" [= Saya tahu bahwa beberapa orang yang mempercayai doktrin pemilihan telah menjadi Antinomian (= orang yang anti hukum, sehingga lalu hidup seenaknya); orang-orang seperti itu mungkin akan menemukan alasan-alasan yang lain untuk kelakuan buruk mereka jika mereka tidak berlindung di bawah bayang-bayang doktrin ini] - ‘Spur-geon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 9.

Saya berpendapat bahwa kata-kata Spurgeon ini sangat tepat. Orang yang menggunakan doktrin Predestinasi sebagai alasan untuk hidup dalam dosa, jelas adalah orang yang kurang ajar, se-hingga andaikatapun doktrin Predestinasi ini tidak ada, kekurang-ajaran mereka pasti akan menemukan hal lain yang bisa dijadikan alasan untuk hidup dalam dosa!

"in Scotland you will scarcely find a congregation of Hyper-Calvinists, the simple reason being that the Church in Scotland holds entire the whole doctrine upon this matter, and her ministers as a rule, are not ashamed to preach it fearlessly and boldly, and in connection with the rest of the faith" (= di Skotlandia engkau hampir tidak akan menemukan sebuah jemaat Hyper-Calvinist, alasannya adalah karena Gereja di Skotlandia memegang seluruh doktrin ini dalam persoalan ini, dan pelayan / pendetanya biasanya tidak malu mengkhotbahkan-nya tanpa rasa takut dan dengan berani, dan dalam hubungan de-ngan pelajaran iman yang lain) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclope-dia’, vol 7, hal 10.

Saya percaya bahwa kata-kata ini benar. Kalau kita mengajarkan seluruh doktrin Predestinasi dengan benar, dan juga mengajarkan doktrin-doktrin penting lainnya secara seimbang, maka tidak akan muncul reaksi negatif, kecuali dari ‘kambing-kambing’ (orang kris-ten KTP) yang kurang ajar. Yang menimbulkan problem adalah ka-lau doktrin Predestinasi ini diajarkan sedikit-sedikit dan tidak diim-bangi oleh doktrin-doktrin penting lainnya.

b) Juga tidak bisa disangkal bahwa doktrin Predestinasi bisa menimbul-kan reaksi negatif dari orang non kristen.

Charles Haddon Spurgeon:

"It must be sorrowfully admitted that the doctrine of election has dis-couraged many who were seeking the Saviour, but the truth is that it ought not to do so" (= Dengan sedih harus diakui bahwa doktrin pemilihan telah mengecilkan hati banyak orang yang mencari Juruselamat, tetapi kebenarannya adalah bahwa doktrin itu tidak seharusnya berbuat demikian) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 37.

Charles Haddon Spurgeon:

"Some are ordained unto eternal life, and therefore believe in the Lord Jesus Christ. Does this fact discourage you? I do not see why it should. Why should not you be among that number? ‘But suppose that I am not?’ says one. Why do you not suppose that you are? You do not know anything about it: therefore why suppose at all? To give up supposing would be a far more sensible thing than to brew for yourself a deadly potion of despair out of the worthless husks of mere supposition" (= Sebagian orang ditentukan untuk hidup yang kekal, dan karena itu percaya kepada Yesus Kristus. Apakah fakta ini mengecilkan hatimu? Saya tidak melihat mengapa harus begitu. Mengapa engkau harus tidak berada di antara orang-orang yang dipilih itu? ‘Tetapi bagaimana jika aku bukan termasuk orang pilihan?’ kata seseorang. Mengapa engkau tidak menduga bahwa engkau adalah orang pilihan? Engkau tidak tahu apa-apa tentang hal itu: karena itu mengapa menduga-duga? Membuang segala dugaan adalah hal yang jauh lebih masuk akal dari pada membuat untuk dirimu sendiri suatu minuman keputusasaan yang mematikan dari sekam dugaan semata-mata yang tak berharga) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 38.

c) Calvin:

"Even though discussion about predestination is likened to a dangerous sea, still, in traversing it, one finds safe and calm - I also add pleasant - sailing unless he willfully desire to endanger himself" (= Sekalipun diskusi ten-tang Predestinasi digambarkan seperti laut yang berbahaya, tetap, dalam melintasinya seseorang mendapatkan pelayaran yang aman dan tenang bahkan menyenangkan, kecuali mereka secara sengaja ingin membaha-yakan diri mereka sendiri) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, chapter XXIV, no 4.

d) Adanya tanggapan negatif terhadap doktrin Predestinasi, baik dari orang kristen maupun non kristen, adalah kesalahan si penanggap, dan tidak menunjukkan bahwa doktrin Predestinasi itu yang salah.

Saya akan mengutip ulang kata-kata John Murray, yang sudah saya pernah kutip dalam pelajaran tentang Total Depravity, yang berbunyi:

"But perversion does not refute the truth of the doctrine perverted" (= Tetapi penyimpangan tidak menyangkal / membuktikan salah kebenaran dari doktrin yang disimpangkan itu) - ‘Collected Writings of John Murray’, vol II, hal 87.

e) Kebenaran harus tetap diberitakan sekalipun menimbulkan reaksi yang salah.

Kebijaksanaan mengijinkan kita untuk menunda pemberitaan doktrin Predestinasi, dengan alasan bahwa orang yang diajar itu belum cukup matang / dewasa dalam iman untuk menerima ‘makanan keras’ itu, tetapi kita tidak boleh membuang doktrin ini atau memutuskan untuk tidak akan pernah mengajarkannya.

Memang ada banyak orang yang menyatukan kebenaran dengan keuntungan. Jadi kalau menguntungkan maka kebenaran diberitakan, sedangkan kalau merugikan kebenaran tidak diberitakan atau bahkan diubah. Ini jelas merupakan politik / strategi yang tidak alkitabiah. Dalam Kitab Suci kebenaran tetap diberitakan sekalipun diketahui bahwa pemberitaannya akan menimbulkan reaksi yang negatif. Misal-nya Yesaya tetap memberitakan kebenaran sekalipun Tuhan sudah mengatakan bahwa tidak ada orang Israel yang akan bertobat (Yes 6:9-10).

f) Juga mesti kita pikirkan bahwa sekalipun doktrin Predestinasi bisa menimbulkan reaksi negatif, tetapi juga bisa menimbulkan reaksi positif, karena menyebabkan seseorang menjadi lebih rendah hati, dan lebih menghargai kasih karunia / belas kasihan Allah, juga me-nyebabkannya lebih mengasihi Allah yang sudah memilihnya sekali-pun ia tidak berlayak untuk dipilih.

Mengapa kita harus kehilangan hasil positif ini hanya karena ada beberapa orang kurang ajar yang menanggapi doktrin Predestinasi ini secara salah?

g) Jangan mengira bahwa hanya Calvinisme saja yang bisa ditanggapi secara salah.

Ajaran Arminian juga bisa menimbulkan tanggapan yang salah. Melihat penekanan perbuatan baik yang berlebihan dari ajaran Arminian yang diajarkan oleh Pdt. dr. Yusuf B. S. dan Guy Duty, saya yakin ada banyak jemaat mereka yang mempercayai doktrin ‘salvation by works’ (= keselamatan karena perbuatan baik) yang adalah ajaran sesat!

7) Penentuan binasa menunjukkan Allah itu kejam / tidak kasih.

Pdt. dr. Yusuf B. S.:

"Itu bertentangan dengan sifat Allah sendiri yang kasih adanya (1Yoh 4:8). Menentukan sepihak itu sangat kejam sebab resikonya masuk Neraka kekal. Dan pasti Allah sudah tahu tentang akibat yang dahsyat ini" - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 41.

Jawab:

a) Calvin dan beberapa orang Reformed kelihatannya beranggapan bah-wa ‘penetapan binasa’ dan ‘kasih Allah’ memang tidak bisa diharmo-niskan, karena Kitab Suci memang hanya menyatakan kedua ajaran itu tanpa mengharmoniskannya.

Calvin:

"For God’s will is so much the highest rule of righteousness that whatever he wills, by the very fact that he wills it, it must be considered righteous. When, therefore, one asks why God has so done, we must reply: because he has willed it. But if you proceed further to ask why he so willed, you are seeking something greater and higher than God’s will, which cannot be found" (= Karena kehendak Allah adalah peraturan tertinggi dari kebenaran sehingga apapun yang Ia kehendaki, karena / oleh fakta bahwa Ia menghendakinya, harus dianggap sebagai benar. Karena itu, pada waktu seseorang bertanya mengapa Allah telah bertindak begitu, kita harus menjawab: karena Ia menghendakinya. Tetapi jika engkau meneruskan lebih jauh dan menanyakan mengapa Ia menghendakinya, engkau sedang mencari sesuatu yang lebih besar dan lebih tinggi dari kehendak Allah, yang tidak bisa ditemukan) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXIII, no 2.

Loraine Boettner:

"Let it be remembered that we are under no obligation to explain all the mysteries connected with these doctrines. We are only under obligation to set forth what the Scriptures teach concerning them, and to vindicate this teaching so far as possible from the objections which are alleged against it" (= Biarlah diingat bahwa kita tidak berkewajiban untuk menjelaskan semua misteri yang berkenaan dengan doktrin-doktrin ini. Kita hanya berkewajiban untuk menyatakan apa yang Kitab Suci ajarkan mengenai mereka, dan mempertahankan ajaran ini sejauh dimungkinkan dari keberatan-keberatan yang dinyatakan tanpa bukti terhadapnya) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 124.

William G. T. Shedd:

"Since both classes of passages come from God, he must perceive that they are consistent with each other whether man can or not. Both, then, must be accepted as eternal truth by an act of faith, by every one who believes in the inspiration of the Bible. They must be presumed to be self-consistent, whe-ther it can be shown or not" (= Karena kedua golongan text Kitab Suci itu datang dari Allah, Ia pasti mengerti bahwa mereka konsisten satu dengan lainnya tak peduli manusia bisa mengertinya atau tidak. Jadi, keduanya harus diterima sebagai kebenaran yang kekal oleh suatu tindakan iman oleh setiap orang yang percaya pada pengilhaman Alkitab. Mereka harus dianggap sebagai konsisten, tak peduli apakah itu bisa ditunjukkan atau tidak) - ‘Calvinism: Pure and Mixed’, hal 43.

Catatan: yang ia maksudkan dengan ‘both’ (= keduanya), adalah ayat-ayat / bagian-bagian Kitab Suci yang kelihatannya bertentangan, se-perti ayat yang menunjukkan penetapan binasa dan ayat yang me-nunjukkan Allah itu kasih, ayat yang menunjukkan penetapan Allah dan ayat yang menunjukkan tanggung jawab manusia.

b) Pertentangan tentang ‘Allah yang adalah kasih’ dan ‘masuknya orang-orang tertentu ke dalam neraka’, merupakan problem yang tidak terpecahkan bukan untuk orang Reformed / Calvinist saja, tetapi juga untuk orang Arminian. Mengapa? Karena sekalipun orang Arminian tidak percaya pada ‘penentuan binasa’, tetapi mereka percaya bahwa Allah maha tahu, sehingga pada waktu mencipta Ia tahu ada orang-orang yang akan masuk neraka. Kalau Ia memang maha kasih, lalu mengapa tetap menciptakan orang-orang itu? Jadi persoalan ini sebe-tulnya menyerang dan membingungkan Calvinisme dan Arminianisme secara sama kuat.

Loraine Boettner:

"As a matter of fact the Arminians do not escape any real difficulty here. For since they admit that God has foreknowledge of all things they must explain why He creates those who He foresees will lead sinful lives, reject the Gospel, die impenitent, and suffer eternally in hell" (= Faktanya, orang Arminian tidak lepas dari kesukaran di sini. Karena mereka mengakui bahwa Allah mempunyai pengetahuan lebih dulu dari segala sesuatu, mereka harus menjelaskan mengapa Ia menciptakan mereka yang dilihatNya lebih dulu akan menempuh kehidupan yang berdosa, menolak Injil, mati tanpa bertobat, dan menderita selama-lamanya dalam neraka) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 125.

Karena itu, mungkin di tempat ini kita harus mentaati kata-kata Calvin, yang dalam komentarnya tentang Ro 9:14, berkata sebagai berikut:

"Let this then be our sacred rule, to seek to know nothing concerning it, except what Scripture teaches us: when the Lord closes his holy mouth, let us also stop this way, that we may not go farther" [= Biarlah ini menjadi peraturan kudus kita, berusaha mengetahui hal itu (doktrin Predestinasi) hanya sejauh yang diajarkan oleh Kitab Suci: pada waktu Tuhan menu-tup mulutNya yang kudus, biarlah kita juga berhenti dan tidak pergi lebih jauh].

c) Sekalipun Allah menentukan kebinasaan seseorang, pada akhirnya orang itu binasa karena kesalahan orangnya sendiri. Jadi pada waktu ia dihukum / dibinasakan, itu bukan menunjukkan kekejaman Allah tetapi keadilan Allah.

8) Itu bertentangan dengan tawaran Injil kepada semua orang.

Pdt. dr. Yusuf B. S.:

Jawab:

a) Adanya penentuan selamat / binasa sama sekali tidak bertentangan dengan tawaran keselamatan kepada semua orang.

Tawaran keselamatan bagi siapapun yang mau percaya kepada Yesus tetap berlaku untuk semua orang. Tetapi nanti akan terbukti bahwa hanya orang pilihan Allah yang mau percaya kepada Kristus.

Kis 13:48 - "Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya".

Andaikata orang yang bukan pilihan juga mau percaya, maka pasti mereka juga akan diselamatkan. Tetapi mereka tidak akan bisa dan tidak akan mau percaya! Ini kesalahan mereka, bukan kesalahan dari penawaran Injil ataupun kesalahan Allah!

Karena itu, Allah memang tidak bohong, dan ayat-ayat yang berisikan penawaran Injil kepada semua orang seperti Yoh 3:16 Yoh 1:12 dsb, tidak perlu diubah seperti yang dikatakan oleh Pdt. dr. Yusuf B. S.

Ada orang yang menggambarkan keharmonisan antara Predestinasi dan tawaran Injil kepada semua orang dengan illustrasi sebagai ber-ikut: semua manusia dihadapkan pada sebuah pintu yang di atasnya bertuliskan: ‘Barangsiapa yang percaya kepada Kristus akan selamat’. Kalau seseorang percaya dan masuk melalui pintu itu, maka pada waktu ia menoleh ke belakang, ternyata di ambang pintu bagian dalam tertulis kata-kata ‘Kamu telah dipilih sejak dunia belum dijadikan’.

b) Saya akan menunjukkan kasus yang lain, dimana kalau kasus ini benar, maka Allah memang pendusta dan semua tawaran keselamat-an dalam ayat-ayat seperti Yoh 3:16 Yoh 1:12 dsb harus diubah seperti kata-kata Pdt. dr Yusuf B. S.

Kasusnya adalah: kalau Injil ditawarkan kepada semua orang dengan janji bahwa barangsiapa yang percaya akan selamat, dan lalu ada:

Kalau kasus ini terjadi, maka Allah memang pendusta, dan ayat-ayat seperti Yoh 3:16 dan Yoh 1:12 itu memang harus diubah. Tetapi kenyataannya, seperti dinyatakan oleh Kis 13:48 di atas, kasus-kasus seperti ini tidak mungkin bisa terjadi. Orang pilihan pasti akan bertobat / percaya kepada Yesus dan karena itu lalu diselamatkan, sedangkan orang non pilihan pasti tidak akan mau bertobat / percaya kepada Yesus sehingga pasti tidak akan selamat. Ingat bahwa Predestinasi tidak mungkin gagal.

c) Kita harus membedakan berita Injil dan doktrin / ajaran tentang Predestinasi!

Injil memang adalah kabar baik, karena manusia yang seharusnya semuanya dibuang ke dalam neraka, ternyata mempunyai jalan untuk bisa masuk surga, yaitu dengan percaya kepada Yesus.

Tetapi Predestinasi bukanlah Injil. Ini memang bukan kabar baik, khususnya untuk orang yang tidak dipilih. Tetapi juga mesti diper-hatikan bahwa berita penetapan binasa ini tidak bisa disampaikan kepada orang yang tidak dipilih itu, karena tidak seorangpun bisa tahu bahwa seseorang itu tidak dipilih, kecuali orang itu mati tanpa percaya kepada Yesus!

9) Doktrin Predestinasi ini menimbulkan kebimbangan.

Pdt. dr. Yusuf B. S.:

"Bagi orang-orang yang cinta Tuhan akan menimbulkan keragu-raguan dan kebimbangan yang sangat sewaktu jatuh dalam dosa. Mereka akan bertanya: ‘Mengapa saya berdosa lagi? Apakah saya sudah ditentukan untuk binasa, sebab ternyata gagal lagi dan berbuat dosa? ... Lebih-lebih bila pengertian rohani orang-orang ini belum cukup, ia mudah ditipu setan, jadi bimbang dan binasa! Keyakinan selamat dan gembira karena tetap selamat yang dijanjikan teori ini adalah bohong belaka, sebagian yang lain menjadi sangat bimbang dan hilang sejahtera. Justru dengan pengajaran ini orang-orang jadi ragu-ragu dan bingung sebab tidak ada orang bisa tahu apakah ia dipilih untuk selamat atau binasa. ... Justru pengajaran ini membuat orang jadi kacau tanpa pengharapan yang pasti" - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 34-35.

Jawab:

a) Saya berpendapat bahwa serangan ini betul-betul menggelikan.

Karena kalau kita membandingkan ajaran Calvinisme dengan Ar-minianisme, dan kita harus memilih ajaran mana yang menimbul-kan kebimbangan, atau ajaran yang mana yang tidak mempunyai pengharapan yang pasti, maka orang yang mempunyai logika pasti akan memilih ajaran Arminian. Mengapa? Karena Arminian-isme mempercayai bahwa keselamatan bisa hilang, orang bisa murtad, dsb. Kalau saudara adalah orang kristen yang mengerti betapa mengerikannya neraka itu, dan saudara sebagai seorang Arminian percaya bahwa sekalipun saat ini saudara adalah orang kristen yang sudah diselamatkan, tetapi bisa saja besok saudara murtad dan lalu masuk neraka, saya betul-betul tidak mengerti bagaimana saudara bisa tidak bingung, gelisah, takut, dsb!

b) Seorang Calvinist yang sejati tidak akan bingung kalau ia jatuh ke dalam dosa. Mengapa?

Ini memang berbeda sekali dengan Pdt. dr. Yusuf B. S. yang dengan Hermeneuticsnya yang kacau balau menafsirkan bahwa ada orang kristen ‘tingkat ruang maha suci’, yang tidak bisa lagi berbuat dosa! - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 52-53,67-70. Tentang ini nanti akan saya bahas lebih mendetail pada waktu membahas point ke 5 Calvinisme, yaitu Perseverance of the Saints (= ketekunan orang-orang kudus).

Semua kepercayaan ini memang tidak berarti bahwa ia lalu meremeh-kan dosa atau sengaja berbuat dosa. Semua orang kristen yang sejati, pasti mempunyai Roh Kudus yang mendorongnya kepada kekudusan, dan karenanya tidak akan senang berbuat dosa.

c) Satu hal yang perlu saya tegaskan adalah bahwa saya adalah se-orang Calvinist, dan saya juga adalah manusia berdosa yang ber-ulangkali jatuh ke dalam dosa. Tetapi semua apa yang dikatakan Pdt. dr. Yusuf di atas tentang bimbang dan ragu-ragu akan keselamatan, atau mengira diri saya tidak dipilih, tidak pernah terlintas dalam pikiran saya. Saya lalu bertanya-tanya: ‘Bagaimana mungkin Pdt. dr. Yusuf B. S. yang adalah seorang Arminian bisa menebak-nebak pikiran orang Calvinist? Apakah mungkin apa yang dikatakan oleh Pdt. dr. Yusuf B. S. di atas tentang bimbang dan hilang sejahtera, sebetulnya adalah gambaran dari pikirannya sendiri?’.

Bahwa Pdt. dr Yusuf B. S. mungkin sekali sering ragu-ragu akan keselamatannya sendiri, bisa terlihat dengan lebih jelas dari pasal 13 dari buku ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, yang diberi judul ‘Pera-saan ragu-ragu akan keselamatan’, dimana ia berkata bahwa pera-saan ragu-ragu akan keselamatan adalah sesuatu yang normal!

Pdt. dr. Yusuf B. S.:

"Ada beberapa orang yang senang dengan teori Calvin sebab memberi-kan keyakinan keselamatan yang kuat. Orang-orang ini tidak suka di-ganggu oleh perasaan ragu-ragu akan keselamatannya. Betulkah penger-tian dan pendirian seperti ini? Ini tidak normal, ini keliru. Yang betul: Orang-orang beriman kadang-kadang diganggu oleh perasaan ragu-ragu akan keselamatannya, bahkan ada yang sering dan sangat terganggu. Mengapa? Sebab orang-orang beriman belum sempurna, kadang-kadang masih berbuat dosa, bahkan ada yang sering dan ada yang tidak atau be-lum lepas dari ikatan-ikatan dosa" - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 81.

Dari kata-kata ini terlihat 2 hal:

10)Allah hanya tahu dan memberi tahu, tidak menetapkan / memilih.

Pdt. dr. Yusuf B. S.:

"Biasanya sekalipun Allah mengetahui lebih dahulu, tetapi Allah tidak mengatakan hal itu supaya tidak mempengaruhi orang tersebut. Pada hanya beberapa kasus (tidak rutin), Allah memberi tahu lebih dahulu, itu namanya Allah bernubuat (ini juga tindakan yang pasif, menceritakan apa yang akan terjadi), tetapi Allah tidak menentukan lebih dahulu. Apa yang dikatakan Allah itu sekedar karena Allah tahu lebih dahulu, bukan karena Allah menentukan lebih dahulu, misalnya: Ribkah, ia bertanya-tanya pada Tuhan dan Tuhan memberitahukan apa yang akan dibuat oleh kedua anak di dalam kandungan Ribkah (Kej 25:22-23). Allah tidak menentukan atau menetapkan nasib anak-anaknya, hanya memberitahukan apa yang memang sudah diketahui-Nya" - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 41.

Ia bahkan melanjutkan dengan menunjukkan mengapa Allah tidak mung-kin menentukan lebih dahulu nasib seseorang (hal 41-43).

Jawab:

a) Khusus untuk menanggapi kata-kata Pdt. dr. Yusuf B. S. ini ada 3 hal yang ingin saya kemukakan:

"Di sini disebutkan bahwa Allah mengenal lebih dahulu dan baru sesudah itu, mereka yang sudah dikenalNya terdahulu, mereka itu juga yang ditetapkan lebih dahulu (ditentukan atau dipilih untuk ini dan itu), dengan sangat adil. Di dalamnya sudah termasuk segala kehendak dan perbuatan orang itu, semua ini diperhitungkan dengan teliti (1Pet 1:2a)" - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 39.

Bukankah terlihat bahwa kata-kata Pdt. dr. Yusuf B. S. bertentangan satu sama lain? Dia percaya ‘Allah menentukan / memilih (berdasarkan pengetahuan lebih dulu)’ atau ‘Allah sama sekali tidak menentukan / memilih’?

Ro 9:11-13 - "Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau’".

b) Pengetahuan lebih dahulu menunjuk pada kepastian terjadinya hal itu, dan ini menunjuk pada penentuan Allah.

Loraine Boettner:

"Foreknowledge implies certainty and certainty implies foreordination" (= pengetahuan lebih dulu secara tidak langsung menunjuk pada kepastian, dan kepastian secara tidak langsung menunjuk pada penetapan lebih dulu) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 44.

Robert L. Dabney:

"If they were certainly foreseen, their occurrence was certain; if this was certain, then there must have been something to determine that certainty; and that something was either God’s wise foreordination, or a blind physical fate. Let the Arminian choose" (= Jika hal-hal itu memang dilihat lebih dulu, maka hal-hal itu pasti terjadi; dan jika ini pasti, maka harus ada sesuatu yang menentukan kepastian itu; dan sesuatu itu adalah Penentuan lebih dulu yang bijaksana dari Allah atau takdir fisik yang buta. Biarlah orang Arminian memilih) - ‘Lectures in Systematic Theo-logy’, hal 219.

c) Ada banyak ayat yang menggunakan kata ‘memilih’, ‘dipilih’, ‘pilihan’, ‘ditentukan’, ‘ditetapkan’, dsb (bacalah ulang ayat-ayat yang saya tuliskan dalam point II,A,1 di depan). Kalau saudara percaya bahwa Allah tidak memilih / menetapkan, tetapi hanya tahu / memberi tahu, lalu bagaimana saudara akan menafsirkan ayat-ayat itu?

d) Kalau Allah menubuatkan sesuatu / menyatakan akan terjadinya se-suatu, maka sebetulnya Ia memberitahukan apa yang dari semula sudah Ia tetapkan.

Ini terlihat kalau kita membandingkan Mat 26:24 dengan ayat paralel-nya yaitu Luk 22:22.

Mat 26:24 - "Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan".

Jadi Mat 26:24 ini mengatakan bahwa Yesus harus pergi / mati ‘sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia’. Ini jelas menunjuk pada nubuat dalam Kitab Suci / Perjanjian Lama tentang pengkhianatan Yudas, seperti Maz 41:10 (bdk. Yoh 13:18) dan Zakh 11:12-13 (bdk. Mat 26:15 Mat 27:9-10).

Tetapi sekarang perhatikan bagaimana Lukas menuliskan hal itu. Luk 22:22 - "Sebab Anak manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan".

Jadi, apa yang oleh Matius dikatakan sebagai nubuat, oleh Lukas dikatakan sebagai ketentuan / ketetapan Allah! Jelas bahwa nubuat / pernyataan Allah tentang akan terjadinya suatu hal tertentu merupa-kan pemberitahuan tentang apa yang dari semula sudah ditetapkan oleh Allah.

Kesimpulan:

1. Penyerang-penyerang doktrin Predestinasi tidak mempunyai dasar Kitab Suci yang kuat.

Kalau saudara memperhatikan 10 serangan terhadap Predestinasi yang sudah kita bahas di atas dengan seksama, maka bisa terlihat bahwa sebetulnya serangan-serangan ini tidak mempunyai dasar Kitab Suci yang kuat. Berbeda dengan serangan terhadap Limited Atonement (= Pe-nebusan Terbatas) dan Perseverance of the Saints (= Ketekunan orang-orang kudus), yang memang mempunyai banyak ayat Kitab Suci sebagai dasar, maka serangan terhadap Predestinasi, tidak mempunyai dasar Kitab Suci yang kuat. Sebaliknya doktrin Predestinasi itu sendiri mem-punyai dasar Kitab Suci yang luar biasa banyaknya dan kuatnya. Karena itu tepatlah komentar Loraine Boettner di bawah ini:

"Although this doctrine is harsh, it is, nevertheless, Scriptural. And since it is so plainly taught in Scripture, we can assign no reason for the opposition which it has met other than the pure ignorance and unreasoned prejudice with which men’s mind have been filled when they come to study it" (= Sekalipun doktrin ini keras, tetapi doktrin ini alkitabiah. Dan karena doktrin ini diajarkan dengan begitu jelas dalam Kitab Suci, kami tidak bisa memberikan alasan untuk oposisi yang ditemui oleh doktrin ini kecuali ketidaktahuan / kebo-dohan yang murni dan prasangka yang tak beralasan dengan mana pikiran manusia telah diisi pada waktu mereka mempelajari doktrin ini) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 112.

Saya sangat setuju dengan kata-kata Loraine Boettner ini. Saya berpen-dapat bahwa kebanyakan orang yang menentang Predestinasi mempe-lajari Predestinasi dengan pikiran yang sudah mempunyai prasangka bu-ruk terhadap Predestinasi. Dengan kata lain, mereka mempelajari doktrin Predestinasi dengan suatu keyakinan bahwa Predestinasi itu salah / sesat, padahal keyakinan itu tidak berdasar pada Kitab Suci, tetapi hanya pada perasaan / pikiran mereka saja!

Loraine Boettner lalu mengutip kata-kata Rice sebagai berikut:

"In their presumption they have sought to comprehend ‘the deep things of God,’ and have interpreted the Scriptures, not according to their obvious meaning, but according to the decisions of their finite mind" (= Dalam kesombongan / kelancangan mereka mereka berusaha mengerti ‘hal-hal yang dalam dari Allah’ dan telah menafsirkan Kitab Suci, bukan menurut artinya yang jelas, tetapi menurut keputusan dari pikiran mereka yang terbatas) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 112-113.

2. Sekalipun doktrin Predestinasi memang mempunyai problem / kesukaran yang tidak bisa dijelaskan secara tuntas, tetapi orang yang menolak dok-trin ini mempunyai problem / kesukaran yang jauh lebih besar.

Jerom Zanchius:

"I grant that the twin doctrines of predestination and providence are not without their difficulties, but the denial of them is attended with ten thousand times more and greater. The difficulties on one side are but as dust upon the balance, those on the other as mountains in the scale" (= Saya mengakui bahwa doktrin kembar tentang Predestinasi dan Providence bukan tanpa kesukaran, tetapi penyangkalan terhadap mereka diikuti oleh problem yang 10.000 x lebih banyak dan lebih besar. Pada timbangan, kesukaran-kesukar-an pada pihak yang satu hanyalah seperti debu, sedangkan kesukaran-kesu-karan pada pihak yang lain seperti gunung) - Jerom Zanchius, ‘The Doc-trine of Absolute Predestination’, hal 25.

Sebagai contoh, orang yang menolak Predestinasi pasti akan men-dapat problem yang luar biasa dengan puluhan ayat Kitab Suci dan dasar-dasar lain tentang Predestinasi yang sudah saya berikan dalam point II, A, B di depan. Saya menantang siapapun, termasuk Pdt. dr. Yusuf B. S., untuk menjelaskan ayat-ayat dan dasar-dasar itu dari sudut Arminianisme!

Tetapi ada satu hal yang perlu diingat, yaitu bahwa ada orang-orang Arminian, bisa melihat debu atau selumbar di mata orang-orang Calvinist, tetapi tidak melihat gunung atau balok di pelupuk matanya sendiri. Ban-dingkan dengan Mat 7:3-5 yang berbunyi:

"Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluar-kanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu".

Ini yang menyebabkan mereka bisa mempunyai pandangan yang begitu merendahkan terhadap Calvin / Calvinisme.


email us at : gkri_exodus@mailcity.com